
Kevan dan Naya masih khawatir dengan Deryl, masih Matteo juga yang duduk disana sambil mengotak-atik laptopnya dengan wajah yang cemas. Jam sudah menunjukkan angka sembilan, berarti Deryl pergi sudah hampir dua jam.
"Astaga ... kemana perginya manusia itu." pekik Matteo kesal. Sudah hampir setengah jam dia mengotak-atik laptopnya namun tidak ada hasil apa-apa.
"Kalau tidak menemukannya tidak apa-apa, nanti biar aku melapor kepada polisi." ucap Kevan yang berusaha tenang.
"Tidak, jangan. Maksudku jangan melibatkan polisi, aku takut Deryl semakin tidak bisa ditemukan, kita harus bermain pintar." ucap Matteo menggeleng keras atas ucapan Kevan.
"Tapi kalau begitu, kita juga tidak bisa menjamin keselamatan Deryl."
"Deryl pasti baik-baik saja, mayat itu bisa melindungi dirinya sendiri, badannya besar dan tinggi. Tenang tenang, tarik nafas .. hembuskan." ucap Matteo.
"Astaga!"
"Tunggu sebentar lagi, aku masih berusaha melacaknya. Bisa beri aku air? Tenggorokanku cukup kering." pinta Matteo dengan santai.
Naya akhirnya pergi mengambilkan minuman untuk Matteo, untungnya, kulkas mereka selalu menyediakan minuman cepat, jadi Naya tidak perlu repot-repot untuk membuatkannya sendiri. Dia mengambilkan sebotol minuman rasa jeruk untuk Matteo yang terlihat asik mengotak-atik laptopnya.
"Kamu mengotak-atik laptop seperti itu melacak Deryl kan?" tanya Naya.
"Tidak, kata siapa? Aku mendownload film dewasa untukku, kebetulan disini akses wifi-nya kencang." jawab Matteo. Pria berambut klimis itu mengambil botol minuman yang Naya taruh dimeja dan menenggaknya hingga setengah.
"Apa rumahmu tidak ada wifi?" tanya Kevan. Kevan sendiri tidak habis pikir dengan kelakuan rekan bisnisnya ini yang tingkahnya benar-benar abstrak. Tapi anehnya, Deryl mau berteman dengannya.
"Aku sementara masih tinggal di apartemen, kalau aku mendownload film dewasa dengan akses wifi apartemen, you know lah. Orang-orang akan mengetahui IP-ku, kasihan wajahku yang tampan ini."
"Jadi .. bagaimana dengan Deryl?" tanya Kevan berusaha kembali pada topik.
"Oh, sebentar ya. Aku download ini dulu, setelah itu baru aku pikirkan lagi."
Kevan dan Naya rasanya benar-benar ingin mengusir Matteo dari rumah, bukannya membantu, pria itu malah sibuk mendownload film dewasa. Memang tampannya kelihatan alim tapi aslinya sangat jauh dari kata alim.
"Deryl sepertinya baik-baik saja." ucap Matteo lagi.
"Dari mana kamu tau kalau dia baik-baik saja?" tanya Naya.
"Ini aku bisa meramal. Bisa melihat kejadian masa depan."
Kevan hanya tersenyum maklum kepada Matteo, mungkin manusia itu sedang sakau film dewasa makanya ucapannya melantur tidak jelas. Kenapa tiba-tiba Kevan merasa menyesal ya sudah menelpon Matteo yang samasekali tidak membantunya tapi malah asik sendiri dengan urusannya.
Disaat Naya dan Kevan semakin khawatir dengan keadaan Deryl, tidak lama kemudian terdengar suara mobil dari luar. Dan kemudian, dua manusia masuk kedalam rumah dan berjalan beiringan.
"Deryl?" ucap Naya kaget.
__ADS_1
Manusia yang masuk kedalam rumah itu adalah Deryl yang sedang membawa beberapa bungkusan ditangannya dengan seorang wanita disebelahnya.
"Kenapa, Naya? Kenapa kamu menangis?" tanya Deryl langsung menghampiri Naya dan memeluk wanita itu.
"Dasar bodoh! Kemana saja dirimu hah?! Tidak tau kalau kami khawatir? Kamu meninggalkan rumah dalam keadaan kacau!" omel Kevan kepada Deryl.
"Ah.. itu aku—"
"Kamu baik-baik saja? Tidak ada yang terluka kan? Tidak ada yang melukaimu kan?" sembur Naya dengan berbagai macam pertanyaan untuk Deryl.
"Aku baik tapi kenapa kamu bertanya seolah aku ini sedang dalam bahaya?" tanya Deryl bingung.
Kevan menepuk jidatnya. "Itu jelas, bodoh! Kamu meninggalkan rumah dengan berhamburan! Vas bunga yang pecah, bantal sofa berceceran dan juga kulit sofa yang robek!"
"Oh itu ... bukan, bukan perampokan. Ceritanya begini."
— Flashback —
Deryl membawa cutter kecil ditangannya saat akan mengecek ruang tengah. Pria itu sedikit was-was jika yang masuk adalah perampok. Maka dari itu Deryl membawa sebuah benda tajam berbentuk pisau cutter yang bergambar hello kitty. Pria itu berjalan mengendap-endap pelan dan menempel di dinding untuk memperhatikan keadaan rumahnya.
Dia melihat dari kejauhan beling pecahan vas kaca itu yang masih berhamburan di lantai. Lalu setelah itu, Deryl melihat seorang wanita berambut panjang berdiri didekat sofanya. Deryl sudah hampir mengira bahwa wanita itu adalah hantu pengkulit yang ada dirumahnya. Tapi ternyata bukan, wanita itu menengok kekanan dan kekiri lalu melihat Deryl yang sedang menempel di dinding.
"Hai, Deryl." ucapnya.
Wanita itu mengangguk. "Maaf aku langsung masuk, tadi pintu rumahmu terbuka dan kamu tidak menyahut panggilanku."
Vania adalah sepupu jauh Deryl yang masih sering berhubungan dengannya, dalam artian masih menganggap dirinya keluarga walaupun kedua orangtua Vania melarang keras wanita itu untuk bertemu ataupun berinteraksi dengan Deryl. Bersyukurlah karena Vania wanita yang keras kepala, dia masih setia menganggap Deryl sepupunya.
Deryl berjalan pelan menghampiri wanita itu. "Kamu yang memecahkan vas bunga ini?" tanya Deryl memicing.
"Tidak! Enak saja! Aku baru saja sampai disini."
"Jadi siapa yang memecahkannya?! Ini vas bunga kesayangan istriku astaga, aku tidak ingin mendengar omelannya. Tolong aku tolong aku." ucap Deryl panik dan mondar-mandir.
"Di kota banyak vas bunga yang seperti ini kamu bisa— Tikuuuuus!"
Deryl melotot kearah Vania. "Kamu mengataiku tikus?!" ucapnya marah.
"Bukan bodoh! Itu didekat kakimu ada tikus!"
Deryl perlahan menunduk dan melihat tikus yang ada didekat kakinya, sontak pria itu langsung menjerit dan berlari. "AAAAAA! Aku benci tikus!" ucap Deryl berlari-lari ke sofa dan melempar-lemparkan bantalnya hingga berjatuhan ke lantai.
"Gunakan cuttermu!" ucap Vania. Wanita itu juga sekarang berjongkok di atas sofa supaya terhindar dari seekor tikus berwarna coklat yang kesana kemari.
__ADS_1
"Aku tidak berani! Dia terlalu menjijikan!"
"Kamu itu laki-laki! Malu sedikit dengan jakunmu!"
"Yasudah yasudah!"
Deryl menutup matanya dan mengarahkan cutter itu ke sembarang tempat, alhasil tikus itu jadi naik ke atas sofa dan Deryl juga masih mengarahkan cutter itu sembarangan hingga merobek kulit sofanya seperti bekas cakaran kucing.
"Kamu merusak sofamu!" ucap Vania terkejut.
"Astaga! Ini sofa favorite-ku!" pekik Deryl.
"Salahmu! Kamu mengarahkan cutter sambil menutup mata!"
Deryl melempar cutter-nya dan meremas rambutnya frustasi. Pria itu berlari naik ke kamarnya untuk mengambil dompet dan berganti baju lalu dia turun lagi setelahnya.
"Mau kemana?!" tanya Vania.
"Temani aku membeli sofa baru dan vas bunga. Demi Tuhan, itu semua kesayangan Naya!" ucap Deryl dengan wajah memelas. Mau tidak mau Vania harus mengangguk dan menemaninya pergi.
"Hoi, nyalakan dulu lampu rumahmu!" suruh Vania.
"Nanti saja, lagipula ini masih sore. Ayo cepat temani aku!" Deryl menyeret Vania keluar dari rumahnya dan pergi untuk membeli sofa serta vas bunga.
— Flashback end —
"Jadi begitu ceritanya. Aku tidak diculik kok, oh ya omong-omong ini Vania. Sepupu jauhku." ucap Deryl memperkenalkan Vania yang berdiri disampingnya.
"Hai kak Naya, hai kak Kevan." sapa Vania ramah.
"Aku ingin gila rasanya! Kamu meninggalkan ponsel dirumah dan pria itu tidak bisa melacakmu!" ucap Naya menunjuk Matteo yang masih anteng duduk disofa dengan laptopnya.
"Hei, tapir. Apa yang kamu lakukan dirumahku?" tanya Deryl kepada Matteo.
"Oh jerapah, aku mendownload beberapa film dewasa." sahutnya.
Deryl melempar kepala Matteo dengan sendal jepitnya hingga pria itu mengaduh kesakitan. "Pulang sana!" suruh Deryl sinis. Matteo sudah berdiri dan siap membalas Deryl, namun dia terhenti ketika melihat Vania yang berdiri diam disebelah Deryl.
"Seben— Hai.." ucap Matteo menatap Vania tanpa berkedip.
"Pyscho."
* TO BE CONTINUE *
__ADS_1