My Two Husband

My Two Husband
Rencana


__ADS_3

Seminggu setelah insiden tidur bersama dikamar Deryl yang menyebabkan kamar pria itu hancur seperti kapal pecah. Kita ketiga manusia dewasa itu sedang duduk berkumpul diruang tengah untuk membicarakan perihal liburan.


"Aku ingin liburan ke Spanyol! Aku pernah pergi kesana dan menemukan tempat yang bagus dan exclusive." Ucap Kevan sembari menatap Naya dan Deryl secara bergantian.


"Aku tidak suka Spanyol. Tidak ada yang menarik disana, aku lebih suka Netherland." Balas Deryl dengan wajah datarnya.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi ke Mesir saja?"


"Kamu mau menjadi apa disana?"


"Mumi."


Naya terkekeh mendengar jawaban konyol suaminya itu. Omong-omong, mereka melakukan liburan ini untuk honeymoon karena setelah pernikahan mereka dulu, mereka tidak sempat melakukan honeymoon, salahkan saja Kevan yang harus pergi ke Korea untuk perjalanan bisnis dan tidak merelakan jika Naya hanya pergi berdua dengan Deryl.


"Bagaimana tour keliling dunia saja? Uang kalian banyak kan?" tanya Naya.


"Aku sih mau saja, tapi aku tidak bisa meninggalkan kantor lama-lama. Bisa-bisa nanti karyawanku melakukan korupsi semua."


"Aku juga tidak bisa meninggalkan rumah sakit lama-lama, nanti aku tidak dapat gaji."


Kekompakkan yang konyol.


"Bagaimana kalau kita pergi ke dua tempat saja? Pertama kita ke Netherland karena aku ingin makan roti disana, dan kedua kita pergi ke Spanyol, kudengar di Spanyol banyak bibit bunga yang cantik."


"Kamu lebih cantik dari bunga-bunga, Naya." ucap Deryl menggombal tetapi dengan ekspresi wajah yang datar.


"Gombalan basi." Komentar Kevan pedas. Matanya melirik sinis pada Deryl yang mengecup tangan Naya.


"Kamu iri karena tidak bisa menggombal. Aku memaklumi."


Selalu seperti ini.


"Sudah, sudah. Sebelum kalian baku hantam, aku ingin kepastian dari liburan ini dulu. Kalian setuju atau tidak?"


"Masih kupikirkan, berapa lama kita pergi." tanya Kevan memainkan tumpukan majalah di atas meja.


"Kalian bisa pergi berapa lama?"


"Tiga minggu." –Deryl.


"Dua minggu." –Kevan.


"Bagaimana jika di Netherland seminggu dan Spanyol seminggu. Impas, bukan?"


Kevan dan Deryl kompak mengangguk setuju. Lantas mereka membicarakan kapan waktu yang tepat untuk pergi.

__ADS_1


**


"Bawa secukupnya saja, Kevan! Tidak usah berlebihan, kita disana hanya seminggu!" Tegur Naya.


Naya saat ini memang sedang menemani Kevan untuk packing sementara Deryl pergi ke rumah sakit untuk operasi. Kevan sedari tadi terlihat sangat sibuk memasukkan benda-benda yang menurut Naya sangat tidak penting untuk dibawa liburan. Seperti jam weker, sendok dan piring dari rumah, serta barang-barang tidak penting lainnya. Bahkan pria itu tidak memasukkan bajunya kedalam koper. Sungguh pria aneh.


"Kamu tidak memasukkan baju-bajumu?"


Kevan menghentikkan kegiatannya dan menatap Naya terkejut. "Benar. Aku lupa!"


Naya menggelengkan kepalanya, ia mencubit pipi Kevan, gemas dengan tingkah pria itu. Ia memasukkan barang tidak penting tetapi lupa memasukkan baju-bajunya sendiri.


"Minggir, biar aku yang mengepack kopermu."


Kevan menyingkir dari sana dan membiarkan Naya mengeluarkan semua isi koper yang telah ia susun didalamnya. "Untuk apa kamu membawa piring dan sendok ini, Kevan?"


"Nanti di hotel piringnya berbeda."


"Kamu memalukan. Kamu itu CEO, Kevan. Bagaimana bisa pergi liburan membawa piring dan sendok sendiri."


"Hehehe!"


"Apa kamu juga melakukan hal yang tidak penting ini saat menyelam ke laut Eropa?"


Kevan menggeleng pelan. "Tidak. Waktu itu tidak serumit ini karena aku belum menikah."


"Bedanya, karena wanita cantik ini sekarang menjadi istriku!"


"Dasar kamu ini."


Kevan tertawa pelan, memperlihatkan jajaran gigi putih dan rapinya. Terlihat sangat tampan.


"Aku sayang kamu, Naya."


Naya membalas ucapan Kevan dengan mengecup pipi pria tampan itu. Membelai pipi sang suami dengan pelan dan tersenyum hangat.


"Aku berpikir untuk berdamai dengan Deryl kapan-kapan."


"Itu bagus."


"Ya. Kurasa aku bersalah padanya karena aku turut menjadi suamimu, padahal seharusnya dia saja yang menjadi suamimu. Jika aku diposisinya, mungkin akupun akan susah menerima kenyataan bahwa orang yang kucintai harus rela dibagi dengan pria lain."


"Its okay, Kevan. Lagipula ini juga wasiat kakekku."


Kevan memeluk Naya yang sedang membereskan kopernya, sehingga Naya otomatis menghentikkan kegiatannya dan membalas pelukan Kevan.

__ADS_1


"Kapan-kapan aku juga akan mengajaknya untuk threesome."


Naya mengetuk kepala Kevan pelan, membuat pria itu lagi-lagi tertawa karena ucapannya sendiri. Mungkin Naya berpikir dirinya bersungguh-sungguh untuk mengajaknya dan Deryl melakukan threesome, membayangkannya saja Kevan tidak sanggup, apalagi melakukannya. Hell Nooooo! Pasti rasanya akan sedikit geli-geli menggemaskan wkwk.


"Jangan coba-coba!" ancam Naya.


"Tidak sayang, tidak. Lagipula Deryl mana mungkin setuju."


"Ya, mendengarnya saja mungkin dia akan menghajarmu." canda Naya.


Mereka akhirnya tertawa bersama dan melupakan kegiatan packing untuk liburan.


**


Deryl baru saja keluar dari ruang operasi setelah melakukan operasi yang panjang sekitar dua jam. Ia melepas sarung tangan serta masker yang menutupi wajah tampannya. Ia berjalan pelan menuju ruangannya sembari merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.


Deryl mempercepat langkahnya ketika ingat bahwa ia harus menghubungi Naya karena tidak bisa pulang malam ini, ia masih harus melakukan cek rutin kepada pasiennya yang baru saja selesai ia operasi.


"Naya mungkin akan khawatir karena aku belum menghubunginya." ucap Deryl begitu ia sampai di ruangannya. Ia langsung mengambil benda tipis dengan merk terkenal itu dan menghubungi istrinya.


"Naya."


"...."


"Tidak, sepertinya aku tidak bisa pulang malam ini. Pasienku harus tetap dalam pengawasanku."


"...."


"Maafkan aku, sayangku."


"...."


"Ya. Minta Kevan untuk menemanimu. Kalau begitu kututup ya, sampai jumpa."


"...."


Sebenarnya Deryl sungguh tidak rela meninggalkan Naya dirumah bersama Kevan, tapi mau bagaimana lagi? Mau tidak mau ia harus menerima kenyataan bahwa ia meninggalkan Naya bersama Kevan.


"Aku menyesal bekerja seperti ini, lebih baik menganggur saja."


Deryl melangkahkan kakinya keluar ruangan untuk pergi ke caffe dengan maksud ingin meminum segelas kopi atau semacamnya, namun karena tidak terlalu memperhatikan jalannya, Deryl menabrak seseorang hingga ia dan orang itu sama-sama terjatuh. Dengan sigap, Deryl segera bangun dan menolong orang itu sampai akhirnya ia terdiam.


"Deryl Ananta?"


"Kamu... Vania?"

__ADS_1


** To be continue


__ADS_2