My Two Husband

My Two Husband
Bertemu Masa Lalu


__ADS_3

"Kevan, Jef! Duduk yang benar."


Setelah tragedi didapur tadi, Kevan benar-benar memukul Jef karena dia kesal dengan tingkah pria itu yang seenaknya kepada Naya.


"Awas saja, kupukuli lagi nanti!" ucap Kevan memberi ancaman kepada Jef.


Jef hanya menatap Kevan sekilas lalu membuang pandangannya dari pria itu. Naya tengah mengobati sudut bibir Jef yang terluka akibat pukulan dari Kevan. Kevan sempat tersulut emosi karena Jef yang terus-terusan menggoda Naya didepannya.


"Seharusnya kamu tidak mendengarkan ocehan anak kurang akal ini, Kevan! Kalau ayahnya tau, kamu bisa dituntut!" ucap Naya memperingatkan.


"Oh aku tidak takut, tidak takut. Lagipula orang seperti Jef ini tinggal kusentil, dia bisa langsung menghilang dari bumi."


"Ah omong kosong." Sahut Jef.


Deryl yang baru saja tiba didapur setelah menemani Kenzio dan Kiano dikamarnya menatap Jef dengan tawa kecil apalagi setelah melihat luka disudut bibir Jef dan juga raut wajah kesal Kevan.


"Wow, sepertinya aku melewatkan pertunjukkan seru." ucap Deryl menatap Jef dan Kevan bergantian.


"Pertunjukan seru matamu!" sahut Kevan ketus. Deryl tertawa mendengarnya.


"Siapa pemenangnya?" tanya Deryl lagi sambil mengambil sebotol air mineral dari kulkas.


"Deryl, jangan memperkeruh suasana!" tegur Naya. Deryl mengangguk patuh.


"Aku ada janji makan malam dengan klien-ku. Jadi aku tidak bisa ikut makan malam dengan kalian." ucap Kevan.


"Kenapa tiba-tiba?" tanya Naya.


"Sebenarnya tidak tiba-tiba, daritadi mau memberitau mu tapi karena bocah t*ngik ini aku jadi lupa."


"Yasudah kalau begitu, jam berapa kamu pergi?"


"Jam 8 malam, dan Deryl, aku minta tolong padamu untuk menjauhkan Naya dari siluman ini."


"Iya, iya. Aku akan menjaga Naya untukmu."


Kevan mengangguk lalu dia pergi dari area dapur. Setelah kepergiannya, Jef langsung tertawa. "S*al. Pukulannya sakit juga." ucap Jef sambil mengusap sudut bibirnya yang terluka.


"Kamu bermain-main dengannya, sudah kubilang dia tidak sebaik Deryl sekalipun dia sudah tau." jawab Naya.


***


Kevan berjalan memasuki sebuah restauran bintang lima dan sedang menuju ruang VIP untuk bertemu dengan kliennya. Sesuai janji, untuk makan malam dan membahas penanaman saham di perusahaan Kevan.


Diruangan itu sudah ada 2 orang yang sedang mengobrol, dia seorang wanita dan seorang pria yang terlihat sedang tertawa. Kevan mendorong pintu VIP itu dengan pelan lalu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Wanita itu adalah...


"Kevan?"


"Maura?"

__ADS_1


Mantan kekasih Kevan saat SMA.


"Jadi, kamu klien aku malam ini?" tanya Kevan.


Wanita itu mengangguk pelan. Lalu mempersilahkan Kevan untuk duduk disebelahnya. Kevan menurut dan duduk disebelah wanita yang dia panggil namanya 'Maura' itu. Sebelum memasuki pembicaraan inti, mereka terlebih dahulu untuk makan.


"Kamu masih suka sushi ya." ucap Kevan tersenyum tipis melihat Maura yang memakan sushi-nya dengan lahap.


Maura mengangguk lucu. "Selamanya akan tetap suka sushi."


"Dan selamanya juga kamu akan tetap celemotan ketika makan."


Kevan menghapus saus yang menempel dibibir Maura dengan ibu jarinya, tersenyum tipis ketika bagian itu sudah bersih kembali. "Makan dengan pelan, jangan terburu-buru. Tidak ada yang merebut makananmu." ucap Kevan.


"Bagaimana kabarmu, Kevan?"


"Aku baik, bagaimana denganmu?"


"Seperti yang kamu lihat, aku baik juga."


"Sepertinya kamu sudah banyak berubah ya," ucap Kevan tanpa memalingkan matanya dari wajah Maura.


"Perubahan apa? Aku masih sama seperti dulu."


"Kamu semakin cantik."


**


Deryl dan Naya sekarang hanya berdua didapur. Jef sudah dibawa kabur oleh Kenzio dan Kiano kekamarnya, diminta untuk menemani bermain dan tidur.


Tanpa berbicara apa-apa, Deryl memeluk Naya dari belakang, membuat gerakan Naya yang sedang mencuci piring terhenti, bahkan ketika lingkaran tangan Deryl mengerat diperutnya.


"Aku rindu kamu." ucap Deryl manja. Pria itu mendusel-dusel leher Naya.


"Deryl, aku sedang mencuci piring."


"Sebentar saja. Aku rindu sekali!"


"Kan kita sudah bertemu sekarang, kenapa masih rindu?"


"Kamu tidak peka, Naya!"


"Aku tau, aku paham. Jadi, Bapak Deryl Ananta, suamiku, lepaskan dulu ya. Biar aku menyelesaikannya dengan cepat."


Deryl tersenyum kegirangan dengan sebab yang ia ketahui, tentu saja karna kepekaan Naya yang membuatnya bahagia setengah mati. Pasalnya, hal yang seperti ini (berdua dengan Naya) sudah sangat jarang ia rasakan. Selain karena urusan rumah sakit, terkadang Kenzio juga berubah menjadi sangat manja dan tidak ingin lepas dari Deryl barang sedetik saja. Deryl bahkan harus merelakan malam-malam gilirannya diambil alih oleh Kevan karena dia tidak bisa meninggalkan Kenzio yang seharian bahkan nyaris semalaman menggelayutinya. Dan disaat ada kesempatan seperti ini, tentu saja Deryl harus memanfaatkannya dengan baik, berterimakasihlah kepada Jef karena membuat dua bocah itu memiliki teman baru untuk bermain.


"Ehe, aku jadi semakin senang kalo begini." ucap Deryl.


Naya hanya menyunggingkan senyuman kecil, tidak memungkiri juga bahwa ia sama rindunya dengan Deryl. Naya menepati ucapannya menyelesaikan cuci piring dengan cepat lalu menarik tangan Deryl menuju kamarnya, membuat kewarasan Deryl terbang semakin jauh.

__ADS_1


**


Sudah jam 12 malam, tapi Kevan masih betah duduk di sofa restauran VIP itu sembari mengobrol dengan Maura. Keduanya terlarut dalam suasana dan melupakan waktu yang sudah semakin malam.


"Aku benar-benar tidak menyangka ternyata klien-ku adalah mantan kekasihku." ucap Maura diiringi tawanya.


"Akupun sama tidak taunya sepertimu haha. Tapi menyenangkan sekali kita bertemu dalam suasana seperti ini."


"Ya.. kamu benar, sangat menyenangkan."


"Mau minum sesuatu yang menyegarkan?" tawar Maura sambil tersenyum menatap Kevan.


"Woah.. apakah itu."


"Anggur terbaik yang kubeli untuk menjamu klien-ku."


"Thats sweet."


Maura tersenyum lalu meminta pelayan membuka minuman itu untuknya dan Kevan. Menuangkan secangkir penuh kepada Kevan lalu menyuruh pria itu meminumnya.


"Benar-benar manis seperti dirimu."


"Kevan.. aku ingin bertanya satu hal kepadamu, kita sudah mengobrol banyak tapi kamu tidak menyinggungnya membuatku benar-benar penasaran."


"Apa itu?"


"Apa kamu sudah menikah?"


Kevan mengangguk pelan. "Aku sudah menikah bahkan sudah memiliki dua orang anak."


"Benarkah?"


Kevan merogoh saku celananya, mengeluarkan hapenya lalu memperlihatkan foto Kiano dan Kenzio yang sedang bergandengan. Maura menatap foto itu dengan senyum hambar, beda dengan Kevan yang memperlihatkannya dengan senyum senang.


"Mereka lucu."


"Ya, yang baju hijau Kiano dan baju biru itu Kenzio."


"Mereka tidak mirip denganmu."


"Mereka mirip dengan ibunya."


Lagi-lagi Maura hanya tersenyum hambar menanggapi ucapan Kevan.


— to be continue


Jef Reksa 👇🏻


__ADS_1


__ADS_2