
Junho merasa paket dokumen yang baru saja ia terima bukanlah paket dokumen biasa.
Isi dari dokumen tersebut pastilah merupakan bagian dari informasi penting mengenai Nona Alga Sang Nona Mafia, begitupun dengan dokter Tara yang entah kenapa selalu bersama wanita itu setiap saat.
Berencana menyembunyikan paket dokumen yang baru saja ia terima itu untuk ia sabotase terlebih dahulu, Junho pun menaruh dokumen tersebut di laci terbawah meja receptionist, tanpa sedikit pun mengira jika sosok wanita bertubuh tinggi mendadak muncul dihadapan Junho dari arah pintu depan.
"Jun, apakah kau baru saja menerima sebuah paket ...?"
Junho terlihat menatap Alga dengan tatapan menaksir-naksir. Ia berusaha menenangkan diri, terlebih saat melihat kemunculan Tara yang menyusul dari belakang punggung Alga.
"Sebuah paket ...?" ulang Junho berpura-pura bingung.
Alga menaruh kedua tangannya yang bertaut itu keatas meja receptionist yang setinggi dada, seraya menatap Junho tepat di manik mata. Wajah wanita itu terlihat sangat serius dan tanpa senyuman.
"Kenapa kau terlihat bingung ...? Jangan bilang kau sengaja menyembunyikannya ..." ungkap Alga dengan mimik tak sabar, begitu menerima gerak-gerik Junho yang dimatanya sangat mencurigakan.
"Nona, aku ..."
"Jangan coba-coba membohongiku, Jun. Sudah jelas-jelas aku melihat kurir dengan sebuah mobil ekspedisi baru saja meninggalkan penginapan ini, bagaimana mungkin kau bisa berpura-pura seolah tidak menerima apa-apa ...?"
Junho terperangah, tak menyangka sama sekali jika Alga memiliki keberanian yang begitu besar untuk menyudutkan dirinya sedemikian rupa.
"Kau ini sedang apa, bicaralah dengan baik ..." Tara berbisik seraya menyentuh sedikit lengan Alga yang terlihat begitu ngotot saat beradu tatap dengan Junho.
Sejujurnya Tara sedikit tidak enak dengan sikap Alga yang bisa saja membuat tersinggung, terlepas dari siapa pun lawan bicaranya.
"Oh ... itu ... paket dokumen itu ..." Junho menjawab dengan sedikit tergeragap.
"Iya, paket dokumen itu. Dimana kau menyembunyikannya ...?" tukas Alga to the point, sedikitpun tak menghiraukan sentuhan tangan Tara di lengannya yang semakin menguat, oleh karena pria itu diam-diam semakin meremas kuat bagian belakang dari pangkal lengan Alga, bertujuan hendak menghentikan aksi Alga yang terang-terangan menghakimi Junho.
"Maafkan aku, Nona, sepertinya terjadi sedikit kesalah-pahaman. Sungguh, aku mengira dokumen itu milik nyonya pemilik penginapan, makanya aku langsung menyimpannya di laci meja. Maafkan aku, Nona ..."
Tak ada pilihan lain bagi Junho selain kembali menunduk guna meraih dokumen yang baru saja ia sembunyikan di laci paling bawah.
'Sia lan ... padahal aku baru saja berniat menyabotase dokumen ini terlebih dahulu untuk mengetahui apa isi didalamnya, tapi ternyata wanita ini malah memergoki kurir bodoh itu beserta mobil ekspedisinya ...'
Di dalam hati, Junho mengomel panjang-pendek.
Saat ini Junho memang tidak punya pilihan lain selain meminta maaf dan mengarang cerita baru untuk menghindari kecurigaan yang berlebihan dari Alga dan Tara.
__ADS_1
'Dokumen ini pasti sangat penting, untuk mereka, sehingga Nona Mafia bisa bersikap ngotot seperti ini ...'
'Sungguh si al ... kalau saja kurir itu datang tidak di saat yang bersamaan, mungkin aku sudah bisa mengetahui terlebih dahulu apa isi dokumennya, bahkan mungkin dengan begitu aku juga bisa mengetahui apa rencana mereka setelah ini ...'
Lagi-lagi, Junho merutuk dalam hati.
"Apakah dokumen ini yang anda maksudkan, Nona ...?" tanya Junho kemudian, berusaha tetap tenang.
Melihat Junho menyodorkan paket dokumen bersampul cokelat itu Alga pun langsung bergerak cepat meraihnya.
"Benar sekali. Disini jelas-jelas tertera nomor kamarku di penginapan ini. paket ini memang milikku, Jun, bukan nyonya pemilik penginapan."
"Maafkan aku, Nona, ternyata untuk kejadian ini akulah yang telah keliru ..."
Pada akhirnya Junho tidak punya pilihan lain selain kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam, demi menghaturkan permintaan maaf untuk yang kedua kalinya.
"It's not worry, Jun, kau kan tidak sengaja melakukannya dan hal ini bukanlah persoalan yang besar. Tak perlu terlalu sungkan ..." kali ini Tara yang menjawab ramah.
Senyum Tara terlihat sedikit kikuk saat berusaha menjangkau Junho, guna menepuk pundak pria yang berdiri berbatasan meja receptionist dengan dirinya dan Alga.
Junho hanya bisa mengangguk mendapati sikap Tara yang begitu ramah kepadanya.
🔳🔳🔳🔳🔳
"Kenapa kau selalu seperti ini, selalu tidak mempercayaiku ..."
Tara menghembuskan napasnya menerima tuduhan Alga yang berdiri di hadapannya dengan wajah kaku.
"Bukannya tidak mempercayaimu, tapi yang aku permasalahkan adalah sikapmu ..."
"Memangnya ada apa dengan sikapku ...?" bertanya dengan wajah pongah namun bercampur polos, membuat Tara yang melihatnya menjadi tersenyum. "Kenapa kau malah tersenyum seperti itu? Otakmu belum bergeser dari tempatnya, kan ...?" pungkas Alga lagi, saat mendapati Tara yang sedang menyuguhkan senyuman.
"Wajahmu sangat lucu dengan ekspresi campur-aduk seperti itu ..."
"Ap-pa ...?!"
Alga tidak bisa menyembunyikan keterkejutan di wajahnya, menerima kalimat Tara yang sangat diluar prediksi.
Detik berikutnya kedua pipi Alga pun telah berhias semburat, membuat Alga mati-matian menyembunyikan reaksi tubuhnya yang salah tingkah, akibat jantungnya yang berdebar dengan mudah.
__ADS_1
"Baiklah ... mari kita kembali pada pembicaraan awal, tentang sikapmu terhadap Jun ..."
Syukurlah sikap serius Tara, pada akhirnya mampu melerai perasaan baper yang mulai melanda jiwa Alga seperti biasanya.
"Katakanlah saat ini kau memang mencurigainya. Tapi sebaliknya, sikapmu yang terang-terangan seperti itu justru akan membuatnya paham ... bahwa kau sedang waspada. Do you get my point?"
Alga termenung mendapati kesimpulan telak dari pemikiran Tara, namun dalam diam, mau tak mau ia harus membenarkan.
Alga mengakui bahwa ia merasa sedikit gemas dengan semua hal yang menyangkut Jun, sehingga tanpa sadar dirinya telah bertindak berlebihan.
Tapi mau bagaimana lagi?
Sejak awal Alga memang sudah menaruh curiga atas keberadaan Jun yang muncul tiba-tiba, namun disaat yang sama, Tara justru tidak sepaham dengannya.
Seolah tidak ingin memperpanjang perdebatan, Tara terlihat bangkit dari tepi ranjang yang ia duduki sejak tadi, memilih meraih soket charger miliknya yang masih tergeletak diatas nakas, menggulung kabelnya dengan rapi dan menaruhnya kedalam saku kiri dari tas punggung miliknya.
"Sudahlah, sebaiknya kau kemasi sisa barang-barangmu, jangan sampai ada satu pun yang tertinggal ..." pungkas Tara kemudian, masih sambil membenahi isi didalam tas punggung yang sama.
Malam ini, Tara dan Alga memang telah berencana meninggalkan penginapan, setelah semua dokumen yang mereka butuhkan yang dikirimkan oleh Kim, telah sampai ditangan mereka barusan.
Jujur, dengan kejadian barusan secara diam-diam Tara pun mulai sepakat dengan jalan pikiran Alga yang mencurigai pergerakan Jun. Namun Tara lebih memilih mengesampingkan semua perasaan tidak enaknya itu dan fokus memikirkan rencana pelarian mereka setelah ini.
"Maafkan aku. Aku akui aku memang tidak bisa lagi menahan diriku. Aku telah lost control saat menyadari, Jun berusaha membohongiku dengan menyembunyikan dokumen, yang sudah jelas-jelas milikku ..."
Tara menggelengkan kepalanya saat sudut matanya mengawasi Alga yang belum juga beranjak dari tempatnya.
Wanita itu masih berdiri tegak sambil mengawasi Tara dengan kesibukan kecilnya.
"Forget it. Lupakan masalah Jun dan mari kita fokus untuk rencana selanjutnya." ujar Tara seraya menarik resleting tasnya yang telah siap.
"Aku rasa, saat pergi nanti kita perlu mengelabui Jun ..."
Tara mengangguk menanggapi ucapan Alga.
"Aku setuju denganmu. Karena siapapun dia, tidak boleh ada seorang pun yang tahu bahwa kau dan aku akan meninggalkan negara ini ... malam ini juga ..."
...
Bersambung ...
__ADS_1