NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN

NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN
MENGGODA ALGA


__ADS_3

"Kenapa tidak berbaring saja?"


Pertanyaan itu terucap dengan sangat tenang, diucapkan Tara dengan sepasang mata yang setia terpejam. Sementara Alga tak bergeming se-inchi pun dari duduknya, hanya menatap tubuh Tara yang terlentang diatas ranjang.


Alga pasti tidak tahu bahwa meskipun terlihat acuh tak acuh jauh di kedalaman lubuk hati Tara, pria itu sedang terpingkal-pingkal dengan hebatnya.


Tara bahkan berani bertaruh bahwa meskipun aura Alga selalu terlihat galak bak harimau betina yang seolah bisa mencabik tubuhnya tanpa ampun, namun sesungguhnya wanita itu justru sedang ketakutan.


Yah, tentu saja.


Wanita seperti Alga, boleh jadi di seumur hidupnya telah hidup dan dibesarkan ditengah lingkungan pria yang keras, tapi semua itu tidak serta-merta membuat Alga menjadi wanita dewasa pada umumnya, yang mengenal sosok lelaki dalam sebuah relation yang sesungguhnya.


Saat ini, Tara memang sedang mengerjai Alga, karena Tara tahu persis.


Tara adalah lelaki yang asing bagi Alga. Tidak seperti Kim dan Mike, yang sudah terbiasa hidup dengan wanita itu setiap saat bak seorang kakak.


Tara tidak bisa dibohongi, bahwa untuk hal yang satu ini, sudah pasti dirinya jauh lebih pro dari seorang Alga yang naif. Karena dari beberapa interaksi yang selama ini terjadi secara tak sengaja diantara Tara dan Alga, membuat Tara juga menyadari, bahwa sebuah keintiman ... ternyata merupakan satu-satunya hal yang selalu membuat wanita itu salah tingkah brutal!


Gigi Alga bergemeretak menahan amarah, menyaksikan ulah santai Tara yang nekad melakukan kudeta atas ranjang reyot miliknya.


"Kenapa diam?"


Alga melotot mendengar pertanyaan ringan tanpa dosa itu.


"Jangan katakan kalau kau merasa takut atas keberadaanku diatas ranjangmu ..."


"Untuk apa aku takut dengan keberadaanmu?!" tukas Alga secepat peluru.


Lagi-lagi senyum smirk tersungging dibibir Tara, yang matanya masih rapat terpejam. "Jadi kau tidak takut yah ...?"


"Tentu saja ...!!"


"Kalau begitu coba buktikan ..."


"Aaaaa ... apa maksudmu ...?! Bukti apa yang kau maksud ...?!"


Tara sontak membuka matanya, melirik seraut wajah masam milik Alga yang sedang menatapnya dengan tatapan permusuhan yang nyata.


Tara memiringkan tubuh atletisnya, tangannya menopang sisi kepala agar bisa menghadap penuh kearah Alga yang masih duduk di tepi ranjang dengan wajah masam terlipat.


"Kalau begitu buktikan saja jika kau bukan wanita pengecut ..."


"Shut up ..."


"Berbaringlah ..."


"A-apppaa ...?!"


Alga terpekik ditempatnya. Kini mata mereka bersirobok satu sama lain, dan belum ada satu pun yang ingin mengalah meskipun Alga telah merasakan kulit wajahnya mulai menghangat sedikit demi sedikit.

__ADS_1


'Si al ... kenapa dokter ini tampan sekali sih ...?! Akkkkhh ...!!'


Bathin Alga meronta riuh, jari-jemarinya bahkan mulai berkeringat dan sedikit tremor.


Diam-diam Tara yang melihat perubahan air muka begitu pun dengan setiap gestur tubuh Alga yang dipenuhi rasa was-was, menjadi tidak tega jika dirinya mengerjai wanita itu terus-menerus.


"Kalau benar kau tidak takut dengan keberadaanku, maka berbaringlah dengan tenang di areamu, berusahalah tidur dengan nyenyak meskipun aku tahu itu sulit, dan beristirahatlah semaksimal mungkin sebelum permainan kucing-kucingan dengan Juan Allesandro akan kembali dimulai kembali. Kau dan aku tidak akan pernah tahu ... setelah semua ini, entah insiden apa lagi yang akan terjadi ..."


Tara berucap panjang lebar, kali ini dengan raut wajah yang serius, serta tutur kata yang rendah berkesan tulus.


Tara memang telah memutuskan untuk berhenti menggoda Alga, karena merasa iba.


Alga membisu.


Sejujurnya tubuhnya sangat lelah, dan ingin tidur secepatnya seperti yang di sarankan Tara.


Tapi bagaimana bisa dirinya tidur seranjang dengan Tara?


Memikirkan bahwa pria setampan Tara yang nantinya akan berbaring tepat disebelahnya saja, Alga merasa tak sanggup membayangkannya.


'Aduh ... bagaimana ini ...?'


'Apa iya aku harus tidur seranjang dengan dokter Tara ...?'


'Lalu bagaimana kalau aku mendengkur ...?'


'Bagaimana juga kalau aku ngiler ...?'


Bathin Alga bergejolak, seiring dengan berbagai pikiran-pikiran horor yang menyeruak silih berganti didalam benaknya.


Tara yang melihat Alga membeku hingga berjenak-jenak, benar-benar merasa iba dibuatnya.


Pada akhirnya Tara memilih bangun dari posisi rebahannya, dan menurunkan dua kakinya ke lantai yang dingin.


"Berhenti memikirkan apapun, dan pergilah tidur ..." pungkasnya kali ini dengan intonasi suara yang lebih serius.


Alga yang melihat sendiri bahwa Tara hendak beranjak sontak melontarkan tanya.


"Dokter Tara, kau ... mau pergi kemana ...?"


Sebelum benar-benar bangkit berdiri, tangan Tara telah meraih sebuah bantal terlebih dahulu. "Aku akan tidur diatas karpet."


Alga tidak bicara lagi, hanya ekor matanya yang terus mengikuti ayunan langkah Tara yang menjauhi ranjang, menuju ke arah karpet yang terbentang diatas lantai.


Alga tidak menyangka Tara akan menyerah secepat itu. Pria bertubuh tinggi dengan punggungnya yang lebar itu ternyata benar-benar mengalah untuk Alga dan hendak berbaring diatas karpet.


"Aneh ... aku sudah mengalah, tapi kau masih belum mau tidur juga ...?"


Dalam keadaan berbaring, kepala Tara terlihat menengok kearah Alga yang juga sedang mengawasinya dalam diam.

__ADS_1


"Nona Alga, ada apa lagi ..."


"Terima kasih."


'Tumben ... biasanya mana mau dia berterima kasih atas pengorbanan apapun yang aku lakukan untuknya ...?'


Tara sedikit speechless mendapati ungkapan yang terdengar tulus itu, namun tetap saja ia bertanya dengan wajah pura-pura blo'on.


"Untuk apa ...?"


"Untuk semuanya."


Tara menyeringai kecil, hasrat ingin menggoda Alga seperti biasa kembali mencuat begitu saja. "Tidak perlu sungkan." pungkasnya dengan wajah lebih riang.


"Tapi ..."


"Simbiosis Mutualisme. Aku kan memang harus melakukannya, karena saat ini kau boss-nya ..." ucap Tara sambil menggerakkan ujung ibu jari dan telunjuknya, mengisyaratkan kepemilikan 'uang', yang saat ini hanya dikuasai oleh Alga.


"Apa?!"


Alga mendelik menyadari maksud Tara. Tak menyangka jika ketulusan yang Tara perlihatkan barusan ternyata memiliki tujuan lain, tak setulus yang dirinya kira.


'Percuma aku mengucapkan terima kasih ...!'


Alga merenggut dalam hati.


"Ha ... ha ... ha ..."


Tawa renyah Tara terdengar menggema di dalam kamar berukuran kecil itu.


"Ck ... ck ... ck ... Nona Alga ... kau benar-benar tidak bisa diajak bercanda yah ..." ujar Tara yang masih setia dengan senyum usilnya.


"Kau pikir semua itu lucu ...?!" semprot Alga galak.


"Hhemm,"


"K-kau ..."


"Ssssttt ..."


Tara telah memotong kemarahan Alga dengan mengibaskan sebelah tangannya. Ia sama sekali tak berkeinginan meladeni kemarahan Alga yang kembali terpicu, dan untuk itulah meskipun masih menyisakan sedikit tawa, lelaki itu memilih membalikkan tubuhnya menghadap dinding, memunggungi Alga yang masih melotot kesal.


"Dasar lelaki aneh ..." desis Alga lirih mendapati sikap santuy yang ditunjukkan Tara saat ini.


Pada akhirnya Alga memilih membaringkan tubuhnya keatas ranjang dengan tatapan yang mengembara kelangit-langit kamarnya yang rendah.


Terus berusaha memejamkan kedua kelopak matanya, meskipun terasa sangat sulit terpejam ...


...

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2