
"Kevan, bisa panggilkan Deryl? Ini waktunya makan siang." ucap Naya sembari menata makanan dimeja.
Kevan mengangguk dan segera pergi kekamar Deryl. Sesampainya Kevan dikamar Deryl, pria itu langsung membuka pintu kamar Deryl tanpa ketukan atau permisi.
"Deryl, Naya memanggilmu untuk makan—"
Kevan menghentikan ucapannya ketika melihat wajah Deryl yang memerah, seperti habis menangis(?) Ditangannya, Deryl memegang sebuah bingkai foto kecil yang berisikan sebuah foto keluarga yang Kevan tebak itu adalah foto keluarga Deryl.
"Aku akan menyusul nanti." ucap Deryl pelan.
"Kamu .. tidak apa-apa?" tanya Kevan pelan. Pria itu mendudukan dirinya disebelah Deryl.
"Aku tidak apa-apa."
"Kamu tau, kamu tidak sendirian. Ada aku dan Naya, kamu bisa membaginya dengan kami."
"Iya, aku tau kok. Kalian makan duluan saja, aku masih harus mengirim laporan kepada perawatku. Aku lupa kalau dia membutuhkannya, dan aku malah pergi berbelanja."
Deryl menepuk bahu Kevan, pria itu segera bangkit dan menaruh kembali bingkai foto itu diatas nakasnya. Deryl membuka laptop yang ada dimejanya dan segera duduk disana dengan serius. Kevan pikir, Deryl memang tidak berbohong.
"Kalau begitu, kami makan duluan ya." ucap Kevan.
"Iya, Kevan."
Kevan mengangguk dan bersiap untuk keluar dari kamar Deryl, namun ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah kalender yang dibulati oleh spidol merah. Tanggal 15 Maret. Kevan tidak tau artinya apa, tapi sepertinya itu hari yang penting untuk Deryl.
**
"Kenapa lama sekali? Dan mana Deryl?" tanya Naya begitu melihat Kevan sudah kembali dan hanya sendirian.
"Oh, Deryl sedang sibuk. Dia mengerjakan laporan yang sangat rumit, katanya kita makan saja duluan."
"Tumben, biasanya sesibuk apapun dia tidak pernah melewatkan makan?" ucap Vania yang merasa aneh dengan sepupunya itu.
"Iya, biasanya dia selalu begitu." tambah Naya.
Akhirnya mereka makan siang tanpa kehadiran Deryl. Meja makan tetap ramai seperti biasa walaupun Deryl tidak ikut serta disana.
"Ngomong-ngomong tadi aku melihat sesuatu." ucap Kevan begitu ia telah selesai makan dan sedang mengupas pisang.
"Melihat apa? Kamu melihat yang—" Matteo segera menutup mulutnya, membuat ekspresi terkejut yang dibuat-buat.
"Bukan! Bukan hal yang berbau mesum."
"Lalu apa?"
"Tadi saat dikamar Deryl, aku tidak sengaja melihat kalendernya. Disana ada satu tanggal yang dibulati oleh spidol merah."
"Tanggal berapa?"
"Tanggal 15 Maret."
Matteo menunduk melirik kearah jam tangannya. "Itu hari ini."
__ADS_1
"Benarkah? Ada apa dengan tanggal 15?" tanya Kevan bingung.
"Itu tanggal lahir Deryl." jawab Vania.
"Benarkah? Aku sebagai istrinya, tidak pernah tau tanggal lahir Deryl. Dia tidak pernah mengatakannya padaku." ucap Naya merasa sedih.
"Itu wajar, kak Naya. Deryl tidak pernah—"
"Bagaimana kalau kita beri dia kejutan?" usul Kevan.
"Kejutan? Boleh! Aku suka," ucap Naya antusias.
"Aku tidak yakin Deryl akan menyukainya, pria itu terlalu kaku untuk diberi kejutan." ucap Matteo.
"Sudahlah, bagaimana responnya nanti itu urusan belakangan. Yang penting, kita siapkan saja dulu."
Vania baru saja akan mengeluarkan suaranya untuk memberi tau hal yang penting, tapi Matteo segera menariknya untuk membantu menyiapkan kejutan untuk Deryl.
Kevan membagi tugas, Naya dan dia akan membeli kue untuk Deryl. Sementara Matteo dan Vania akan membelikan berbagai macam hadiah untuk Deryl. Mereka langsung pergi ketempat tujuan masing-masing tanpa memberitau Deryl.
Sementara itu Deryl baru saja selesai dengan urusannya, langsung keluar dari kamarnya menuju dapur. Sesampainya didapur, dia tidak mendapati siapa-siapa disana. Dan juga rumahnya yang sepi. Mungkin mereka semua sedang pergi pikir Deryl. Pria itu langsung pergi kemeja makan dan mengambil piring. Hanya tersisa sayur bayam disana. Demi apapun, Deryl sangat membenci yang namanya sayur. Tapi karena keadaan sudah begini, dan Deryl juga sudah lapar maka mau tidak mau dia harus memakan apa yang ada. Daripada dia harus memasak lagi dan menunggu. Lebih baik memakan apa yang ada saja.
"Aku membencimu, bayam." Deryl menyuapkan sesendok makanan itu kedalam mulutnya dengan menutup mata. Alasan yang sangat tidak masuk akal jika seorang dokter tidak menyukai sayur yang memiliki banyak benefit untuk kesehatan.
Kata Deryl, bayam ini adalah makanan popaye. Ketika popaye memakan bayam maka otot-ototnya akan langsung muncul. Deryl tertawa pelan mengingatnya.
"Ah.. aku benar-benar benci makan sendirian seperti ini."
Sudah jelas jika sedang makan sendirian, Deryl tidak pernah menghabiskan makanannya. Dia langsung pergi dari dapur menuju kamar anaknya. Disana ada dua babysitter yang masih dipekerjakan oleh Naya.
"Sudah, pak."
"Aku akan menemaninya sebentar."
Kedua babysitter itu mengangguk pelan lalu keluar dari kamar bayi dirumah itu.
"Halo, jagoan. Apa kabar kalian?" tanya Deryl sembari mencubit-cubit pelan pipi kedua bayinya.
**
"Deryl suka kue yang seperti apa?" tanya Kevan.
"Dia suka kue tart dengan selai blueberry."
"Baiklah, kita akan mengambil kue yang itu."
Kevan menunjuk sebuah kue tart berbentuk bulat cantik yang sudah dihias namun belum diberikan macam-macam tulisan.
"Itu cantik sekali." ucap Naya.
"Ya, sayang. Kita ambil kue itu, lalu kita akan segera pulang kerumah dan memberi Deryl kejutan. Semoga dia menyukainya."
Kevan dan Naya segera memanggil pelayan di toko kue itu agar kue yang ditunjuk oleh mereka segera diberi tulisan dan dikotak. Setelah selesai dengan urusan kue, Kevan dan Naya langsung kembali kerumah. Sesampainya mereka dirumah, mereka sudah melihat mobil Matteo yang terparkir didepan rumah mereka.
__ADS_1
"Kalian sudah membeli hadiahnya?" tanya Kevan.
"Sudah." jawab Matteo singkat.
"Dengar, aku tidak mau ikut-ikutan dalam hal ini. Aku harus kembali bekerja." ucap Vania. Gadis itu buru-buru berlari meninggalkan area rumah tanpa sempat disusul oleh Matteo.
"Ada apa dengannya?" bingung Naya.
"Aku tidak tau, tapi sepanjang jalan. Dia terus bergumam 'ini salah.' begitu. Aku tidak mengerti." jawab Matteo dengan wajah bingungnya.
"Yasudah kalau begitu. Biarkan saja Vania kembali bekerja, kita langsung masuk saja." ucap Kevan setelah selesai menyelesaikan menyalakan lilin di kue. Lilin angka yang menunjukkan nomor 2 dan 7 yang artinya umur Deryl telah 27 tahun.
"Kira-kira dia dimana?"
"Mungkin dikamarnya."
"Kita kekamarnya saja."
Mereka bertiga berjalan pelan, mengendap-endap menuju kamar Deryl. Pintu kamar Deryl tertutup, maka tanpa ada kata pelan, Matteo membuka pintu itu dengan kasar. Membuat Deryl yang sedang berbaring terkejut.
"Selamat ulang tahun .. selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun, Deryl. Selamat ulang tahun." Mereka mulai menyanyikan lagu untuk Deryl.
Sementara itu, Deryl hanya menampilkan wajah datarnya. Nyaris tanpa ekspresi. Membuat ketiga orang itu mulai merasa tidak nyaman.
"Ada apa, Deryl?" tanya Naya.
"Kenapa kalian melakukan ini?" tanya Deryl balik.
"Melakukan ini?"
"Memberiku kejutan ulang tahun. Kenapa kalian melakukannya?"
"Karna ini hari ulang tahunmu?"
"Maaf jika ini akan melukai perasaan kalian. Tapi akan aku tegaskan, aku tidak merayakan ulang tahunku."
"K-Kenapa?"
"Kenapa? Karena orangtuaku dulu selalu melakukan hal yang sama."
Mereka terdiam ditempat.
"Jangan lakukan ini lagi, mungkin lukaku akan basah lagi .. Ini menyakitkan." ucap Deryl mengusap air matanya.
"Maafkan kami, kami tidak tau kalau kamu—"
"Tidak apa-apa. Karna aku juga tidak pernah memberitau kalian, maafkan aku. Ini penting kulakukan, agar lukaku perlahan sembuh. Semoga kalian tidak tersinggung."
"Tidak, Deryl. Maafkan kami."
Deryl berjalan pelan menghampiri Naya yang sedang memegang kue. Tanpa basa-basi, Deryl langsung meniup lilinnya. "Terimakasih, kalian sudah repot begini. Ini akan menjadi kejutan ulang tahunku yang terakhir."
Naya, Kevan dan Matteo hanya bisa tersenyum maklum. Mungkin benar, mereka tidak merasakan apa yang dirasakan oleh Deryl maka dari itu, daripada berpikiran macam-macam karena Deryl yang menolak kejutan dihari ulang tahunnya atau merasa tersinggung karena ucapannya. Mereka memilih saling berpelukan, saling menguatkan satu sama lain. Saling memberikan dukungan agar Deryl tetap kuat dan tabah menjalani semuanya hingga akhir.
__ADS_1
* TO BE CONTINUED *