NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN

NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN
BENANG KUSUT


__ADS_3

Sementara itu ...


Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan nasib Alga yang katakanlah super apes, karena selalu dipenuhi kekurangan dan persoalan ...


Pagi ini, Tara justru sedang menghabiskan waktunya di salah satu bar and lounge mewah sebuah hotel bintang lima terkenal di kota yang sama, sambil menyesap secangkir Americano.


Sesungguhnya Tara bukanlah perokok aktif, tapi kali ini ia sengaja mengambil tempat duduk outdoor guna menikmati sebungkus rokok yang sengaja ia beli semalam disebuah minimarket, sebelum ia melakukan check in di Luxury Red Hotel.


Sebungkus rokok untuk menemani malamnya yang suntuk akibat merenungi hubungan percintaannya dengan Lucia yang kandas akibat skenario Alga, sisanya ia hirup pagi ini, di waktu santainya yang berkelas.


Meskipun masih merasa sedikit patah hati, tapi Tara enggan bermuram diri lebih lama.


Mencoba move on, karena meskipun Alga berada dibalik hancurnya hubungan Tara dengan Lucia, bukan berarti Tara bisa menerima pengkhianatan Lucia.


Tidak.


Memangnya wanita hanya Lucia seorang?


Kendatipun Tara adalah tipe pria yang setia, tapi jika dikhianati seperti itu, maka pantang baginya untuk tidak berpaling!


'Sungguh rugi jika aku terus memikirkan Lucia, apalagi terlibat dengan Alga, wanita mafia dengan wajahnya yang tak pernah tersenyum itu ...!'


'Huhhffh ... sebaiknya aku bersenang-senang menikmati kebebasanku. Anggap saja aku sedang liburan karena aku memang butuh healing ...'


Batin Tara tak mau lagi ambil pusing atas semua hal yang terjadi pada dirinya dalam waktu singkat ... silih berganti ...!


Menikmati hidup dan bersenang-senang menghibur hati ... itu tujuan Tara sekarang.


Kini, baju Tara telah berganti necis, setelan kaos polo berwarna putih bersih, celana angkle berwarna kelabu, dan tak ketinggalan sepatu keds putih juga dengan warna kombinasi kelabu.

__ADS_1


Kacamata dengan jenis frame wayfarer yang kacanya tidak terlalu gelap terlihat sangat sempurna di wajah oval Tara, dan Tara juga mengenakan topi model trucker cap berwarna hitam.


Saat pertama kali menyesap Americano miliknya, Tara telah menarik masker hitamnya kebawah dagu, tanpa melepas kaitan di kedua telinganya.


Stylish and fashionable. Tapi terkesan misterius.


Khas penampilan seorang dokter Tara Yudhistira seperti biasanya, meskipun sejujurnya ia berpenampilan demikian dengan maksud menyamarkan wajah tampannya yang masih berhiaskan lebam yang cukup kentara, akibat penganiayaan yang ia terima.


Rencana awal Tara pagi ini usai sarapan adalah membeli sebuah ponsel baru, menggantikan ponselnya yang telah disita oleh baji ngan Alfredo dan anak buahnya.


Di dunia yang super modern ini hidup tanpa ponsel ibarat hidup tanpa makan, karena semua perputaran informasi dari seluruh penjuru dunia bisa di akses oleh benda pintar tersebut.


Itulah sebabnya Tara pun ingin secepatnya kembali memiliki ponsel.


"Tuan Sam, kau yakin tidak berbohong?"


Tapi mendadak punggung Tara menjadi kaku saat mendengar dengan jelas, nama yang disebutkan oleh seorang pria yang disapa dengan nama 'Tuan Sam'.


"Untuk apa aku berbohong, Rob? Aku benar-benar tidak bertemu dengan Nona Alga ..."


'Apa katanya tadi ...? Nona Alga ...? Rob ...?'


Perlahan Tara bisa merasakan bulu kuduknya meremang.


"Dengar baik-baik Tuan Sam, kalau kau mencoba berbohong dengan menyembunyikan Nona Alga di dalam hotelmu ini ... maka Tuan Allesandro tidak akan mengampunimu!!"


Pria yang sepertinya bernama Rob itu terdengar berucap dengan nada yang jelas mengancam.


'Tuan Allesandro ...?'

__ADS_1


'Astaga ... tak salah lagi, pasti yang dimaksud oleh pria bernama Rob itu adalah Juan Allesandro ...!'


Bathin Tara berkecamuk. Namun dengan ketenangan luar biasa Tara tetap berusaha duduk dengan rileks, seolah tak terpengaruh dengan pembicaraan yang masing-masing terucap dengan nada lirih itu.


Beruntung Tara telah berpenampilan sempurna seperti saat ini, sehingga Rob dan beberapa anak buahnya tidak bisa mengenali Tara sama sekali.


Saat Tara memutar kepalanya sedikit pandangan Tara tertuju pada salah satu dinding yang berlapis cermin.


Dari sanalah Tara benar-benar bisa mengamati setiap wajah yang ada disana dan apa saja yang sedang terjadi di balik punggungnya.


Pria yang disapa Tuan Sam itu terlihat berpakaian resmi dengan balutan jas berwarna coklat tua, sementara Rob dan empat orang anak buahnya duduk tepat di hadapan Tuan Sam dengan raut wajah pongah, jelas sekali tindak-tanduk mengintimidasi dari bahasa tubuh mereka.


"Dasar preman tengik ..."


Tara mendesis kesal menyaksikan sikap semena-mena para bawahan pria yang bernama Juan Allesandro.


"Kalau anak buahnya saja sudah se-songong itu ... apalagi Juan Allesandro ...?"


Lagi-lagi Tara mendesis, seraya menahan emosi yang telah sampai di ubun-ubun.


Walaupun sampai detik ini Tara masih belum juga menemukan benang merah yang dapat menghubungkan setiap peristiwa demi peristiwa yang menyangkut Alga ...


Sang Nona Mafia ...


Yang sepertinya begitu pelik bak setiap helai benang kusut, yang telah saling lilit satu sama lain ...


...


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2