My Two Husband

My Two Husband
Mengidam atau Menyusahkan?


__ADS_3

Sebulan telah berlalu semenjak kejadian tidak mengenakkan itu terjadi, tetapi mereka tidak ingin terlalu berlarut dalam situasi itu. Kini, semakin hari semakin berubah-ubah sikap dan sifat Naya. Membuat dua pria yang berstatus sebagai suaminya itu kewalahan menghadapi moodswing istri mereka. Belum lagi ketika Naya tiba-tiba mengidam aneh. Seperti; ingin Kevan menjadi maling, menyuruh Deryl merusak pipa air milik tetangga, menyuruh Kevan menjadi gelandangan dan pengemis di pinggir jalan, bahkan Naya juga menyuruh Deryl untuk mandi di depan pagar rumah mereka.


Semua dilakukan Kevan dan Deryl dengan sabar. Tidak ada yang berani menolak, karena jika menolak maka Naya akan mengancam mogok makan dan kabur dari rumah. Tentu saja dua pria itu masih memiliki pikiran waras agar istri mereka tidak kabur dari rumah dan membuat cerita palsu nantinya.


"Kevan!" Panggil Naya nyaring.


Kevan yang sedang berada di lantai dua, di kamar Deryl langsung meringis begitu mendengar panggilan yang membuatnya jengkel selama sebulan terakhir ini. Biasanya Kevan menyebutnya dengan panggilan maut.


"Deryl, aku sudah mengajarimu kan? Bantu aku menyelesaikannya, ya? Ini sangat penting untukku besok. Entah apalagi yang di inginkan oleh macan betina itu."


"Ya. Aku mengerti, pergilah. Temani macan betina itu."


Tanpa menjawab lagi, Kevan langsung keluar dari kamar Deryl dan bersiap turun. Sebelum akhirnya bencana terjadi....


"Berhenti disana!" Perintah Naya.


"Eh? Kenapa?" Tanya Kevan bingung.


"Kamu harus menuruni tangganya dengan bertengkurap Kevan!"


"A-apa?! Itu tidak mungkin, Nay! Bisa-bisa tulang rusukku terhambur!"


"Jangan berlebihan! Aku tidak menyuruhmu untuk perang!"


"Tapi Nay-"


"Kalau begitu aku tidak mau-"


"Iya iya! Aku akan merangkak turun ke bawah!"


Naya tersenyum lebar. "Ehehe! Kamu tau kan aku mencintaimu, Van."


Kevan hanya memutar bola matanya malas. Astaga.. mengapa tangganya jadi terlihat begitu banyak anaknya? Mungkin setelah ini Kevan akan menyesal karena membeli rumah yang berlantai dua. Kevan menatap anak tangga itu yang terlihat seolah-olah menertawakan dirinya kasihan. Kevan juga mengusap baju kaos yang ia pakai sekarang, baju kaos berwarna merah yang berlogo superhero favorite-nya seharga satu buah mobil.


"Cepaaat!" Ucap Naya lagi.


Kevan menghembuskan nafasnya, ia perlahan bertengkurap dan mulai merayap menuruni tangga.


"Hahaha! Kamu seperti salamander, tapi kamu lebih aneh! Ahaha!"


Naya tertawa begitu riangnya setelah melihat wajah tersiksa suaminya yang kesusahan menuruni anak tangga itu. Ingin sekali Kevan menyumpal mulut Naya yang tertawa lebar itu dengan bantal karena begitu jengkelnya.


"Setelah sampai pertengah, kamu harus menuruninya dengan berjongkok!"


"Ya Tuhaaaaaan! Jemput aku!" Teriak Kevan frustasi.


"Ahaha!"


Kevan ingin menangis saja rasanya. Menuruni anak tangga dengan merayap itu benar-benar menyiksa.


"Ayo cepat, Kevan Ardinata! Aku ingin pergi belanja!"


"Sabar, Nay! Kamu kira mudah menuruni tangga dengan merayap seperti ini?"

__ADS_1


"Mudah kok."


"Tidak mungkin!"


"Mudah, Van! Ya tidak usah dilakukan saja, mudah kan? Dasar Kevan idiot."


See? Menjengkelkan sekali bukan?


Kalau tahu begitu, Kevan tidak perlu bersusah payah menuruni anak tangga dengan merayap seperti salamander, merelakan tulang rusuknya yang kemungkinan saja bengkok. Dan juga merelakan kaos kesayangannya untuk dijadikan lap tangga.


"Cepat! Oh, jangan lupa ganti bajumu. Kamu seperti gembel. Aku tunggu di mobil ya, sayang." Ucap Naya santai setelah itu ia langsung melenggang pergi.


Tolong beri Kevan extra kesabaran menghadapi macan betina itu!


—my two husband


"Baju itu bagus!" Tunjuk Naya pada salah satu outlet terkenal yang memajang gaun berwarna peach bermotif floral.


"Tapi gaunmu sudah banyak, sayang. Kamu memborong semua gaun yang ada di outlet mall ini." Ucap Donghae.


"Aku ingin gaun itu! Tidak mau tahu!"


"Baik, baik. Kita beli sekalian dengan tokonya!"


Naya memekik girang. Ia segera menyeret Kevan memasuki outlet itu dan mengabaikan Kevan yang kesusahan membawa semua barang belanjaan milik Naya.


"Tolong bungkuskan gaun peach ini. Cepat ya! 15 menit sudah harus selesai!" Titah Naya kepada pelayan di toko itu.


"Baik, Nyonya."


"Kamu memang pantas dipanggil Nyonya, kamu sudah menikah dan sedang hamil, lagipula mana ada wanita hamil yang masih gadis. Ya wajar saja."


"Kamu membelanya?! Apa dia selingkuhanmu?!"


"Bunuh saja aku, sayang."


Naya hanya mendelik ke arah Kevan. Naya mengambil papper bag yang berisi gaun itu dari tangan sang pelayan dan segera membayarnya. Baru saja Naya ingin menyeret Kevan lagi, tapi pria itu sudah berdiri di luar outlet sambil menempelkan benda tipis keluaran terbaru itu di telinganya. Wajahnya terlihat sangat cemas.


"Kevan, ada apa?" Tanya Naya pelan.


"Sayang, sepertinya aku tidak bisa menemanimu lagi. Kita pulang saja, ya? Kantorku dalam masalah."


"Benarkah? Ada apa?"


"Nanti kuceritakan. Ayo kita keluar dulu."


"Baiklah."


Sementara itu di rumah,


Deryl baru saja menyelesaikan laporan milik Kevan yang diminta oleh manusia itu untuk diselesaikan. Dan Deryl sudah menyelesaikannya.


Deryl keluar dari tempat huniannya itu dan terhenti saat akan menuruni tangga. "Rasanya aku belum mengepel lantai. Kenapa tangga ini terlihat bersih?" Bingung Deryl. Yah.. jika kalian bertanya kenapa Deryl mengepel lantai, tanyakan saja pada seorang wanita yang bernama Naya Amanda, wanita yang membuat kedua suaminya menjadi pembantu dirumah mereka sendiri.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Deryl langsung menuruni anak tangga itu dengan bersiul-siul pelan. Ia bersalto-salto ria menuju dapur rumahnya.


"Aku ingin minum apa ya?"


Deryl membuka lemari pendingin dan melihat banyak jejeran minuman disana. Deryl akhirnya memilih sekaleng cola untuk diminumnya.


"Ahh. Segarnya,"


Baru saja Deryl ingin melakukan kegilaan lainnya, tapi ia mendengar pintu rumahnya terbuka dan dua manusia berbeda ukuran itu masuk.


"Eh? Kenapa cepat sekali?"


"Iya. Kevan bilang ada masalah dengan kantornya, katanya kamu juga mengetahuinya, Deryl?"


Deryl mengernyit. Masalah apa? Dan kenapa juga ia harus tahu?


Sementara itu Kevan memandang Deryl dengan tatapan memohon agar diselamatkan. Yang kalian kira Kevan benar-benar mendapat masalah dikantornya itu hanyalah akal-akalan Kevan. Sungguh, Kevan sudah lelah mengikuti Naya.


'Selamatkan aku dan akan kubuat steak terenak untukmu.' Batin Kevan, berusaha mencari pertolongan dari rival sekaligus suami dari istrinya tersebut.


'Aku tidak mau steak. Aku ingin Omelette terbaik di dunia.' Deryl menatap Kevan dan menggeleng pelan.


'Sialan! Aku akan mendatangkan chef terbaik untuk membuat omelette.'


'Baiklah.'


Kevan menghembuskan nafasnya lega.


"Ah iya benar, Naya. Kantor Kevan terkena gempa!"


"Gempa?"


"Maksudku masalah penjualannya! Kevan korupsi!"


"Aku tidak!" Panik Kevan. Ia menatap nyalang ke arah Deryl yang membuat alasan asal-asalan itu.


"Benar tidak korupsi? Aku tidak mau uang kotor, Kevan!"


"Tidak, Naya! Itu Deryl hanya asal bicara!"


"Maksudku karyawannya, Naya!" Tambah Deryl lagi.


"Ah baiklah kalau begitu. Aku ingin tidur, selesaikan dengan cepat ya, aku perlu kalian berdua untuk model baju-bajuku!"


Setelah mengatakan itu, Naya langsung pergi kekamarnya. Meninggalkan semua papper bag belanjaannya didapur dan membuat rumah mewah itu seperti rumah donasi untuk korban bencana alam.


"Dia membeli semua ini?" Tanya Deryl speechless.


"Aku merasa dirampok."


"Setelah itu kita berdua akan di eksekusi oleh Naya." Ucap Kevan dan Deryl.


Demi apapun, siapa saja tolong culik lalu bawa pergi jauh Kevan dan Deryl. Jangan biarkan mereka muncul lagi di muka bumi demi kelangsungan hidup mereka. Oh, poin pentingnya mereka memutuskan untuk berdamai sementara selagi Naya hamil agar mereka tetap bisa menghirup udara segar dipagi hari.

__ADS_1


—to be continue


__ADS_2