My Two Husband

My Two Husband
Netherland #2


__ADS_3

Deryl sedang menonton tayangan televisi dengan wajah datar dan kesalnya. Bagaimana tidak? Harusnya tadi ia menang karena sudah membawa Naya bersamanya, namun lagi-lagi Kevan berulah ketika sampai di villa milik Deryl. Pria itu berteriak-teriak seperti orang gila dan tidak memiliki rasa malu. Deryl benar-benar kesal dibuatnya. Dan disinilah Deryl sekarang, duduk sendiri didepan televisi dan menonton tayangan yang samasekali tidak memperbaiki moodnya. Didalam kamar sana, Naya sedang bersama Kevan.


"Aku benci." ucap Deryl sembari melempar remote televisi itu sembarangan hingga mengenai kaca lemari dan pecah. Pria itu tidak ambil peduli, ia segera mengambil jaket musim dinginnya yang tersampir disofa dan langsung memakainya. Mengambil ponsel dan dompet miliknya, pria berkulit pucat itu segera pergi keluar dari villa penginapannya.


**


Deryl memilih pergi ke sebuah perusahaan besar yang ada di Netherland. Perusahaan itu merupakan milik temannya, selain ingin mengembalikan mood-nya yang rusak, ia juga ingin nengunjungi sahabatnya semasa kuliah itu.


"Aku ingin menemui Direktur Utama kalian," ucap Deryl pada seorang recepsionist yang tersenyum ramah kepadanya itu.


"Maaf, apa Anda sudah membuat janji dengan Direktur Utama kami?" tanya sang recepsionist.


"Katakan saja sahabatnya dari Indonesia mencarinya."


"Baik, silahkan tunggu sebentar."


Deryl mengangguk dan menuju kursi tunggu untuk duduk-duduk disana sementara recepsionist itu menelepon sang Direktur Utama.


"Tuan, Direktur Utama kami meminta Anda datang ke ruangannya. Mari saya antar."


Tanpa menjawab apa-apa, Deryl langsung mengikuti langkah kaki recepsionist cantik itu menuju sebuah lift.


"Ruangannya lantai berapa?" tanya Deryl.


"30, Tuan."


Deryl melirik jam tangan berwarna silver yang melingkari pergelangan tangannya itu, masih jam dua siang. Deryl memiliki banyak waktu untuk mengobrol lebih dengan sahabatnya serta sedikit melupakan kekesalannya pada Naya dan Kevan(?)


"Silahkan, Tuan."


"Terimakasih, aku akan masuk sendiri."


"Baik."


Deryl langsung melangkahkan kakinya menuju sebuah pintu kayu besar berwarna coklat didepannya. Didepan pintu, ada sebuah meja dan ada seorang wanita disana yang bersiap menyambutnya. Namun Deryl hanya mengangkat tangannya, dengan arti tidak perlu melakukan apa-apa. Deryl langsung membuka pintu besar itu dan nampaklah seorang pria yang sedang memperbaiki dasinya sembari menyeringai kearah pintu.



"Sudah kuduga, itu pasti kamu, yang tidak sopan." Ucap sang pemilik ruangan mulai bangkit dari kursi kebesarannya dan menghampiri Deryl yang hanya memasang wajah datarnya.


"Ayolah, apakah tidak ada senyum diwajahmu itu heh? Peluk aku, Deryl Ananta." ucap pria itu lagi.


"Kamu selalu banyak bicara, Matteo!"


Deryl berjalan pelan mendekati sahabatnya itu lalu memeluknya pelan. "Apa kabarmu?" tanya Deryl setelah melepas pelukannya.

__ADS_1


Sang pria bernama Matteo itu lantas tersenyum tipis, "Aku baik. Dan seperti kamu juga baik."


"Ya. Bisa dibilang seperti itu."


"Aku tidak tahu kamu ada di Netherland. Pekerjaan atau liburan?"


"Liburan."


Matteo menyeringai melihat wajah Deryl yang terlihat tidak senang saat dirinya menanyakan mengapa sahabatnya itu bisa berada di tempat yang sama dengannya. Matteo sudah tahu perihal pernikahan Deryl dan Naya serta satu orang pria lagi yang bernama Kevan.


"Apakah itu honeymoon, Deryl?"


"Shut up your fu*king mouth."


"Ah benar. Ada apa? Kamu bisa menceritakannya padaku."


Deryl tampak diam sebentar sembari melirik wajah licik Matteo yang berhasil mengalahkannya dengan telak. Pria licik itu pasti sedang menyiapkan macam-macam ejekkan jika Deryl sudah menceritakan masalahnya nanti. Lihat saja.


"Kevan itu sangat keterlaluan."


"Wow, aku terkejut! Apa yang dia lakukan pada Deryl-ku yang manis seperti mayat ini?" ejekkan pertama yang keluar dari mulut Matteo begitu lancar.


"Seharusnya dia bisa lebih menghargai aku, karena aku juga suami Naya. Terlebih aku cinta pertama Naya. Harusnya ia tahu hal itu."


Oh astaga, ingatkan Deryl bahwa makhluk menyebalkan yang sedang duduk dihadapannya sambil memasang senyum mengejek itu adalah sahabatnya.


"Karena dia tidak menghargaiku. Itu sudah jelas, Bodoh."


"Hnm. Berarti kamu cemburu?"


"Pertanyaan macam apa itu?!" jawab Deryl dengan suara meninggi.


"Santai saja, Dokter Tampan. Aku berada di kubu-mu. Jangan cemas, kamu itu tidak terkalahkan! Selain tampan, kamu juga seorang dokter, dan kelebihannya kamu itu pria kaya!"


"Mengapa aku merasa setelah menceritakan masalahku padamu, aku menjadi semakin kesal? Aku rasa kamu tidak memberikan solusi apapun, Matteo!"


Matteo tertawa nyaring melihat tatapan Deryl yang seolah-olah ingin menelannya saat ini. Ya bagaimana, bukankah kalau lama tidak bertemu itu harus saling ejek-mengejek dulu?


"Bagaimana bisa seseorang sepertimu ini menjadi Direktur Utama, Matteo?"


"Kamu tidak percaya kan? Aku juga."


"Karena kamu sengaja merekrut karyawan yang bodoh."


"Exactly. Tapi mereka membuatku menjadi Direktur Utama. Bukankah itu terdengar keren?"

__ADS_1


Deryl tak lagi menanggapi ucapan tidak penting Matteo, ia malah mengalihkan pembicaraan.


"Bagaimana istrimu, Teo?"


"Still can't give me a child."


Raut wajah Matteo berubah ketika Deryl menanyakan tentang istrinya. Yang tadi awalnya wajahnya ceria, mengejek, menyeringai licik kini telah berganti menjadi sendu.


"I'm sorry. I don't know about that."


"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang merasa... yah. Sedikit kacau mungkin?"


"Kamu pergi makan denganku? Aku belum makan apa-apa sejak tiba disini omong-omong. Dan aku merasa lapar."


"Oh hahaha. Kasihan, sedang istrimu melayani suaminya yang lain. Ayo, kutraktir. Sekalian sedikit minum-minum tidak masalah."


"Mulutmu memang diciptakan begitu buruk, Matteo!"


"Hahaha!"


**


Naya sekarang sedang cemas bukan main. Ia tidak bisa menemukan Deryl disudut manapun, pesan dan telepon yang dilakukan Naya malah diabaikan oleh pria tampan itu. Naya takut Deryl merasa marah padanya, Naya takut Deryl merasa kecewa padanya.


"Kamu pergi kemana, Deryl?" gumam Naya sembari terus menekan nomor telepon Deryl meskipun tidak ada satupun panggilan dari Naya yang dijawab oleh Deryl.


"Masih tidak bisa dihubungi?" tanya Kevan.


"Ya." jawab Naya singkat.


"Kamu marah padaku?"


Naya tidak menjawab pertanyaan Kevan, ia masih terus berusaha menghubungi Deryl. Mengabaikan bahwa Kevan sedang sedang dilanda rasa cemburu.


"Kenapa kamu selalu menomorsatukan Deryl? Apa aku ini tidak cukup berarti bagimu, Naya?"


"Apa yang kamu bicarakan? Aku hanya cemas padanya!"


"Tapi cemasmu itu berlebihan! Dia sudah dewasa, dia bisa menjaga dirinya!"


"Cukup Kevan! Dimana-mana, wajar bagi seorang istri mengkhawatirkan suaminya!"


Bolehkah jika Kevan ingin serakah? Memiliki Naya tanpa harus berbagi dengan pria lain? Bolehkah Kevan meminta jika cinta Naya hanya untuknya? Egois kah ia?


** to be continue

__ADS_1


__ADS_2