
"Bagaimana mungkin kalian bisa meninggalkan Hugo begitu saja ...? Apakah kalian tidak berpikir dengan apa konsekwensi yang timbul akibat kesalahan kalian ...? Lalu bagaimana jika Alga menyadari bahwa itu adalah Hugo?! Hah?!"
Suara berat milik seorang pria paruh baya yang dipenuhi amarah yang menggelegar itu terdengar jelas dari ponsel yang sedang berada dalam keadaan loudspeaker.
Arnold dan Gery yang berada di dalam mobil hanya bisa terdiam pasrah tanpa sanggup membela diri, seolah mereka juga menyadari, bahwa mereka memang pantas menerima segenap caci-maki dikarenakan keteledoran mereka yang begitu fatal.
Mau bagaimana lagi ...?
Semuanya telah terjadi dengan sangat cepat.
Rencana sang bos besar dalam upaya menyabotase pertemuan antara Juan Allesandro dan Junho telah berbuntut insiden yang tidak diinginkan serta diluar rencana awal, karena entah bagaimana ceritanya sehingga di detik-detik terakhir Junho justru menyadari bahwa dirinya telah dijebak.
Yah, Arnold, Gery dan Hugo, ketiganya telah diperintahkan dengan jelas, untuk menggiring Junho masuk ke dalam mobil alphard yang dikemudikan Gery, bertindak seolah-olah Juan Allesandro sedang menunggu pria itu di dalam mobil.
Pada awalnya semua rencana sabotase tersebut berjalan lancar sesuai rencana.
Junho begitu cepat percaya, sehingga ia menuruti keinginan Hugo begitu saja yang sebelumnya telah berbohong dengan mengaku sebagai salah seorang anak buah yang ditugaskan oleh Juan Allesandro untuk menjemputnya.
Mereka semua percaya bahwa Junho telah terperdaya, karena pria bermata segaris itu dengan mudah mempercayai ajakan Hugo yang sengaja mendatangi Junho di meja receptionist Penginapan Molly, tepat pukul setengah dua belas malam.
Anehnya, entah kenapa begitu pintu mobil baru saja hendak dibuka, di mana Arnold dan Gery sedang bersiaga di dalamnya, seolah tersadar dari sebuah mantera pengikat tiba-tiba Junho langsung membalikkan tubuhnya seratus delapan puluh derajat seraya mencabut sepucuk pistol dari pinggangnya, kemudian tanpa basa-basi langsung memuntahkan sebutir timah panas kearah Hugo yang posisi tubuhnya hanya berjarak kira-kira dua langkah di belakangnya ... tanpa sedikit pun keraguan!
Hugo yang terkejut setengah mati dengan pergerakan Junho yang tiba-tiba, sempat berusaha meraih se-pucuk postol yang tersembunyi di pinggang sebelah kanannya namun sia-sia, karena gerakan Junho yang begitu cepat tak bisa lagi terkejar.
Detik berikutnya dua bunyi letusan pistol yang nyaris bersamaan itu pun membelah kesunyian malam.
Junho yang berhasil mendahului Hugo menyisakan senyum penuh kemenangan di bibir, begitu menyaksikan lawannya yang tumbang meskipun sempat menarik pelatuk pistol miliknya.
Arah peluru Hugo hanya mengenai udara kosong, karena di saat yang sama tubuh pria itu telah terhuyung ke belakang, sebelum akhirnya terkapar di atas aspal yang dingin ... tanpa perlawanan berarti ... dengan sebutir peluru yang bersarang tepat di ulu hati!
Arnold dan Gery yang sejak awal telah waspada dan menunggu di dalam mobil tentu saja sangat terkejut begitu mendengar dua letusan pistol beruntun, yang begitu dekat.
__ADS_1
Keduanya refleks mencabut pistol masing-masing dari pinggang mereka, sehingga begitu pintu terbentang dan mereka menyaksikan Junho berdiri di sana dengan sepucuk pistol di tangan ...
Tak ayal lagi dua buah timah panas langsung melesat ke arah Junho yang baru saja hendak mengarahkan moncong pistolnya ke arah mereka berdua.
Seketika tubuh Junho pun ambruk di samping Hugo, meregang nyawa sejenak sebelum kemudian diam tak bergerak.
Dua butir peluru menembus tengkorak kepalanya, hingga otaknya terburai tak karuan ... berceceran di aspal yang dingin dan bercampur rembesan darah segar.
"Tinggalkan tempat ini secepatnya." titah Arnold panik ke arah Gery yang berada di belakang kemudi.
Arnold mengucapkan hal tersebut bukan tanpa alasan.
Begitu Arnold melihat lampu-lampu yang sontak menyala dari beberapa rumah penduduk yang ada di sekitar, Arnold pun menyadari bahwa empat kali suara letusan pistol pastinya telah mengusik tidur nyenyak warga sekitar, dan itu artinya mereka bakal di pergoki jika tidak segera melarikan diri.
"Arnold, lalu bagaimana dengan Hugo ...?" Gery sempat bertanya saat menyaksikan Arnold menutup pintu mobil dengan tergesa.
"Jangan pikirkan Hugo. Dia telah mati ... dan kita tidak punya waktu untuk mengevakuasi ..."
"Gery, kita juga akan segera menyusul Hugo ke alam baka jika kita dihakimi warga. Belum juga jika harus berurusan dengan Polisi."
"Aku mengerti, tapi Hugo ..."
"Jangan membantah lagi, jika kau tidak ingin kita berdua menemui kesulitan yang lebih besar, bahkan bisa mati konyol ...!"
Mendengar hal mengerikan itu tanpa berpikir dua kali Gery pun langsung menginjak pedal gas kuat-kuat, sehingga mobil alphard yang ia kemudikan melesat cepat kesetanan, tanpa sempat membereskan mayat Hugo terlebih dahulu.
"Tuan, mohon maafkanlah kami. Kejadiannya sangat cepat dan diluar perkiraan. Jika kami bersikeras membawa Hugo, kami khawatir keselamatan kami adalah taruhannya ..."
Arnold baru saja selesai menjelaskan duduk perkaranya secara singkat dan padat kepada sang bos besar, tentang alasan kuat yang mendasari keputusannya saat memilih segera kabur sehingga meninggalkan mayat Hugo di tempat kejadian perkara.
"Owh ... begitukah? Jadi kalian lebih memilih bertindak ceroboh seperti itu karena sangat mengkhawatirkan keselamatan diri kalian sendiri?! Kalian begitu takut mati ... tapi kalian bahkan tidak takut saat mengacaukan semua rencanaku ...?!"
__ADS_1
Lagi-lagi Arnold dan Gery terhenyak dibuatnya.
"B-bukan seperti itu, Tuan ..." kali ini Gery yang berucap dengan nada suaranya yang bergetar nyata, menandakan kegugupan yang begitu kentara.
"Bodoh ..." sebuah umpatan dari suara bariton yang berasal dari seberang sana terdengar begitu dalam, penuh geram.
"A-ampunilah kami, Tuan ... maafkanlah kebodohan kami ..." Arnold menghiba dengan sungguh-sungguh.
"Iya, Tuan, maafkanlah kami ... ampuni kami ..." pungkas Gery menambahkan. Terdengar tak kalah bersungguh-sungguh meskipun pria itu mengucapkan permohonannya dalam keadaan menyetir mobil dengan kecepatan yang masih di atas rata-rata.
Menanggapi dua permintaan sekaligus dari Arnold dan Gery, di seberang sana, sebuah helaan napas berat itupun pada akhirnya terdengar berhembus kasar.
"Huhhfh, baiklah, kalian akan aku ampuni, tapi sebelum itu ada satu hal yang harus kalian lakukan untukku ..."
"Terima kasih, Tuan ..."
"Terima kasih, Tuan ..."
Ungkapan suka-cita meluncur berbarengan dari mulut Arnold dan Gery, dan dari wajah keduanya pun terpancar kelegaan.
"Kali ini ... aku tidak mau mendengar ada yang lengah ..."
"Kami mengerti, Tuan ..."
"Tuan, percayalah ... kami pasti akan melakukan yang terbaik .."
Lagi-lagi Arnold dan Gery berucap penuh kepercayaan diri, sementara di dalam lubuk hati keduanya tak henti bersyukur karena telah di ampuni.
"Kalau begitu, aku mau kalian berdua kembali memantau apa yang sedang terjadi ..."
Untuk sesaat suara bariton itu terdiam sejenak, sebelum kemudian ia kembali berucap ...
__ADS_1
"Karena entah kenapa saat ini firasatku mengatakan ... bahwa Nona Mafia masih berada disana ... di sekitar tempat kejadian perkara ..."