My Two Husband

My Two Husband
Welcome, Baby


__ADS_3

Beberapa bulan telah terlewati dengan lancar. Dan hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh Kevan dan Deryl, yaitu hari kelahiran anaknya. Sejak semalam Naya mengeluh perutnya sakit, saat itu Kevan sedang berada di Jogja untuk bisnisnya terpaksa harus mengambil penerbangan tercepat menuju Jakarta dengan bantuan Deryl. Dan disinilah mereka berdua sekarang. Berada di rumah sakit Deryl dan menunggu dengan cemas.


Saat mereka tiba di rumah sakit tadi, dokter mengatakan bahwa Naya harus segera melahirkan, tentu saja dengan mengambil tindakan operasi caesar. Omong-omong, Naya mengandung bayi kembar yang berjenis kelamin laki-laki. Ucapan Deryl saat berada di mall waktu itu benar adanya.


Sekarang Deryl dan Kevan masih menunggu didepan pintu ruang operasi Naya. Sudah setengah jam tapi dokter sama sekali belum keluar dan memberi kabar baik. Deryl memilih duduk dan berdoa semoga Naya dan anaknya baik-baik saja, sementara Kevan sedang senang-senangnya menjadi setrikaan.


"Hei, apa kamu tidak bisa duduk dan diam?" tanya Deryl pusing melihat Kevan yang terus mondar-mandir didepannya.


"Tidak bisa, Deryl! Aku khawatir sekali dengan keadaan Naya!"


"Aku juga khawatir. Tenanglah, Naya pasti baik-baik saja. Lebih baik kamu duduk disini dan berdoa semoga Naya dan bayi-bayi selamat."


Kevan berpikir apa yang dikatakan Deryl benar. Maka dari itu, dia mendudukkan dirinya disebelah Deryl. Berusaha tenang dan menekan habis rasa cemasnya menanti kabar Naya.


"Apa kamu sudah menyiapkan nama untuk anakmu?" tanya Deryl berusaha mencairkan suasana tegang.


"Sudah. Aku sudah memikirkannya berulang-ulang kali. Bagaimana denganmu?" tanya Kevan balik.


"Oh, aku juga sudah memikirkannya."


"Boleh kutau namanya?"


"Masih rahasia. Dan kamu?"


"Rahasia juga."


Deryl dan Kevan sama-sama tersenyum setelah menyebutkan nama anak mereka. Hampir satu jam Deryl dan Kevan menunggu dalam keheningan, akhirnya mereka mendengar suara tangisan bayi yang saling bersahutan. Dalam hati mereka bersyukur, karena sudah menjadi ayah.


"Selamat untukmu, Bro." ucap Deryl pertama dan melebarkan lengannya untuk memeluk Kevan yang tengah tersenyum haru.


"Selamat untukmu juga, Bro." Kevan membalas peluk Deryl yang sama harunya dengan dirinya saat ini.


"Aku sudah menjadi Daddy, di usiaku yang ke dua puluh enam ini.. astaga. Aku terlalu banyak mendapat kebahagiaan." Ucap Deryl setelah melepas peluknya dengan Kevan.


"Dan akupun sudah resmi menjadi seorang ayah di umurku yang ke dua puluh delapan." sahut Kevan.


Mereka menjadi tidak sabar ingin segera menemui Naya dan anak mereka. Dokter masih belum keluar dan mereka masih belum bisa bertemu dengan Naya. Mungkin harus menunggu sedikit lagi agar bisa bertemu.


Deryl menarik nafas panjang disertai rasa gugup untuk pertama kalinya. Bahkan tidak segugup ini saat pernikahannya dulu. Deryl dan Kevan masih menunggu dengan tenang sampai akhirnya dokter keluar dan memberitahukan kalau Naya sudah bisa dijenguk setelah dipindahkan ruangannya. Deryl dan Kevan mengangguk semangat.


"Aku akan mengabari orangtuaku, kamu sebaiknya kabari ayah mertua." ucap Kevan. Deryl mengangguk dan segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi ayah Naya.


**


Deryl dan Kevan akhirnya bisa bertemu dengan Naya sekaligus bayi mereka. Bayi kembar berjenis kelamin laki-laki yang sangat sehat dan tampan tentunya.


"Astaga, dia lucu sekali." ucap Kevan sambil menoel-noel pipi tembam sang anak.


Sedangkan Deryl, pria itu terpaku menatap wajah sang bayi yang tengah berada digendongannya. Wajah bayi yang sangat mirip dengannya, hidungnya yang bangir, bibirnya yang tipis serta kulit putih pucat seperti milik Deryl.

__ADS_1


"Sudah menyiapkan nama untuk mereka?" tanya Naya menatap kedua suaminya itu bergantian.


"Aku sudah," ucap Kevan.


"Aku juga sudah."


Naya tersenyum tipis. "Baiklah, aku ingin mendengar nama mereka. Boleh?"


"Tentu saja!" jawab Deryl dan Kevan bersamaan.


"Anakku yang tampan ini ... kuberi nama Kiano Kevna Ardinata." ucap Kevan pertama menyebutkan nama anaknya yang sedang tertidur di box bayi.


"Dan Deryl?"


"Kenzio Carl Ananta .. untuk anakku yang mewarisi rupaku. My duplicate."



Bayi kembar yang tampan tapi tidak identik. Masing-masing mencerminkan wajah khas sang ayah yang sangat kentara.


"Kenzio dan Kiano, aku suka nama mereka." puji Naya setelah kedua suaminya menyebutkan nama kedua anak mereka.


"Kenzio dan Kiano, mana yang kakak?" tanya Kevan penasaran.


"Kiano." jawab Naya.


Deryl meletakkan kembali sang anak yang masih tertidur kedalam box bayi. Meletakkannya tepat disamping Kiano lalu beranjak menghampiri Naya.


"You okey?" tanya Deryl sambil menggenggam erat tangan Naya.


Naya mengangguk pelan dan tersenyum. "I'm okey."


"So glad hear you say that."


Kevan menghampiri Naya dan duduk disebelah Deryl. "Kamu terlihat lemas, Naya." ucapnya.


"Yah.. mereka sangat bersemangat untuk bertemu Ayah dan Daddy-nya."


"Naya, terimakasih.." ucap Deryl tulus. Menatap Naya dengan penuh cinta.


"Terimakasih untuk apa?"


"Untuk semuanya, untuk mengurus kami, bersama kami, dan untuk Kiano dan Kenzio. Terimakasih, Naya." ucap Kevan dan diangguki oleh Deryl. Naya tidak pernah merasa sebahagia ini, dicintai oleh dua pria yang akhirnya mau berdamai, dan diperlakukan seperti ratu oleh kedua suaminya.


"Aku juga terimakasih. Terimakasih untuk kalian yang tetap setia berada di sisiku, bahkan disaat-saat aku paling menyebalkan sekalipun kalian tidak pernah bersikap atau bertindak kasar padaku. Terimakasih, Deryl, Kevan. Aku sayang kalian."


"Kami juga sayang kamu, Naya."


**

__ADS_1


Ruang rawat Naya mulai ramai karena kedatangan orangtua Kevan dan ayah Naya. Orangtua Kevan sibuk menggendong Kiano yang sedang terbangun sehabis menyusu. Sedangkan ayah Naya menggendong Kenzio yang tertidur. "Kenzio ini benar-benar duplikatnya Deryl. Dari mata, alis, hidung, bibir bahkan kulitnya mengikuti Deryl. Bagaimana bisa kalian membuat dua bayi yang berbeda seperti ini?" komentar ayah Naya mengundang tawa Deryl dan Naya.


"Aku juga tidak tau, ayah. Aku pikir bayi kami akan memiliki wajah yang serupa karena kembar. Tapi ternyata tidak identik, dan Kenzio mewarisi seluruh diriku." jawab Deryl tersenyum.


"Sedangkan Kiano terlihat lebih dengan Naya. Waaah benar-benar hebat ya, cucu-cucuku ini." Ronald mencium pipi gembil Kenzio yang masih terlelap.


"Kalau Kiano memang perpaduan antara Naya dan Kevan, tapi kalau Kenzio, mendominasiku saja."


"Dia tidak mau mengalahi ayahnya. Makanya dia salin semua apa yang ada di wajah Deryl,"


"Naya, aku akan pulang dulu untuk mandi dan membersihkan rumah untuk kalian pulang nanti. Kevan akan disini menemanimu." ucap Deryl mengecup kening Naya.


"Hati-hati dijalan, jangan lupa makan."


Deryl hanya mengangguk, lalu setelah itu ia berpamitan dan pergi dari sana. Setelah kepergian Deryl dari ruangan itu, orangtua Kevan mulai menghampiri ayah Naya yang sedang menggendong Kenzio.


"Jadi ini anaknya pria itu? Huh, tidak lebih baik dari Kiano." ucap sang ibu sarkas.


"Bu!" tegur Kevan.


Naya dan Ronald memasang wajah tidak enaknya setelah mendengar ucapan ibu Kevan. Orangtua Kevan memang tidak menyukai Deryl sejak awal. Itulah alasan siapapun yang berhubungan dengan Deryl akan mendapatkan perilaku yang kurang baik darinya.


"Naya, ayah mau pulang dulu, mungkin akan mampir sebentar kerumahmu dan membahas masalah rumah kalian kemarin dengan Deryl." ucap Ronald dan menyerahkan Kenzio pada Naya.


"Memangnya ada apa dengan rumah kalian kemarin?" tanya ayah Kevan.


"Rumah kami kemarin diganggu hantu. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa." jawab Kevan.


"Sudah kuduga. Pasti ada yang tidak beres dengan rumah itu. Dokter sinting itu memangnya tidak bisa membeli rumah yang lebih layak lagi ya untuk ditinggali? Kasihan jika kalian dan cucuku diganggu hantu." ucap ibu Kevan.


"Lebih baik jika Naya dan Kiano berada dirumah ayah dulu."


"Bagaimana dengan Kenzio?" tanya Kevan.


"Untuk apa susah-susah memikirkannya? Dia kan punya ayah sendiri."


Ronald merasa bahwa orangtua Kevan sangatlah egois kepada Deryl, bahkan kepada bayi yang baru itu. Ronald sudah berbalik bersiap pergi dan membuka pintu lalu ia terkejut mendapati Deryl masih berdiri di samping pintu mendengarkan ucapan jahat tadi.


"Ah .. tadi aku lupa bertanya pada Naya. Tapi aku akan menelponnya saja nanti," alasan Deryl ketika Ronald sudah berdiri didepannya.


Tanpa aba-aba, Ronald langsung memeluk tubuh tinggi Deryl dan menepuk pelan pundak pria itu. "Jangan dengarkan mereka. Sejauh ini kamu sudah bertahan dengan berbagi cintamu, kamu hebat."


Deryl tidak bisa tidak menangis. Mendapat pelukan seperti ini .. rasanya dadanya benar-benar sesak, sudah lama tidak dipeluk dan dikuatkan seperti ini. "A-Ayah.." lirihnya.


"Tidak apa-apa, kamu tidak salah. Kamu yang terbaik, anakku."


Selama ini Deryl sudah sangat sendiri, sudah terlalu lama luka sendirian, sudah terlalu lama memendam semua sakitnya sendirian. Tanpa Ronald tanya sekalipun, akan terlihat jelas dimata pria pucat itu bahwa itu terluka setiap detiknya. Dan hal ini jelas karena kesalahannya dulu ..


* TO BE CONTINUE *

__ADS_1


__ADS_2