My Two Husband

My Two Husband
Positive


__ADS_3

Pagi ini Naya sudah ada di kampusnya karena ia harus mengikuti mata kuliah penting. Ia pergi bersama dengan Kevan tadi pagi karena Deryl semalam lembur. Dan sekarang ia sedang duduk bosan di kantin kampusnya menunggu Deryl menjemputnya pulang. Sudah sejak empat puluh menit yang lalu Deryl mengatakan ia sudah dekat dengan kampusnya tapi hingga sekarang batang hidungnya pun belum terlihat.


Naya sangat tidak bersemangat hari ini. Mendadak badannya terasa lesu, dan ia merasa lelah padahal ia tidak melakukan aktivitas yang menguras tenaga. Rasanya Naya benar-benar butuh berbaring.


Sementara itu, Deryl baru saja tiba di parkiran kampus Naya langsung keluar dan berjalan dengan cepat untuk mencari keberadaan istrinya itu. Deryl sedikit panik karena Naya mengeluh lemas dan tidak kuat berjalan maka dari itu Deryl langsung datang menjemput dengan terburu-buru. Pria itu bahkan belum melepas jas dokternya hingga semua mata tertuju padanya yang berlari-lari kecil.


"Permisi, apa kamu kenal Naya Amanda?" tanya Deryl pada seorang mahasiswi yang sedang berjalan pelan disebelahnya.


"Iya, ada apa?" sahutnya.


"Dimana dia?"


"Dia ada di kantin kampus, kamu lewat lorong sebelah kiri dan lurus saja nanti akan menemukan kantinnya."


"Baiklah, terimakasih."


Deryl langsung berlari sesuai intruksi mahasiswi tadi dan ia sekarang sudah menemukan Naya yang sedang menumpu kepala ditangannya. Wajahnya terlihat pucat dan ia juga berkeringat.


"Naya.." panggil Deryl pelan.


Naya membuka matanya yang berkaca-kaca dan tersenyum lemah melihat Deryl sudah datang. "Kamu sudah sampai."


"Iya, aku baru saja sampai. Ayo kita pulang,"


"Aku tidak kuat berjalan. Kepalaku berat dan serasa berputar." ucap Naya masih dengan posisi yang sama.


Tanpa banyak bicara, Deryl langsung memakai tas selempang Naya dan menggendong ala bridal style wanita itu. Deryl membutakan pandangannya ketika sadar ia dan Naya menjadi pusat perhatian. Tidak perduli apa-apa, Deryl segera membawa Naya ke mobilnya.


"Kita kerumah sakit dulu hm?"


"Aku hanya demam, Deryl. Jangan berlebihan."


"Aku hanya ingin memastikan keadaanmu, Naya."


"Tapi aku tidak apa-apa."


"Naya, come on. Aku tidak bisa lengah soal kesehatanmu."


"Baiklah, baiklah. Kita kerumah sakit. Apa kamu puas?"


"Belum."


Setelah menjawab itu, Deryl langsung melajukan mobilnya meninggalkan area parkiran kampus dan membawa Naya menuju rumah sakitnya. Tidak ada percakapan yang terjadi, benar-benar hening. Deryl yang sedikit panik dan mencoba fokus, juga dengan Naya yang menutup matanya.


Hingga beberapa menit terlewati kini mobil Deryl sudah tiba di parkiran rumah besar dan ternama milik Deryl.


"Sayang?"


Deryl menepuk pelan pipi Naya, memperhatikan wajah pucat itu yang masih menutup matanya. "Kita sudah sampai." bisiknya lagi.

__ADS_1


"Aku tidak kuat berjalan, Der." ucap Naya pelan, nyaris seperti bisikan.


Deryl segera keluar dari mobilnya dan menghampiri Naya. Kembali menggendong wanita itu yang terlihat semakin pucat. "Periksa sebentar, oke?"


Naya hanya mampu menganggukkan kepalanya, tidak memiliki tenaga untuk menjawab pertanyaan Deryl. Buktinya, sekarang saja ia kembali memejamkan matanya didalam gendongan Deryl.


"Tolong periksa istriku." ucap Deryl dengan seorang dokter wanita yang juga merupakan temannya.


"Baik, silahkan tunggu diluar, Dokter Deryl."


Sembari menunggu, Deryl mencoba menghubungi Kevan dan memberi kabar pada pria itu bahwa ia dan Naya sedang ada dirumah sakit untuk memeriksakan keadaan Naya, Kevan bilang kalau ia akan segera menyusul setelah meetingnya selesai meskipun Deryl mengatakan padanya bahwa ia tidak perlu datang. Tapi, Kevan tetaplah Kevan Ardinata. Dan perihal apapun yang menyangkut Naya, sudah pasti ia harus ikut andil didalamnya.


Disinilah seorang Kevan Ardinata berdiri sekarang, memasang wajah tegangnya disebelah Deryl yang terlihat lebih tenang. "Kenapa dokter belum keluar juga?" ucap Kevan frustasi.


"Sudah tiga puluh menit, apa yang mereka lakukan astaga!"


"Bisakah kamu sabar sedikit?"


"Tidak bisa!"


"Cih!"


Kevan memutuskan untuk mondar-mandir membuang tenaga daripada ikut duduk dengan tenang bersama Deryl, bahkan Deryl pun lelah melihat Kevan yang mondar-mandir seperti setrikaan itu.


Setelah menunggu sekian lama, akhirnya dokter yang memeriksa Naya pun keluar. "Dokter Deryl, bisa ikut saya sebentar?" tanya dokter itu sembari menatap Deryl.


"Oke."


"Anda boleh menemuinya, dia sedang istirahat."


**


"Kamu merasa lebih baik?" tanya Kevan mengelus lembut pipi Naya.


"Ya." Naya menjawab singkat kemudian matanya terlihat menelusuri seluruh ruang periksanya ini. "Dimana Deryl?"


"Ah, tadi dokter ingin berbicara padanya. Sudah dua puluh menit, mungkin dia akan segera kembali."


"Memangnya penting ya? Hingga dokter hanya mengajaknya saja, tidak mengajakmu juga?"


"Mungkin dokternya tidak tau kalau aku juga suamimu, sayang." Kevan mengucapnya dengan sedih.


"Maaf, Kevan."


"Hei, tidak apa-apa. Tidak perlu merasa bersalah begitu."


Cklek.


"Deryl?"

__ADS_1


Deryl masuk dengan wajah yang begitu tegang dan khawatir(?) ia segera memeluk Naya yang setengah bersandar. Tentu saja hal itu mengundang kebingungan Kevan dan Naya.


"Deryl ada apa?" tanya Naya sembari mencoba melepaskan pelukan mereka.


"Tidak, tidak ada apa-apa."


"Apa kata dokter?" tanya Kevan penasaran.


"I-itu..."


"Apa aku memiliki penyakit berbahaya, Deryl?" tanya Naya.


"Tidak, bukan. Bukan itu."


"Lalu apa?" tanya Naya dan Kevan bersamaan. Gemas dengan Deryl yang mengulur-ulur memberi jawaban.


Deryl malah diam, menutup mulutnya rapat. Sengaja membuat dua orang didepannya ini penasaran.


"Cepatlah Deryl, astagaaa!" teriak Kevan frustasi.


"Tapi kalian harus berjanji untuk mentraktirku setelah aku memberitahu." ucap Deryl.


"Iya kami janji."


"Baiklah. Jadi beritanya adalah......"


Kevan dan Naya sudah tidak sabar mendengar berita apa yang akan disampaikan oleh Deryl. Tetapi sepertinya pria itu memang suka mengulur waktu.


"Cepat, Deryl!"


"Naya hamil."


Naya dan Kevan hanya ber-oh ria sebelum akhirnya mereka tersadar dan terkejut. "A-apa?!"


"Aku hamil, Deryl?"


"Iya, sudah tiga minggu."


"Naya.."


Kevan menatap Naya dengan mata yang berkaca-kaca lalu sedetik kemudian, ia langsung menubruk tubuh Naya dengan pelukan yang erat. Rasa bahagia yang begitu membuncah hingga menyesakkan dadanya.


"Terimakasih sayang, terimakasih Naya."


Naya mengangguk dan tersenyum, Deryl tersenyum tipis melihatnya. Kevan merentangkan tangannya dan menatap Deryl. "Come on, Deryl."


Deryl mendekat dan ikut memeluk Naya bersama Kevan. Dan bersama calon anak mereka yang berada didalam perut Naya.


"Terimakasih, Naya."

__ADS_1


** to be continue


__ADS_2