NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN

NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN
SIGNAL POSITIF


__ADS_3

"Aisshhhh ... pelaaann ..."


Tara meringis begitu cairan antiseptik kembali meresap perih ke dalam kulit.


"Aduhh ... awwhh ... Alga, tolong pelan-pelan ssshh ..."


"Cerewet. Ini juga sudah pelan." sungut Alga keki, sedikit pun tak menggubris permohonan Tara yang terus-menerus mengeluh tanpa henti.


Sejak awal Alga membersihkan luka sayatan di lengan kiri kemudian membubuhkan cairan betadine hingga selesai di perban, kemudian berlanjut lagi dengan membersihkan luka di pergelangan tangan kanan, mulut Tara terus saja mengaduh kesakitan.


"Aww ... aduhh .... aduhh ..."


"Sudah ... sudah selesai. Kau ini manja sekali ..." desis Alga seraya membereskan kotak P3K yang baru saja ia gunakan untuk mengobati dua luka sayatan yang diakibatkan oleh serangan anak buah Juan Allesandro, dan menaruh kotak itu begitu saja ke bangku belakang.


"Aku benar-benar kesakitan, kau malah mengejekku seperti itu ..."


"Siapa yang mengejekmu? Lagian ... siapa suruh tidak berhati-hati?"


"Jadi aku yang salah ...?" tanya Tara dengan wajah blo'on


"Tentu saja. Kau yang salah, karena kau ceroboh."


"Sulit dipercaya. Bukannya bersimpati, kau malah menyalahkan aku ... keterlaluan ..." wajah Tara terlihat merenggut.


"Kau yang keterlaluan. Aku sudah mengobati dua luka di tubuhmu sekaligus, tapi kau masih bisa menuduhku tidak bersimpati ...!" balas Alga sengit.


"Jadi kau bersimpati?" pancing Tara.


"Tentu saja! Apakah matamu rabun sehingga tidak bisa melihat kebaikanku?!"


Diluar dugaan kalimat ketus yang terlontar tanpa sadar meluncur dari bibir Alga telah membuat Tara merasa sangat speechless.


"Ada apa lagi?" tanya Alga yang menyadari jika pria dihadapannya telah berhenti berdebat, dan sekarang malah menatapnya lekat-lekat sambil senyam-senyum sendiri.


Alga pasti tidak pernah tahu bahwa ketegangan demi ketegangan yang mereka lalui telah membuat Tara seolah baru tersadar bahwa betapa sebelumnya, ternyata Alga telah benar-benar menaruh perhatian untuknya meskipun besarnya hanya seujung kuku.


Menyaksikan ekspresi wajah Tara yang masih betah senyam-senyum sendiri membuat Alga greget ingin mengolok-olok pria itu.


"Ada apa dengan wajahmu? Luka sayatan itu tidak sampai mempengaruhi kewarasan otakmu, kan?"


Kalimat judes Alga ditanggapi Tara dengan menggelengkan kepalanya sambil terkekeh, membuat Alga semakin keheranan.


"Cih ... benar-benar sudah gila rupanya ..."


"Ha ... ha ... ha ..."


Tara terbahak, tak peduli dengan wajah Alga yang semakin keruh.


"Terima kasih ..." ucap Tara kemudian, begitu tawanya mereda, senyumnya pun terukir indah semanis gula.


"Telat." pungkas Alga sambil menegakkan duduknya, memutar kunci kontak guna menyalakan mesin mobil, berpura-pura mengacuhkan Tara yang tak berhenti mencuri pandang.


Kemudian mobil fortuner berwarna hitam pekat itu pun mulai bergerak perlahan, meninggalkan area parkiran belakang Penginapan Molly.


🔳🔳🔳🔳🔳


"Jangan menatapku seperti itu ..." kilah Alga salah tingkah berat, begitu mereka telah berkendara selama kurang lebih sepuluh menit lamanya.


"Kenapa memangnya?" suara Tara terdengar enteng menerima penolakan Alga, ia terus saja memperhatikan Alga yang sedang menyetir dengan seksama.


Alga terdiam, tidak menemukan kalimat yang tepat untuk menggambarkan warna perasaannya yang menggila setiap kali menyadari, bahwa sepasang mata elang milik Tara begitu sering mengawasinya.

__ADS_1


"Kalau kau tidak punya alasan melarangku untuk menatapmu, maka biarkan saja aku mengagumi kecantikan wajahmu ..." pungkas Tara kemudian, norak bin gombal.


"Kau sudah gila yah?!" ketus Alga, sewot.


"Kau bahkan tahu bahwa aku memang tergila-gila kepadamu ..."


Alga melengos kesal, terlebih saat menyadari kegombalan Tara mampu membuatnya baper tingkat dewa.


"Intinya, aku tidak suka kau menatapku ... so ... jangan lakukan!" pungkas Alga sedikit frustasi menghadapi Tara yang keras kepala.


"Iya, tapi kenapa ...?"


Pelototan khas Alga menerpa Tara kembali begitu wanita itu menoleh sejenak.


"Masih bertanya 'kenapa' ... kan sudah aku katakan dengan jelas bahwa aku tidak suka."


"Iya ... tapi harus ada alasannya juga kan ..."


Alga melengos acuh, masih sambil memperhatikan ruas jalan yang lumayan lenggang dihadapannya.


"Baiklah, kalau begitu mari balikkan keadaannya. Jika saat ini kau yang sedang menyetir, dan aku duduk disampingmu sambil terus mencuri pandang dan bersikap aneh ... apakah kau akan merasa nyaman ...?"


Mendengar perumpaan itu Tara malah terkekeh.


"It's not worry ... aku pasti akan menikmati moment dimana kau sedang mengagumi wajahku yang tampan ini ..."


Narsisnya Tara keluar, membuat Alga yang mendengarnya lagi-lagi mendengus kesal.


"Dokter Tara, itu tidak lucu ..."


"Memang tidak lucu. Memangnya siapa juga yang sedang melawak ...?" kini wajah Tara terlihat serius.


Alga memilih bungkam, karena meladeni Tara yang sedang berada di puncak kepercayaan diri yang setinggi ini sudah jelas-jelas hanya akan membuatnya semakin salah tingkah dan berdebar.


"Hmmm," tidak menoleh, pura-pura fokus dengan jalanan yang ada di depan.


"Kenapa kau masih memanggilku 'dokter Tara' ...? Terus menyapaku dengan nama se-formal itu ... kau tidak risih ...?"


"Tidak. Aku sudah terbiasa."


"Kalau begitu, kedepannya mari biasakan untuk lebih akrab. Panggil aku 'Tara' saja sudah cukup ..."


"Kalau seperti itu, lidahku terasa kaku ..."


"Maka dari itu biasakan. Karena ke depannya jika kau terus memanggilku dengan embel-embel 'dokter' ... aku tidak mau lagi mendengarkanmu ..."


Alga memilih diam daripada harus meladeni pembicaraan Tara, yang sesungguhnya cukup ampuh membuatnya kege-eran.


Untuk sesaat, diantara mereka hanya di isi oleh keheningan, sebelum akhirnya Alga yang membuka suara terlebih dahulu.


"Bagaimana keadaanmu sekarang? Lukamu tidak apa-apakan?"


Sejenak Alga menoleh guna memastikan keadaan Tara yang terlihat duduk bersandar tepat di sampingnya.


"Tidak apa-apa. Aku merasa baik-baik saja ... lukanya juga ..."


"Kau yakin?"


Lagi-lagi menoleh sejenak, sebelum akhirnya kembali fokus ke jalanan yang tidak terlalu ramai kendaraan.


Tara mengangguk lagi, kali ini ia telah sedikit mengubah posisi duduknya agar bisa menatap penuh sosok Alga yang sedang menyetir.

__ADS_1


"Alga ..." panggil Tara perlahan.


"Hhmm ..."


"Aku senang kau mengkhawatirkan aku seperti ini ..."


"Apa ...?"


Alga menoleh serentak, tapi lagi-lagi hanya bisa sesaat karena ia harus fokus pada setir yang ia kuasai.


"Aku bilang, aku senang kalau kau mengkhawatirkan aku seperti ini ..." ulang Tara lagi to the point, khas pria perayu yang pantang menyerah.


Lagipula, bagaimana mungkin Tara bisa menyerah?


Wanita yang sedang ia tatap ini bahkan tidak pernah menganggap semua ucapannya sebagai kebenaran, dan semua itu cukup membuat Tara semakin tertantang.


Alga memang sering salah tingkah acap kali Tara melontarkan gombalan, namun harus diakui bahwa Alga benar-benar merupakan sosok yang berbeda dengan wanita pada umumnya, yang bisa dengan mudah ditundukkan oleh seorang dokter Tara Yudhistira.


"Apa kau bilang? Aku mengkhawatirkanmu ...?"


"Hemm,"


Mendengar deheman itu Alga mencoba tertawa kecil, saking begitu keras dirinya berusaha terlihat tenang.


"I-iya tentu saja, karena kalau kau terluka, kau akan merepotkan aku juga. Iya kan?" kilah Alga sedikit tergeragap.


Kali ini Tara yang balik tertawa kecil, disertai gerakan kepala yang manggut-manggut.


"Apapun yang kau katakan, tidak akan mengubah kebahagiaanku karena mendapatkan perhatianmu ..." pungkas Tara penuh percaya diri, membuat wajah Alga sontak merona, sehingga semua pemandangan menggemaskan itu membuat Tara semakin ingin mendapatkan wanita itu seutuhnya.


"Maafkan aku yang telah membuatmu secemas ini ..." pungkas Tara lagi.


"K-kau ... kau ini bicara apa ...?" Alga berusaha menyembunyikan kepanikan yang melanda tiba-tiba, saat menyadari tatapan lekat namun lembut milik Tara terus mengawasinya tanpa jeda.


Alga tak bisa memungkiri warna hatinya sendiri, bahwa sejujurnya keadaan Tara memang membuatnya cemas, tapi lebih dari itu ... kalimat-kalimat 'aneh' Tara-lah yang justru membuatnya semakin gelisah!


Tak ada tanggapan, namun Alga tahu persis bahwa tatapan Tara masih tertuju penuh kepadanya, dan semua itu membuat Alga merasa semakin grogi.


"Alga ... sungguh, aku sangat menyukaimu ..."


Alga terhenyak, tapi ia menulikan telinganya, dan menahan diri agar tidak menoleh.


"Kau boleh meragukan semua ucapanku, dan aku akan menerimanya untuk saat ini. Sekali lagi ... hanya untuk saat ini. Karena itu, ingatlah janjiku baik-baik ..."


Tara menarik napasnya sejenak, sepasang matanya tak henti menatap Alga yang saat ini justru tidak mau menatapnya sama sekali.


"Aku berjanji jika pelarian ini berakhir, akan aku tepati semua ucapanku kepadamu. Dan jika waktunya tiba ... aku tidak ingin lagi ditolak olehmu ..."


Hening.


Tara tersenyum saat sepasang matanya menangkap dengan jelas bagaimana gerak lirih kedua buku jari Alga yang gemetar, meremas kemudi kuat-kuat.


Tara tahu, apapun yang ia katakan saat ini, tidak akan mendapatkan jawaban dari Alga.


Namun menyadari bahwa di saat yang sama Alga tidak berusaha membantah ... bagi Tara semua itu sudah merupakan signal positif.


Bahwa kali ini, Alga tidak lagi berusaha menolaknya ...


Bahwa bisa jadi, wanita itu juga mengharapkannya ...


...

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2