
Pintu Lift terbuka dilantai dasar, belum juga sampai di basement.
Tara yang menyadari tidak ada pergerakan dari ketiga pria didalam lift tersebut sontak mengamit pinggang Alga keluar dari sana, mengikuti langkah wanita cantik yang beranjak keluar, meninggalkan tiga orang pria berbadan kekar yang masih berada didalam lift.
Alga tidak membantah keputusan Tara. Alga sendiri menyadari jika ketiga pria itu ternyata hendak menuju basement sama seperti tujuan awal mereka, maka sudah seharusnya dirinya dan Tara menghindar.
"Sebaiknya kita menunggu sejenak, sebelum naik lift berikutnya." bisik Tara setelah pintu lift dibelakang mereka tertutup dan lift kembali bergerak turun.
Menyadari Tara telah menghentikan langkahnya, Alga pun ikut berhenti, tak lupa meloloskan diri secepatnya dari rengkuhan tangan besar Tara yang sejak tadi melingkar ketat di pinggangnya yang ramping.
"Maaf ..." Tara terlihat meringis tanpa dosa, mendapati pelototan galak Alga.
"Sekali lagi tanganmu lancang menyentuh tubuhku, akan kutembak jari-jarimu!" ancam wanita itu bersungguh-sungguh.
Bukan tanpa alasan Alga merasa kesal, karena pada kenyataannya sejak awal pria itu memeluk pinggangnya dari dalam lift sampai mereka keluar Alga hanya bisa pasrah menahan rasa tak nyaman, malu, risih karena tidak pernah berada di posisi seperti itu sebelumnya ... dan beberapa rasa aneh yang membuat jantung Alga berdebar, perutnya berputar ngilu, bulu kuduknya meremang ...
Aaakhh ...!! Da mn ...!!
Alga merasa benci saat harus mengeja satu persatu perasaan-perasaan aneh yang menyelimuti dirinya, acap kali berdekatan dengan Tara.
"Jadi kau pikir, aku sengaja melakukannya agar bisa menyentuhmu?" tanya Tara dengan ekspresi wajahnya yang kalem, seolah kemarahan Alga tidak sedikitpun mampu membuatnya gentar.
"Mana kutahu pikiran seperti apa yang berseliweran di otak pria licik seperti dirimu?!"
Tara malah tertawa mendengar kalimat sindiran yang terlalu kentara itu.
"Kepercayaan dirimu sangat tinggi yah. Padahal diantara kau dan aku sudah jelas siapa yang menyukai siapa ..." ucap Tara dengan senyum mengejek yang menghias dibibirnya.
"A-aaapppaa ...?!"
Alga melotot garang, namun yang ada Tara malah menyandarkan tubuhnya kedinding dengan santai, mengacuhkan segenap kemarahan Alga yang wajahnya kini memerah sempurna.
__ADS_1
Tidak. Saat ini yang bercokol dibenak Alga bukan hanya kemarahan semata, melainkan juga rasa malu yang luar biasa.
Alga menggelengkan kepalanya berkali-kali, berusaha menyangkal semua tuduhan Tara.
"Kapan kau akan berhenti menuduhku yang tidak-tidak?!" semprot Alga.
"Tentu saja saat kau juga berhenti mengejarku terus-menerus, seperti yang kau lakukan selama ini ..."
"Aku sudah katakan berkali-kali aku tidak pernah mengejarmu!"
"Buktinya kau selalu muncul didepan hidungku ..."
"Mana aku tahu, dokter Tara? Semua itu terjadi begitu saja!" bantah Alga semakin sengit.
"Jadi kau ingin aku percaya bahwa semua yang terjadi karena semesta alam yang menghendaki aku selalu bersua denganmu? Begitu?"
"Cihh!!"
Apakah semua ini seperti yang dikatakan Tara?
Bahwa memang semesta alam yang menghendaki mereka berdua selalu bersua seperti yang diungkapkan Tara?
Entahlah ...
Derap langkah yang mendekat membuat Tara dan Alga terdiam awas. Sepertinya berasal dari langkah beberapa orang sekaligus.
"Sembunyi ..." bisik Alga, refleks menarik pergelangan tangan Tara kebalik dinding.
Firasat Alga mengatakan bahwa sekumpulan orang yang mendekat pastilah para anak buah Juan Allesandro.
"Aku yakin Nona Alga masih berada didalam hotel ini ..."
__ADS_1
Tepat seperti dugaan, sekelompok pria yang jumlahnya diperkirakan lebih dari lima orang tersebut muncul dari ujung lorong, mendekati lift.
"Pria itu ... dia adalah pria yang sama yang memimpin penyerangan di bungalow ..." Tara berbisik saat mengenali wajah salah satu pria yang berjalan paling depan.
"Dia Rob ..."
"Kau mengenalnya?"
"Tentu saja. Dia adalah salah satu orang kepercayaan Juan Allesandro."
Masih saling berbisik satu sama lain, Alga dan Tara tetap pada posisi mereka semula, menyembunyikan diri dari beberapa pria yang berdiri tegak menunggu lift.
"Aku akan kembali menemui Tuan Samuel Alfonso."
Suara berat dari pria yang bernama Rob kembali terdengar.
"Aku harus bisa meyakini pria tua itu agar tidak berusaha membantu Nona Alga ..."
"Tuan Rob, bagaimana kalau Nona Alga sudah bertemu Tuan Samuel lebih dahulu?"
"Aku rasa belum, dan karena alasan itulah kita harus mencegah pertemuan itu."
Wajah Rob terlihat optimis saat berucap demikian. Sejauh ini Rob memang yakin Alga telah berada di Red Luxury Hotel, tinggal menunggu
wanita licik itu beraksi dan dia akan menjebak Alga serta membawanya hidup-hidup kehadapan sang majikan ...
Siapa lagi kalau bukan Juan Allesandro.
...
Bersambung ...
__ADS_1