My Two Husband

My Two Husband
Kontrak Perdamaian Sementara


__ADS_3

Hari ini Deryl dan Kevan ditinggalkan berdua dirumah oleh Naya. Sedangkan wanita itu pergi kerumah ayahnya dan menginap disana tanpa memperbolehkan Deryl dan Kevan untuk ikut. Tentu saja kedua pria itu menggerutu kesal, bayangkan saja.. Deryl dan Kevan itu bagaikan air dan minyak. Tidak bisa bersatu, selalu saja ada hal yang membuat dua pria itu beradu mulut. Bahkan untuk hal tidak penting sekalipun bisa dijadikan bahan untuk pertengkaran mereka. Contohnya sekarang ini, mereka sibuk mendebatkan darimana garam berasal.


"Sudah kubilang, garam itu dari air laut!" Ucap Deryl sambil mengaduk-aduk bahan masakannya.


"Aku tidak akan tertipu lagi kali ini, kamu pikir kamu bisa membohongiku hah?! Garam itu berasal dari pasir laut yang disaring!"


"Astaga bodohnya dirimu, Kevan! Mana ada garam dari pasir laut. Belajar itu yang benar!"


"Aku benar kok, garam memang dari pasir laut. Kamu saja yang tidak tau."


"Garam itu berasal dari air laut yang di endapkan! Karena air laut itu asin makanya dibuat garam!"


"Sok tau. Pasir laut juga asin."


"Kamu sekolah berapa tahun sih? Otakmu juga masih berfungsi kan?"


Kevan mendengus kesal. "Lama-lama aku juga jadi memiliki keinginan untuk membuat mulutmu menjadi bakwan dengan udang."


"Lihat, bahkan sekarang kamu ingin meniruku. Begitu mengidolakan aku kah?"


"Tutup mulutmu, ingin muntah aku mendengarnya."


Deryl berdiam sambil berkacak pinggang, "Aku bosan setiap hari bertengkar denganmu tapi aku juga malas berbaikan denganmu."


"Aku sepemikiran. Bagaimana kalau kita membuat kontrak perdamaian sementara?" usul Kevan. Pria itu juga menghentikan acara mengaduk telur orak-ariknya.


"Maksudmu kita berbaikan tapi tidak benar-benar berbaikan?"


"Iya. Soalnya aku yakin kamu dan aku akan saling membutuhkan jika Naya mengidam. Bagaimana?"


"Aku butuh kontrak tertulis. Aku ini bukan sembarang orang, ah beri matrai 6000 juga."


"Gayamu! Seperti membuat kontrak kerjasama saja."


"Ya memang harus begitu, aku ini pria terhormat jadi aku maunya ada kontrak tertulis yang resmi."


Kevan mematikan kompornya dan berlari kekamar. Mengambil selembar kertas HVS dan pulpen serta matrai 6000. Ia kembali lagi kedapur dan menulis kontrak perdamaian sementara-nya dengan Deryl yang berisi :


Kontrak Perdamaian Sementara .


Kevan Ardinata dan Deryl Ananta


Kontrak perdamaian ini hanya berlaku selama kehamilan Naya Amanda untuk saling tolong-menolong jika kesusahan menghadapi masa mengidam Naya. Terlepas setelah Naya melahirkan, maka otomatis kontrak ini berakhir.


Kami yang menyetujui dan bertanda tangan dibawah ini.


Kevan Ardinata .


Deryl Ananta .


"Ini, cepat tanda tangan." teriak Kevan dari meja makan.


Deryl mematikan kompor serta melepas apronnya lalu menghampiri Kevan yang sudah melabuhkan tandatangannya dikertas itu.

__ADS_1


"Siapa yang menyimpan kontrak ini?" tanya Deryl.


"Bagusnya siapa yang menyimpan? Kalau aku yang menyimpan, takut terselip dengan tumpukan berkas-berkasku."


"Yasudah, aku saja yang menyimpannya." Deryl menggulung kertas itu dan mengikatnya dengan karet. Lalu pergi kekamarnya untuk menyimpan kertas itu dikamarnya. Setelah itu kembali lagi kedapur, memasang apronnya dan kembali melanjutkan kegiatan memasak makan siangnya.


**


"Didepan sana, ada musuh. Jangan maju, nanti kamu kalah lagi." ucap Deryl.


Saat ini ia dan Kevan sedang bermain game populer yang sedang mendunia itu. Semenjak kontrak perdamaian itu ditulis dan disetujui, keduanya mulai sedikit lebih manusiawi untuk saling memulai pembicaraan.


"Aku tidak punya obat, lihat lihat! Darah berkurang." Seru Kevan panik.


"Mundur mundur. Sembunyi dibelakang pohon nanti aku beri obat."


"Lambat, aku sudah mati."


Deryl mendengus kesal. Kebiasaan Kevan dalam bermain game. Sok jagoan tapi tidak bisa menghadapi musuh. Dia pasti panik kalau ada musuh didepannya.


"Kamu ini kalah terus! Mainlah dengan profesional sedikit!"


"Yasudah, sekali lagi. Awas kalau kalah lagi. Kugantung didepan pintu kamu!" ancam Deryl.


"Iya, iya. Bawel sekali kamu ah."


"Cepat sana cari senjata, awas kalau menyusahkanku lagi. Nanti aku terikut mati juga!"


"Itu berarti kamu juga tidak bisa bermain!"


Kevan hanya mendengus mendengar ucapan Deryl. "Deryl, carikan aku senjata."


"Cari sendiri dirumah sana."


Itu adalah game populer dikalangan lelaki, yaitu PUBG.


"Aku mau chicken dinner kali ini, please. Jangan menyusahkanku ya Kevan."


Mereka berdua bermain game dengan sangat fokus dan hati-hati. Terutama Kevan yang sering mati duluan karena panik ada musuh.


"Sembunyi sembunyi. Sisa dua lagi. Aku yakin pasti menang," seru Deryl semangat.


"Ada dibelakang batu! Kamu lawan saja dia sendirian."


"Kamu gila? Aku ini bermain duo kenapa malah jadi solo? Bantu aku menyerang!"


"Yasudah."


"Tembaaaaak! Yeaaaaay!!!"


Deryl berteriak senang setelah bermain sebanyak enam kali bersama Kevan akhirnya menang juga. Walaupun Kevan menyusahkan tapi dia juga sedikit membantu didetik-detik terakhir.


"Akhirnya menang..." ucap Deryl. Pria itu merebahkan tubuhnya ke sofa dan meletakkan ponselnya yang terasa panas dimeja. Begitupun dengan Kevan.

__ADS_1


"Hanya tertinggal berdua dirumah rasanya aneh. Sedikit canggung tapi juga terasa sedikit menyenangkan." Ucap Kevan.


"Tidak ada senang-senangnya, kamu selalu menyebalkan." Sahut Deryl.


"Apa kamu tidak bisa bersikap baik sedikit saja dengan pria tampan sepertiku?"


"Never! Dan juga aku samasekali tidak menganggap dirimu itu tampan, jadi jangan terlalu percaya diri berbicara denganku."


"Orang iri memang begitu. Tapi apakah kamu ini orang Deryl?"


"Tentu saja! Memangnya kamu pikir aku ini apa?"


"Mayat hidup ups!"


"Diam, aku sedang tidak minat untuk beradu mulut denganmu. Aku lelah, sana pergi ambil minuman dingin dikulkas." Suruh Deryl.


Kevan melemparkan bantal ke wajah Deryl. "Kamu masih punya kaki sendiri."


"Waktu itu kamu juga menyuruhku,"


"Oh ya? Aku tidak merasa tuh, kapan ya kira-kira aku pernah menyuruhmu?" Ucap Kevan dengan wajah yang dibuat-buatnya seolah sedang berpikir dan itu membuat Deryl kesal.


"Perlu kuingatkan dengan cara kasar atau lembut?" tantang Deryl.


"Pilihan kedua! Aku suka dengan cara yang penuh kelembutan, dibelai-belai, dielus-elus, diraba-raba. Uhh merinding~"


"Si bodoh ini membahas apa lagi?" Deryl langsung memukul wajah Kevan dengan bantal beberapa kali hingga sang pemilik wajah merasanya wajahnya kebam dengan pukulan bantal itu.


"Wajahku keram."


"Begini saja, aku punya pertanyaan. Kalau kamu bisa menjawabnya dengan benar maka aku yang akan kedapur dan mengambil minuman dingin, dan kalau aku yang menang kamu yang mengambilnya dan beli cemilan sebanyak mungkin, bagaimana?"


"Tidak adil."


"Tidak adil apanya?"


"Kamu tidak menyebutkan kamu juga akan membeli cemilan dengan banyak kalau kalah?"


"Iya sudah iya! Begitu saja protes."


"Yasudah, apa pertanyaannya?"


Deryl mendudukkan dirinya dan menarik nafas dalam. "Kamu harus menggunakan otakmu sebaik mungkin, juga mainkan logikamu sehebat mungkin."


"Heh, macam mengikuti kuis milioner." ucap Kevan terkikik.


"Aku serius."


"Oke, oke. Baiklah, cepat katakan pertanyaannya."


"Jika sebuah sabun dibawa memasuki wc dan memiliki peluang untuk terjatuh, maka... yang kotor wc-nya atau sabun-nya?" Deryl menyelesaikan pertanyaannya dengan penuh drama.


Kevan ternganga. "Woah bagaimana bisa sesusah ini?"

__ADS_1


Jadi, siapa yang bodoh disini? Dan apa jawaban atas pertanyaan Deryl? Ada yang tau?


** to be continue


__ADS_2