NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN

NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN
JOKES


__ADS_3

Bisa jadi ini adalah satu-satunya malam yang paling berkesan, dari sekian banyak malam yang telah dilewati Alga dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir.


Awalnya Alga selalu merasa seisi dunianya telah berubah suram, dan rasanya tak lagi bisa tersenyum lepas ... apalagi tertawa tanpa jeda.


Alga bahkan telah lupa bagaimana caranya bersenang-senang.


Tapi bersama Tara malam ini, dan menghabiskan waktu bersama pria itu ...


Alga memang harus mengakuinya, bahwa sejak mengenal sosok Tara, entah kenapa hidupnya terasa berwarna, dan semakin lama bersama ... terasa semakin berwarna.


Seperti halnya malam ini, meskipun sepasang mata Alga tak henti melotot sepanjang malam atas setiap keisengan Tara yang bak seorang raja gombal yang handal, namun pada akhirnya tak terhitung lagi berapa banyak moment dimana ia tidak bisa menahan tawanya hingga lepas berderai.


"Dokter Tara, tolong hentikan semua leluconmu atau perutku akan benar-benar sakit karena terlalu banyak tertawa ..." protes Alga dengan wajah bersungguh-sungguh, usai dirinya kembali dibuat tergelak saat Tara menceritakan berbagai cerita lucu.


Saat ini mereka berdua sedang mengayunkan langkah kembali ke penginapan, usai menyantap bakso di Kedai Selera Nusantara.


"Itu tandanya kau menyukai semua leluconku ..."


"Kata siapa?" pungkas Alga mencoba mengelak.


"Buktinya sejak dari Kedai Selera Nusantara, kau tidak bisa berhenti tertawa ..."


"Iya, kau memang benar, tapi justru karena semua itu, perutku mulai terasa kram oleh semua cerita anehmu ..."


"Benarkah ...? Akh, sayang sekali ... padahal aku baru saja mengingat sebuah cerita menarik yang sangat lucu. Yakin tidak mau mendengarnya ...?" pancing Tara dengar ekspresi wajah usil seperti biasa.


Mendengar itu Alga menggelengkan kepalanya secepat kilat. "Aaahh, tidak ... tidak lagi ..."


"Beno dan Tirsa adalah dua orang  pasien Rumah Sakit Jiwa yang telah dirawat di sana sejak kecil ..."


Seolah tak peduli dengan penolakan Alga, Tara malah kembali memulai sebuah kisah, membuat Alga refleks melotot kepadanya.


"Suatu pagi, mereka berdua bermain hujan-hujanan di dekat sebuah sungai, dan tiba-tiba saja Tirsa yang sedang mengejar seekor kucing terpeleset dan tercebur di sungai yang dalam itu ..."


Tara berhenti sejenak, mencoba melirik reaksi dari sosok yang berjalan disampingnya yang kini tidak lagi protes manakala Tara nekad bercerita disaat Alga terang-terangan menolaknya.


Tara pun bisa bernapas lega, karena saat ini Alga malah diam saja, seolah sedang menyimak kisah baru Tara, membuat Tara semakin yakin meneruskan ceritanya.

__ADS_1


"Tirsa yang tidak tahu berenang akhirnya megap-megap dan berteriak minta tolong kepada Beno yang kaget melihat kejadian naas itu, sehingga seketika Beno pun ikut melompat ke sungai, berusaha menyelamatkan Tirsa ..."


Lagi-lagi Tara menarik napas sejenak, melirik kembali sosok disampingnya yang sekarang terlihat mulai senyum-senyum sendiri.


Mungkin Alga sudah bisa menebak bahwa seperti yang sudah-sudah ... kisah Tara pasti akan berujung pada sebuah kisah yang lucu.


"Aksi heroik Beno itu rupanya telah disaksikan oleh seorang perawat yang kemudian melaporkannya kepada dokter. Perawat itu merasa karena rasa simpati Beno kepada Tirsa, maka kondisi Beno sudah lebih baik dan bisa keluar dari rumah sakit jiwa. Mendengar semua laporan perawat itu, akhirnya dokter memanggil Beno."


Kali ini, saat Tara kembali berhenti sejenak guna menghirup napas, Alga telah melirik Tara diam-diam, tentu saja mulai penasaran dengan kelanjutan cerita Tara.


"Lalu ... bagaimana jalannya pembicaraan dokter dan Beno? Apa Beno benar-benar telah sembuh ...?" tanya Alga yang sepertinya tak bisa lagi menahan rasa penasarannya karena Tara belum juga melanjutkan kisahnya.


Tara tersenyum menerima respon Alga yang terang-terangan.


Pertanyaan Alga barusan sudah jelas mencerminkan bahwa wanita itu sangat penasaran dengan akhir jokes yang sebenarnya telah cukup umum di masyararakat, namun sebaliknya menjadi hal yang baru bagi seorang Alga.


Tara pun memutuskan untuk melanjutkan ceritanya, yang menggambarkan perbincangan dokter dan pasien rumah sakit jiwa yang ia beri nama Beno.


“Jadi setelah Beno tiba, dokter pun berkata kepadanya ...


'Beno, ada berita baik dan berita buruk buatmu. Kabar baiknya, kau sudah bisa keluar dari rumah sakit ini karena kau bisa menyelamatkan Tirsa. Itu tandanya kewarasanmu sudah kembali.'


'Oh syukurlah kalau aku sudah sembuh, lalu kabar buruknya apa, dok?'


Tanya Beno lega plus penasaran ..."


Tara menghentikan langkahnya sejenak tepat dibawah tiang lampu jalan, membuat Alga yang awalnya berjalan di sampingnya ikut menghentikan langkah.


"Lalu apa kabar buruk untuk Beno ...?" tanya Alga sambil menatap Tara, dari raut wajahnya semakin terpancar rasa ingin tahu yang berkolaborasi dengan ekspresi ketidak-sabaran.


“Setelah Beno bertanya, dokter itu pun menjawab dengan wajah sendu ...


'Beno, kabar buruknya adalah, Tirsa yang baru saja kau selamatkan telah meninggal dunia. Setelah kau selamatkan, Tirsa malah gantung diri di kamar mandi.'


Ucap dokter itu prihatin, tapi anehnya Beno malah menjawab dengan santai ...


'Ooh … kalau itu aku sudah tahu. Dokter jangan khawatir, Tirsa bukan gantung diri. Melainkan aku yang menjemur Tirsa agar dia cepat kering ...'

__ADS_1


Begitu kata Beno dengan mimik wajahnya yang polos."


Tara mengakhiri ceritanya dengan tersenyum simpul, sambil menanti reaksi Alga yang hanya dalam sepersekian detik langsung terpingkal-pingkal ditempatnya.


"Wuaha ... ha ... ha ... ha ... gila ...! Dasar gila ...! Ha ... ha ... ha ...!"


Tara merasa sangat puas dan ikut tersenyum lebar, saat menyadari reaksi yang ditampilkan Alga saat ini benar-benar sesuai dengan harapannya.


"Astaga ... Beno ... jadi Beno menggantung Tirsa seperti jemuran ...? Astaga ... Beno ternyata belum sembuh, malah yang ada semakin tidak waras ...! Ha ... ha ... ha ...!"


Alga bahkan harus membekap mulutnya sendiri agar tawanya tidak semakin membahana, memecah malam yang tenang juga lenggang.


Namun meskipun telah ditahan mati-matian, tetap saja gelak tawa wanita itu sukses membuat satu-dua orang yang melewati mereka menatap mereka keheranan.


"Bagaimana ...? Cerita Beno dan Tirsa lebih lucu dari beberapa ceritaku sebelumnya, kan?" tanya Tara yang ikut terkekeh, justru merasa lucu dengan kelucuan Alga.


Sejujurnya jokes terakhir yang Tara kisahkan itu bahkan bisa di kategorikan sebagai jokes yang super receh, namun tetap saja bagi seorang Alga yang bisa jadi seumur hidup tidak pernah mendengar hal-hal lucu seperti itu, lelucon Tara masuk kategori lelucon yang super special!


"Aku merasa ceritamu itu ibarat sebuah dark jokes, dokter Tara, tapi entah kenapa disaat yang sama semua itu terdengar sangat lucu yah ...?"


Lagi-lagi Tara terkekeh mendengar ungkapan polos Tara. Kali ini langkah mereka kembali terayun ringan kearah penginapan yang terlihat semakin dekat.


"Aku masih punya banyak stock cerita lucu, tapi tidak akan aku ceritakan sekarang karena aku takut perutmu akan benar-benar sakit jika kau terus tertawa seperti ini ..." pungkas Tara masih dengan senyum simpul yang awet menghiasi bibirnya.


Sungguh, melihat wajah Alga yang berseri-seri seperti saat ini membuat Tara ikut merasa senang.


"Dokter Tara, lihat itu ...!" wajah Alga yang sejak tadi semringah mendadak berganti serius dalam hitungan detik.


Pandangan Tara mengikuti arah dari jari telunjuk Alga, yang mengarah lurus pada mobil box milik sebuah ekspedisi, yang terlihat bergerak perlahan meninggalkan penginapan mereka.


"Malam-malam begini, masih ada pelayanan ekspedisi ...?" Tara berucap heran, saat melirik arlojinya yang menunjukkan waktu yang nyaris pukul sembilan malam.


"Paketnya sudah tiba." pekik Alga tanpa mempedulikan kalimat Tara yang keheranan.


Alga nyaris bersorak, sehingga langkahnya pun ikut terayun cepat kearah penginapan, membuat Tara tidak punya pilihan lain selain menyusul punggung wanita itu yang telah melesat cepat seperti peluru ...


...

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2