
Saat ini nayla sedang berada di rumah sakit LJ hospital, setelah kejadian tadi dia hampir menabrak seorang pria di jalanan saat dia sedang mengelilingi kota B, nayla dengan sigap langsung membawah pria itu ke rumah sakit karena terdapat banyak luka yang mengakibatkan pendarahan yang tidak berhenti-berhenti di bagian perutnya.
Ceklek.
Setelah menunggu kurang lebih 2 jam pria itu di operasi, akhirnya dokter keluar juga dari ruangan operasi, sepertinya operasinya baru saja selesai dan dokter langsung menghampiri nayla.
" Permisi, apa anda keluarga pasien ? ". Dokter bertanya dengan ramah pada nayla.
" Saya bukan keluarganya, tapi saya teman pasien ". Jawab nayla.
" Gimana kondisi teman saya dok ? Apakah dia baik-baik saja ? ". Sambung nayla bertanya.
" Luka tusukan di perut pasien memang sangat dalam sehingga organ vitalnya cukup terluka parah, tapi anda tenang saja, operasinya telah berjalan dengan lancar dan sekarang kondisi pasien masih belum sadarkan diri, tinggal tunggu pasien sadar dan pasien butuh di rawat beberapa hari di rumah sakit dulu, sampai lukanya benar-benar membaik ". Jawab dokter.
" Baik dok, terima kasih sudah menolong teman saya ".
Dokter mengangguk paham, dan akhirnya dokter pun pergi meninggalkan nayla sendirian di depan pintu ruangan operasi tersebut.
Nayla mengusap wajahnya seraya duduk kembali di kursi tunggu di depan ruangan itu, dia sama sekali tidak menyangka pria yang sangat di kenali itu bisa seperti ini.
Dreettt..
Dreettt...
Mendapati ponselnya bergetar di saku celananya, nayla pun langsung merongoh ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya dan ternyata yang menghubunginya adalah oliv, sehingga nayla langsung menjawab panggilan tersebut.
" Hmm.. " jawab nayla dengan deheman saja.
" Ck, lu dimana njirr ? Kok gue balik lu gk ada di rumah ? ". Tanya oliv yang sangat mengkhawatirkan nayla.
" Gue lagi di rumah sakit LJ hospital, mendingan Lo kesini aja, nanti gue jelasin disini ". Jawab nayla.
Deg.
Di rumah, oliv seketika terkejut mendengarkan bahwa nayla ternyata lagi berada di rumah sakit.
__ADS_1
" Okok, gue kesana sekarang ".
Panggilan tersebut langsung berakhir saat itu juga, oliv dengan cepat langsung menuju ke rumah sakit saking khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada sahabatnya.
Sedangkan nayla hanya bisa duduk dan bersandar di kursi tunggu, seraya memejamkan matanya menunggu kedatangan oliv.
******
Tak.. Tak.. Tak..
Blusshhh..
Oliv langsung memeluk nayla dengan khawatir setelah dia menghampiri nayla yang masih stay duduk di depan pintu ruangan operasi.
" Lu gk kenapa-kenapa kan nay ? Kok lu bisa ada disini sih ? ". Tanya oliv seraya memutar-mutar badan nayla untuk mengecek dan memastikan nayla dalam kondisi baik-baik saja.
" Gue gapapa, bukan gue yang sakit, tapi gilang ". Jawab nayla dengan malas seraya menghentikan oliv yang terus memutarnya.
" Gilang ? Gilang siapa ? ". Tanya oliv menautkan matanya kebingungan akan gilang siapa yang di maksud oleh nayla dan dia langsung berhenti memutar-mutar badan nayla.
Deg.
" Maksud Lo anaknya kepala sekolah ? ". Tanya oliv terkejut.
Nayla membalas dengan anggukkan kepala, oliv pun benar-benar di buat terkejut setelah mengetahui siapa yang di rawat di rumah sakit saat ini, apalagi setelah itu nayla memberitahukan pada oliv alasan teman mereka itu bisa masuk rumah sakit, hal itu membuat oliv semakin terkejut.
Setelah beberapa waktu kemudian, pasien telah di pindahkan di ruang rawat dan juga orang tua pria bernama gilang tersebut sudah datang untuk menggantikkan nayla dan oliv yang sejak awal menjaga pria itu.
*****
Di mansion anggara, adel sedang marah-marah pada suaminya dengan alasan tidak bisa mendidik nayla dalam berbicara sehingga berani melawannya tadi.
" Semua salah kamu mas, jika kamu tidak meniduri wanita itu ( ibu nayla ), pasti anak pembawah sial itu tidak akan pernah lahir di dunia ini ! ".
" Keluarga kita yang awalnya bahagia malah hancur dan berantakan, semua karna mas ! ".
__ADS_1
Dimas hanya diam saja, dia bukan tidak bisa membalas semua ucapan istrinya, hanya saja dia malas berdebat untuk saat ini.
Sedangkan di tempat lain, karena kesal pada nayla atas kejadian tadi, laura sedang berada di sebuah club dan terlihat sedang mabuk-mabukkan bersama sera sahabatnya.
Dentingan suara musik di club malam itu begitu memekakkan telinga bagi siapa saja yang mendengar, tapi tidak dengan para penghuni di dalamnya yang malah lebih senang jika musik semakin kencang lagi.
" Hai nona manis ". Seorang pria hidung belang tiba-tiba mendekati laura dan sera yang sedang menari menikmati setiap dentuman musik yang terdengar.
" Ahh ya ? Ayo bergabung bersama kami ". Ajak sera yang sudah mabuk pada pria yang menyapa laura, sambil meliak-liukkan badannya seperti cacing kepanasan.
Laura tidak menjawab sapaan pria itu, dia terus menari seperti cacing kepanasan karena dia sudah mabuk berat. Bahkan laura sudah tidak menyadari lagi kalau pria hidung belang itu sudah meraba-raba bokongnya.
Pria mana yang tidak mau menari bersama laura dan sera yang di juluki dewi kecantikan oleh semua pengunjung club tersebut, karena mereka berdua memang sering datang ke club tersebut.
Akhirnya sera dan laura serta pria hidung belang itu menari bersama di tengah keramaian pengunjung yang juga sedang menari di sekitar mereka, sedangkan di sisi lainnya, ternyata lerry dan angga baru saja mendatangi club yang sama dan sekarang mereka sedang berjalan masuk menuju ruangan VVIP yang memang menjadi tempat biasa yang di pesan mereka jika mendatangi club tersebut.
" Lu kenapa ? Tumben ajak gue kesini lagi ? Ada masalah ? ". Tanya angga ketika dia dan lerry sudah masuk kedalam ruangan VVIP tersebut.
" Hah ".
Lerry menghembuskan nafasnya dengan berat seraya memejamkan matanya, terlihat dia sedang banyak pikiran saat ini.
" Apa soal perjodohan lu sama putri tuan anggara lagi ? ". Tanya angga lagi mencoba menebak apa masalah yang sedang di alami oleh sahabatnya.
" Hmm.. Nyokap sama bokap gue pengen pernikahan itu secepatnya di lakukan ". Akhirnya lerry menjawab pertanyaan angga.
" Apa gk kecepetan ? Kalian belum saling kenal satu sama lain, kenapa harus terburu-buru ? ".
Lerry setuju dengan pemikiran angga, dia juga berpikiran seperti itu, apalagi dia sebenarnya sedikit ragu untuk melajutkan pernikahan antara dia dan laura, setelah dia melihat sikap dan kepribadian laura saat kejadian di mall waktu itu.
" Entahlah.. Gue pusing mikirin semua ini ". Ujar lerry kenyataannya seperti itu.
Angga tidak lagi bertanya, dia tahu lerry pasti butuh waktu untuk menenangkan diri, karena dia tahu bahwa lerry tipe orang yang apa-apa jadi buah pikiran kedepannya.
Akhirnya mereka berdua menikmati wine yang mereka pesan setelah pelayan club membawakan minuman mereka.
__ADS_1