My Two Husband

My Two Husband
Netherland #1


__ADS_3

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu oleh Kevan dan Deryl pun tiba. Hari dimana mereka pergi honeymoon bersama Naya disebuah negeri dingin belahan eropa. Sekarang ketiga manusia dewasa itu sedang melakukan boarding pass di sebuah bandara internasional Indonesia.


"Aku ingin duduk disebelah Naya!" ucap Kevan ringan tanpa beban. Mengabaikan wajah datar pria disebelahnya yang sudah bersiap ingin menerkamnya.


"Ini adalah rencanaku! Jadi Naya harus duduk bersamaku!"


"Oh? Memangnya aku perduli?"


"Bisakah kalian berhenti dulu? Kita menjadi pusat perhatian!" tegur Naya seraya menahan malu karena semua mata tertuju pada mereka.


Masing-masing dari mereka sudah mengambil cuti selama dua minggu penuh. Alasan kenapa memilih Netherland untuk kunjungan pertama adalah permintaan Naya. Selain disana sedang musim dingin, di Netherland juga ada fasilitas milik Deryl yang bisa mereka gunakan dengan gratis. Contohnya seperti Villa, restaurant, dan beberapa fasilitas lainnya. Sebenarnya agak malu jika mereka sengaja memakai fasilitas yang ada karena ingin gratis.


Karena mengingat kedua suaminya itu merupakan sumber uang, Naya bahkan bisa meminta kedua suaminya untuk membooking seluruh hotel selama seminggu penuh, sayangnya.. Naya lebih menyukai fasilitas yang memang sudah terjamin milik mereka. Anggap saja Naya sedikit realistis. Ingat, hanya sedikit!


"Ayo.. kita akan segera berangkat." Ucap Kevan dan menggeret kopernya.


"Naya, sini. Biar kubawakan kopermu." Ucap Deryl.


Naya tersenyum dan mengangguk. Memberikan kopernya pada Deryl untuk dibawakan oleh pria itu. Sementara itu, Kevan yang merasa kecolongan karena Deryl. Hanya memberengutkan wajahnya kesal. Kenapa tadi ia bisa tidak sadar ya kalau Naya juga membawa koper?


"Nay, kamu lelah? Mau kugendong?" Tawar Kevan tidak manusiawi, bagaimana bisa ia digendong saat dirinya masih sadar mana ditempat umum pula.


"Tidak. Apa-apaan, Van. Aku masih bisa berjalan."


"Siapa tahu saja,"


"Ayo cepat." Ucap Deryl yang sudah berjalan duluan didepan Kevan dan Naya.


"Heh, Pyscho. Kamu mengambil penerbangan first class kan?"


"Iya, Mayat. Jangan banyak bicara aku lelah."


Mayat, panggilan kesayangan Kevan untuk Deryl karena kulit pria itu yang putih pucat persis seperti mayat. Bahkan Deryl lebih putih dari Naya.


"Mengobrol denganmu pun tak sudi. Membuang tenagaku."


"Kalau begitu diam, akupun tidak sudi."


Naya memutar bola matanya kesal. Selalu seperti ini. Dua pria itu tidak akan pernah akur dalam hal apapun. Padahal mereka sendiri yang berjanji akan lebih tenang. "Kalian mau terus berkelahi atau naik pesawat?"

__ADS_1


Dua pria itu tidak menjawab, mereka hanya berjalan mengikuti Naya. Setibanya di pesawat, kedua pria itu malah bertengkar lagi.


"Aku yang duduk disebelah Hyukjae!" Ucap Kevan tidak mau kalah.


"Aku yang duduk disebelahnya! Ini giliranku."


"Giliran apanya? Kamu mengambil giliranku malam itu!"


"Kapan hah?"


"Mau kuingatkan dengan cara kasar atau kamu mengingatnya sendiri?!"


"Sialan! Aku tidak mau tahu pokoknya Naya harus disebelahku!"


"Tidak bisa! Dia harus bersamaku! Dia tidak aman dengan mayat sepertimu!"


"Lalu apa dia akan aman dengan psycho sepertimu?"


"Aku yang membeli tiket ini jika kamu lupa!"


"Apa kamu ingin pamer harta denganku hah?!"


"DIAM! DIAM ATAU KUTURUNKAN KALIAN BERDUA!"


"Aku akan duduk sendiri dan kalian duduk berdua, oke? Kalau kalian pr—"


"TIDAK MAU!"


"Protes maka aku tidak mau melanjutkan liburan ini. Bagaimana? Kalian setuju?"


Dengan wajah tertekuk dan lesu akhirnya Deryl dan Kevan menyetujui usulan Naya. Daripada rencana liburan ini berakhir sia-sia kan?


"Duduk yang tenang dan jangan bertengkar. Jadilah anak yang baik, oke?"


"Ya, Madam."


"Pintar. Aku sayang kalian."


**

__ADS_1


Setelah 14 jam berada diatas udara akhirnya pesawat yang dinaiki oleh Deryl, Kevan dan Naya tiba di Amsterdam. Suasana dingin menyambut kedatangan mereka saat itu.


"Aku rindu kamu," ucap Deryl manja dan langsung menjatuhkan diri kepelukan Naya yang terkekeh pelan.


"Kamu terlalu lebay, Deryl!" sungut Kevan kesal karena ia harus membawa koper milik pria mayat itu.


"Sudahlah, bilang saja kamu iri karena tidak bisa memeluk Naya."


"Kenapa aku harus? Malam ini kan giliran Naya tidur bersamaku."


Oh, sial. Itu benar, malam ini giliran Kevan untuk tidur bersama Naya. Pantas saja pria itu terlihat sedikit lebih tenang saja ketika ia memeluk Naya duluan. Ternyata malam ini gilirannya bersama Naya. Apakah Deryl sedang kalah saat ini? Tidak, tidak. Deryl tidak mau menyebut ini sebagai kekalahan, karena ia selalu menang untuk Naya.


"Ini, bawa kopermu sendiri! Menyusahkanku saja, entah apa yang kamu bawa sehingga kopermu seberat dosamu!"


"Ingin sekali aku merobek mulut itu." gumam Deryl dan menatap tajam Kevan. Sedangkan yang ditatap malah acuh tak acuh.


"Psikopat."


Deryl mengangkat bahunya acuh. Pria berkulit pucat itu lantas memanggil taksi dan memasukkan kopernya dan milik Naya.


"Koperku bagaimana?" tanya Kevan bingung.


"Maaf, Tuan. Hanya muat untuk dua koper." sahut supir taksi itu.


"Kamu sengaja kan merencanakan ini?!"


"Oh, tentu saja tidak." jawab Deryl santai dan mengajak Naya masuk kedalam taksi. "Maaf ya, Tuan Ardinata. Kami pergi duluan, sampai jumpa!"


"Kamu memang keterlaluan Deryl Mayat! Lihat saja nanti!" teriak Kevan begitu taksi yang ditumpangi Deryl dan Naya pergi.


Bahkan Deryl tertawa terbahak didalam taksi. Untuk pertama kalinya lagi Naya bisa melihat Deryl tertawa lepas seperti ini setelah pernikahan aneh ini terjadi. Biasanya Deryl hanya akan merespon dengan kekehan kecil atau samasekali tidak memberikan respon apa-apa kepada rivalnya itu.


"Kamu tersenyum, Naya."


"Ya. Aku melihat kamu tertawa lagi setelah sekian lama, bagaimana aku bisa menahan bibirku untuk tidak tersenyum?"


Deryl tersenyum dan mencubit pipi Naya pelan. "Kamu manis sekali, aku cinta kamu, Naya Amanda."


"Aku juga cinta kamu, Deryl Ananta."

__ADS_1


Ucapan manis dan penuh cinta itu diakhiri dengan pagutan penuh kasih antara Naya dan Deryl.


**To be continue


__ADS_2