
"Ternyata penanganan pertama pada pasien yang terkena serangan stroke secara mendadak, tidak terlalu sulit. Hanya saja banyak orang yang belum paham ..."
Kalimat Alga yang sedang berjalan di sisi Tara mampu membuat Tara menoleh sambil tersenyum.
Sepertinya Alga memang masih terkesan dengan semua tindakan yang Tara lakukan saat menangani kakek tadi sebelum mobil ambulans tiba, dan semua itu telah menjadi sebuah pengalaman berharga yang membekas di benak Alga.
Alga benar-benar menyaksikan bagaimana Tara yang terlihat begitu telaten saat memberikan air minum untuk sang kakek demi mencegah dehidrasi, dan Tara yang terus berusaha membuat si kakek lebih rileks dengan mengungkapkan kata-kata yang menenangkan.
"Hal yang paling penting yang harus kau ingat adalah, kalau kau berniat ingin menolong seseorang maka kau harus tenang dan tidak boleh panik lebih dulu, agar tidak membuat penderita semakin panik."
Meskipun samar namun Tara masih bisa melihat anggukan kepala Alga yang mengiyakan nasihatnya.
"Oh iya, dokter Tara, aku sering mendengar metode menusuk jari bagi penderita stroke dengan jarum, tapi aku tidak melihat kau melakukannya. Apakah metode itu benar-benar efektif?"
"Itu hanya mitos." pungkas Tara tanpa keraguan sedikit pun.
"Benarkah? Jadi itu hanya mitos?"
Tara mengangguk yakin. "Hindari menusuk jari pasien dengan jarum, karena yang ada respons nyeri akibat jari di tusuk justru bisa membuat tekanan darah pasien meninggi dan bisa memperburuk kondisi stroke. Apalagi kalau jarumnya tidak steril ... lebih bahaya lagi ..."
Alga manggut-manggut saat menyimak hal-hal yang diuraikan Tara dengan gamblang, sebagai pertanda bahwa dirinya sangat setuju dengan jalan pemikiran pria itu.
Meskipun sejauh ini Alga telah mendengar begitu banyak hal yang tidak berkesesuaian, tapi kali ini Alga memilih mempercayai Tara.
Selama ini Tara di kenal sebagai seorang dokter ahli bedah yang bisa di bilang cukup hebat, tentu saja Tara berkata benar. Penanganan terhadap situasi dan kondisi yang baru saja mereka alami pasti bukanlah hal yang baru bagi Tara.
Untuk sesaat keheningan bertahta diantara langkah mereka yang terus terayun dengan irama sedang.
"Aku benar-benar tidak bisa memahami bagaimana jalan pikiranmu bekerja ..." imbuh Alga lagi usai hening yang meraja.
"Maksudmu ...?"
"Maksudku adalah, tentang kau yang bersikeras menghalangi orang-orang untuk melakukan tindakan berbahaya pada kakek yang terkena serangan stroke itu, tapi di sisi lain ... kau tetap tidak mau mengaku bahwa kau adalah seorang dokter."
Tara tersenyum mendengarnya, sebelum akhirnya ia menjawab singkat dengan ekspresi wajah kalem
"Aku dilema."
__ADS_1
Alis Alga bertaut nyata. "Dilema?" ulangnya heran.
"Iya, dilema. Kau sudah memperingati aku sejak awal agar aku tidak ikut campur, tapi di sisi lain, naluriku sebagai seorang dokter menolaknya."
Kemudian Tara melirik sedikit wajah disampingnya.
"Maafkan aku yah, aku sungguh tidak bisa mengabaikan orang yang membutuhkan pertolongan, apalagi jika hal itu terjadi tepat di pelupuk mataku."
"Jadi karena aku telah memperingatkan dirimu untuk tidak terlibat, kau bahkan tidak membuka mulut meskipun mereka telah memperlakukanmu dengan buruk. Begitu ...?"
Tara terlihat meringis menerima kalimat dengan nada menyindir yang keluar dari mulut Alga.
"Apakah kau masih tidak sadar? Padahal saat itu aku sedang membuktikan bahwa aku benar-benar berada di pihakmu ..."
"Tidak ada korelasinya sama sekali." ralat Alga terang-terangan.
"Ada." imbuh Tara santuy. "Kata siapa tidak ada korelasinya?"
"Mengada-ada." ralat Alga lagi, tetap bersikeras dengan pendiriannya.
Tara terkekeh untuk beberapa saat, menyadari Alga yang tetap teguh.
Saat Alga menoleh, ia malah mendapati sebuah kedipan mata genit Tara yang sengaja menggodanya.
"Ishh ..." refleks Alga melengos sambil membuang wajahnya kearah lain, sementara Tara malah tertawa.
Setiap kali menerima tindakan absurd, terlebih mendengar Tara mulai berucap dengan makna yang mendalam seperti saat ini, Alga selalu merasa aliran darahnya seolah sedang dikacaukan dengan mudah.
Entahlah ...
Bagi Tara semua itu pasti hanyalah sebuah lelucon untuk menggoda, namun pria itu tidak pernah tahu bagaimana isi hati Alga yang sesungguhnya.
Alga bahkan tidak bisa membedakan, mana pernyataan yang paling tepat untuk menggambarkan situasi hatinya saat ini.
Terlepas dari perilaku Tara sebagai seseorang yang selalu bersikap hangat ... atau justru dirinyalah yang kelewat baper, seperti olokan yang pernah di sematkan Tara untuknya.
Lelah berkutat dengan pemikirannya sendiri, Alga menghembuskan napasnya sambil menaruh kedua tangan kedalam sweater tebal yang ia kenakan.
__ADS_1
"Dingin ...?"
Pertanyaan singkat Tara telah memecah keheningan, yang tercipta diantara ayunan langkah kaki mereka yang sejajar berdampingan.
Alga menggeleng kecil. Mungkin karena dorongan adrenalin yang terpacu atas insiden demi insiden yang terus terjadi silih-berganti, sehingga udara malam sepertinya hanya terasa sejuk, tidak sampai dingin menusuk.
"Rasanya sudah lama sekali aku tidak pernah berjalan santai di bahu jalan seperti ini ..." Tara berucap lagi, sambil menghirup udara malam sepenuh rongga, yang membuat seluruh tubuhnya merasakan kesegaran.
Alga diam tak menanggapi, namun di dalam lubuk hatinya ia pun mengiyakan kalimat Tara, karena merasakan hal yang sama.
Entah kapan terakhir kali dirinya berjalan santai menikmati udara malam seperti saat ini. Dimana langit begitu cerah sehingga beberapa bintang kecil bisa terlihat dengan mata telan jang, serta udara malam yang sejuk segar ... khas ketenangan dari sebuah pinggiran kota yang jauh dari keramaian dan hingar-bingar.
Kemudian semua itu tiba-tiba terasa semakin sempurna, manakala Alga menyadari bahwa ia telah menikmati malam yang syahdu ini bersama seorang pria tampan seperti Tara.
'Astaga ... mulai lagi ... aku ini sedang memikirkan apa ...?'
Bathin Alga sontak berbisik dalam sanubari, manakala jantungnya ikut berdebar gelisah, membuat Alga malu pada dirinya sendiri.
"Nona Alga, kau pernah punya pacar tidak ...?"
"Apa?" Alga tersentak mendengar pertanyaan yang sungguh tak disangka-sangka.
Menerima keterkejutan Alga, Tara malah tertawa kecil, hingga menampilkan giginya yang berderet rapi.
"Semoga tebakanku salah. Tapi kelihatannya kau bahkan belum pernah berpacaran ..." ucap Tara lagi penuh keyakinan, kali ini ia benar-benar berjalan dengan kepala yang menoleh kearah Alga, tidak lagi memperhatikan koridor bahu jalan yang terbentang panjang dihadapannya.
Sejujurnya, perkataan Tara tak sedikitpun ada yang salah.
Alga memang tidak pernah punya pacar, hingga di umurnya yang sekarang, yang tidak lagi tergolong muda.
Bayangkan, dua puluh enam tahun tanpa sekalipun berpacaran. Alga bahkan tidak mengenal apa itu cinta.
Sungguh memalukan ...!
Tapi mau bagaimana lagi, selama ini Alga hanya berkutat dengan persoalan membangun kembali kejayaan klan Rudolp yang sempat tercerai-berai, hingga hal-hal manis seperti itu seolah terlupakan dan tidak penting sama sekali.
'Ternyata aku telah melewatkan masa remaja yang seharusnya penuh warna, sehingga untukku seolah hanya satu warna saja ...'
__ADS_1
...
NEXT ...