
Demi Tuhan, sesungguhnya Alga telah terkejut setengah mati dengan keberadaan Jun yang memergoki keberadaannya di pantry.
'Berpikir Alga ... berpikir ...!'
Benak Alga sontak bekerja keras, memikirkan alasan tepat apa yang harus ia kemukakan secepatnya, agar bisa menepis kecurigaan Jun yang kelihatannya juga tak kalah terkejut, mendapati keberadaan Alga di tempat yang tak seharusnya ia berada.
'Sudah jelas-jelas, sejak tadi wanita ini bersama dokter itu. Lalu bagaimana bisa secara tiba-tiba berada di pantry ...?'
'Apa yang membuatnya berada di tempat ini ...?'
'Apakah itu berarti dia telah mencurigai jika ada sesuatu yang tidak beres ...?'
Benak Junho diluputi begitu banyak tanda tanya.
"Air."
Satu kata yang meluncur dari bibir Alga membuat kedua alis Junho bertaut samar.
"Air ...?" ulang pria itu, seolah ingin memastikan pendengarannya sendiri.
"I-iya ... aku ... aku membutuhkan segelas air. Bisakah kau menunjukkan kepaku dimana aku bisa mendapatkan segelas air ...?"
Saat berucap demikian kepala Alga telah celingak-celinguk kesana-kemari, berpura-pura sedang mencari sesuatu.
"Jadi Nona membutuhkan segelas air ...?" tanya Jun seolah ingin lebih menegaskan keinginan Alga.
"Hhmm, iya, segelas air." pungkas Alga cepat.
Junho nampak termanggu sejenak ditempatnya, seolah sedang memikirkan sesuatu. Sorot matanya terus melekat pada sosok Alga.
"Aku berpikir bahwa kakek tua yang terkena stroke itu ... pasti membutuhkan segelas air, bukan?"
Jun masih betah berdiam diri ditempatnya, tatapan matanya yang segaris terlihat mengarah penuh kearah Alga yang diam-diam sedang berusaha keras mengendalikan dirinya sekuat tenaga agar tetap terlihat tenang.
"Kau benar, Nona ..." desis Jun pada akhirnya, setelah sekian detik ia hanya berdiri bungkam sembari mengawasi Alga dengan seksama.
"Apa??"
"Iya, Nona, kau benar. Baru saja Tuan dokter telah memerintahkan aku untuk mengambilkan segelas air, juga sebuah sendok ..."
"Sudah kuduga." desis Alga bersemangat, seolah memperoleh secercah cahaya. "Kalau begitu tunjukkan padaku dimana letak dispensernya ...?" ujar Alga sambil bergerak gesit kearah rak stainles yang ada didekat tempat cuci piring, dan mengambil sebuah gelas juga sebuah sendok sekaligus dari sana, masih tetap dengan bahasa tubuh yang dibuat se-wajar mungkin.
"Di sana ..." telunjuk Junho mengarah kearah yang dimaksud.
Alga mengayunkan langkahnya ke arah telunjuk Junho, dimana sebuah dispenser modern berdiri kokoh di sudut ruangan, yang bersebelahan persis dengan sebuah kulkas dua pintu.
"Biar aku saja yang akan mengantarkan semua ini ke depan ..." Alga berucap ke arah Jun, begitu ia selesai mengisi penuh air dari dispenser ke dalam gelas.
__ADS_1
Tanpa banyak protes Junho pun mengangguk. "Silahkan, Nona ..." ujar pria itu masih dengan intonasi suara yang datar.
Pada akhirnya Junho tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menyaksikan punggung Alga yang menghilang di balik tembok pantry tersebut dengan segelas air di tangan, serta sebuah sendok di tangan yang lain.
"Apakah Nona Mafia mulai menaruh curiga kepadaku ...?"
Tanpa sadar Junho berucap perlahan, seolah sedang bertanya pada dirinya sendiri.
Junho merasa kecurigaannya akan hal tersebut semakin menguat, karena kalau dipikir-pikir, dalam dua hari belakangan Alga juga begitu intens terlihat, kesannya seolah sedang berusaha mengawasi sesuatu secara diam-diam.
Ditambah dengan kehadiran Alga barusan semakin menguatkan keyakinan Junho akan hal tersebut, sehingga Junho merasa kedepannya dirinya harus lebih berhati-hati, dan tentu saja harus bergerak cepat.
Junho tidak ingin mengecewakan Tuan Juan Allesandro, Junho juga tidak ingin reputasinya sebagai seorang mata-mata sekaligus pembunuh bayaran berdarah dingin menjadi tercoreng karena hal yang sama.
Sebelum memutuskan untuk menerima pekerjaan untuk menjebak Alga, Junho sudah terlebih dahulu mengumpulkan semua informasi tentang siapa gerangan seorang Alga Rudolp.
Hasil informasi yang berhasil didapatkan Junho dalam waktu singkat, terus berkutat seputar keberanian wanita yang dijuluki Nona Mafia itu.
Bahkan menurut Tuan Juan Allesandro, Alga Rudolp terkenal nekad, licik dan lihai.
Tapi setelah empat hari mengintai dari jarak yang cukup dekat, Junho malah sama sekali tidak menemukan hal-hal yang janggal, justru sebaliknya.
Junho malah mendapatkan fakta, bahwa sesungguhnya Nona Mafia yang memiliki nama asli Alga Rudolp itu justru terlihat cukup manis ... meskipun terkesan sedikit misterius ...
🔳🔳🔳🔳🔳
Keadaan sang kakek yang di menit-menit awal telah berhasil membuat panik semua orang, juga berangsur-angsur membaik.
Wajah kakek tua itu bahkan sudah mulai memerah, tidak lagi se-pucat kain kafan, saat petugas kesehatan memindahkannya kedalam mobil ambulans dengan sangat berhati-hati.
"Terima kasih atas bantuannya, dok ..." seorang petugas kesehatan tengah menghaturkan rasa terima kasihnya untuk Tara, saat ia hendak berpamitan dengan membawa sang pasien.
"Sudah menjadi kewajibanku ..." ungkap dokter Tara ringan, dengan raut wajahnya yang tulus.
"Dokter, terima kasih ... aku tidak bisa membalas kebaikanmu, tapi aku akan berdoa agar Tuhan selalu melindungimu ..."
Gadis belia yang merupakan cucu kakek tua itu terlihat menatap Tara penuh ungkapan rasa terima kasih tak terhingga.
Tara adalah orang yang telah menyelamatkan kakeknya, dari serangan stroke dan melakukan pertolongan pertama sebelum ambulans tiba.
Seandainya saat itu Tara tidak berada disana, ia tidak tahu lagi bagaimana nasib kakeknya kini.
"Terima kasih atas doamu, Nona. Semua doamu sudah lebih dari cukup bahkan sangat istimewa untukku ..."
Dengan berat hati gadis itu melepaskan genggamannya ke tangan Tara, sang malaikat yang telah menyelamatkan nyawa kakeknya, karena petugas kesehatan hendak menutup pintu mobil ambulans.
Mobil ambulans itu pun perlahan bergerak meninggalkan penginapan, yang masih menyisakan sedikit kerumunan dari orang-orang yang belum beranjak.
__ADS_1
Tara membalikkan tubuhnya
Seorang wanita yang berdiri sendirian di dekat tiang lampu jalan, telah menarik perhatian Tara untuk mendekatinya.
"Masih ingin makan bakso ...?"
Alga sedikit terkejut mendapati bisikan di telinga kirinya.
Saat Alga menengok, seraut wajah tampan milik Tara sedang tersenyum manis kearahnya, membuat jantung Alga berdebar dalam sekejap.
"Hey ... ditanya malah melamun ..."
Kibasan tangan Tara didepan hidung Alga menerbangkan semua lamunan Alga yang sempat terpesona tak tahu tempat.
'Astaga ... aku ini kenapa sih ...?'
'Malah bengong dihadapannya ...!'
Rutuk Alga, membathin frustasi.
"Cihh ... memangnya siapa yang melamun ...?"
"Kau ..."
"Aku tidak melamun!"
"Ya, sudah lupakan ..." putus Tara dengan entengnya sambil mengamit bahu Alga, memaksa wanita itu untuk berjalan mengikuti langkahnya.
Alga yang merasa risih sontak mengelak dari sentuhan Tara tersebut.
"Jangan menyentuhku."
Tara mencibir mendengar kalimat datar dengan nada protes tersebut. "Baiklah, Nona, aku tidak akan menyentuhmu, tapi tolong cepatlah sedikit, karena aku sudah sangat lapar ..."
"Memangnya kau saja yang merasa lapar ...? Aku juga lapar!" lagi-lagi menyentak galak ke arah Tara, namun kali ini Tara tidak berusaha mendebatnya.
Tara membiarkan Alga berjalan mendahuluinya dengan langkah pongah, sementara langkahnya ikut terayun tepat dibelakang.
Dalam diam Tara terus tersenyum dalam hati. Anehnya, Tara bahkan tidak tahu apakah yang membuatnya tersenyum ...
Bahagia ...
Serta merasa senang tanpa alasan ...
...
Bersambung ...
__ADS_1