My Two Husband

My Two Husband
Strange Choice


__ADS_3

[ *Flashback ]


"Tidak ayah. Aku tidak mungkin meninggalkan Deryl!"


"Kita tidak punya pilihan lain, Nay. Kakek–mu jelas menuliskan surat wasiat itu, jika kamu harus menikahi cucu sahabatnya. Kalau tidak, perusahaan akan jatuh pada pamanmu yang menjadi ahli waris kedua setelah kamu."


Naya menggeleng lemah. "Lalu bagaimana dengan Deryl? Ayah tolong jangan lakukan ini.." ucapnya sembari terisak. Ia tak mau meninggalkan Deryl hanya karena surat wasiat itu.


Deryl adalah cinta pertamanya, banyak hal yang telah mereka lalui bersama. Dan kenapa baru sekarang ayahnya berkata sedemikian. Jika ia tak menikah dengan pria bernama Kevan Ardinata, maka seluruh harta jatuh pada pamannya, Gilang.


Sebenarnya Naya tidak memperdulikan jika seluruh harta jatuh pada Gilang si licik. Tapi bagaimana dengan ayahnya? Ayahnya tidak mungkin bisa menerima semua itu.


"Baiklah ini pilihan terakhir."


Naya berdoa selagi ayahnya, Ronald berucap tentang pilihan terakhir Naya.


"Menikahi keduanya."


Naya melotot, bagaimana bisa ia menikahi dua pria sekaligus? Bagaimana ia akan menampakkan wajahnya jika hal itu benar-benar terjadi? Dan apa tanggapan seluruh teman kampusnya nanti. Jika Naya Amanda, si mahasiswa semester akhir menikahi dua pria sekaligus.


Deryl Ananta, berumur masih muda namun sudah bergelar dokter. Mapan dan tampan. Memiliki aset dan properti yang berjumlah banyak.


Kevan Ardinata, pemilik perusahaan Ard Company, bergelar master. Kaya tujuh turunan. Kekayaannya takkan habis meski Naya membeli berjuta-juta hektar kebun Strawberry.


Tapi bukan itu yang Naya inginkan, ia bukanlah si haus harta kekayaan. Naya hanya ingin bahagia dengan satu orang sampai akhir. Ia tak butuh semuanya selagi Deryl masih ada bersamanya.


Safira Amanda, ibunya yang sudah meninggal tiga tahun lalu. Andai saja Ibunya masih hidup, pasti wanita cantik itu akan membelanya dan memarahi Ronald karena berani-beraninya melakukan hal seperti itu pada anak satu-satunya mereka.


"Jika kamu tidak bisa memilih maka nikahi keduanya. Ayah berjanji akan melakukan sesuatu untuk kamu keluar dari permasalahan ini, Naya. Kamu anakku. Ayah tidak mungkin senang melihatmu sedih karena ini, tapi ayah mohon lakukan hal ini.. sekali saja. Ayah tak mungkin membiarkan Gilang merampas semua jeripayah ayah dan kakek."


"Lalu bagaimana denganku? Bagaimana nanti aku bersikap jika setelah semua orang tahu jika aku menikahi dua pria sekaligus, ayah?"


Air mata Naya menetes. Ia kalut dan marah. Naya marah pada takdir. Beraninya ia melakukan hal ini semua padanya.


"Jangan menangis, sayang. Ayah sudah berjanji akan mengeluarkanmu dari masalah ini secepatnya. Tapi menikahlah untuk ayah. Kita akan melakukannya dengan sangat tertutup. Tidak ada yang mengetahuinya selain kerabat terdekat yang bersangkutan. Tak ada yang akan membuatmu malu."


"Malumu juga malu ayah, Naya. Jadi ingin memikirkan pilihan ini?" Tanya Ronald hati-hati dengan tangan yang sudah menghapus jejak bening di pipi mulus Naya. Mengelusnya sayang. Dalam hati ia terus berucap maaf, tak ada lagi pilihan. Perusahaan itu akan hancur jika sampai jatuh ke tangan Gilang.


"Maafkan ayah, maafkan ayah, sungguh maafkan ayah. Ayah akan melakukan ini tanpa membuatmu sakit. Kamu tidak akan merasakan sakit sedikitpun. Ayah berjanji akan itu."


"Aku menerimanya."


Ronald menatap Naya penuh arti. "Secepat itu? Jika kamu perlu waktu dan—"


"Aku menerimanya ayah. Aku akan menikahi keduanya."


Ronald terdiam. Sekarang ia yang merasa kalut. Ia tak tahu jika pilihannya ini mungkin saja akan membuat Deryl dan Kevan sakit. Bahkan jika ia lengah, bisa saja Naya yang lebih tersakiti.

__ADS_1


"Terimakasih, Naya." Tapi pilihan sudah bulat. Ronald tak mungkin membatalkannya. Naya sudah bersedia maka ia juga harus siap.


Memeluk tubuh anaknya dengan elusan sayang. Semenjak Safira meninggalkan mereka, hanya Ronald yang memberikan kasih sayang pada anak tunggalnya itu.


"Aku ingin ke makam ibu besok." Ucap Naya ketika sudah terlepas dari pelukan Ronald.


"Ya. Kita akan ke makam ibu bersama, ibumu berhak tahu tentang pernikahan anaknya."


******


"Kevan Ardinata."


Naya tersenyum canggung membalas jabatan tangan besar Kevan. "Naya Amanda."


"Jadi kita akan menikah besok? Huh, tidak terasa. Padahal kemarin aku baru saja menyelam di laut Eropa." Ucap Kevan sedang mencoba mencairkan suasana.


Naya tersenyum canggung lagi. "Ya, sepertinya iya."


"Jangan canggung. Kita akan segera menikah. Kamu, aku dan lagi.. siapa namanya?"


Naya malu, sangat malu. Kenapa pria dihadapannya ini sangat mudah berucap seperti itu. "Deryl."


"Ya benar. Apakah kita akan threesome di malam pertama kita?"


*threesome : aktivitas seksual yang melibatkan tiga orang pada waktu yang sama.


Pipi Naya panas. Sepertinya terlihat merah. Naya yakin itu. Ia ingin menutupi wajahnya saat ini juga. "Kupikir tidak. Deryl tidak menyukainya."


Naya menelan ludahnya.


"Tapi mau bagaimana lagi kan? Deryl mencintaimu, kamu mencintai Deryl dan aku mencintaimu. Berputar seperti yang di inginkan. Takdir macam apa ini sebenarnya?"


"Kamu?" Mata Naya melotot. Rasanya ia samasekali tak pernah melihat dan mengenal Kevan


"Kamu pasti tidak akan pernah menganggapku ada. Sejak kecil aku sering berkunjung kerumahmu bersama kakek–ku. Tapi kamu sepertinya sangat asik bermain dengan Deryl sampai aku tak pernah terlihat."


Naya baru tahu fakta ini, memang sejak kecil ia selalu bermain dengan Deryl. Apapun yang Naya lakukan, selalu bersama Deryl. Deryl adalah sahabat kecilnya yang merambat sebagai kekasihnya. Dan mengenai Kevan. Naya mungkin terlalu memperhatikan Deryl sampai melupakan sekitar.


"Maaf aku tak pernah melihatmu berada dirumahku."


"Tak apa. Aku menerima kenyataan pahit itu. Lagipula itu sudah berlalu. Sekarang buktinya kamu melihatku sebagai calon suami–mu." Dengan tatapan sakit, Naya merasa bersalah.


Naya tersenyum kecil. "Ya. Kamu calon suami–ku. Aku akan melihatmu sekarang, Kevan."


Kevan tersenyum tulus. Menggenggam tangan Naya. "Terima kasih."


*****

__ADS_1


"Maafkan aku." Ucap Naya pelan.


Bukannya membalas, Deryl hanya bisa mengecup pelipis Naya berkali-kali. Itu adalah pilihan Naya dan Deryl menerimanya. Ia akan tetap bersama Naya apapun yang terjadi. Mereka sudah bersama sejak kecil, dan terasa sangat jahat jika Deryl marah dan menjauh dari Naya hanya karena permintaan aneh yang diberikan ayah Naya.


Mempertahankan apa yang sudah ia miliki meski dengan cara apapun. Jadi ia akan berbagi mulai sekarang? Deryl ingin tertawa memikirkannya. Ya Tuhan, apa salah Deryl sampai harus mendapatkan hal seperti ini.


"Bukan salahmu, kamu hanya anak baik yang menuruti apapun yang ayahmu katakan, bukan? Jadi berhentilah menangis hm? Sampai matamu membengkak, pernikahan ini akan tetap terlaksana. Jadi buat aku terkesan dengan penampilanmu besok."


"Ya. Besok aku akan berdandan untukmu, hanya untukmu, Deryl."


Deryl mengelus pipi itu dengan anggukan kecil. "Tentu, hanya untukku."


Mereka saling menatap. Menyalurkan rasa cinta itu melalui tatapan masing-masing. Hingga akhirnya benda kenyal itu saling menyentuh, melumatnya pelan-pelan. Menghayati setiap gerakan mengecap itu, menghisap bibir bawah Naya kuat-kuat. Naya menutup matanya, menikmati setiap sentuhan yang diberikan Deryl untuknya.


Semenit kemudian pagutan terlepas, tergantikan dengan pelukan erat. "Aku mencintaimu." Bisik Deryl pelan. Nafas terengah-engah mereka saling beradu. Naya mengecap bahu lebar Deryl sampai meninggalkan ruam kemerahan yang kecil.


"Aku mencintaimu." Balas Naya sembari mendudukan tubuhnya diatas pangkuan Deryl. Menenggelamkan kepalanya pada ceruk terdalam leher Deryl, menghirup harum tubuh Deryl, menjilat sesekali untuk mengundang Deryl membalas perlakuannya.


Tapi Deryl hanya memeluk pinggang Naya. Mengelus kulit belakang Naya dengan lembut. Seolah-olah sedang menidurkan bayi. "Tidurlah, kamu pasti lelah."


"Sudah hilang sejak melihatmu." Ucap Naya sedikit berbisik. Membuat bibir Deryl sedikit naik ke atas.


"Naya.. Naya–ku. Aku akan gila jika tidak melihatmu sehari saja."


Naya tertawa. "Uhm kamu pernah meninggalkanku seminggu, tahun semalam karena urusan pekerjaan."


"Itu sangat buruk. Kamu tahu itu," ucap Deryl.


"Kamu sakit dan ya kamu terus memanggilku, kan? Aku harap itu akan selamanya. Kamu harus selamanya bergantung padaku, setidaknya itu membuatku merasa kalau kamu tidak pernah mencoba meninggalkanku."


"Aku sudah bergantung padamu. Sangat bergantung."


Naya meremas rambut belakang Deryl, menariknya sampai tepat didepan wajahnya. Mengecup bibir seksi milik Deryl berulang-ulang tanpa bosan.


"Kamu terus saja menggodaku." Ucap Deryl sembari mengusap bibir merah Naya.


"Kamu sangat susah tergoda hari ini. Kenapa?"


"Besok adalah hari pernikahan kita."


"Ya aku tahu itu," balas Naya cepat.


"Dan aku gugup, tahu! Bagaimana jika aku lepas kendali dan menidurimu sampai ruam merah itu tercipta dimana-mana. Atau lebih parah kamu tidak bisa berjalan karena keganasanku, kamu mau itu?"


Naya tertawa menggoda. "Tapi bagaimana dengan Little Deryl? Dia sudah menegang didalam sana."


"Persetan, Naya! Menyingkirlah aku tidak ingin orang-orang menatap aneh cara berjalanmu besok. Kamu harus sempurna besok, dan aku tidak ingin merusaknya, sayang."

__ADS_1


Naya tersenyum lembut, ia merasa lebih baik sekarang dan itu karena Deryl. "Terima kasih." Kata terakhir yang Naya ucapkan sebelum akhirnya ia memilih menutup matanya. Ia akhirnya bisa tertidur tanpa beban di dalam pelukan Deryl*.


** **To Be Continue** *


__ADS_2