My Two Husband

My Two Husband
Rindu


__ADS_3

Naya mengulum senyum termanisnya, menggapai tubuh Deryl yang tidak jauh darinya. Memeluknya bagai tidak ada hari lain. "Selamat datang kembali ke rumah."


Nyatanya, dua hari tanpa Deryl membuatnya terus dalam suasana yang aneh. Ia bahkan tak jarang mengacuhkan Kevan dua hari ini. Berterimakasihlah pada kebutaan cinta Kevan terhadap Naya. Apapun yang wanita cantik itu lakukan padanya tak pernah mengurangi sedikitpun rasa cintanya. Apalagi untuk mempelakukannya dengan buruk.


Tidak akan pernah.


"Aku rindu kamu."


Senyumnya semakin lebar. Matanya terus menatap mata coklat pekat Deryl. "Dua hari tanpamu. Uhm, aku benci." lalu berusaha menaiki tubuh Deryl seperti anak kecil yang sedang menaiki permainan di taman. Kalau tidak dengan tangan Deryl yang membantunya dan menahan tubuhnya, Naya pasti takkan pernah berhasil.


"Baby Nay." Deryl menyesap dalam harum rambut Naya. "Napasku." tangannya membelai pipi wanita cantik itu dengan lamban. Dan Naya terkekeh kecil, mengalungkan tangannya pada leher Deryl. Menempelkan hidung mereka membuatnya beradu. Kekanan-kiri.


Deryl mengecup bibir yang dua hari ini tak tersentuh olehnya dengan kilat. Naya memicing. "Mencuri kecupan, hm?"


"Aku akan mencuri lebih dari itu, Naya." Bisik Deryl dengan suara berat namun pelan. Menggoda telinga Naya dengan ******* seduktif.


"Ng, jangan menggoda telingaku!"


"Aku ingin memakanmu."


Naya mencebik dalam gendongan Deryl. Melilit pinggang Deryl dengan kakinya. Tubuh mereka menempel tanpa jarak. "Hey! Memangnya aku makanan?"


"Tapi kamu beraroma strawberry."


"Ingin menyentuhku sekarang?" Bisik Naya membuat Deryl menjatuhkan barang-barang yang ada dimeja tergantikan oleh tubuh sintal Naya yang terduduk dimeja dengan tatapan sayunya.


Deryl meraup bibir Naya, mengulumnya seolah ingin memakannya. Atas bawah bergantian sampai benang saliva terlihat berserakan disekitar bibir mereka. Saat Deryl sengaja menjauhkan bibir mereka lalu menautkannya kembali. Ciuman basah itu semakin panas karena lidah keduanya yang salit membelit satu sama lain. Mengabsen jajaran gigi rapi milik Naya satu persatu. Naya mengambil napas sebanyak-banyaknya saat bibir Deryl turun ke lehernya. Membuat tanda, atau bahkan hanya sekedar menghilangkan tanda Kevan pada lehernya. Tangan Deryl dengan mudah merobek baju tidur Naya, kancing yang sudah berserakan jatuh ke lantai bersamaan dengan kain yang sudah rusak parah.


"Itu edisi terbatas, Deryl!" pekik Naya.


"Aku akan menggantikannya setelah selesai dengan ini, Naya."


Menurunkan tubuh Naya dari meja, membuatnya terbaring pasrah di sofa ruang tamu. Melepaskan seluruh kain yang menempel pada tubuh Naya. Sedangkan dirinya masih lengkap dengan jas dokternya. Kini yang terlihat seperti Deryl sedang memperkosa pasiennya. Tapi Deryl tidak mempermasalahkannya, dengan segera Deryl melakukan apa yang ia inginkan.

__ADS_1


Suara dering ponsel yang berada dimeja ruang tamu membuat Deryl menoleh dan berakhir melepaskan tangannya membuat Naya terbebas. Sebelumnya, Deryl memegang kedua tangan Naya agar ia mudah melakukan keinginannya.


"Ouhh.. siapa?"


"Kevan. Angkatlah."


Deryl memberikan ponsel itu pada pemiliknya. Naya menggeleng keras tapi panggilan itu sudah diterima oleh Deryl. Dan terdengar suara Kevan dari seberang sana.


"Ada apa, Van ahhh.." Naya menutup mulutnya saat Deryl dengan sengaja menghentaknya, kepalanya sedikit memutar hanya untuk memberikan tatapan tajam pada Deryl yang terlihat acuh.


"....."


"Tidak. Aku hanya sedang menonton pertunjukkan orang terjun ke jurang. Membuatku terkejut." Naya memejamkan matanya erat-erat saat Deryl sengaja menggodanya. Naya mendongak menahan desahannya dengan menggigit bibirnya sekuat mungkin. Napasnya memburu tanpa ia sadari, Kevan diseberang sana menanyakan apa Naya baik-baik saja dan menyuruh Naya untuk menonton kartun Pororo alih-alih menonton pertunjukkan ekstrim orang terjun ke jurang.


Kevan tidak tahu saja apa yang terjadi disini.


"Aku akan menggantinya dengan Pororo seperti yang kamu minta. Aku tutup teleponnya." Ucapnya dengan suara yang bergetar. Naya spontan memutuskan sambungan dan melempar ponselnya lalu menatap Deryl tajam.


"Itu keterlaluan, Deryl. Kamu pikir itu bagus?"


Naya menghembuskan napasnya jenuh, menghadap Deryl yang kini memasang wajah datarnya.


"Kamu cemburu."


"Ya." Jawab Deryl singkat.


Naya terkekeh. Mengalungkan tangan pada Deryl yang tengah mengerucutkan bibirnya kesal. "Aku mencintaimu." Ucap Naya didepan bibir Deryl lalu mengecup kening Deryl cukup lama.


"Aku juga mencintaimu."


**


"Naya aku pulang, sayang." ucap Kevan saat memasuki rumah.

__ADS_1


Kevan melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Melonggarkan dasi yang seharian ini melingkari lehernya, dan meletakkan tas kerjanya di sofa.


"Kamu sudah pulang? Cepat mandi, setelah itu kita siapkan makan malam."


Kevan mengangguk dan tersenyum tetapi matanya menangkap hal yang lain pada Naya. Leher. Leher wanita cantik itu menjadi pusat perhatian Kevan saat ini. "Lehermu..."


"A–ah ini—"


"Apa Deryl sudah kembali?"


"Ya. Tadi pagi."


Kevan mengangguk mengerti. Ia mengusap kepala kesayangannya itu lalu masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan diri. Naya sedikit merasa tidak enak karena Kevan begitu memperhatikan lehernya dengan begitu intens.


Tetapi Naya tidak mau berpikir yang macam-macam mengenai Kevan. Wanita itu langsung melangkahkan kakinya menuju dapur untuk melanjutkan kegiatan memasaknya.


"Siapa, Naya?" tanya Deryl sambil meletakkan ponselnya.


"Siapa lagi? Tentu saja Kevan."


"Ah dia sudah kembali."


"Tentu saja. Ini sudah jamnya kembali dari kantor. Ada apa? Kenapa wajahmu jadi cemberut seperti itu?"


"Dia akan mengurangi waktu kita."


"Hei, harus adil."


Deryl hanya mengerucutkan bibirnya. Bukan ia tidak ingin pria lain yang berstatus sebagai suami Naya itu juga tidak pulang, hanya saja.. nanti Kevan akan lebih memonopoli Naya. Bahkan saat Deryl pergi ke rumah sakit, Kevan bisa kembali kerumah dan menghabiskan waktu bersama Naya lebih banyak darinya. Katakan saja Deryl cemburu, tapi memang itulah kenyataannya. Deryl bisa menjadi sangat serakah jika itu berhubungan dengan Naya. Cinta pertamanya.


"Tenanglah. Aku mencintaimu."


"Ya. Memang sudah harusnya seperti itu."

__ADS_1


"Aku akan memanggil Kevan. Kita akan makan sekarang, aku lapar sekali."


** to be continue


__ADS_2