My Two Husband

My Two Husband
Melupakan Masalah Sejenak


__ADS_3

"Kalian mau makan malam apa?" tanya Naya menatap Kevan dan Deryl secara bergantian.


"Kalau aku menyebutkan keinginanku, apa kamu akan membuatkannya?" tanya Kevan.


"Hmm tergantung, kalau bahannya ada, akan kubuatkan. Memangnya kamu mau apa?"


"Tiba-tiba aku ingin makan capcay. Kamu bisa membuatnya?"


"Hei, Kevan. Naya sudah tidak hamil lagi, kenapa kamu baru mengidam sekarang?" Ucap Deryl menertawakan Kevan.


Kevan hanya mendengus, lalu kembali menatap Naya dengan tatapan memohon agar dibuatkan sayur yang sedang dia inginkan. Karena demi apapun, Kevan tidak fokus selama bekerja dan terus memikirkan rasanya makan sayur itu.


"Kamu benar-benar ingin makan sayur itu ya?" tanya Naya dan menatap wajah Kevan yang memelas.


"Baiklah, akan kubuatkan. Dan kamu, Deryl .. mau apa?"


"Aku mau chicken nugget saja."


"Yasudah kalau begitu, kalian tunggu disini. Yang akur, jangan bertengkar!" peringat Naya.


Kedua pria itu kompak mengangguk dan memberikan wajah yang penuh keyakinan kalau mereka tidak akan bertengkar kali ini. Sembari menunggu Naya, Kevan mengetuk-ngetukkan jarinya dimeja makan, tentu saja hal itu menimbulkan suara karena meja makannya terbuat dari kaca. Dan berita buruknya, Deryl membenci hal itu.


"Diam!" ucap Deryl sambil memukul tangan Kevan.


"Apa sih? Kenapa kamu sewot sekali?"


"Berisik! Lelah aku melihatnya!"


"Yang kupakai mengetuk-ngetukkan meja ini kan jariku, bukan jarimu. Kenapa kamu yang lelah?! Dasar aneh!"


"Diam! Aku punya sendok, dan aku tau cara menggunakannya!"


"Aku punya garpu! Mau apa kamu?!"


"Mundur! Aku punya piring disini, aku tau cara memakainya!"


"Kamu berisik! Diamlah!"


"Kamu takut kan, kamu tidak berani kan, huuuu.." ejek Deryl. Mengolok-olok Kevan dengan menjulurkan lidahnya kearah Kevan.


Kevan berdiri dan pergi dari sana menuju kamarnya, Deryl sudah tertawa puas merasa menang. Beberapa menit kemudian, Kevan kembali lagi menghampiri Deryl dengan membawa gunting dan lakban. Tanpa pikir panjang, pria itu langsung menempelkan lakban dimulut dan kedua tangan Deryl agar pria itu tidak mengganggunya.


"Beres! Lihat, aku punya gunting dan lakban .. dan aku tau cara menggunakannya." ucap Kevan tertawa terbahak-bahak melihat wajah marah Deryl.


Beberapa menit berlalu, Naya masih belum muncul. Tiba-tiba Kevan memiliki sebuah ide diotaknya, maka dari itu dia pergi lagi meninggalkan Deryl yang masih terlakban dikursi menuju kamar Naya dan mengambil sebuah lipstik milik Naya.


Kembalinya Kevan didapur, Deryl sudah mendapatkan firasat buruk. Ternyata memang benar, Kevan mencorat-coret wajah Deryl dengan lipstik Naya yang berwarna merah terang. Kapan lagi dia bisa melihat Deryl sepasrah ini diserang olehnya. Dalam hati Kevan merasa sangat puas dan bangga dengan hasil karyanya diwajah Deryl.

__ADS_1


"Nah, kalau begini kan kamu lebih tampan dari biasanya. Aku saja sampai iri melihatnya."


Lipstik merah terang yang cocok dengan kulit wajah Deryl yang putih bersih, sanking cocoknya wajah Deryl terlihat seperti ondel-ondel sekarang, dan itu karena Kevan.


"Astaga, Deryl!" pekik Naya ketika melihat keadaan Deryl yang menyedihkan. Sementara itu Kevan hanya tertawa.


Naya bergegas menghampiri Deryl dan segera membuka lakban ditangan pria itu, tanpa berperasaan Naya menarik lakban yang menutupi mulut Deryl sehingga Deryl berteriak nyaring karenanya. Pipi pria itu terlihat memerah dan Naya hanya bisa meringis melihatnya.


"Kenapa kamu kerjai Deryl, Kevan?"


"Dia menyebalkan, Naya. Masa aku tidak boleh mengetuk-ngetukkan jariku dimeja, dan dia menantangku duluan. Dia yang mengejek-ejekku." jawab Kevan membela dirinya karena dia merasa samasekali tidak bersalah.


"Dia yang memulai duluan, Naya. Kamu kan tau kalau aku tidak suka ada keributan dimeja makan tapi dia malah menyerangku dan mencoret-coretkan lipstikmu diwajahku."


"Sudah, Deryl .. cuci dulu wajahmu sampai bersih setelah itu kita makan. Kalian memang tidak bisa menepati janji ya untuk tidak bertengkar."


"Maaf, Naya."


"Iya, sekarang pergi cuci wajahmu, Deryl. Kami tunggu disini."


Deryl mengangguk seperti anak TK yang sedang dimarahi gurunya lalu bergegas pergi kekamar mandi untuk membersihkan wajahnya dari keusilan Kevan.


**


Saat ini Deryl dan Kevan sedang ada di ruang tengah. Kevan sibuk dengan laptop dan berkas-berkas pekerjaannya sedangkan Deryl sibuk dengan hasil laporan serta analisisnya.


"Apa?" jawab Deryl singkat tanpa menoleh kearah Kevan.


"Karena hanya tinggal kita berdua yang masih bangun bagaimana kalau kita bercerita cerita seram?"


"Untuk apa? Kamu kan penakut."


"Memangnya kapan aku jadi penakut?"


"Tidak usah pura-pura, kamu yang paling takut saat aku menceritakan tentang rumah ini."


Kevan menganggaruk kepalanya pelan. "Kalau itu sih memang seram, aku sampai merinding. Jadi wajar kalau aku takut."


"Heleh."


"Pokoknya diam dan dengarkan saja, cerita ini tidak kalah seramnya dengan ceritamu."


"Sebelum bercerita, ambil minum dulu sana." suruh Deryl.


"Kamu kira aku pembantumu?!"


Kevan pergi kedapur untuk mengambil dua botol minum dan mematikan lampu dapurnya lalu kembali dan duduk disebelah Deryl.

__ADS_1


"Jadi, dulu itu sebelum kantorku berdiri .. dulunya disitu ada gubuk tua yang ditinggali oleh seorang nenek tua dan cucunya."


"Kamu mau meniru ceritaku ya?!" tuduh Deryl.


"Sembarangan! Aku ini bukan plagiat, tau?! Dengarkan saja dulu, apa susahnya sih mengunci mulutmu itu sebentar?!"


"Iya iya ah, kamu bawel sekali!"


"Jadi, nenek tua itu sakit keras dan memiliki penyakit kulit busuk, mereka dijauhi oleh warga kampung. Biasanya warga kampung itu akan memanggil nenek tua itu dengan sebutan 'Mayat Rusak' karena kulitnya itu. Suatu hari, si nenek sakitnya semakin parah dan si cucu—"


"Pasti endingnya seperti di sinetron, kan kamu suka sinetron."


"Kamu atau aku yang mau bercerita?!"


"Iya iya, begitu saja marah. Baperan."


"Diam!"


"IYA!"


"Si cucu tidak mendapatkan uang untuk biaya berobat neneknya. Karena tidak kuat dengan penyakit yang dideritanya akhirnya si nenek meninggal. Lalu si cucu menguliti tubuh neneknya untuk dijadikan makanan saat para warga datang untuk melayat."


Kevan meneguk minumannya sebentar, lalu menatap Deryl yang samasekali tidak bereaksi dengan ceritanya. "Kenapa kamu diam saja?!" tanya Kevan kesal.


"Tadi kamu menyuruhku diam, bodoh! Sekarang aku sudah diam kamu protes, maumu sebenarnya apa sih?!"


"Setidaknya kamu harus memberikan reaksi kepada cerita yang kuceritakan barusan! Jangan hanya diam dan plonga-plongo seperti orang bodoh begini!"


"Argh, kamu ini cerewet sekali! Kan aku tidak memintamu untuk bercerita!"


"Iya! Setidaknya kamu hargai aku yang sudah meluangkan waktu untuk bercerita!"


"Yasudah, kamu mau reaksi jujur atau bohong?"


"Jujur, aku ini tipe orang yang menjunjung tinggi kejujuran!"


"Well, ceritamu sangat tidak menarik, membosankan, biasa saja dan tidak jelas."


Wajah Kevan tersenyum secara paksa. "Bohong saja."


"Ceritamu menakutkan! Aku merinding mendengarnya!"


"Kita baku hantam saja, Deryl!"


* *TO BE CONTINUE


Mohon maaf banget nih, author bukannya malas update cuma .. author kalau diam dirumah aja itu gapunya ide buat nulis🤣**

__ADS_1


__ADS_2