My Two Husband

My Two Husband
Peluang dan Bahaya


__ADS_3

Sudah seminggu sejak Naya, Kiano dan Kenzio pulang kerumah. Selama itu pula pertengkaran-pertengkaran kecil terjadi antara Deryl dan Kevan. Apapun yang mereka lakukan, jika ada celah, mereka akan bertengkar. Contoh seperti memang pempers untuk kedua anak mereka.


"Kubilang kamu terbalik memakaikannya, bodoh!" cibir Deryl sembari fokus memberikan salap anti gatal disekitar bagian perut hingga bawah anaknya.


"Aku sudah benar, bodoh. Kamu tidak lihat gambarnya ini? Gambar beruang ini didepan!"


"Garis biru didepan!"


"Sok tau."


"Bukan sok tau, tapi ada tulisannya disana bodoh. Coba lihat milik Kenzio, garis biru didepan. Itu saja tidak tau, payah."


"Lebih baik aku tanya Naya,"


Kevan berlari keluar dari kamar menghampiri Naya yang sedang memasak didapur.


"Naya, Naya.."


"Ada apa, Kevan?"


"Aku mau bertanya hal penting padamu. Urgent! Sangat rahasia."


Naya tertawa. "Berkas negara? Bertanya apa, Kevan?"


"Bukan berkas negara tapi pempers bayi negara."


"Haha ada-ada saja. Kenapa dengan pempersnya?"


"Ayo ikut aku." Kevan menarik tangan Naya untuk mengikutinya menuju kamar Deryl.


Sesampainya disana, Deryl sudah menyelesaikan memasang baju untuk Kenzio, sementara Kiano masih dengan pempers gambar beruangnya.


"Wah Kenzio sudah tampan .. Pakai baju kodok." Lalu Naya menatap Kiano yang masih memakai pempers. "Astaga Kevan! Kenapa Kiano masih memakai pempers? Terbalik pula!"


"Hah? Terbalik apanya?"


"Pempersnya Kevan! Garis birunya didepan, kan sudah ada tulisannya."


Deryl tertawa pelan, menertawakan kebodohan Kevan yang tidak ada habisnya. Padahal kan sudah Deryl ingatkan tadi, tapi dia tetap mengotot.


"Bukan gambar beruangnya yang didepan?" tanya Kevan.


"Gambar beruangnya dibelakang, Kevan!"


"Kan aku sudah bilang, garis biru didepan dan gambar beruang dibelakang. Kamu mengotot sekali sih!" ucap Deryl. Kini pria itu menimang-nimang Kenzio yang sangat anteng digendongannya.


"Aku sudah memperbaiki pempersnya, pasangkan dia baju. Jangan lupa beri minyak telon. Aku akan kembali memasak."


Naya langsung keluar dari kamar dan meninggalkan kedua ayah itu.


"Ppfffttt.. kasihan. Memasang pempers saja tidak tau."


"Diam kamu! Kamu sengaja kan merencanakannya, supaya aku malu, dan Naya menegurku!"


"Untuk apa merencanakannya? Buang-buang waktu."


"Kamu iri kan?!"


"Buang-buang waktu!"


Deryl langsung keluar dari kamar dengan Kenzio, meninggalkan Kevan dan Kiano yang masih memakai pempers.


"Deryl..... bantu aku dulu!"

__ADS_1


Deryl dan Kenzio ada didapur sekarang, sedang menemani Naya memasak. Sedangkan Kevan dan Kiano masih belum muncul.


"Kenzio sudah tertidur?" tanya Naya.


"Belum. Kamu pasti melupakan sesuatu."


"Melupakan apa?"


"Lihat, Zio. Mama memang jahat ya, masa dia tega membuatmu tidak bisa tidur karena kelaparan?"


Naya menepuk dahinya lalu tertawa pelan. "Oh astaga.. aku lupa haha. Aku akan mwnyusuinya setelah menyelesaikan ini."


"Zio ini mirip sekali denganku. Seperti diriku versi bayi."


"Iya, dia mewarisimu sepenuhnya."


"Halo semuanya, Kevan dan Kiano sudah hadir disini." Kevan datang dengan menggendong Kiano begitu ceria.


"Waah, Kiano juga sudah tampan. Tapi Kevan.."


"Kenapa sayang?"


"Kamu memasangkan baju Kiano terbalik." ucap Naya pelan.


"Bukannya jahitannya diluar ya supaya bayi merasa nyaman?" tanya Kevan dengan polos.


"Jahitannya didalam Kevan... mana ada yang jahitannya diluar.."


"Maaf, Naya. Aku tidak tau, bajuku kan rata-rata tidak ada jahitannya .. ya bagaimana."


"Itu saja tidak tau, dasar payah." cibir Deryl.


Kalau saja Kevan tidak ingat dia sedang menggendong Kiano, mungkin sekarang dia langsung akan menyerang Deryl seperti biasa. Untung saja dia ingat kalau sedang menggendong makhluk kecil tanpa rambut, ya Kiano.


"Awas kamu, nanti akan kubalas!"


Oh, soal kontrak perdamaian waktu itu, sudah habis masa berlakunya kata Kevan. Karena di kontrak itu hanya dituliskan sampai Naya melahirkan bukan sampai anak mereka dewasa jadi kontrak itu sudah hangus sekarang, begitu kata Kevan.


"Kalian sudah memiliki anak sekarang, apa masih tidak malu bertengkar?" tanya Naya sambil meletakkan beberapa piring berisi lauk.


"Dia yang memulai duluan, Naya. Dia mengejekku payah terus. Padahal kan aku sedang berusaha." jawab Kevan.


"Mana ada, dia saja yang terlalu baper sebagai laki-laki. Laki-laki itu hatinya kuat, tidak lemah seperti itu." sahut Deryl.


Naya yang mendengar jawaban Deryl itu hanya bisa menghela nafas. Padahal pria itu juga lemah hatinya.


"Oh? Aku tidak tanya." ucap Kevan ketus.


"Apa aku terlihat peduli?" jawab Deryl datar.


"Diam! Aku tidak dalam mood yang baik untuk bertengkar denganmu! Kalau mood-ku baik nanti, ku smackdown kamu!" ancam Kevan yang terdengar lucu di telinga Deryl hingga pria itu tertawa.


"Kenapa kamu tertawa?! Aku serius!"


"Ah .. aku takut. Takut sekali, Naya tolong sembunyikan aku. Ahahahaha.."


"Hei, hei, sudah. Jangan bertengkar lagi! Sekarang sudah waktunya sarapan."


Deryl memasukkan Kenzio kedalam baby box dan Kevan pun melakukan hal yang sama. Naya memperbaiki baju Kiano yang terbalik yang dipasangkan oleh Kevan. Dia menyusui Kenzio lebih dulu lalu kemudian Kiano. Sedangkan kedua pria besar yang berstatus sebagai ayah itu sedang menikmati makanan dengan tenang, sementara.


"Kamu mengambil bagian kesukaanku!" ucap Kevan.


"Astaga! Masih ada bagian yang sama di piring! Lihat itu pakai matamu!"

__ADS_1


"Aku tidak mau yang itu! Rasanya beda!"


"Dasar kekanak-kanakan!"


Deryl mengembalikan paha yang tepung itu ke piring dan mengambil bagian yang lain, dengan segera Kevan mengambil bagian yang dikembalikan Deryl itu. Deryl melanjutkan makanannya, lalu ponselnya berdering.


"Ada apa, Teo?"


'...'


"Benarkah? Aku akan kesana nanti."


'...'


"Ya."


"Ada apa, Deryl?" tanya Naya.


"Aku ada sedikit urusan, Naya. Aku akan pergi sekarang, maaf karena tidak bisa membantu membereskannya."


Deryl terlihat sangat buru-buru, Naya hanya mengangguk sebagai jawaban lalu Deryl pergi tanpa menghabiskan makanannya.


**


"Kemungkinan besar, semua artikel atau apapun hal yang menyangkut perusahaan om Jashid, semuanya tidak bisa diakses, Deryl."


"Bagaimana bisa?" tanya Deryl. Saat ini dia sedang berada di apartemen Matteo, dan yang menelponnya tadi juga Matteo.


"Begini, aku menelusuri dengan dalam tentang JashCorp, bahkan sampai mencoba akses lewat web, tapi selalu crash. Aku curiga, orang yang mengambil alih perusahaan ayahmu ini bermain sangat pintar. Dia menutupi—ah tidak, dia menghapus semua artikel yang menampilkan informasi tentang JashCorp."


"Aku mencurigai seseorang, Teo."


Matteo menatap Deryl dengan wajah tegang. "Siapa?"


"Ini orang terdekat. Kamu harus mencari taunya nanti, ah tidak. Menyelidikinya lebih tepat!"


Matteo baru saja akan menjawab tetapi dia melihat laptopnya tiba-tiba error setelah mencoba mengakses informasi yang disuruh oleh Deryl.


"Deryl, laptopku tiba-tiba error! Aku yakin, mereka orang yang pandai, mereka mencoba untuk menghack laptopku, untungnya aku memakai laptop kosong!"


"Teo, ini mungkin akan semakin rumit, tapi aku minta bantuanmu. Hanya kamu yang bisa melakukannya, kamu memiliki banyak koneksi."


"Aku akan membantumu, Deryl! Sampai tuntas, aku akan selalu membantumu!"


"Aku membutuhkan alat pelacak."


Matteo langsung berdiri menuju nakas dan membuka laci. Mengambil sebuah benda kecil dari dalam sana dan memberikannya pada Deryl.


"Ini akan kutempelkan ditubuhku. Sebelum itu, sambungkan dengan ponselmu."


"Aku sudah menyambungkannya. Percayalah, Deryl. Kita akan menang."


"Kuharap begitu, Teo. Aku harus mengetahui rahasia tentang kematian kedua orangtuaku."


"Aku yakin, ini akan berbahaya."


"Sangat berbahaya .. orang dibalik ini adalah orang yang pintar, mereka tidak akan mudah lengah."


"Tenang, orang-orangku juga akan turut membantu."


Deryl dan Matteo saling pandang sampai akhirnya mereka saling berjabat tangan.


"Terimakasih, man."

__ADS_1


"Urwell, brother."


* TO BE CONTINUE *


__ADS_2