
Sinar matahari pagi yang menerobos dari balik dedaunan pohon pinus yang lebat menerpa wajah Alga yang terlelap.
Alga pun menggeliat merasakan hangat yang menjalar di sekujur wajahnya.
"Jam berapa ini ...?" desis Alga seraya melirik Rolex yang melingkar manis dipergelangan tangan kirinya, dan Alga pun tersentak saat menyaksikan jarum jam yang telah menunjukkan pukul sembilan pagi.
Tangan Alga meraih ponsel yang tergeletak diatas pangkuannya. Napasnya terhembus berat saat menyadari notifikasi dari batere ponselnya telah berwarna merah, menandakan kondisi low batere, sementara disisi lain belum ada satupun notifikasi panggilan atau message yang masuk disana.
Tidak ada kabar sama sekali dari Kim dan Mike!
Dengan sisa batere yang ada bergegas Alga menekan nomor kedua anak buahnya tersebut seolah tak pernah jera, namun seperti yang sudah-sudah, panggilan telponnya hanya dijawab oleh operator seluler.
"Si al ... kemana mereka? Apa yang sebenarnya terjadi ...?"
Alga menggeram kesal campur penasaran, sebelum akhirnya pandangannya jatuh kesisi kanan, kearah bangku kosong dibelakang kemudi.
"Ternyata dia benar-benar telah pergi ... dan tidak kembali ..." desis Alga perlahan saat mengenang sosok Tara yang semalam telah pergi meninggalkan Alga dengan wajah yang super jutek.
__ADS_1
Entahlah Alga harus merasa senang atau justru sebaliknya saat menyadari Tara yang memilih pergi dan tak kembali.
Sepertinya pria itu benar-benar marah saat mengetahui Alga berada dibalik skenario pengkhianatan Lucia sang kekasih.
"Dasar bodoh ... bisa-bisanya dia menganggap bahwa aku satu-satunya alasan yang membuat kekasihnya berkhianat? Apakah dia tidak sadar kalau sejatinya wanita bernama Lucia Fernandez itu hanya seorang wanita matre yang mengincar kehidupan mewah dari dirinya ...?" Alga bersungut sambil berusaha menggerakkan tubuhnya yang sedikit kebas, dan dengan gerakan sederhana ia telah memindahkan tubuhnya ketempat duduk yang semula dikuasai Tara, tepat dibelakang kemudi.
Enggan membayangkan wajah Tara sekian lama, Alga memilih menghidupkan mesin mobil jeep miliknya.
Yah ..., Alga telah memutuskan untuk pergi ke kota terdekat. Bersembunyi disana untuk beberapa waktu, sambil tetap optimis menunggu kabar dari Kim dan Mike
Alga juga berencana untuk mulai merancang strategi baru guna menghadapi Juan Allesandro yang telah memporak-porandakan pertahanan klan Rudolp, dalam sekejap mata.
Kamar kecil berukuran tak lebih dari dua kali tiga meter itu terasa sangat lembab dan sumpek. Namun Alga merasa puas karena setidaknya kamar yang ia sewa itu dilengkapi sebuah kamar mandi sekaligus toilet berukuran kecil didalamnya.
Alga mendesah berat saat menatap pergelangan tangan kirinya yang kini telah polos.
Alga memang telah kehilangan jam tangan rolex miliknya, karena beberapa saat yang lalu dengan berat hati Alga harus merelakan benda kesayangannya itu ia jual di toko yang melayani jual beli jam ber-merk demi mendapatkan sejumlah uang.
__ADS_1
Tentu saja Alga membutuhkan uang guna memenuhi kebutuhannya sehari-hari dalam kurun waktu yang bahkan tidak bisa ia tentukan, karena Alga tidak punya uang sepeser pun.
Semalam saja Alga bisa makan dan mengisi full tangki mobilnya, semua itu menggunakan uang Tara.
Bisa dibilang dokter itu sangat beruntung, karena meskipun ponsel dan tas ransel miliknya telah disita oleh Alfredo, tapi entah kenapa pria bodoh itu luput mengamankan dompet Tara yang ada disaku belakang celana yang Tara kenakan.
Usai menyepakati harga dari jam tangan Rolex miliknya, siang itu Alga langsung membeli makanan seadanya, sebuah charger yang cocok untuk ponselnya, beberapa bungkus roti dan cemilan, serta tak lupa beberapa botol air mineral kemasan.
Setelah itu Alga memilih menyewa sebuah kamar dengan harga murah meriah disebuah penginapan yang terkesan kumuh dan tak terawat.
Rencananya Alga akan menginap dalam beberapa hari ke depan, sembari menunggu sampai keadaan kembali kondusif, atau setidaknya sudah mampu ia kendalikan.
Alga tahu ia harus mempergunakan uang yang ia miliki saat ini dengan sangat bijak, berhemat mati-matian, dan menyimpan sisa uang yang ada sebagai penyambung hidupnya, kalau bisa hingga beberapa minggu ke depan.
Selagi Kim dan Mike tidak segera menyelamatkan hidupnya maka dapat dipastikan bisa-bisa Alga akan menjadi gembel karena tak lagi memiliki uang.
Pada kenyataannya saat Alga pergi ke gudang kosong tempat Alfredo menyekap Tara, Alga sama sekali tidak berpikir jika dirinya akan mengalami serentetan kejadian yang sulit akibat penyerangan Juan Allesandro yang tak terduga. Untuk itulah selain membawa ponsel Alga hanya mengenakan jam tangan andalannya, tidak merasa perlu untuk membawa uang, apalagi dompet, begitupun dengan barang berharga lainnya.
__ADS_1
...
NEXT ...