
Hari ini sabtu, hari dimana kantorku libur tetapi aku harus tetap bekerja, mengerjakan laporan yang sangat penting untuk materi meeting. Seharusnya sudah selesai dari beberapa hari yang lalu, tapi si cantik istriku terus saja mengangguku sampai aku tidak bisa mengerjakan laporan penting ini. Barang menyentuh laptop pun rasanya mustahil ketika berada dirumah.
Hari ini aku harus segera menyelesaikan laporan ini supaya aku tidak terlihat bodoh ketika meeting nanti, bukan berarti aku bodoh. Hanya saja, aku ini tipe boss yang hanya membahas apa yang sedang dirapatkan, tidak suka merembet kemana-mana itulah sebabnya aku harus membuat laporan agar bicaraku lebih teratur. Tapi sepertinya hal itu gagal kulakukan ketika aku melihat panggilan masuk di hapeku. Nama yang beberapa bulan ini membuatku dan Deryl hampir depresi karenanya.
"Ada apa?" tanyaku langsung pada intinya ketika menjawab telepon itu.
'Aku ingin kamu membawakanku semangka yang berwarna kuning!' ucapnya riang dari seberang sana. Tapi sekesal-kesalnya aku pada akhirnya tetap juga luluh mendengar suaranya.
"Memangnya ada?"
'Tentu saja. Ambil di Fresh Fruit mall-ku ya.'
Aku mengernyit bingung. Mall-nya? Naya punya mall sendiri? Tapi sejak kapan?
"Kamu punya mall sendiri?"
'Tentu saja! Deryl yang membelikannya untukku.'
Aku mengumpat pelan dalam hati, lagi-lagi aku kalah. Bagaimana bisa Deryl begitu mudah mengambil hati Naya? Aku menjadi iri padanya.
"Baiklah, nanti akan kuambilkan."
'Oke, alamatnya aku kirim lewat pesan ya.'
"Ya."
Setelah itu Naya langsung memutuskan panggilan teleponnya denganku. Aku menjadi kurang bersemangat dan mendadak merasa sedih. Apa karena aku terlalu mencintai Naya? Atau aku masih belum bisa beradaptasi dengan keadaan poliandri ini? Sudah satu tahun kami menjalani rumah tangga aneh ini sampai akhirnya Naya dikabarkan hamil tapi aku tidak pernah merasa sekalah ini oleh Deryl. Apa ini karmaku karena datang dan merusak hidup Naya dan Deryl? Ini bukan keinginanku. Ini karena wasiat dari kakekku dan kakek Naya.
[ Flashback ]
Aku sedang berada di sebuah private hotel bersama kekasihku, Helena. Kami baru saja merayakan tahun kedua pacaran kami sekaligus merayakan valentine. Kalian tau kan apa yang terjadi jika seorang pria dan wanita bersama disebuah kamar hotel?
Siang itu setelah selesai 'bermain' dengan Helena, aku memutuskan untuk berenang sebentar. Berenang disebuah kolam renang luas dengan keramik berwarna biru yang kusebut laut Eropa. Aku hanya berenang dipinggir, belum ada minat untuk ketengah. Sekitar lima belas menit aku berdiam, aku mendengar hapeku berbunyi. Aku segera naik dan mengeceknya. Itu panggilan dari ayahku. Ayahku meminta aku untuk segera kembali kerumah karena ada hal penting yang ingin ia sampaikan kepadaku. Aku memberitahu Helena tentang hal itu dan Helena menyuruhku pulang, aku menurutinya.
__ADS_1
Sesampainya dirumah, aku melihat diruang tamuku ada ayahku, kakekku, dan seorang pria paruh baya yang aku kenal dia adalah om Ronald, sahabat ayahku. Ayah langsung memanggil dan menyuruhku untuk bergabung dengan mereka.
"Ada apa, ayah?" tanyaku setengah berbisik kepada ayahku.
"Nak Kevan pasti bingung kenapa kami berkumpul kan?" tanya om Ronald seperti tau apa yang kubingungkan. Lantas aku hanya mengangguk untuk menjawabnya.
Dia tertawa pelan kemudian menatap kakekku. "Jadi, Kevan.. seperti yang sudah kamu tau. Ronald ini mempunyai anak perempuan yang bernama—"
"Naya Amanda." sambungku cepat.
"Ya, kakek mau kamu menikah dengannya."
"Kenapa?" tanyaku sambil menunduk.
"Bisa dibilang kamu menikah dengannya untuk kepentingan bisnis, Kevan."
"Kenapa harus aku? Kenapa tidak yang lain saja?" tanyaku lagi dengan suara yang sedikit meninggi.
"Aku tidak mau pernikahan yang samasekali tidak menguntungkanku."
Ayah, kakekku dan om Ronald menghembuskan nafasnya. Bisa kulihat raut kekecewaan diwajah om Ronald.
"Perusahaanku hampir bangkrut karena ulah kakakku. Perusahaan itu kubangun dengan penuh perjuangan bersama ayahku. Tapi sepertinya kali ini aku harus rela melepasnya." ucap om Ronald tertawa terpaksa.
"Ronald, jangan begitu. Aku bisa membujuk Kevan lagi nanti." ucap ayahku.
"Tidak usah, jangan dipaksa. Sesuatu yang dijalani terpaksa tidak akan mendapat hasil yang baik. Kalau begitu, aku pamit pulang. Ini sudah sore, kemungkinan anakku pasti akan mencariku."
"Om Ronald, maaf." ucapku menatapnya penuh sesal.
Kulihat om Ronald cuma mengangguk dan tersenyum kemudian dia berpamitan dengan ayah dan kakekku lalu segera meninggalkan rumahku. Sejak penolakanku hari itu, aku tidak pernah lagi melihat om Ronald datang berkunjung.
Sore itu aku sedang duduk dibangku halaman rumahku, lalu ayahku datang dan ikut duduk disebelahku. "Perusahaan om Ronald bangkrut kemarin." ucap ayahku membuka pembicaraan.
__ADS_1
"A-apa?" tanyaku terkejut.
"Kakaknya, Gilang.. terus berulah. Dia tidak bisa mendapatkan dukungan dari manapun selain dari perusahaan ayah."
Well, itu kejutan buatku.
"Disurat wasiat ayahnya, disana disebutkan kalau ayah harus membantu perusahaannya dan juga menikahkanmu dengan cucunya, tapi ayah sudah tidak bisa melakukan apa-apa."
Kenapa rasa sesal tiba-tiba muncul dalam dirinya, merasa gagal menolong seseorang yang sangat butuh bantuannya.
"Ayah, apa aku belum terlambat untuk memberi keputusan?" tanyaku tiba-tiba.
"Keputusan apa?" tanya ayahku bingung.
"Aku akan menikahi Naya agar perusahaan ayah bisa membantu perusahaan om Ronald, dengan begitu perusahaanku juga bisa membantunya."
"Kamu yakin? Bagaimana dengan Helena?"
Aku menunduk, itulah yang kubingungkan. Bukannya aku tidak menyukai anak om Ronald, tentu saja aku menyukai perempuan cantik itu sejak kecil. Tapi aku juga memiliki Helena yang mengisi hari-hariku.
"Hubungan kami sudah berjalan begitu 'jauh'. Aku tidak tau cara seperti apa yang tepat untuk berbicara dengannya."
"Situasinya memang terasa rumit tapi cobalah untuk berbicara pelan-pelan padanya dan jelaskan alasan kenapa kamu harus menikahi Naya."
Aku mengangguk setuju dan berbicara dengan Helena keesokannya. Aku sudah menebak respon apa yang akan ditunjukkan Helena. Tapi niatku sudah bulat. Aku dan Helena putus hari itu.
Hari itu juga om Ronald dan ayahku serta kakek membicarakan dan mengatur waktu pernikahan. Tapi ada satu hal pahit yang harus kutelan yaitu, aku menikahi Naya dan harus berbagi dengan seseorang bernama Deryl yang juga menikahi perempuan itu.
[ Flashback selesai ]
Sejak hari itu peperangan antara aku dan Deryl dimulai, berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatian Naya meskipun aku tau aku selalu kalah. Tapi dibalik semua itu memang sudah tertulis takdir yang menyatukan kami bertiga. Seperti aku yang memiliki orangtua lengkap, sedangkan Deryl adalah anak yatim piatu, aku mendapatkan banyak cinta dari keluargaku dan Deryl mendapatkan cinta dari Naya, ya aku juga mendapatkan cinta Naya juga. Semua saling melengkapi dengan begitu indah, mungkin lain kali aku harus berdamai dengan pria tanpa ekspresi yang seperti mayat hidup itu.
— to be continue .
__ADS_1