
Pertemuan singkat namun terkesan sangat resmi itu telah selesai.
Bertempat disebuah ruangan khusus yang tidak terlalu besar, hanya ada belasan orang yang hadir di sana, seolah menandakan bagaimana private-nya acara yang baru saja selesai.
Acara yang terkesan bak sebuah upacara singkat itu dihadiri langsung oleh Menteri Pertahanan dan Keamanan, serta beberapa orang pembesar berpangkat tinggi dari Badan Intelejen Negara.
Alga Rudolp merupakan satu-satunya warga sipil yang hadir, yang bahkan upacara resmi tersebut sesungguhnya diperuntukkan untuknya.
Kini, bukan hanya sebuah lencana berlapis emas dua puluh empat karat, yang tersemat di dada kiri Alga, yang menjadi bukti otentik bahwa betapa tingginya penghargaan yang Alga terima sebagai pengakuan, atas sumbangsih besar yang telah ia berikan kepada negara ... tapi lebih dari itu!
Alga telah menerima hadiah amnesti istimewa berupa jaminan kebebasan untuk tindakan apapun yang pernah ia lakukan di masa lalu, begitupun dengan jaminan keselamatannya di masa depan jika itu benar-benar dinilai sebagai wujud dari pembelaan diri, sekalipun akan berkaitan erat dengan hilangnya nyawa musuh di tangannya, dan Alga juga telah menerima begitu banyak hadiah istimewa berupa materi.
"Terima kasih atas kerjasamanya, Nona Alga Rudolp ..." Menteri Pertahanan dan Keamanan nampak menjabat erat tangan Alga untuk yang terakhir kali sebelum mereka semua berniat beranjak dari sana.
"Sama-sama, Pak Menteri." Alga mengangguk takjim.
"Nona Alga, terima kasih ..." kali ini Sang Jenderal berbadan tegap dengan begitu banyak simbol gelar, pangkat dan penghargaan yang tergantung dipermukaan seragam yang ia kenakan, menjabat tangan Alga dengan hangat.
"Sama-sama, Jenderal." lagi-lagi Alga mengangguk takjim.
"Kim, kembalilah bersama Nona Alga, sebelum kau dan Mike mendapatkan surat perintah penarikan dalam waktu dekat." titah sang Jenderal kepada Kim, yang ikut hadir mendampingi Alga siang itu dengan berpakaian seragam lengkap.
"Siap, Jenderal!"
Kim menghaturkan hormatnya, kemudian berbalik dengan langkah tegap, menatap Alga penuh.
"Mari Nona ..." ucap Kim dengan begitu berkharisma, saat mempersilahkan Alga berjalan mendahului dirinya.
__ADS_1
Alga pun menganggukkan kepala dan ia keluar dari ruangan tersebut, diikuti Kim dari belakang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kalau kau berseragam seperti ini, kau terlihat sangat gagah, Kim."
Alga telah membuka obrolan untuk yang pertama kalinya dengan pria berwajah Asia itu, sesaat setelah mereka meninggalkan parkiran Kantor Pusat Badan Intelejen Negara.
Kim yang berada dibelakang kemudi hanya tersenyum tipis.
"Harus kuakui, Nona, bahwa aku bahkan merasa sedikit canggung saat kembali mengenakan seragam ini." ungkap Kim jujur.
Alga tertawa kecil mendengar kejujuran Kim.
Rasanya wajar saja jika Kim merasakan hal demikian, setelah ia menjalani misi yang cukup panjang bersama Alga dan klan Rudolp.
"Tak terasa ... Waktu begitu cepat berlalu ..." lirih suara Alga, sambil pandangannya mengembara kelangit cerah berwarna biru muda, yang ia tatap lewat bingkai jendela mobil.
Yah ... Sepuluh tahun memang bukanlah waktu yang singkat, saat untuk yang pertama kalinya Alga mengenal Kim.
Lengkapnya, Sersan Dua Leonard Kim, yang kala itu dipercayakan oleh negara dalam rangka mengemban misi khusus yang sangat rahasia.
Kim diharuskan menyusup pada sebuah klan mafia, guna membantu sang ketua klan yang juga telah bersedia bekerjasama dengan Pemerintah, dalam rangka mengungkap berbagai praktek illegal dunia mafia yang kerap merugikan negara, serta mengancam stabilitas keamanan negara.
Sepuluh tahun yang lalu, Alga Rudolp sang Nona Mafia masih berusia tujuh belas tahun. Atas dasar usianya yang terbilang masih cukup belia itu pula Pemerintah memutuskan untuk mengirimkan Kim, yang diharapkan bisa melindungi sekaligus mengarahkan Alga dalam berbagai situasi berbahaya apapun, yang kelak akan ia hadapi.
Kim mengemban tugasnya dengan sangat baik, berkedok sebagai tangan kanan seorang Alga Rudolp yang setia mendampingi di manapun Alga berada, usai dirinya terpilih dalam test khusus perekrutan anggota klan.
__ADS_1
Satu alasan yang membuat Alga diam-diam membelot dari seorang mafia sejati tanpa sepengetahuan siapapun termasuk Paman Albert, adalah tak lain dan tak bukan karena semata-mata Alga telah menemui sebuah kenyataan yang mencengangkan tentang mendiang kedua orang tuanya.
Bahwa ternyata Fernando Rudolp dan Jesica Rudolp, diam-diam juga merupakan mata-mata Pemerintah, semua itu pada awalnya cukup sulit diterima oleh Alga.
Namun setelah semua bukti otentik yang mengarah pada kenyataan tersebut telah dibeberkan oleh Badan Intelejen Negara, mau tak mau Alga pun harus percaya.
Pada akhirnya Alga harus menerima kenyataan tersebut, bahwa Fernando Rudolp dan Jesica Rudolp, memang merupakan bagian penting dari asal-muasal sumber informasi akurat dalam kegiatan dunia mafia, yang didapatkan oleh Pemerintah pada waktu itu.
Dua tahun berselang saat Kim berhasil mengukuhkan dirinya, dengan mendapatkan kepercayaan semua orang bahwa dirinya memang sosok yang tepat untuk mendampingi Alga, Badan Intelejen Negara telah memutuskan untuk kembali menambahkan lagi seorang personil handal, yang bertugas untuk membantu Alga dan Kim, dalam upaya membongkar berbagai intrik, konflik, dan segala bentuk persekongkolan dunia hitam yang semakin hari semakin pelik dan beragam.
Dia adalah Michael Lewis, salah seorang anggota terbaik dari intelejen berpangkat Kopral Kepala, yang kemudian dalam kesehariannya sering di sapa Mike.
"Nona, apakah aku harus mengantarmu kembali ke Rumah Sakit Medika Yudhistira?" pertanyaan Kim telah menerbangkan segala lamunan Alga, atas perjalanan panjang dari misi yang ia emban bersama Kim dan Mike.
Misi mereka telah selesai, pasca kematian tragis Juan Allesandro, yang kemudian diiringi oleh operasi 'pembersihan' dari akar-akar mafia yang ada secara besar-besaran.
Hanya dalam kurun waktu dua minggu, negara telah bersih dari seluruh oknum yang terlibat dalam dunia hitam.
Bersih dalam artian ada yang lari tunggang-langgang keluar negeri yang bisa dipastikan mereka tidak mungkin kembali dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan, dan ada pula yang telah membuat pernyataan khusus sebagai jaminan bahwa mereka akan berhenti melakukan berbagai transaksi illegal, serta tunduk pada aturan Pemerintah dan kedaulatan Negara.
"Iya, Kim, tentu saja. Tolong antarkan aku kembali ke sana." pungkas Alga cepat.
"Baik, Nona ..."
Seperti biasa, kali ini Kim pun mengangguk patuh ...
...
__ADS_1
NEXT ...
🧕: Novel ini telah mendekati akhir. Jangan lupa di support dulu sebelum di Next yah 🤗