
Semua rencana telah tersusun dengan rapi, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk membuat Jun lengah, agar Tara dan Alga bisa menyelinap keluar dan meninggalkan penginapan malam ini juga.
"Dokter Tara, kau sudah mengurus mobilnya kan?" tanya Alga memastikan, ia duduk di sebelah Tara yang sedang merokok sambil menatap jalanan yang semakin lenggang.
"Kau tenang saja, mobilnya telah berada dibelakang penginapan, tepat di sebelah gudang ... aku bisa memastikan bahwa kau akan menemukannya dengan mudah ..."
Alga mengangguk menanggapi penjelasan Tara.
Tara memang telah mengurus semuanya dengan sangat rapi. Kemarin ia sengaja menyelinap keluar hanya demi memindahkan mobil fortuner milik Tuan Samuel Alfonso ke parkiran belakang dari penginapan, setelah beberapa hari mobil tersebut disembunyikan pada halaman sebuah gedung kosong, yang berada sekitar dua ratus meter jauhnya dari penginapan.
Mobil fortuner milik Tuan Samuel Alfonso memang merupakan satu-satunya kendaraan yang bisa Tara dan Alga gunakan dalam upaya pelarian mereka kali ini, karena sebelumnya Alga telah meninggalkan mobil jeep miliknya itu di area parkiran sebuah pusat perbelanjaan, sebelum akhirnya memutuskan untuk bersembunyi di penginapan ini selama berhari-hari lamanya.
Alga berencana jika semua pertikaian ini selesai, barulah dia bisa mengambil kembali mobil kesayangannya, meskipun dengan berat hati, di sisi lain Alga sadar bahwa keberadaan mobil jeep-nya terlanjur dikenali oleh Juan Allesandro dan anak buahnya.
Terlalu beresiko jika dia harus mempertahankan mobil tersebut disaat Juan Allesandro sedang memburunya begitu rupa.
Tara melirik arlojinya sekilas, yang menunjukkan pukul sebelas malam pas.
"Sepertinya sekarang waktu yang tepat." desis Tara sambil menyundut sisa rokoknya yang masih tersisa separuh.
Alga yang melihat Tara bangkit dari duduknya pun ikut bangkit dari duduknya yang baru sebentar. Namun saat Tara menatapnya lekat, Alga menjadi sedikit gugup.
"D-dokter Tara, A-ada apa ...? Kenapa menatapku seperti itu ...?" tanya Alga mendapati sepasang mata elang milik Tara yang seolah menusuk hingga ke jantung.
"Nona Alga, aku hanya sedang memastikan untuk yang terakhir kali, bahwa aku bisa mempercayaimu." tutur Tara dengan nada suara yang dalam.
Alga terperangah mendengarnya, tak menyangka jika Tara bisa berucap se-pesimis itu dalam menilainya.
"K-kenapa kau bertanya begitu? Jadi kau meragukan aku ...?" jawabnya sedikit gelagapan.
"Bukan seperti itu."
"Tapi pernyataanmu barusan ..."
"Justru karena aku mempercayaimu, maka aku tidak ingin dikecewakan ..." imbuh Tara.
Sejujurnya Tara berkata yang sesungguhnya.
Dari dalam lubuk hatinya yang terdalam, Tara tahu Alga bukanlah seorang pengkhianat, malah sebaliknya wanita itu sangat setia kawan. Namun Tara juga tahu, bahwa sifat kesetiakawanan yang tinggi dari Alga, sejatinya hanya berlaku untuk orang yang mendapat kepercayaannya saja.
__ADS_1
Tara tidak tahu apakah Alga bisa menaruh kepercayaannya setara dengan wanita itu mempercayai Pamannya, atau sebesar kepercayaannya untuk Kim dan Mike.
Sejak awal Tara tidak pernah memiliki niat buruk. Tara justru tidak mengerti, mengapa dirinya bersedia terlibat hingga sejauh ini bersama Alga.
Namun apapun itu, toh pada kenyataannya, ketulusannya untuk Alga selama ini satu pun tidak pernah dianggap, yang ada malah selalu di ragukan.
"Aku masih berharap bahwa Jun bukan merupakan satu dari sekian banyak kaki-tangan Juan Allesandro sesuai prediksimu. Karena jika keyakinanmu terbukti benar, maka semuanya akan semakin sulit untukku ..."
"Dokter Tara, apakah saat ini kau merasa takut ...?" tanya Alga dengan wajahnya yang datar.
Tara nyaris tidak bisa berkedip saat mengawasi setiap inchi wajah Alga yang juga menatapnya. "Bukankah kematian merupakan hal yang menakutkan untuk semua orang?"
"Buatku tidak."
Jawaban Alga tak terdengar ragu sedikit pun, tapi tetap saja membuat Tara merasa tidak nyaman.
"Benarkah ...?"
Alga tersenyum kecut. "Hidup dan mati apa bedanya ...?"
"Aku tidak tahu apakah ada bedanya. Tapi satu hal yang pasti, aku adalah seseorang yang menghargai kehidupan, dan karena itulah aku selalu berusaha mempertahankan sebuah nyawa."
"Bukan hanya itu. Tapi karena aku selalu menganggap jika nyawa seseorang sangatlah berharga, begitu pun dengan nyawaku. So, jikalau aku memang harus meregang nyawa, aku harap itu adalah bagian dari takdirku yang telah digariskan ... bukan karena aku telah di tipu dan di khianati oleh orang yang telah aku percaya ..."
Alga membuang wajahnya. Ia paham betul apa makna dibalik semua ucapan Tara yang begitu panjang.
Saat ini Tara sedang menunjukkan dengan jelas, betapa pria sempurna itu meragukan dirinya.
Alga merasa sangat tersinggung. Secara tidak langsung di curigai oleh seseorang, yang sejujurnya sedang berusaha mati-matian ia percayai.
Sekalipun terasa wajar jika Tara meragu, karena sejak awal Alga sendiri bukanlah sosok yang mudah mempercayai seseorang, dan karena itu juga Alga selalu menolak mengakui ketulusan Tara, kendati tak terhitung sudah seberapa banyak pria itu mengulurkan pertolongan untuknya.
"Jadi intinya, kau sedang berpikir bahwa aku sedang merencanakan sesuatu yang lain untuk menyelamatkan diriku sendiri tanpa melibatkan dirimu didalamnya. Begitukah maksudmu, Tuan dokter?"
Tara tersenyum kecut. "Aku justru tidak mau berpikir seperti itu. Aku bahkan kerap membuang pemikiran seperti itu ... setiap kali menghantui otakku sejak semua dokumen yang di siapkan Kim berada di tanganmu ..."
Alga terlihat tertawa pahit. "Tidak mau berpikir seperi itu ... tapi kau bisa mengatakannya dengan begitu gamblang ..." cemooh Alga, berusaha menyembunyikan rasa sakit yang tiba-tiba menghantam ulu hatinya tanpa sebab.
"Itu karena aku memang harus mengatakannya."
__ADS_1
"Bukankah semua itu terdengar sama artinya ...?"
"Tentu saja berbeda."
"Dalam pengertianku sama saja ..."
Tara nekad menahan dua bahu Alga sekaligus, yang awalnya ingin segera menghindar dari hadapannya.
"Dengarkan aku baik-baik, Nona Alga ..." ujar Tara tegas, seraya kembali menghujamkan tatapan yang lekat di masing-masing manik mata Alga yang berwarna cokelat tua.
"Kali ini nyawaku benar-benar berada di tanganmu. Jika kau berniat mengkhianatiku sedikit saja, maka hidupku selesai ..."
"Perlukah kau mengatakan semua itu?!" Alga menepis kasar dua tangan lebar Tara yang bertengger diatas kedua bahunya hanya dengan sekali hentakan, dari wajahnya jelas terlihat bahwa saat ini ia benar-benar sangat kesal.
Menyadari rendahnya tingkat kepercayaan Tara untuknya sungguh membuat Alga ingin meledak marah. Saking marahnya, rasanya Alga ingin memukul pria itu.
"Tentu saja harus aku katakan. Apakah kau lupa bahwa selama ini aku telah berkali-kali mempertaruhkan nyawaku ... namun seolah tak ada artinya di matamu ..."
"Jadi persoalannya hanya karena aku belum pernah bertaruh nyawa untukmu, untuk itulah aku tidak layak dipercaya?!"
Untuk beberapa saat Tara malah tertawa kecil menanggapi kemarahan Alga yang giginya telah bergemeretak menahan geram.
Tara menyisakan sebuah senyum miris di akhir tawanya.
"Aku tidak butuh pembuktian seperti itu." lirihnya, kembali menyapu setiap inchi wajah manis milik Alga yang memerah. "Asalkan kau tidak berusaha melakukan hal di luar rencana kita ..."
Tatapan Alga terarah sinis untuk Tara.
"Dasar manusia aneh. Untuk apa berkorban begitu banyak, sementara di lain pihak kau tidak pernah berusaha memahami diriku."
Tara tercenung menerima kalimat tersebut.
Detik berikutnya Alga telah beranjak dari hadapan Tara guna meraih tas punggung miliknya.
Wanita itu seolah telah enggan berkata apa-apa ...
...
Bersambung ...
__ADS_1