My Two Husband

My Two Husband
Baby Twins dan Ayam Kecap


__ADS_3

Kevan dan Naya berjalan beriringan di koridor rumah sakit, rencananya mereka akan melakukan usg hari ini. Bukan untuk mengetahui jenis kelamin calon anak mereka, tapi hanya untuk melihat perkembangannya. Lagipula ini sudah bulan kelima kehamilan Naya, dan mereka belum pernah melakukan usg sebelumnya, ini yang pertama.


"Dimana Deryl? Katanya dia menunggu di lorong ini?" tanya Kevan sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Deryl.


"Coba kamu telpon dulu." Suruh Naya. Wanita itu berjalan menuju sebuah kursi panjang dan duduk disana. Dia tidak tahan terlalu lama berdiri.


Baru saja Kevan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Deryl, ternyata Deryl sedang berlari-lari kecil kearah mereka dengan pelipis yang berkeringat.


"Kalian menunggu lama?" tanyanya begitu sampai.


"Tidak sih, kami baru saja sampai." jawab Kevan.


"Naya, maaf tadi aku kontrol pasien dulu." ucap Deryl memeluk Naya yang sedang duduk.


"Tidak apa-apa, Deryl. Tapi tolong lepaskan ini, kamu berkeringat."


"Oh iya, maaf. Ayo kuantar ke poli kandungan."


Deryl membantu Naya untuk berdiri dan menggandeng pelan tangan wanita itu.


"Jauh atau tidak?" tanya Kevan. Pasalnya ia merasa kasihan melihat Naya yang sepertinya kelelahan walau berjalan sebentar.


"Tidak, tidak. Itu didepan sana, dekat sekali kok."


"Yasudah kalau begitu, pelan-pelan saja. Naya sepertinya mulai lelah."


"Kamu lelah? Mau kuambilkan kursi roda?" tanya Deryl.


Naya mencubit pelan lengan Deryl, astaga. Dia kan cuma hamil, bukan tidak bisa berjalan. Kedua suaminya ini sangat berlebihan mengkhawatirkan Naya. Bukannya tidak senang dikhawatirkan, hanya saja menurut Naya ini sangat berlebihan.


"Aku cuma hamil, bukan akan melahirkan!" ucap Naya.


"Maaf, Naya. Kami hanya khawatir." ucap Deryl dan Kevan bersamaan.


"Yasudah, ayo."


"Lewat sini, Naya. Ruangannya ada disebelah kiri."


Mereka sudah tiba di ruangan kandungan. Naya pun juga sudah berbaring, disebelahnya ada Deryl dan Kevan yang terlihat tenang. Dokter wanita yang bertugas untuk memeriksa Naya sudah memberikan gel khusus diatas perut wanita itu.


"Mau tau jenis kelaminnya atau bagaimana?" tanya dokter itu.


"Keadaannya saja, jenis kelamin biar menjadi rahasia." jawab Kevan.


"Baiklah kalau begitu."


Dokter itu mulai menempelkan alat usg itu diatas perut Naya. Pandangan Deryl dan Kevan pun fokus pada layar monitor.


"Sepertinya..." ucap dokter itu menggantung.

__ADS_1


"Ada apa, dokter?" tanya Deryl mulai khawatir.


"Ah tidak, tidak. Maksudku bukan hal yang buruk."


"Lalu apa?"


"Kalian melihat sisi kanan dan kiri ini kan? Terdapat dua bulatan yang berbeda." jelas dokter itu sembari terus menatap pada layar monitor.


"Maksudnya apa? Aku tidak paham." ucap Kevan.


"Sudah, kamu diam saja. Biar aku yang memahaminya." sahut Deryl. "Jadi sebenarnya kenapa dengan dua bulatan itu?" lanjutnya.


"Ini jelas adalah kepala bayi kalian, dokter Deryl. Dan sepertinya istri kalian mengandung bayi kembar."


"Baby Twins?" ucap Deryl dan Kevan bersamaan.


Sementara itu Naya terlihat senyum terharu. Merasa sangat bahagia dengan kabar ini, ia menatap kedua suaminya yang juga menampilkan wajah bahagia penuh haru.


"Selamat ya, anda mengandung bayi kembar. Jaga terus kesehatan dan pola makan. Jangan stress dan memikirkan hal yang berat karena itu akan sangat berpengaruh pada kandungan." ucap dokter itu sembari membantu Naya bangun.


"Terimakasih, dokter."


"Dokter Deryl bisa ikut saya untuk mengambil vitaminnya."


"Oke. Naya, kamu langsung pulang saja dengan Kevan ya, vitaminnya biar nanti aku yang membawakan saat pulang."


Naya mengangguk, ia mengecup pipi Deryl lalu berjalan keluar ruangan dituntun oleh Kevan.


Saat ini Kevan sedang sibuk didapur, lebih tepatnya memasak. Tadi sehabis kembali dari rumah sakit Naya mengidam. Untungnya tidak mengidam yang aneh-aneh lagi seperti menyuruh Kevan memukuli seseorang yang sedang menunggu bis dan memotong pohon apel milik tetangga. Kali ini Naya mengidam ingin makan masakan Kevan.


Ya walaupun Kevan tidak bisa memasak, setidaknya kan jaman sekarang sudah canggih. Kevan bisa membeli banyak bumbu instan lalu memasak apa yang diinginkan oleh Naya. Naya menginginkan makanan rumahan seperti tumis sayur, ayam kecap dan lainnya. Meskipun kesusahan karena Kevan tidak bisa memasak seperti Deryl, tapi pria itu berusaha yang terbaik. Ditemani oleh Naya didapur, Kevan terlihat kesusahan saat akan memotong ayam.


"Pelan-pelan, Kevan. Sayat kulitnya dengan benar." Naya memberi intruksi.


"Sudah, Naya. Kulitnya ini alot sekali, aku heran kenapa Deryl bisa memotong ayam dengan begitu cepat dan telaten."


"Karena dia sudah terbiasa. Apa kamu samasekali belum pernah memasak?"


"Bahkan ini pertama kalinya aku bersentuhan langsung dengan alat-alat dapur, sayang."


"Tapi kamu bisa menyalakan kompor dengan benar kan?"


"Tentu saja! Anak TK pun bisa melakukannya dengan benar."


"Hanya bertanya. Takut kamu tidak bisa menggunakannya dengan benar dan akhirnya malah membakar rumah ini."


Kevan tertawa pelan. "Tenang saja. Aku akan berhati-hati, dan juga akan menyaingi Deryl dalam hal ini."


Kevan kembali melanjutkan kegiatannya memotong ayam, setelah itu ia mengupas bawang merah dan bawang putih.

__ADS_1


"Aku membenci bawang! Mataku..." Kevan mengelap matanya yang mengeluarkan air mata dengan lengan bajunya. Ini karena ia sedang mengupas bawang merah.


"Kenapa malah menangis?"


"Aku tidak menangis!"


"Matamu merah!"


"Mataku pedih! Benci sekali dengan bawang merah ini."


"Ahaha!"


"Akan kuselesaikan dengan cepat,"


Kevan langsung memotong-motong bawang itu, lebih tepat mencincangnya halus. Ia langsung memasukkan cincangan bawangan itu kedalam wajan, dan ia menumpahkan banyak minyak didalamnya.


"Aku menyerah, Naya. Sungguh.. ini menyulitkan!" ucapnya hampir menangis.


"Ayolah, tidak apa-apa. Tumis saja dulu bawangnya sampai harum baru masukkan ayamnya. Cepat, cepat. Kamu bisa menyelesaikannya!"


"Here we go! Aaaaaa!"


Kevan berteriak saat minyak panas itu mengenai kulitnya ketika ia memasukkan ayam. Dimana-mana, orang memasukkan ayam diminyak panas dengan pelan. Mana ada dilempar-lempar seperti Kevan.


Selama satu jam setengah Kevan dibiarkan Naya tetap pada masakannya, akhirnya pria itu menyelesaikannya. Sekarang Naya sudah duduk menunggu di meja makan. Kevan masih dengan apron celemeknya, datang membawa makanan yang diinginkan oleh Naya. Ayam kecap ala-ala rumahan yang gosong tetapi masih tetap harum.


"Naya, kamu yakin ingin memakan ini? Apa sebaiknya kita delivery saja?" tanya Kevan lagi sembari menatap ayam kecap buatannya yang gosong itu.


"Iya aku yakin. Kita makan ini saja, pasti enak." sahut Naya bersemangat.


"Tapi ayam-nya seperti tidak layak makan seperti ini, Naya. Huhuhu... aku begitu buruk dalam hal memasak. Ayam ini gosong!"


"Tidak, ini kamu terlalu banyak memasukkan kecap saja."


"Kamu ngotot sekali, Naya."


"Diam dan biarkan aku mencobanya."


Naya mengambil sepotong kecil daging ayam itu dan memakannya. "Tidak ada yang aneh dengan rasanya, ini enak. Seperti masakan Deryl juga."


"Benarkah?"


Naya mengangguk. "Coba saja."


Kevan mengikuti ucapan Naya dan mengambil sepotong daging ayam itu juga dan langsung memakannya. Tapi wajahnya menunjukkan ekspresi lain, sedangkan Naya terlihat tenang memakan ayam masakannya itu.


"Naya, ini aneh. Hambar dan pahit karena gosong. Bagaimana kamu bisa memakannya seolah ini adalah makanan yang enak."


"Karena memang enak."

__ADS_1


Lain kali, ingatkan Kevan untuk membawa Naya memeriksakan diri ke rumah sakit.


— to be continue .


__ADS_2