NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN

NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN
BAPER


__ADS_3

Selepas kepergian Rob dan beberapa anak buahnya, Tara dan Alga telah memutuskan untuk tidak lagi menggunakan lift.


"Menunggu didepan lift terlalu beresiko."


Tara mengangguk, kali ini dia langsung setuju dengan jalan pikiran Alga.


"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dan siapa yang akan datang sebelum pintu lift terbuka."


"Kau benar, Nona. Lalu bagaimana kita akan menuju basement kalau tidak menggunakan lift?"


"Ada tangga darurat di sebelah timur. Tapi kita harus bisa melintasi lobby tanpa mengundang kecurigaan ..."


Tara tersenyum mendengar kalimat Alga. Lobby Red Luxury Hotel nyaris tak pernah sepi manusia, karena selalu saja ada aktifitas yang terjadi disana, meskipun itu hanya berupa orang-orang yang berlalu-lalang.


"Kalau itu gampang ..."


"Gampang?"


"Berjalan saja seperti biasa, seperti layaknya pasangan. Kau hanya perlu menggandeng lenganku dan aku akan memeluk pinggangmu, lalu ..."


"Disaat seperti ini apa tepat kau bercanda seperti itu, dokter Tara? Kau pikir semua ini main-main ...?!" Alga menggeram kesal, menyadari kalimat Tara yang terucap dengan bibir yang tersenyum nakal, serta tatapan yang terlihat sedikit genit.


"Siapa yang bercanda? Aku serius ..." kilah Tara dengan luwesnya.


"Omong kosong ..."


"Astaga, memangnya kau sedang memikirkan apa ...?"


"Semua itu ada didalam otakmu, mengapa kau malah menanyakannya?"


Tawa kecil Tara menyeruak begitu saja. "Dasar wanita ... selalu saja baperan ..."


"Apa katamu ...?!" sepasang mata Alga seolah ingin loncat keluar. "Kau bilang apa? Aku ... baperan?"


"Hheemmm ..."


"Kau ... dasar pria licik ... sudah jelas-jelas kau ingin aku menggandengmu, dan kau juga berniat memelukku. Lalu kau menuduhku yang baperan?!"


"Nona Alga, kau ini sedang memikirkan apa ...?"


Tara terlihat menatap lucu campur remeh kearah Alga yang sedang naik pitam.


"Tolong berusahalah fokus ke satu hal saja, tentang bagaimana caranya kau dan aku lolos hidup-hidup dari hotel terkutuk yang dipenuhi penjahat dimana-mana. Kalau kau terus berpikir tentang hal yang tidak-tidak ... maka ... jangan salahkan aku kalau aku menyebutmu baperan ..."


Alga membuang wajahnya, gondok setengah mati.


"Kalau kita berjalan didepan umum bak orang asing, maka semua itu akan semakin mengundang kecurigaan. Tapi kalau kita bersandiwara sebagai pasangan kekasih atau bahkan pasangan suami istri yang romantis ... maka semuanya akan lebih mudah. Untukku ... terlebih untuk dirimu ..."


Alga membisu, namun sejujurnya ia tercenung lama karena sedang menimbang-nimbang saran Tara, yang entah kenapa dibenak Alga seperti sebuah modus terselubung.


Meskipun kalimat panjang lebar Tara kemudian lumayan membuat Alga malu hati, sehingga Tara bahkan menyebut Alga kebaperan, tapi disisi lain ... bagaimana Alga tidak salah paham jika Tara mengucapkan idenya dengan sikap genit seperti itu?

__ADS_1


Cih ...!


Salah siapa jika kemudian debaran jantung Alga menjadi tak terkendali hingga memikirkan hal-hal yang norak?


"Lama sekali kau berpikir. Kau mau keluar dari tempat ini atau tidak sih?" celetukan Tara menerbangkan segenap lamunan Alga yang mulai melebar kemana-mana.


"Tentu saja. Kau pikir aku mau tinggal lebih lama disini?!"


"Ck ... ck ... ck ... galaknya ..."


"Kau ...?!"


"Eittsss, sudah ... sudah ... jangan marah lagi. Cepat peluk lenganku, dan kita akan keluar dari tempat terkutuk ini secepatnya ..."


Alga tak lagi punya pilihan, selain patuh.


Akhirnya dengan berat hati ia melingkarkan tangannya di lengan Tara yang ternyata terasa begitu kekar saat tersentuh.


Tara tersenyum penuh kemenangan, terlebih saat dia menyampirkan tangannya dengan luwes kepinggang Alga yang susah payah menyembunyikan perasaan malu dan risih yang saling bercampur satu.


"Are you ready, sweety ...?"


Bisikan lembut Tara, sengaja menggoda gendang telinga Alga dengan begitu intim.


"Hhmm,"


Alga membuang wajahnya yang memerah. Kesal bercampur malu.


Alga diam, tak menanggapi. Namun saat Tara mulai melangkahkan kakinya dengan mantap, alhasil Alga pun berusaha untuk mengimbangi kharisma pria itu dengan sekuat tenaga.


"Jangan lupa tersenyum, sayang, tunjukkan pada dunia bahwa kita adalah pasangan yang bahagia ..."


🔳🔳🔳🔳🔳


Setelah melewati berbagai ketegangan, pada akhirnya mobil fortuner hitam yang dikemudikan Alga dengan Tara yang duduk tepat disampingnya bisa melaju tenang, membelah jalanan kota.


Malam sudah sangat larut, dan Alga telah memutuskan untuk kembali ke kontrakannya.


Suasana lalu lintas yang tidak lagi hiruk pikuk, membuat keduanya bisa lebih mudah melepas ketegangan.


"Kau yakin malam ini kita akan menginap di kontrakanmu?" suara Tara terdengar setelah sekian menit lamanya mereka hanya terdiam.


Tara melirik sekilas wanita yang masih keukeuh berdiam diri dibelakang kemudi.


Memang pada beberapa saat yang lalu begitu mereka berdua berhasil mencapai basement, Alga telah menawarkan diri untuk mengemudikan mobil fortuner yang telah disiapkan oleh Tuan Samuel Alfonso di parkiran, dan kali ini Tara tidak membantahnya seperti biasa.


Disaat mereka harus menyelamatkan diri dan berlalu secepatnya dari Red Luxury Hotel, Tara tahu persis bahwa berdebat untuk masalah sepele bukanlah hal yang tepat.


"Nona Alga ..."


"Aku akan kembali ke kontrakanku ..."

__ADS_1


"Lalu bagaimana denganku?"


Alga tidak menjawab, sikap acuhnya sukses membuat Tara kesal sendiri.


"Bukan main ... ternyata cuma dirimu saja yang kau pikirkan ..." desis Tara tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang masam.


"Lalu kau mau aku bagaimana? Memikirkan dirimu juga ...?"


Wajah tanpa dosa yang ditampakkan oleh Alga rasanya benar-benar menguji kesabaran Tara.


"Nona Alga, kau ini benar-benar yah. Setelah semua yang aku lakukan untukmu, begini caramu berterima kasih?" suara Tara meninggi satu oktaf, dan Tara terus berusaha mati-matian menahan kemarahannya agar tidak meledak gila-gilaan.


Tara benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa Alga menjadi tidak peka dan memiliki hati sama sekali.


Untuk Alga, Tara telah melewati banyak hal buruk. Tara bahkan rela membantu wanita itu tanpa sungkan.


Tapi sekarang ... coba lihat bagaimana Alga membalas semua niat baiknya ...!


"Dokter Tara, kau sedang tidak berpikir untuk menumpang di kamarku, kan ...?"


Tara terhenyak atas pertanyaan polos itu. "Apa maksudmu ...?"


"Aku tidak bermaksud apa-apa. Tapi jika kau benar berpikir seperti itu, maka jangan salahkan aku, kalau aku juga berpikir bahwa kau yang aneh."


"Whaaatt ...? Jadi kau pikir aku sedang memikirkan apa? Berusaha mendekatimu? Atau mengambil keuntungan ...?"


"Who knows ...?"


"Cih ..."


Alga tertawa melihat air muka keruh Tara begitu dirinya berhasil menyudutkan pria itu.


'Rasakan ...!'


'Selama ini dengan mudahnya kau selalu menuduhku menyukaimu ... mengejar dirimu ... tertarik padamu ... dan sekarang kau bisa merasakannya sendiri bagaimana rasanya, saat aku yang menuduhmu sebaliknya ...!'


Dalam diam, bathin Alga tertawa penuh kemenangan.


"Kau punya banyak uang, kau bisa mengontrak kamar sendiri nantinya. Lalu untuk apa berharap aku akan membiarkanmu masuk ke kamarku? Kau lupa aku seorang wanita ...?" ejek Alga tanpa sungkan.


"Dasar ge-er ... siapa juga yang ingin sekamar dengan wanita bar-bar seperti dirimu?"


"Kau ...?!" mata Alga melotot sempurna saat ia melirik sekilas.


"Dengar baik-baik, Nona Alga. Aku akan menyewa kamar sendiri. Kau puas?!"


Alga pun menyeringai mendengar kalimat ketus Tara untuknya.


"Tentu saja, dokter Tara ... tentu saja ..." desis Alga kemudian, tak kalah sinis ...


...

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2