My Two Husband

My Two Husband
Selingan


__ADS_3

Hari itu hari libur, Deryl mengajak Naya jalan-jalan ke mall. Ke toko perlengkapan bayi. Hanya lihat-lihat saja, tidak punya niat beli. Belinya nanti saja kalau sudah mendekati bulan kelahiran.


Bukannya Deryl pelit, ia tidak. Hanya saja pamali. Kandungan Naya masih baru, bisa saja masih berbentuk kecebong dengan buntut kecil.


"Menurutmu, baby kita laki-laki atau perempuan?" Naya bertanya. Matanya menatap gemas pada semua barang yang ada didalam toko.


"Laki-laki sepertinya."


"Kenapa?"


"Menurut berita yang pernah aku dengar, kalau seseorang yang hamil semakin cantik maka bayinya akan terlahir perempuan. Jadi karena bentukanmu seperti ini maka aku tebak bayi kita akan lahir laki-laki."


"Kamu mau bilang aku jelek, begitu?!" Naya memukul dada Deryl kesal.


"Aku tidak bilang begitu, sayang."


"Lalu apa maksudmu dengan bentukanku yang seperti ini, huh? Begini-begini kan aku hamil anakmu bukan anak kadal!"


"Iya iya.. aku hanya bercanda. Jangan marah-marah nanti cepat tua dan keriput."


"Tadi kamu mengataiku jelek dan sekarang kamu mengejekku tua dan keriput?! Dasar pria kejam.. hiks hiks!"


"Hei, hei... kenapa malah menangis? Astaga! Maafkan aku, sayang. Aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu." Deryl memeluk Naya cepat. Mengusap punggung kesayangannya itu lembut tanpa peduli tatapan orang-orang yang berlalu lalang.


"Kamu ini bodoh apa bagaimana? Ibu hamil itu kan sensitif. Jadi jangan bicara sembarangan. Nanti aku jadi tersinggung-kalau aku tersinggung bisa-bisa nekat merampok bank."


Iya, Deryl juga tahu kalau orang hamil itu sensitif dan mudah tersinggung. Tapi dia tidak tahu efeknya bisa sampai merampok bank. Kalau begitu efeknya maka akan bahaya sekali jika membiarkan Naya berkeliaran.


"Maaf sayang. Iya, aku mengaku salah. Jangan menangis lagi hm?"


"Tidak kumaafkan kalau kamu tidak mau menuruti permintaanku!" Naya melepaskan pelukan mereka.


"Memang sayangku ini minta apa hm?"


Naya tersenyum manis. Dia tahu Deryl pasti akan selalu menuruti semua permintaannya. Termasuk yang satu ini, walaupun mungkin akan terdengar sangat konyol tapi Naya tidak perduli. Toh ini bukan keinginannya, ah sebut saja dia mengidam sekarang.


"Aku dan baby ingin punya mall ini biar bisa belanja sesuka hati tanpa membayar. Beli mall ini, boleh?" Naya mengedipkan mata lucu, biasanya Deryl akan lemah jika ia melakukan itu.


"Kamu dan baby sedang bersekongkol memerasku ya?" Tuduh Deryl main-main. Tangannya mencubit hidung Naya karena terlalu gemas dengan tingkah istri cantiknya itu.


"Ehehehe... kan kamu kaya. Jadi, bukan masalah kan kalau cuma beli mall saja?"


"Iya, iya.. nanti aku belikan mall ini untukmu. Apa sih yang tidak untuk kalian."


Ah.. inilah kenapa Naya suka sekali punya pasangan yang kaya raya. Apapun yang ia inginkan pasti dituruti. Bukan karena ia matre—hanya saja ia tidak mau munafik. Lagipula untuk apa menyimpan uang banyak-banyak jika tidak digunakan? Bisa-bisa nanti uangnya sudah kadaluwarsa.


"Ah ya.. Deryl—"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Belinya atas namaku saja ya. Jangan atas namamu."


Oke, Naya akui dia memang sedikit—matre. Hanya sedikit! Jangan berlebihan ya, dia hanya meminta dibelikan mall!


"Baiklah, sayang."


Saat ini Naya memang hanya sedang berdua dengan Deryl karena Kevan harus pergi ke China untuk perjalanan bisnisnya selama dua minggu, pun dengan Deryl yang cuti selama seminggu untuk menemani istrinya dirumah.


"Kamu ingin apa lagi selain mall ini?"


"Aku mau minuman yang disana itu, Deryl. Itu sepertinya enak, ayo."


"T-Tunggu, Naya. Itu tidak baik untukmu, bagaimana dengan jus buah saja? Lagipula kamu juga sedang hamil dan jus buah bagus untuk kandunganmu sayang."


"Tapi aku sedang ingin minuman itu, tidak mau jus buah."


"Bagaimana kalau makan siang dulu baru setelah itu membeli minuman yang kamu mau itu, bagaimana?" ucap Deryl mencoba bernegosiasi dengan Naya yang terlihat masih mengerucutkan bibirnya karena keinginannya belum terpenuhi.


"Tapi janji dibelikan?" tanya Naya memastikan.


"Aku berjanji sayang."


"Baiklah kalau begitu,"


Akhirnya Naya dan Deryl berjalan menuju sebuah caffe untuk makan siang karena jam sudah menunjukkan angka duabelas, artinya sudah hampir seharian mereka ada di mall ini.


"Senang! Terimakasih, Deryl!"


"Anything for you, babe. Because I love you so much more than anything."


"Kamu manis sekaliiiii... aku juga cinta kamu, cinta sekali!" Seru Naya senang.


Deryl hanya menanggapinya dengan senyuman manis dan mengusap lembut puncak kepala wanita itu.


**


Naya dan Deryl kembali kerumah mereka saat jam menunjukkan angka lima, berarti sudah sangat sore dan terlambat mereka kembali. Naya tertidur selama perjalanan pulang dengan bergelayut dilengan Deryl yang sedang menyetir.


"Deryl.." panggil Naya dengan mata yang terpejam.


"Hm? Mengigau?"


"Aku mau sesuatu.."


"Mau apa?"


"Aku mau crepes, rendang, martabak manis, dan milk cheesy."


Deryl tertawa pelan, sedang bermimpi atau mengigau? Diciumnya pipi kesayangannya itu dengan lembut. Pipi begitu menggemaskan, seperti mochi. Deryl ingin sekali menggigitnya tetapi takut jika Naya bangun dan marah wkwk.

__ADS_1


Jadi, daripada membuat Naya marah, Deryl berhenti disebuah tempat penjual makanan untuk membelikan semua yang Naya sebutkan dalam igauannya.


"Kamu dari mana?" tanya Naya ketika Deryl kembali masuk kedalam mobilnya dengan sedikit berkeringat.


"Kamu bangun? Aku tadi sedang membeli beberapa makanan."


"Makanan apa?" tanya Naya.


"Membeli crepes, rendang, martabak manis dan milk cheesy." sahut Deryl sembari memasang sabuk pengamannya dan kembali menjalankan mobil.


"Bagaimana kamu bisa tau?"


"Tau apa, sayang?"


"Kamu tau kalau aku sedang ingin makanan itu?"


Deryl terkekeh. "Tadi kamu mengigau dan menyebutkan semua itu. Jadi aku membelikannya sebelum kamu terbangun dan memintanya."


"Kenapa?"


"Kamu bisa menangis dengan kencang jika aku lambat memberikannya padamu. Seperti tempo hari saat kamu ingin makan martabak telur dan aku terlambat membelinya. Kamu menangis hampir semalaman."


Naya menunduk merasa malu karena sadar dirinya terlalu merepotkan Deryl. "Maafkan aku." ucapnya penuh sesal.


"Maaf untuk apa, Naya-ku?"


"Untuk semuanya. Aku selalu merepotkanmu, Deryl."


"Tidak usah merasa tidak nyaman seperti itu, kita sudah mengenal hampir seumur hidup, Naya. Santai saja, lagipula aku kan suamimu jadi aku bertanggungjawab atas dirimu dan calon anak kita."


"Kamu manis sekali, aku jadi semakin cinta denganmu."


"Hahaha. Kamu juga selalu manis, Naya. Apalagi untuk titik-titik tertentu." jawab Deryl ambigu mengundang rona merah dipipi Naya yang mendengarnya.


"Diam! Aku tersipu karena kalimat konyolmu itu!"


"Haha.. sayangku, cintaku."


"Aku ingin memelukmu."


"Nanti kita berpelukan setelah sampai dirumah. Kita memiliki waktu yang banyak."


"Yes, doctor."


"Muach! Love you!"


— ***to be continue .


nb : tolong dong dikasih kritik, sumpah saya insecure banget sama karya ini. Takut tidak bisa memuaskan hasil saya untuk oranglain. Bantu support😭***

__ADS_1


__ADS_2