
Pov, beberapa jam sebelumnya ...
"Tuan, aku punya banyak sekali informasi penting."
Itu kalimat pertama Junho, begitu panggilannya tersambung dengan Juan Allesandro.
"Katakan." dari seberang sana, suara berat Juan Allesandro terdengar nyata di telinga.
"Pasti akan aku katakan, Tuan, tapi sebelumnya Tuan pasti sudah tahu apa kompensasinya, bukan?"
Junho memang seperti itu. Jiwa psikopatnya yang mendarah daging telah berbanding lurus dengan caranya menghargai semua jasanya dengan uang.
Junho benar-benar menggilai uang, dan karena itulah ia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkannya.
Jika hanya menjebak seorang Nona Mafia saja, seharusnya Junho sudah melakukannya hanya dalam kurun waktu dua hari setelah deal kesepakatannya dengan Juan Allesandro ter-ikrar, saat Junho mengetahui bahwa ternyata selama ini Nona Mafia dan dokter Tara bersembunyi di sebuah penginapan kumuh, letaknya nyaris di perbatasan kota Malta.
Junho mengurungkan niat awalnya, setelah berhasil mendapatkan begitu banyak kenyataan tentang sebuah konspirasi dalam tubuh klan Rudolp yang telah melibatkan banyak pihak. Maka dari itulah Junho pun memutuskan untuk menjadi lebih serakah.
"Aku mengetahui sebuah rahasia besar tentang klan Rudolp, yang sudah pasti kau akan sangat menyukainya, Tuan Juan Allesandro ..."
"Aku tidak yakin jika masih ada rahasia yang belum aku ketahui." pungkas Juan Allesandro santai.
Mendengar itu Junho tertawa remeh.
"Kau salah, Tuan, karena jika kau mengetahui yang sesungguhnya, aku bahkan bisa menjamin bahwa kau pasti bisa menghancurkan seluruh jaringan klan Rudolp hingga ke akar-akarnya ..." kalimat Junho yang terdengar meyakinkan, membuat Juan Allesandro mulai bimbang.
"Bukankah karena semua itulah maka aku ingin kau membawa Alga Rudolp hidup-hidup ke hadapanku ...?" ungkap Juan Allesandro, menyamarkan keinginannya yang begitu besar, namun tak mungkin ia tunjukkan di hadapan Junho.
"Itu perkara mudah ..."
"Kau terlalu optimis."
"Aku tidak hanya asal bicara, Tuan. Aku bahkan telah hidup di sekitar Nona Alga dan Tuan dokter itu selama beberapa hari terakhir."
Di tempat duduknya nun jauh di sana, Juan Allesandro tercekat mendengar informasi tersebut.
"Kalau Tuan tidak percaya, tepat setelah pembicaraan, ini aku bisa mengirimkan banyak bukti yang menunjukkan, betapa besarnya aku memenangkan hati Tuan dokter bernama Tara Yudhistira itu, sehingga ia mempercayai diriku tanpa sedikitpun keraguan ..."
'Tidak mungkin. Bagaimana bisa Junho mampu mendekati dokter Tara dengan begitu mudah, disaat dirinya dan semua anak buahnya bahkan tidak pernah berhasil menyentuh bayangan keduanya ...?'
Juan Allesandro bahkan tidak bisa mempercayai pendengarannya.
Ia merasa tidak percaya saat Junho mengatakan hal tersebut, di saat dirinya telah kehilangan jejak Nona Mafia dan dokter Tara nyaris seminggu lamanya.
"Tapi kalau prediksiku tidak meleset, maka mereka akan meninggalkan tempat persembunyian mereka selama beberapa hari terakhir ini, tepat pada malam ini juga."
Juan Allesandro terdiam. Dalam hati, sesungguhnya ia tak rela kehilangan kembali jejak Nona Mafia, tapi di sisi lain Juan Allesandro pun tahu bahwa Junho yang licik sedang berusaha memerasnya.
Pria bermata segaris itu ternyata cukup pintar juga, karena sebelumnya Junho telah meminta upah dua kali lipat atas jasanya dalam membawa Alga Rudolp hidup-hidup ke hadapan Juan Allesandro, dengan pembayaran uang muka secara tunai di awal misi, kemudian sisanya telah dibayarkan Juan Allesandro lewat giro mundur, yakni berupa sebuah surat berharga yang digunakan untuk pembayaran non-tunai yang telah diberi tanggal jatuh tempo pencairan dari tanggal penerbitannya, sesuai kesepakatan yang telah ia lakukan dengan Junho.
"Tuan Juan Allesandro ..."
"Aku setuju."
__ADS_1
'Sudah kuduga ...'
Junho tersenyum mendengar keputusan tersebut.
"Tapi aku mengubah rencananya ..." suara berat Juan Allesandro terdengar lagi.
"Maksud, Tuan?"
"Mari bertemu. Aku akan membawa uang tunai untukmu sekarang juga. Sudah aku putuskan ... begitu aku tahu semua rahasia klan Rudolp yang ada padamu, akan aku habisi Alga Rudolp dan dokter si alan yang selalu membantu pelariannya itu ...!"
🔳🔳🔳🔳🔳
Tara menatap wajah Alga lekat, senyum semringah terlihat hadir sedikit demi sedikit di bibir pria menawan itu, manakala ia terus mengawasi sepasang bola mata yang berpendar indah dihadapannya.
"K-kau ini bicara tentang apa ...? Kau sedang mabuk atau sudah gila ...?"
Alga mengalihkan wajahnya, menghindar. Ia sengaja berucap ketus guna menutupi kegugupannya sambil berusaha bangkit dari duduknya, namun gerakan Tara seolah tak kalah cepat.
"Jangan menghindar."
Tubuh Alga kembali terhempas ke tempat semula, begitu jemari Tara menarik sigap pergelangan tangannya.
Alga menoleh lagi ke wajah yang begitu dekat di sampingnya itu dengan sepasang mata yang melotot.
"Kau boleh menolakku kalau kau tidak memiliki perasaan yang sama, tapi jangan pernah menggantungnya ..."
Alga terhenyak mendengar kebulatan tekad Tara, yang terwakilkan lewat setiap ucapan yang terdengar solid.
Pria itu ternyata mempunyai kepercayaan diri yang cukup tinggi.
Dalam kehidupan nyata ... pria itu bahkan punya segalanya ...!
"Dokter Tara, tolong jangan bercanda ..." Alga menarik pergelangan tangannya yang masih berada dalam genggaman Tara, seolah enggan dilepaskan begitu saja.
"Aku tidak sedang bercanda."
"Lepaskan aku ..."
"Tidak, sebelum kau setuju bahwa sekarang kau adalah pacarku ..."
"Waahh ... kau benar-benar sudah gila ..."
Kali ini Tara malah nyengir.
"Dokter Tara ..."
"Alga ... mulai sekarang panggil aku Tara saja."
Alga semakin melotot mendengar keberanian Tara yang telah menyebut namanya dengan enteng tanpa embel-embel 'Nona' seperti biasa.
'Si alan ... dia sedang bertingkah menyebalkan seperti ini ... tapi kenapa di mataku justru terlihat sangat manis ...?'
'Sepertinya yang sudah gila bukan hanya dokter Tara ... melainkan aku juga. Otakku ini sudah pasti sedang bermasalah ...!'
__ADS_1
Senyum Tara semakin terkembang sempurna mendapati wajah galak Alga yang berada tepat di hadapannya. Namun seiring waktu garis wajah yang mengeras itu pun mulai mengendur perlahan, sedikit demi sedikit.
Penilaian Tara atas perubahan wajah Alga memang benar adanya.
Alga memang merasa sedang berada dalam dilemma. Ingin rasanya mengakui perasaan manis yang terus tumbuh di hatinya untuk Tara, namun merasa paranoid sendiri saat membayangkan ...
Bagaimana jika Tara hanya berniat mengerjai dirinya ...?
Berbeda dengan Alga yang sedang dilemma, Tara justru sebaliknya.
Saat ini Tara telah merasa yakin seribu persen bahwa Alga memiliki perasaan yang sama dengannya. Hanya saja untuk membuat wanita bar-bar yang keras kepala itu mengakui perasaannya, terlebih mau menerimanya tentu perlu strategi jitu dan usaha ekstra keras.
'Rasanya aku ingin sekali menciumnya ...'
Otak Tara mulai ngawur saat menyadari Alga yang masih betah berlarut-larut dalam kebimbangan, dengan wajahnya yang polos lengkap dengan dua belahan bibir yang sedikit terbuka.
Namun mengingat Alga bisa saja menarik pelatuk pistol di pinggangnya atas ulah nekadnya, niat nakal Tara menjadi urung seketika.
"Baiklah, aku tahu semua ini mengejutkanmu. Kau pasti butuh waktu ... dan butuh keberanian untuk menerimaku. Iya kan ...?"
"Butuh keberanian untuk menerimamu ...?" ulang Alga atas kalimat Tara yang terucap penuh percaya diri.
"Tentu saja. Memangnya kau yakin mau menolak pria se-keren diriku ...?" pungkas Tara sedikit tidak tahu malu.
"Cihh, dasar narsis ..."
Tara tertawa kecil menyadari tampang sewot Alga.
Kali ini Tara tak lagi menghalangi niat wanita itu saat melepaskan diri darinya, dengan jalan mengurai genggaman hangat Tara yang terus membelenggu pergelangan tangannya sejak beberapa saat yang lalu.
"Aku akan pergi melihat Jun ..." ujar Tara kemudian, dengan wajahnya yang kembali serius.
Tara bangkit dari duduknya, langsung melangkah menuju pintu.
"Dokter Tara ..."
Langkah Tara terhenti sebelum meraih gagang pintu kamar.
"Tolong jaga dirimu ..." Alga berdiri jengah di tempatnya.
Senyum Tara terkembang sempurna. "Hemmm ..." hanya mengangguk, dan langsung berbalik lagi guna memutar gagang pintu yang tadinya sempat urung ia buka.
Tara tidak mau lagi berlama-lama menatap sosok Alga, takut jika niatnya untuk melakukan misi pengalihan fokus Jun akan kembali tertunda, hanya karena ia tidak bisa menahan diri karena ingin terus bersama wanita itu.
Ceklek.
Pintu kamar mereka terbuka perlahan, namun tiba-tiba ...
DORRR ...!!
Suara letusan pistol terdengar memecah kesunyian malam yang dingin ...
...
__ADS_1
Bersambung ...