NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN

NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN
DIPERTEMUKAN SEMESTA


__ADS_3

"Pak Menteri, mohon maaf, tapi bisakah anda menunggu sebentar?"


"Tentu, tentu saja Tuan Samuel ... silahkan ..."


Sang Menteri tersenyum ramah saat mempersilahkan Samuel Alfonso untuk menjeda pembicaraan serius mereka.


Samuel Alfonso pun terlihat bangkit dari duduknya dan berjalan kearah meja biro miliknya yang berada disudut lain ruangan.


"Kemarilah Nona, aku membutuhkan bantuanmu untuk menyortir dan menyusun seluruh dokumen yang ada dimejaku."


Suara berat Samuel Alfonso terdengar seiring dengan hempasan tenang dari langkah pria itu.


Alga pun mendekati meja Samuel Alfonso, masih menunduk takjim. "Baiklah Tuan." ucapnya saat ia tiba disisi meja besar tersebut.


Samuel Alfonso nampak berdiri tepat didepan kursi kebesarannya, namun ia tidak duduk.


Tangan besar pria itu terulur meraih sebuah bolpen yang teronggok diatas meja dan dengan sikap yang terlihat acuh ia menuliskan sesuatu diatas sebuah note kecil.


"Susun semuanya disudut meja," ujar Samuel Alfonso kearah Alga, namun buku jarinya terlihat mengetuk perlahan permukaan dari note yang berisikan kalimat yang entah apa.


"Baik, Tuan," Alga mengangguk paham, terus bersikap setenang Samuel Alfonso agar tidak memancing kecurigaan sang Menteri, Nyonya Luisa, dan si plontos yang masih berada dalam ruangan yang sama.


Kemudian Samuel Alfonso terlihat mengarahkan pandangannya kearah Nyonya Luisa.


"Nyonya, sebaiknya kau kembali lebih dahulu untuk mengawasi jalannya seminar, dan biarkan nona ini mengerjakan pekerjaannya ..."


Mendengar titah itu Luisa pun mengangguk patuh.


"Kalau demikian baiklah, Tuan Samuel ... Pak Menteri ... saya permisi dulu ..."


Luisa pun langsung undur diri diikuti si plontos, usai menerima anggukan Samuel Afonso dan sang Menteri yang nyaris bersamaan.


Begitu pintu kembali terkatup, Samuel Afonso pun kembali melangkah kearah sofa mewah, dimana sang Menteri masih duduk menunggunya dengan setia.


Sementara itu Alga pun bergegas, hendak melakukan tugasnya yang harus menyusun dokumen sesuai perintah Samuel Alfonso.


Namun sebelum melakukan semua itu, tentu saja ia telah lebih dahulu membaca note yang sengaja ditinggalkan Samuel Alfonso untuknya.


'Aku tahu kau akan datang. Setelah tugasmu selesai, bawa pergi kantong sampah yang ada disudut ruangan. Aku telah menyiapkan uang tunai disana. Untuk saat ini, aku harap semua itu bisa membantumu.'


🔳🔳🔳🔳🔳


"Antarkan semua makanan ini ke kamar presidential suite nomor 802." titah seorang pria terdengar dari balik pintu yang bertuliskan kitchen room.


Mendengar itu Alga yang semula sedang melangkah tergesa dibalik dinding sebelah luar langsung menarik langkahnya sejenak.


Kantung hitam yang sejak tadi ada dalam genggaman tangannya tak sekejap pun ia lepaskan.


Tentu saja, karena Alga tahu persis bahwa semua uang tunai didalam sana adalah setara nyawanya.


Harus Alga akui bahwa siapapun termasuk dirinya, tidak mungkin bisa berbuat apa-apa jika tanpa uang!


Detik berikutnya Alga memilih untuk menyembunyikan diri seutuhnya dilorong yang mengarah kearah toilet, yang ada disisi ruangan tersebut, menanti disana setelah menemukan sedikit rencana.


Sesaat setelah Alga keluar dari ruang kerja Samuel Alfonso dengan sebuah kresek berwarna hitam yang ia dapatkan dari kotak sampah di sudut ruang kerja pria itu, Alga telah memutuskan untuk berlalu secepatnya dari Red Luxury Hotel.


Namun semua rencana Alga hanyalah tinggal rencana, tidak serta-merta bisa terealisasikan karena pada kenyataannya Alga justru menyadari bahwa ada begitu banyak anak buah Juan Allesandro yang berkeliaran di Red Luxury Hotel, menguasai setiap akses masuk dan keluar seolah mereka telah menaruh kecurigaan besar bahwa lama atau cepat, seorang Alga Rudolp pasti akan muncul disana!

__ADS_1


Sreett ...!


Dengan nekad Alga menarik sisi kiri rok hitam yang ia kenakan, hingga pengaitnya terkoyak, sementara disaat yang sama, persis seperti dugaannya, seseorang yang juga kebetulan sekali adalah seorang wanita berseragam putih keluar dari pintu kitchen room seraya mendorong sebuah rolling table.


"Nona ..."


Wanita yang sedang mendorong rolling table tersebut sedikit terkesiap menyadari kehadiran Alga di lorong yang sepi. Dari seragam hitam putih serta id card yang Alga gunakan, wanita itu pun langsung bisa mengenali jika Alga adalah salah seorang panitia dari acara seminar yang sedang berlangsung di aula utama.


'Tapi ... untuk apa seorang panitia seminar berkeliaran di area khusus karyawan ...?'


Kira-kira seperti itu selintas pemikiran sang pelayan hotel atas kehadiran Alga, untunglah Alga yang langsung bisa membaca situasi tersebut telah bergerak cepat.


"Nona, bisakah aku meminta bantuanmu sebentar?" ucap Alga cepat, lengkap dengan wajahnya yang memelas.


Alis wanita itu bertaut sejenak melihat Alga yang berdiri bingung sambil memegang erat sisi rok sebelah kiri.


"Tentu saja. Ada yang bisa aku bantu, Nona?" balas sang pelayan dengan wajah yang ramah.


"Tadi aku hampir tergelincir di toilet. Dan meskipun aku beruntung karena masih sempat meraih pinggiran wastafel sehingga aku tidak jatuh terjerembab, namun karena insiden tersebut pengait rok ku telah terkoyak ..."


Alga berpura-pura melirik ke sisi kiri roknya. Gerakan matanya pun diikuti sang pelayan.


"Aku memiliki sebuah peniti sebagai alternatif agar rok ku tidak melorot, tapi aku selalu kesulitan setiap kali ingin mengaitkannya ..."


"Biarkan aku membantumu, Nona ..."


Tepat seperti yang direncanakan, pelayan itu pun bersedia mengulurkan tangannya untuk membantu kesulitan Alga dengan senang hati.


Namun pada detik berikutnya ...


Tanpa membuang waktu Alga telah bergerak secepat kilat, menghantam tengkuk sang pelayan sehingga membuat tubuh wanita itu terkulai dilantai tanpa daya.


Alga langsung membopong tubuh wanita itu kedalam toilet, setelah terlebih dahulu menyimpan kresek hitam yang penuh berisi uang ke rak paling bawah dari rolling table, kemudian ia mengesampingkannya lebih dahulu kesisi lorong yang lenggang.


Tak sampai dua menit berselang Alga telah mematut dirinya sebentar didepan cermin besar yang ada didalam toilet.


Sebelum keluar dari sana, Alga berjongkok sejenak didepan wanita pelayan yang telah bertukar pakaian dengan dirinya.


"Maafkan aku ... tapi perkiraanku tak akan meleset. Tidak butuh lebih dari empat puluh menit untuk membuatmu sadar ..." ujar Alga kearah wanita pelayan yang terkulai tak sadarkan diri itu dengan intonasi suara penuh penyesalan.


Yah, Alga tidak bermaksud jahat. Ia hanya butuh seragam pelayan untuk berkamuflase dan menyelamatkan diri dari kejaran anak buah Juan Allesandro.


🔳🔳🔳🔳🔳


Tara sedang bersiul kecil.


Tubuh kekar menawan miliknya yang hanya terlilit sebuah handuk dipinggang terlihat sempurna lewat pantulan cermin, bak sebuah pahatan dari mahakarya, sementara tangan kanannya terus bergerak lincah mengeringkan rambutnya yang lembab dengan handuk kecil lainnya.


Wajah Tara terlihat semakin berseri usai mandi dan bercukur, mengingat malam ini ia akan kembali menghabiskan waktu seperti malam kemarin, menikmati cocktail ditemani alunan music jazz yang ciamik di bar and lounge milik Red Luxury Hotel yang cukup terkenal.


Dua hari terakhir yang telah terlewati ibarat healing yang sangat sempurna bagi Tara, guna melepas penat dari segala peristiwa demi peristiwa yang terus terjadi silih berganti. Baik itu peristiwa yang menyedihkan, menegangkan, bahkan sampai menyebalkan.


Bibir Tara terus bersiul riung, manakala bunyi perutnya tiba-tiba terdengar menandakan rasa lapar yang mulai mendera.


Tara melirik sekilas jarum jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Kenapa lama sekali?" Tara berdesis kecil.

__ADS_1


Seperti malam kemarin, malam ini pada setengah jam yang lalu Tara telah memesan layanan room service untuk special dinner yang anehnya tak kunjung tiba.


'Tok ... tok ... tok ...'


Tara baru saja ingin mengangkat interkom yang ada disudut ranjangnya yang besar, manakala terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.


Bergegas Tara membuka pintu dan ...


"Pesanan makan malam anda, Tu ... an ..."


Pelayan wanita yang membawa rolling table itu tak mampu mencegah keterkejutan diwajahnya begitu menyadari siapa gerangan pria yang setengah naked dihadapannya.


Glek.


Alga bahkan merasa tenggorokannnya tersedak liurnya sendiri, sementara Tara yang juga langsung mengenali siapa gerangan wanita yang berada dalam balutan baju pelayan hotel itu tak kalah terkesima.


"K-kau ...?!"


Wajah Tara pun langsung berubah masam.


...


"Jadi sejak tadi kalian tidak memeriksa area disepanjang kamar presidential suite ...?!"


"Belum Tuan ..."


"Dasar bodoohhh ...!!"


Sayup-sayup pembicaraan yang tertangkap dari ujung lorong yang hendak mengarah ke depan kamar Tara terdengar, seiring dengan derap langkah yang semakin mendekat.


Mendengar itu tanpa berpikir panjang Alga langsung mendorong masuk rolling table yang ada ditangannya hingga membentur tubuh kekar Tara tampa ampun.


Brukkk ...!!


Tak ayal tubuh Tara terhuyung kebelakang akibat dorongan rolling table yang membentur tubuhnya, membuat Tara terjerembab ke lantai.


"Aaaa ... adduhh ...!!"


Bugh ...!!


Klik ...!!


Bukannya peduli dengan keadaan Tara, Alga justru lebih dahulu menutup pintu kamar Tara dan menguncinya dari dalam.


"M-maaf ..."


Tara melotot galak menyaksikan wajah salah tingkah Alga yang berdiri serba salah dihadapannya.


"Kau sudah gila yah?!" semprot Tara tak bisa menahan geram, terlebih saat menyadari tulung ekornya yang terasa sakit, akibat terhempas kelantai dengan keras.


"Aku kan sudah minta maaf ..." kilah Alga dengan ekspresi wajah tanpa dosa, sambil menyandarkan tubuhnya perlahan kedaun pintu, kemudian menempelkan daun telinganya disana. Berusaha menguping suara apapun yang berasal dari luar kamar.


Alga bahkan tak menyadari jika sepasang mata Tara seolah hendak melompat keluar, sama sekali tak menyangka bagaimana bisa semesta kembali mempertemukannya dengan Alga, wanita yang selalu saja mendatangkan kesialan dalam hidupnya ...!


...


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2