My Two Husband

My Two Husband
Bertengkar


__ADS_3

Deryl seharian ini berada dirumah, goleran manja diatas sofa barunya yang dia beli kemarin bersama Vania. Bahkan pria itu cuti dua hari dari rumah sakit hanya karena ingin bermalas-malasan dirumah katanya. Karena Kevan sedang pulang kerumah orangtuanya dan dirumah hanya ada Deryl dan Naya serta Baby K, Kenzio dan Kiano.


Naya datang dari dapur membawa sepiring penuh buah-buahan yang sudah dia potongi untuk dijadikan cemilan.


"Apa itu?" tanya Deryl.


"Buah-buahan." jawab Naya. Wanita itu duduk didekat kepala Deryl dan mengambil remote tv. Berhubung kedua bayinya sedang tidur, jadi Naya bisa memiliki waktu luang untuk bersantai-santai.


"Suapi aku juga, aku mau."


"Kamu mau buah yang mana?" tanya Naya.


"Buah yang kembar bagaimana?"


"Hah? Apa?"


"Buah melon sayang, aaaaa.." Deryl membuka mulutnya lebar seperti anak kecil, Naya tertawa pelan dan menyuapi Deryl dua potong buah melon.


"Aku yakin ada buah yang lebih manis dari ini." ucap Deryl sambil mengunyah.


"Apa sih, Deryl? Aku tidak mengerti."


"Buah kesukaan pria."


"Apa? Apel? Pisang?"


Deryl bangun dan mendekatkan dirinya dengan Naya. Lalu mendekatkan bibirnya ketelinga wanita yang fokus menonton acara tv itu. "Buah di atas perut."


Naya membulatkan matanya ketika Deryl selesai membisikinya. Dia mendorong Deryl agar menjauh darinya, Deryl hanya tertawa keras melihat wajah Naya.


"Jangan panik begitu dong, santai saja." ucap Deryl. Pria itu merebahkan kepalanya di atas paha Naya.


"Kamu itu ... benar-benar! Dasar mesum!"


"Mesum aku atau Matteo?"


"Tidak ada bedanya, kalian berdua sama-sama mesum!"


Deryl tertawa. "Kemarin apa saja yang dia lakukan disini?"


"Niat awalnya sih melacakmu, tapi begitu dia melihat akses internet dirumah ini kencang, dia malah mendownload film dewasa!"


"Dia kan memang bodoh, dia kesepian sayang. Makanya dia memerlukan tontonan seperti itu."


"Dia kan punya istri, kenapa harus repot-repot atau menyusahkan diri dengan menonton film seperti itu."


"Dia bertengkar dengan istrinya. Kamu tau kan kalau Matteo adalah orang yang egois? Sementara itu istrinya tidak bisa hamil."


"Kenapa tidak mengadopsi saja? Kan sama-sama mendapatkan anak, walaupun bukan kandung."


"Teo tidak mau memiliki anak yang bukan anak kandungnya, dia benar-benar ingin mewariskan seluruh hartanya untuk anak kandungnya nanti, begitu katanya."


Naya hanya menanggapi ucapan Deryl dengan anggukan. Matanya masih fokus menatap layar tv yang sedang menampilkan film horror kesukaannya yang berjudul The Exorcist. Sedangkan Deryl mencari kesempatan dalam kesempitan, pria itu menempeli Naya dan memeluknya. Meniup-niupi leher Naya yang tertutupi oleh rambut panjang wanita itu.


"Naya."

__ADS_1


"Hm?"


"Kalau aku minta sesuatu, apa kamu akan memberikannya?"


"Tergantung apa yang kamu minta."


"Aku akan meminta hal yang menyenangkan?"


"Memangnya apa yang kamu minta dariku?"


Deryl diam, tidak menjawab pertanyaan dari Naya. Tetapi tangan pria itu kini sudah sibuk berpetualang kesana kemari ditubuh Naya. Naya hanya memicingkan matanya menatap Deryl, terlampau tau apa maksud dan keinginan pria itu.


"Tidak sekarang, Deryl." ucap Naya dan menjauhkan kedua tangan Deryl dari tubuhnya.


"Aih, kenapa Naya?" tanya Deryl dengan wajah memelas.


"Aku sedang malas. Ini kan waktu berhargaku, Deryl. Jarang sekali aku bisa duduk santai dan menonton tv seperti ini, seharusnya kamu merayakannya!"


"Justru itu, Naya. Ini juga waktu berhargaku denganmu! Jarang-jarang babies bisa membiarkan kita berdua seperti ini. Apa kamu tidak kasihan denganku?"


"Kasihan kenapa?"


"Kamu selalu memberi jatah ke Kevan, tapi begitu aku memintanya juga kamu menolakku dengan alasan malas. Aku benar-benar terluka sekarang." Deryl menjauh dari Naya dan menampilkan wajah kecewanya.


"Kamu memintanya disaat tidak tepat."


"Jadi Kevan selalu memintanya disaat yang tepat begitu? Kamu pilih kasih."


Deryl menjauhi Naya dan pindah di bagian sofa lain. Pria itu merebahkan tubuhnya membelakangi Naya.


"Deryl .. ayolah."


"Kamu merajuk seperti anak kecil!"


"Biar saja. Sudahlah, lupakan saja aku. Kevan memang lebih baik dariku, makanya kamu memperlakukannya dengan berbeda."


"Itu tidak benar, Deryl."


Deryl langsung mendudukkan badannya dan menatap Naya dengan tatapan datar. "Tidak benar apanya? Kamu iya. Kamu memperlakukannya berbeda denganku. Kamu terus memberinya, kamu terus tidur bersamanya selama seminggu ini. Bahkan kamu membuatkan bekal untuknya, kamu melupakan aku, Naya."


"Deryl.."


"Apa? Aku salah bicara? Aku mengamatinya, Naya. Bahkan Kevan tidak perlu mengemis untuk mendapatkan keinginannya. Apa aku begitu berbedanya dengan Kevan? Hingga aku harus mengemis dulu padamu?"


"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan! Kamu jangan berbicara seenaknya padaku! Kamu tau sejak awal aku selalu bersikap adil padamu dan Kevan! Aku tidak membeda-bedakan kalian!" ucap Naya meninggikan suaranya.


"Kamu meninggikan suaramu padaku, Naya?" tanya Deryl pelan.


"Iya! Aku meninggikan suaraku padamu! Kamu pikir aku senang seperti ini?! Aku lelah, Deryl! Kamu hanya melihatku dari sudut pandangmu! Dan aku jelas selalu salah! Apa kamu membantuku setelah aku kembali dari rumah sakit?! Tidak kan?! Kamu pikir siapa yang membantuku jika bukan Kevan?!" bentak Naya.


Deryl tertunduk. Ini pertama kalinya, dia dan Naya bertengkar, dan ini juga pertama kalinya dia mendengar Naya membentaknya. Deryl mengusap matanya yang berkaca-kaca. "Fine, Naya. Maaf kalau aku tidak membantumu, aku memang suami yang tidak berguna. Aku tidak bisa diandalkan."


Naya masih diam dan mengatur nafasnya setelah berbicara keras kepada Deryl. Wanita itu enggan menatap Deryl yang duduk tertunduk sekarang.


"Maafkan aku yang memaksamu, Naya. Aku hanya merindukanmu, aku iri melihat Kevan yang sering menghabiskan waktu denganmu. Aku iri dengan Kevan yang setiap malam bisa memelukmu saat tidur. Sedangkan aku hanya bisa memeluk guling dikamarku. Tapi lagi-lagi ini bukan salahmu, jelas ini salahku. Aku tidak mengerti dirimu, maafkan aku. Maafkan aku yang terlalu sibuk bekerja dan menuntut banyak hal darimu."

__ADS_1


"Bagus kalau kamu sudah tau." jawab Naya singkat.


"Maaf, Naya."


"Sudahlah. Mood ku jadi rusak begini."


Deryl berdiri dari sana dan naik kekamarnya. Pria itu mengambil jaket, dompet dan kunci mobilnya lalu pergi tanpa mengucapkan apa-apa pada Naya.


"Maafkan aku, Deryl. Seharusnya aku tidak mengatakan hal sekasar itu padamu .. hiks .. maafkan aku." ucap Naya terduduk dan menangis.


**


Matteo berlari memasuki sebuah bar diskotik yang berada di tengah kota itu. Matteo menutup hidungnya dengan jas ketika memasuki kawasan bebas rokok itu. Matteo celingak celinguk mencari pelaku yang menelponnya saat sedang rapat itu. Matteo melangkah masuk untuk mencari Deryl yang sedang berada di bar diskotik ini. Dan dia menemukan pria itu yang sedang menyender di dinding sembari menatap gelas yang berisi beer.


"Hey, man. Ada apa denganmu?" tanya Matteo duduk disebelah Deryl.


"Matteo .. sahabatku, kamu datang menjemputku." ucap Deryl terkikik melihat Matteo. "Aku sedang patah hati."


"Patah hati kenapa?"


"Kamu tau, hari ini aku bertengkar dengan Naya hihi. Dia membentakku sangat kasar, hatiku hancur. Dia lebih mencintai Kevan .. katanya aku tidak membantunya padahal aku selalu menyiapkan sarapan setiap pagi sebelum pergi ke rumah sakit untuk Naya dan Kevan yang bangun siang. Hihi aku menyedihkan." ucap Deryl. Pria itu menceritakan masalahnya dengan wajah putus asa, dia kembali meminum beer digelasnya hingga habis.


"Lebih baik pulang, aku antar ya."


"Jangan. Aku tidak mau pulang, orang-orang tidak akan memperlakukanku dengan layak.. anak miskin dan yatim sepertiku ini tidak layak dihargai.. aku ingin pergi." Deryl langsung berdiri dan berjalan dengan sempoyongan.


"Kamu mabuk, Deryl!"


"Aku tidak mabuk!" bantah Deryl.


"Kalau kamu tidak mabuk, hitung jumlah jarimu!" suruh Matteo.


"Jariku ada enam." jawab Deryl, pria itu melanjutkan berjalan keluar dari diskotik itu dan menuju mobilnya.


"Jangan menyetir mobil, kamu mabuk! Tunggu disin! Aku akan menelpon Kevan!"


Matteo berjalan menjauhi Deryl dan menempelkan ponsel tipisnya ditelinga. Deryl hanya tertawa-tawa seperti orang gila. Pria itu berjalan memutari mobilnya lalu berhenti ketika dia melihat seseorang dengan pakaian hitam dan bertopeng.


"Hoi, kamu. Jangan berdiri ditengah gelap .. tidak kelihatan." ucap Deryl.


Pria bertopeng itu berjalan mendekati Deryl dengan membawa sebuah tongkat ditangannya.


"Untuk apa tongkat itu? Kamu mau bermain baseball?" tanya Deryl terkikik.


Pria itu semakin mendekat hingga dia mengayunkan tongkatnya kearah Deryl.


Buuug!


Deryl memegang kepalanya yang dipukul dengan tongkat lalu menatap pria bertopeng itu sebelum akhirnya dia jatuh tidak sadarkan diri.


"Seharusnya kamu mengenaliku, anak sialan." ucap pria bertopeng itu menyeret tubuh Deryl.


Matteo baru saja kembali setelah selesai menelpon Kevan untuk menjemput Deryl. Tapi pria itu sedikit terkejut karena tidak menemukan Deryl. Mobilnya masih ada, pun dengan ponselnya yang tergeletak dijalan.


"Deryl?" panggil Matteo.

__ADS_1


Matteo masuk kembali kedalam diskotik untuk memeriksa keberadaan Deryl, namun nihil. Dia tidak menemukan Deryl disudut manapun.


* TO BE CONTINUE *


__ADS_2