NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN

NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN
MAU TAK MAU


__ADS_3

Belum ada lima menit Juan Allesandro tiba di sebuah kamar presidential suite milik Red Luxury Hotel, saat Rob datang bersama beberapa orang anak buahnya sekaligus dengan kepala tertunduk penuh penyesalan.


"Apa saja yang kalian lakukan, sampai-sampai untuk menangkap seorang wanita saja tidak becus!"


Terlihat sekali jika Rob telah pasrah menerima kemarahan Juan Allesandro atas semua kegagalannya, yang bisa saja berimbas pada kehilangan nyawanya detik itu juga.


"Tuan, sebenarnya ... aku mulai tidak yakin jika Nona Alga berada di hotel ini ..."


"Benarkah?" Juan Allesandro mengangkat sebelah alisnya.


"Iya Tuan, karena aku sudah mencarinya keseluruh penjuru hotel, tapi aku tidak menemukannya hingga detik ini ..."


"Dasar bodoh."


Lagi-lagi Juan Allesandro mengumpat datar.


Rob membisu mendengar kalimat dingin yang meluncur dari bibir Juan Allesandro.


Terlihat sekali wajah yang mengeras dari pria berdarah italy, yang kini duduk di sofa mahal sambil menghisap cerutu itu.


"Maafkan aku atas semua keteledoranku, Tuan ..."


"Kali ini kau benar-benar tidak bisa diandalkan, Rob. Aku sungguh kecewa padamu. "


Juan Allesandro menaruh cerutu diatas asbak yang ada dimeja. Dari gestur tubuhnya pria itu seolah hendak berdiri dari duduknya yang nyaman.


Rob semakin tertunduk. Seluruh tulang-belulang rasanya ingin tercerai-berai menyadari kemarahan Juan Allesandro yang terlihat sangat jelas lewat sikapnya yang dingin.


"Aku mohon, Tuan. Tolonglah ... sekali lagi maafkan kecerobohanku dan ..."


Doorrr ...!

__ADS_1


Dalam sekejap lantai kamar presidential suite milik Red Luxury Hotel yang ditempati Juan Allesandro telah banjir darah segar.


Beberapa anak buah yang berada disana telah menjadi saksi mata atas kekejaman seorang Juan Allesandro, namun tak ada satupun dari mereka yang berani menyuarakannya.


Semuanya diam membisu dengan kepala tertunduk.


Pada akhirnya ... hanya karena misi penjebakan atas wanita bernama Alga Rodolp yang selalu mengalami kegagalan, tanpa belas kasih sedikit pun Juan Allesandro tega menghabisi nyawa Rob tanpa sungkan.


Lewat sebutir timah panas yang bersarang tepat di dahi, tubuh kekar Rob langsung ambruk kelantai meregang nyawa, tersungkur bersimbah darah.


Yah ... Rob.


Rob yang telah memiliki catatan panjang atas kesetiaan serta pengabdiannya untuk seorang Juan Allesandro, akhirnya harus menemui kematiannya yang tragis, ditangan pria yang sama ...


🔳🔳🔳🔳🔳


Pintu kamar kontrakan milik Alga terbentang seiring dengan beriringan langkah lebar milik Alga yang dibuntuti oleh Tara dibelakangnya.


Alga melirik kesal kearah Tara yang sedang menaruh tas punggungnya di meja kecil yang ada disudut ruangan sempit dekat jendela.


"Beberapa saat yang lalu aku kedinginan karena cuaca malam. Tapi begitu masuk ke kamar pengap ini ... aku langsung merasa gerah dalam sekejap ..."


Lagi-lagi keluh-kesah Tara terdengar.


"Kalau kau ingin cuaca yang dingin dan sejuk bak kamar presidential suite milikmu, kenapa kau tidak tidur saja di pinggir jalan sekalian ...?"


Mendengar celetukan kasar yang keluar dari bibir sen sual milik Alga, sepasang mata Tara langsung terbelalak lebar.


"Nona Alga, kau ini kejam sekali. Masa iya kau menyuruhku tidur dipinggir jalan? Kau pikir aku gembel ...?"


Alga tersenyum kecut. "Makanya jangan protes. Masih untung aku mau menampungmu disini!"

__ADS_1


Sepasang mata Tara telah melotot sempurna saat mendengarnya.


Sungguh, Tara merasa nasibnya sangat sial.


Alih-alih ingin menyewa kamar sendiri sesuai rencana awal, kenyataannya Tara dan Alga harus berlapang dada karena tidak lagi mendapatkan kamar kosong lainnya.


Pemilik penginapan kecil yang juga merangkap receptionist itu telah mengatakan dengan jelas bahwa tidak ada lagi kamar yang tersisa di penginapan itu, sehingga mau tak mau Tara dan Alga harus berbagi kamar.


Alga mendekati Tara yang masih berdiri ditempatnya dengan tatapan lurus.


"Mana uangku?" tuntut Alga tanpa basa-basi, dengan telapak tangan menengadah seolah tak sabar untuk mengambil miliknya dari Tara.


Tara melengos menerima sikap pongah Alga, namun kali ini dia diam saja saat membuka resleting tas punggung miliknya dan mengeluarkan sebuah kresek hitam yang penuh berisikan uang tunai dengan jumlah yang sudah pasti tidak sedikit.


"Ini, ambillah."


Dalam sekejap kresek hitam tersebut telah berpindah tangan, karena Alga yang langsung meraihnya dengan cepat.


"Ck ... ck ... ck ... tidak sabar sekali ... kau pikir aku akan lari dengan membawa uangmu?"


Alga tertawa remeh menerima keterkejutan Tara.


"Tidak ada yang tahu isi hati dan isi kepala seseorang, bukan? Aku tidak mau lagi kecolongan hanya karena lengah sedikit saja ..." jawab Alga acuh, seraya duduk di pinggiran ranjang.


Kini wanita itu mulai membuka kresek hitam berisi uang yang ia dapatkan dari Tuan Samuel Alfonso, dan mulai memindahkan isinya kedalam tas pinggang miliknya hingga penuh sesak, sementara sisanya ia simpan kedalam tas punggungnya yang teronggok begitu saja di kaki ranjang.


Tara yang masih berdiri di sisi jendela hanya bisa melirik tingkah polah Alga tersebut dengan tatapan sedikit dongkol.


...


NEXT

__ADS_1


__ADS_2