NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN

NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN
TERTANGKAP BASAH


__ADS_3

"Terima kasih ..." lirih Tara kearah Alga, yang tersenyum tipis sambil mengangguk.


Sungguh Tara sama sekali tak menyangka, jika pada akhirnya Alga memutuskan ikut mendukung keputusannya dalam menolong kakek tua itu, dan yang terpenting adalah ... senyum tipis wanita itu ...


Entah kenapa, Tara seakan bisa merasa jika senyum Alga mampu menenangkan jiwanya yang barusan sempat tertekan oleh keadaan, dan Tara seolah mendapatkan kekuatan tersendiri setelahnya.


"Dokter, tolong selamatkan kakekku ... aku mohon ..."


Lirih suara seorang gadis yang barusan membentak Tara, berhasil mengalihkan dunia Tara yang tadinya terpusat pada Alga seorang.


Detik berikutnya tatapan Tara telah beralih, menyapu semua wajah yang ada disana, kemudian kembali tertuju pada gadis yang wajahnya berurai air mata.


Gadis itu adalah cucu sang kakek yang terkena stroke.


"Maafkan aku, sungguh tadinya aku tidak bermaksud buruk. Tapi hal penting yang harus kau dan kalian semua ketahui, bahwa ada alasan medis, yang membuatku melarang niat baik kalian memindahkan tubuh kakekmu."


Tara terlihat menarik napasnya sejenak, sebelum meneruskan kembali ucapannya.


"Jangan pernah mengubah posisi seseorang yang terkena stroke dari tempat semula, karena mengubah posisi hanya akan memperbesar kemungkinan pecahnya pembuluh darah halus di otak. So ... sekali lagi maafkan aku jika aku harus membiarkan kakekmu berbaring telentang seperti ini dulu untuk sementara waktu, semata-mata agar menjaga posisi beliau senyaman mungkin sehingga tidak terjadi gangguan peredaran darah. Kita harus bisa memastikan pasien harus merasa rileks terlebih dahulu, sembari menunggu pertolongan medis datang ..."


"Maafkan aku, Tuan, aku telah salah menuduhmu yang tidak-tidak ... padahal kau adalah seorang dokter, dan kau bermaksud baik ..."


Sebuah penyesalan terlihat jelas saat sang gadis menatap Tara, sebelum ia tertunduk dalam.


Tara mengangguk perlahan. "Tidak apa-apa. Kita tidak saling mengenal ... wajar saja kalau terjadi salah paham ..." ucap Tara dengan begitu bijak.


"Dokter aku mohon tolonglah kakekku ..." pungkas gadis itu lagi dengan kedua telapak tangan yang bertaut menandakan permohonan yang sangat, sementara air matanya kembali jatuh berlomba-lomba.


"Aku akan berusaha melakukan apa yang aku bisa." pungkas Tara, kemudian tatapannya mengarah ke wajah setiap orang yang masih setia berdiri disana. "Kakek ini harus berada dalam posisi yang memungkinkan untuk terus bernapas dengan lancar, karena itu aku mohon sekali lagi, agar jangan berkerumun ..." ujar Tara lagi.


Laksana sebuah sihir yang sedang bekerja dengan tepat sasaran, mendengar titah Tara orang-orang yang masih terlihat berkerumun tak terkecuali cucu sang kakek terlihat beringsut bersamaan, menyingkir semakin jauh, sengaja memberikan Tara ruang dan kesempatan yang seluas-luasnya dalam melakukan penangan untuk pertolongan pertama.

__ADS_1


Tanpa membuang waktu lebih lama Tara pun berjongkok di sisi kakek yang terkena stroke tersebut, hendak memeriksa keadaannya dengan lebih detail.


Tara tahu persis, bahwa kondisi stroke bisa menjadi sangat berbahaya jika tidak ditangani dengan segera.


Serangan stroke secara tiba-tiba seperti ini biasanya diakibatkan oleh gangguan aliran darah karena adanya sumbatan atau pecahnya pembuluh darah tertentu di otak, sehingga menyebabkan gangguan fungsi otak baik sebagian atau menyeluruh.


Karena itulah untuk kasus seseorang yang terkena stroke, kondisinya akan sangat bergantung pada waktu.


Semakin banyak waktu yang terbuang, semakin banyak pula risiko kerusakan otak yang dialami, apalagi bagi penderita stroke yang berusia senja seperti kakek tua yang tergeletak di lantai ini.


Saat Tara berjongkok di samping sang kakek yang tergeletak lemah itu, kedua jemarinya dengan cekatan membuka kancing atas kemeja yang dikenakan, juga melonggarkan ikat pinggang, berharap dengan melakukan hal tersebut pasokan oksigen menuju saraf jaringan otak akan semakin lancar dan tidak terhambat, karena ketika hal tersebut terlanjur terjadi, maka akan bertambah besar pula risiko kondisi pasien menjadi semakin buruk seiring berjalannya waktu.


Tara menengadah, berniat mencari keberadaan Alga untuk kembali meminta pertolongan wanita itu, namun ia malah tidak menemukan lagi sosok Alga diantara kerumunan orang-orang yang masih setia berdiri, seolah memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan seksama sambil harap-harap cemas.


'Kemana dia ...?'


Bathin Tara, sebelum memutuskan untuk angkat suara.


"Katakan saja apa yang kau butuhkan, dokter ..." cucu dari sang kakek refleks menyahut.


"Tolong ambilkan segelas air putih, dan sebuah sendok ..."


"Biar aku saja yang akan mengambilkan segelas air, dan sendok yang Tuan butuhkan." suara seorang pria tiba-tiba menyeruak, mendahului cucu sang kakek dalam menanggapi permintaan Tara.


Saat Tara menoleh kearah si pemilik suara yang terdengar familiar di telinganya, Tara menangkap bahwa ternyata orang itu adalah Jun.


Tanpa meminta persetujuan Tara lebih dahulu, dengan gerakan cepat yang super gesit Jun terlihat langsung berjalan memutar, hendak keluar dari balik meja receptionist yang lebar tempat ia berdiri sejak tadi.


Tujuan langkahnya terayun penuh ke arah pantry, yang letaknya di ujung koridor dari penginapan tersebut.


🔳🔳🔳🔳🔳

__ADS_1


Sementara itu ...


Bertempat di sebuah pantry, yang terletak di ujung koridor penginapan ...


Alga berdiri tegak sambil bertolak pinggang, namun otaknya tak henti berputar.


Sungguh mati, hingga detik ini dirinya sama sekali tidak bisa mempercayai pria bernama Jun itu.


Untuk itulah dengan cara mempergunakan kesempatan dari situasi yang sedang gaduh, dimana semua orang lengah termasuk Tara dan Jun, diam-diam Alga telah menyelinap ke pantry.


Selama ini, pantry penginapan merupakan salah satu ruangan yang tidak pernah terjamah oleh tamu, dan oleh karena itu pula Alga berharap bisa menemukan sesuatu.


Namun sialnya, sampai detik ini tidak ada satu pun clue yang bisa Alga temukan sebagai bukti, bahwa Jun benar-benar sedang menyembunyikan sesuatu.


Alga telah memutuskan untuk menyerah ... dan baru saja ia berniat untuk menyelinap ke luar manakala sebuah suara yang berbicara dengan aksen yang aneh membuat Alga sukses terlonjak.


"Nona ..."


Berusaha tenang saat membalikkan tubuh, dan seketika itu juga Alga sontak membeku di tempat.


Sosok tubuh kurus, jangkung, berkulit kuning, lengkap dengan sepasang mata segaris ... telah berdiri kokoh di depan Alga dengan wajah khas asia timurnya yang datar tanpa senyum.


"Nona, kenapa kau ada disini ...? Ada yang perlu dibantu ...?"


"Jun, aku ..."


Bibir Alga berucap kaku, begitu menyadari bahwa dirinya telah tertangkap basah, oleh pria yang justru sedang menjadi target incarannya ...


...


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2