NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN

NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN
MISI TELAH SELESAI


__ADS_3

Empat puluh menit telah berlalu, dan saat ini langkah Alga dan Kim telah terayun ke salah satu ruang vvip di rumah sakit Medika Yudhistira, yang selalu menjadi tujuan utama mereka dalam dua minggu terakhir.


Tepat di pintu masuk Mike terlihat duduk di sana, berbincang santai bersama dua orang anggota klan Rudolp, terlihat langsung berdiri begitu menyadari kehadiran Alga dan Kim yang telah kembali.


"Apakah semua situasinya aman-aman saja, Mike?" tanya Kim kepada Mike, seolah ingin memastikan situasi dan kondisi pasca ditinggal dirinya dan Alga, dalam rangka menghadiri acara penyerahan lencana penghargaan kepada Alga.


Meskipun tidak mungkin di konsumsi oleh publik karena merupakan sebuah hal yang harus tetap dirahasiakan, namun Pemerintah telah menobatkan Alga sebagai salah satu dari sekelumit orang yang berhak dan pantas mendapatkan lencana penghargaan tersebut, atas jasa warga masyarakat yang memiliki dedikasi dan kontribusi khusus dalam hal bela negara seperti yang telah dilakukan oleh seorang Alga Rudolp.


"Tidak perlu khawatir, karena semuanya aman terkendali." jawab Mike.


"Apakah wanita gila itu tidak lagi berusaha mencoba menerobos masuk hari ini ...?" usut Alga kemudian.


"Kebetulan hari ini, aku bahkan belum melihat batang hidungnya sama sekali, Nona." ungkap Mike.


"Benarkah?"


"Iya Nona, mungkin dia telah menyerah untuk terus mencoba menyelinap ..."


Alga tersenyum sinis mendengar penjelasan Mike, perihal sikap tidak tahu malu yang ditunjukkan oleh seorang Lucia Fernandes selama Tara dirawat di rumah sakit ini.


Lucia terus-menerus berusaha agar dirinya bisa menemui Tara, meskipun sejauh ini usahanya tidak pernah membuahkan hasil, karena tentu saja niatnya telah dihalangi oleh Alga mati-matian, yang jelas tak rela membiarkan Lucia Fernandes bertindak sesuka hati.


"Baguslah. Cegahlah wanita itu setiap kali dia datang. Apapun alasannya, tidak akan kubiarkan tangan kotornya itu menyentuh Tara lagi." titah Alga, dingin.


"Baik, Nona. Kami mengerti." angguk Mike, begitupun dengan dua anak buah Alga lainnya yang berdiri tegap di belakang Mike.


Baru saja Alga berniat masuk kedalam ruangan, tempat Tara masih terbaring dengan berbagai selang dan alat-alat medis yang terhubung dengan tubuhnya, tiba-tiba sebuah suara nyaring terdengar dari belakang punggung Alga.

__ADS_1


"Nona Alga! Tunggu sebentar ...!"


Alga sontak berbalik dengan senyum sinis, karena ia hafal betul siapa gerangan pemilik suara yang baru saja menghalangi dirinya, yang hendak melangkah masuk kedalam ruangan Tara.


Sosok Lucia Fernandez terlihat berlari kecil kearah Alga, namun ia gagal saat ingin lebih mendekat karena pada jarak tiga meter dari Alga, dengan gerakan sigap Mike telah menghalangi langkahnya terlebih dahulu.


"Padahal aku baru saja berpikir bahwa kau sudah menyerah, tapi ternyata aku salah ..." ucap Alga kearah Lucia.


"Nona Alga, tidak peduli apapun yang kau katakan, aku akan tetap datang setiap hari untuk menemui Tara ..."


"Kalau begitu lakukan saja kebodohanmu itu. Tapi akan aku pastikan kau tidak bisa menyentuh Tara seujung kuku pun." pungkas Alga dengan senyum mengejek yang kentara.


"Nona Alga, kau ..."


"Dengar baik-bak, Nona Lucia Fernandez, aku tidak akan membiarkanmu melakukan apapun kemauanmu! Kau mengerti?"


"Menurutmu ...?" Alga balik bertanya, dengan sikapnya yang terlihat pongah.


"Nona Alga, kau sungguh keterlaluan! Bahkan setelah Tara kembali dengan keadaan yang seperti ini ... Kau malah memonopoli Tara tanpa merasa malu!"


"Benarkah ...?"


"Katakan padaku siapa kau, Nona Alga?! Kenapa kau begitu percaya diri melakukan semua ini kepadaku ...?!"


"Kau tidak perlu tahu siapa aku, dan aku juga tidak tertarik untuk memperkenalkan diriku." suara Alga terdengar dingin dan datar. Wajahnya pun mulai terlihat tanpa ekspresi, menandakan bahwa dirinya mulai muak dengan pembicaraan yang tak bermutu.


"Kau benar-benar wanita yang tidak tahu malu ...!"

__ADS_1


"Nona Lucia, jaga ucapanmu!!" hardik Mike.


Mendengar semua tudingan Lucia rahang Alga nampak bergemeretak dalam diam, kedua kepalan tangannya mulai terkepal.


"Apakah aku berkata salah? Kenapa sekarang kau diam ...? Ha-ah?!"


"Nona Lucia, sebaiknya kau pergi dari sini ..." kali ini suara Mike yang terdengar menyanggah, namun sepertinya Lucia tidak mempedulikan peringatan itu sedikit pun.


"Entah kau datang dari dunia antah-berantah mana ... Tapi demi Tuhan, aku tidak percaya Tara bisa menggantikan posisiku begitu cepat, oleh wanita seperti dirimu ...!"


Mendengar kalimat bernada penghinaan luar biasa yang terus dilontarkan Lucia, kini wajah Alga telah memerah sempurna.


Kim yang menangkap jelas perubahan wajah Alga tersebut sontak merasa perlu bertindak cekatan, sebelum Alga benar-benar kehilangan kesabarannya dan melakukan hal diluar kendali.


"Mike, seret wanita itu pergi dari sini!" titah Kim, mendahului Alga yang masih terdiam menahan geram.


"Baik."


Tanpa membuang waktu Mike pun langsung menyeret lengan Lucia untuk menjauh, sesegera mungkin.


"Lepaskan aku. Apa-apaan kalian ...?!"


Pemberontakan sengit Lucia seolah angin lalu, karena yang ada semakin wanita itu memberontak maka semakin kuat Mike mencengkeram lengan Lucia, menariknya menjauh, seolah ingin cepat-cepat menyingkirkan Lucia seperti seekor kecoa yang menjijikkan ...!


...NEXT...


🧕: Author mengucapkan terima kasih untuk para Reader setia yang terus bersama ... 😘

__ADS_1


__ADS_2