NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN

NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN
PRIA PEMBERI HARAPAN


__ADS_3

Double up.


...


"Astaga, padahal aku hanya asal menebak, tapi ternyata ..."


"Untuk apa menanyakan hal itu?"


Kalimat Tara belum tuntas, tapi Alga sudah menyela, lengkap dengan raut wajahnya yang tak bersahabat.


"Apa kau tidak punya hal lain yang lebih menarik daripada harus ikut campur dan berkomentar tentang urusan pribadiku?"


Lagi-lagi Alga berucap sewot. Kalimat Alga terdengar panjang berentetan karena pertanyaan Tara yang tak ubahnya sebuah ejekan di telinganya.


"Ha ... ha ... ha ... tidak ... tidak ... sebenarnya aku tidak bermaksud apa-apa ..." Tara mengelak, tapi dengan tawanya yang semakin kencang, seolah tak peduli dengan raut wajah Alga yang telah berubah, memerah karena menahan kesal.


Alga menghentikan langkahnya begitu saja. Hanya dengan sekali gerakan menarik lengan Tara yang kekar, Alga berhasil menghentikan paksa langkah lebar pria itu, bahkan memutar tubuh Tara hingga berhadapan tepat dengan sepasang bola matanya yang sedang melotot geram.


"Dokter Tara, kau sengaja ingin mengejekku yah?!" tuduhnya tanpa ampun.


Tara yang ada dihadapannya sontak menggeleng tegas. "Siapa yang sedang mengejekmu ...? Tadi aku kan sudah bilang kalau aku tidak ada maksud apa-apa ..." elaknya ringan, dengan tampang bingung yang di buat-buat.


"Kalau tidak ada maksud apa-apa, lalu untuk apa kau bertanya seperti itu?!" semprot Alga tepat di wajah Tara yang kini berhadap-hadapan langsung dengannya.


"Pfff ... galak sekali ..." kali ini Tara terlihat kesulitan meredam tawanya, membuat amarah Alga semakin terpancing.


"K-Kau ..."


"Makanya Nona Alga, kan sudah kubilang, kau harus segera punya pacar, agar galakmu berkurang ... ha ... ha ... ha ..." Tara mengakhiri kalimat pembelaan dirinya dengan tawa yang memecah tak tertahan.


"Kau mau mati yah ...?!" Alga telah melotot sempurna.


"Apa perlu setelah semua ini berakhir, aku carikan seorang pacar yang keren untukmu ...?" seolah tak takut sedikit pun, Tara malah semakin gencar melancarkan aksinya.


"Apa ...?!"


"Kau mau yang seperti apa? Seorang dokter sepertiku ... atau pengusaha lajang yang mapan dan ..."


"Stop it!"


"Egh ...?"


"Kau pikir ini lucu?!"


"Siapa yang bilang ini lucu ...? Aku serius ingin mencarikan kamu seorang pacar ..." pungkas Tara, masih dengan raut wajah polos tanpa dosa, yang membuat Alga benar-benar telah melotot sempurna dibuatnya.


"Dokter Tara, kau ..."


"Ssssttt ..."

__ADS_1


Lagi-lagi.


Dalam sekejap semburat merah kembali menghiasi dua pipi Alga, manakala jari telunjuk Tara membungkam semua kata yang hendak terucap penuh amarah.


Udara disekitar mereka sangat sejuk ... tapi Alga justru merasa bahwa sebuah jari yang menempel diatas bibirnya itu terasa ...


Hangat ...


'Akh, sial ...'


Alga membathin gundah, manakala tanpa sadar sepasang matanya telah terpatri tepat pada bingkai wajah Tara yang sempurna, dengan ekspresi mulut yang masih mengerucut saat berusaha menghentikan omelan Alga yang nyaris meledak.


'Aku pasti sudah gila ...!'


'Bagaimana mungkin wajah menyebalkan milik pria ini selalu terlihat semakin tampan dari waktu ke waktu ...?!'


Bathin Alga kembali dipenuhi riuh.


"Nah, begini kan lebih baik ..."


Imbuh Tara, rupanya ia sudah menurunkan jari telunjuknya, namun mulut Alga tetap terkunci.


"Baiklah, berhubung perutku semakin lapar, kita tunda dulu membahas perihal kriteria pacar yang ideal untukmu ..."


Alga melotot lagi. Tapi belum sempat berkata apa-apa ia justru merasakan ujung hidungnya telah di towel, oleh jari telunjuk yang barusan membungkam mulutnya.


"Malah bengong ... ayo cepat ..."


"Lepaskan ..! Kau pikir aku balita yang harus dituntun ...? Aku bisa berjalan sendiri!"


Untuk pertama kali seolah baru saja menemui kesadaran, Alga berhasil menghempas lepas genggaman lembut Tara pada pergelangan tangannya, tentu saja sambil mengomel panjang-pendek.


Wajah Alga memerah, kesal bercampur malu ... bercampur berdebar ...


'Oh, sh it ...'


Tara yang kini kembali berjalan di samping Alga tidak berucap apa-apa, melainkan terkekeh pelan.


Dari raut wajah Tara, tidak lagi terlihat sedikitpun tanda bahwa ia mengambil hati atas setiap sikap kasar Alga kepadanya.


Bisa jadi karena Tara mulai terbiasa menghadapi wanita kasar, dengan berbagai perpaduan sifat unik nan menarik ...


Seperti Alga ...


🔳🔳🔳🔳🔳


Nama kedai bakso tersebut adalah "Selera Nusantara".


"Bagaimana? Kau suka tidak?" Tara menatap Alga yang sedang khusyuk menyeruput kuah bakso pada porsi kedua, setelah wanita itu melahap habis porsi pertama dalam waktu singkat.

__ADS_1


"Hhmmm ..."


Hanya berdehem, karena tidak rela mengangkat wajahnya dari suapan terakhir.


Detik berikutnya Alga terlihat menarik beberapa lembar tissue yang tersedia diatas meja, untuk melap bulir keringat yang menghiasi dahi, usai menyantap dua porsi bakso dengan kuahnya yang pedas karena tambahan ekstra cabai.


"Mau tambah lagi? Kalau kau mau, aku bantu pesankan satu porsi lagi untukmu ..."


"Tidak ... tidak ... terima kasih. Kalau aku menambah satu porsi lagi, bisa-bisa aku tidak mampu berjalan pulang saking kenyangnya ..." tolak Alga serentak, masih dengan mulut yang megap-megap karena kepedesan.


Tara tertawa saat melihat alga yang menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, seperti orang yang tak berdaya, saking kenyangnya.


'Lucu ...'


Tara membathin saat menyaksikan wajah Alga yang berkeringat, terlebih bibirnya yang semakin memerah, membuat Tara sedikit hilang fokus.


"Tenang saja ... aku siap menggendongmu kalau kau tidak bisa berjalan ..." ujar Tara, lagi-lagi dengan kalimat menggoda.


Alga menaikkan bibirnya dua centi, sama sekali tidak ge-er dengan ucapan manis pria dihadapannya, yang begitu gemar mengucapkan kata-kata yang tidak masuk di akal.


Terus berdekatan dengan Tara membuat Alga mulai paham bahwa pria itu memang seperti itu.


Gemar berkata-kata manis, cenderung menggombal seolah sedang memberi harapan ... namun percayalah, karena Alga yakin seribu persen bahwa Tara tidak pernah bersungguh-sungguh saat mengatakannya, justru sebaliknya ... hanya menggoda!


Yah, tentu saja.


Bisa jadi Alga memang tidak berpengalaman dalam hubungan khusus dengan seorang pria, namun bukan berarti Alga tidak bisa menilai semanis apa setiap ungkapan kata seorang dokter Tara Yudhistira.


Sangat manis, sanggup membuat jantungnya terus berdesir ... tapi sialnya Alga tahu persis bahwa semua ucapan pria itu hanyalah fiktif!


'Dasar pria pemberi harapan palsu!'


Bathin Alga gemas, saat membayangkan manisnya setiap ucapan Tara yang bisa membuat orang yang mendengarnya menderita diabetes!


Dalam kehidupan nyata Alga tahu bahwa Tara begitu populer.


Pria itu memiliki kekasih yang cantik, karir yang bagus, keuangan yang mapan, serta masa depan cemerlang.


Semua orang mengagumi sosoknya ... dan Tara selalu disukai, dimanapun dia berada.


Apalagi yang kurang ...?


Kendati pun pria itu telah dikhianati kekasih serakah yang tidak bisa menjaga hatinya untuk Tara seorang, namun Alga yakin bukanlah hal yang sulit bagi Tara untuk mendapatkan pengganti yang berpuluh-puluh kali lipat lebih segalanya, dari wanita yang tidak tahu bersyukur seperti Lucia Fernandez.


Siapa sih yang bakal menolak menjadi kekasih seorang dokter Tara Yudhistira ...?


Jawabannya tidak mungkin, dan Alga bahkan berani bertaruh untuk hal yang satu ini!


...

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2