
"Bagaimana, Kim? Sudah bisa terhubung?" Mike yang baru saja melangkahkan kakinya tergesa-gesa kedalam control room langsung melontarkan pertanyaan ke arah Kim yang terlihat duduk dengan wajah kaku, dihadapan layar monitor berukuran empat belas inchi.
Kim melirik sejenak kearah Mike yang kini telah berdiri tepat disampingnya sambil ikut memperhatikan tampilan layar tersebut. Kepalanya terlihat menggeleng samar.
"Belum. Tapi aku terus mencobanya ..."
Mike terlihat menarik napas berat. Dari raut wajahnya jelas sekali tergambar sebuah ketegangan.
"Menurut salah seorang petugas dari Badan Metereologi yang aku hubungi barusan, badai ini hanya sebentar. Maksudnya meskipun nantinya tidak menjamin untuk benar-benar reda, tapi setidaknya cukup aman untuk mengudara ..."
"Masih berapa lama?"
"Tidak akan lebih dari setengah jam."
"Itu cukup lama. Aku tidak yakin Nona Alga bisa bertahan untuk terus menghindari Juan Allesandro dalam kurun waktu tersebut."
"Aku tahu. Tapi mau bagaimana lagi? Kita tidak bisa berbuat apa-apa karena yang kita hadapi sekarang semata-mata adalah faktor alam."
"Si al, semua ini sungguh diluar prediksi!" Kim terlihat memijat dahinya yang pening. "Apakah Rex sudah bergerak?" tanya Kim kemudian.
"Sudah. Baru sekitar sepuluh menit yang lalu."
"Kenapa lama sekali?"
"Mereka mengalami sedikit kendala saat harus melumpuhkan petugas yang ada di pos perbatasan, dan baru bisa bergerak setelah semuanya telah berada dibawah kendali."
"Semoga mereka bisa bergerak dengan cepat ..."
"I hope." tandas Mike, kearah Kim yang fokus pada layar monitor, dengan jemari yang terus bekerja diatas tuts keyboard yang ada dihadapannya. "Oh iya KIm, aku juga telah memerintahkan Luke untuk membawa beberapa anak buahnya menyusul kearah perbatasan ..." pungkas Mike lagi setelah untuk beberapa saat lamanya hanya terdiam memperhatikan Kim.
"Dengan kecepatan mobil diatas rata-rata, seharusnya saat ini mereka sudah berada tepat ditengah perjalanan sebelum mencapai pos perbatasan. Aku rasa adalah mustahi jika mengejar, Mike. Posisi Nona Alga dan dokter Tara sudah cukup jauh."
"Aku tahu. Tapi tetap saja aku tidak ingin mengambil resiko. Aku merasa perlu mengerahkan anak buah dari dua arah sekaligus untuk menjaga segala kemungkinan terburuk. Luke dari arah timur sementara Rex dari arah yang berlawanan ..."
Kim terlihat manggut-manggut mendengar penjelasan Mike tentang upaya seperti apa yang dilakukan rekannya itu lewat jalur darat, demi mengirimkan bantuan kepada Alga yang sedang terjebak dalam pelarian, disaat cuaca buruk yang ada diluar sana tidak memungkinkan mereka berdua mengudara bersama heli yang telah siap.
__ADS_1
Kim hanya bisa berharap Alga mampu bertahan, meskipun Kim tau persis bahwa selain sepucuk revolver dan glock 17 miliknya, Alga tidak lagi memiliki apa-apa untuk mempertahankan diri.
Meskipun sedang mengobrol, namun sejak tadi jemari Kim tidak pernah berhenti menekan tuts keyboard yang ada dihadapannya.
Titik koordinat mobil Alga telah ia dapatkan sejak beberapa saat yang lalu, namun sayangnya jaringan komunikasi yang buruk pada wilayah perbatasan membuat Kim selalu gagal menghubungi wanita itu agar bisa memandunya.
"Kim, titik koordinatnya semakin jelas. Coba hubungi lagi." ucap Mike.
"Sedang aku usahakan tapi sejak tadi tidak pernah ter ..."
Mengambang.
Suara Kim terputus begitu saja sebelum kalimatnya benar-benar selesai.
"Ada apa?" tanya Mike dengan mimik awas, mengetahui ekspresi wajah Kim yang berubah.
"Tersambung."
"Apakah diangkat ...?"
"Nona Alga, please ... angkat ... tolong angkat telponnya ... please help me, God ..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ponselku bergetar." Alga berucap diantara deru suara mobil yang melaju kencang.
Tara yang tidak terlalu menangkap dengan jelas apa yang barusan diucapkan Alga terlihat mengerinyitkan alis. "Apa kau bilang?"
"Aku merasa ponselku bergetar!" ulang Alga lagi, kali ini dengan intonasi suara yang lebih keras, seolah ingin mengalahkan bising dari suara mesin mobil yang sedang ia pacu dengan kecepatan diatas rata-rata.
Tara tersentak mendengar kalimat tersebut.
"Di mana ponselmu?"pungkas Tara buru-buru.
"Ada disaku belakang celanaku."
__ADS_1
"Kiri atau kanan?"
"Kiri ..."
"Tetap fokuslah menyetir, biar aku yang akan menerima panggilan itu. Aku yakin itu pasti Kim."
"Kalau begitu cepat lakukan."
Usai mendengar Alga yang berucap demikian seolah memberi ijin untuk Tara, Tara pun terlihat beringsut mendekati Alga yang sedang memfokuskan konsentrasinya kejalan yang terbentang dihadapannya, seolah wanita itu sedang berusaha mati-matian agar konsentrasinya tak terbagi sedikitpun, oleh apapun!
"Maafkan aku ..."
"Jangan banyak bicara, cepat terima telponnya."
"Iya ... iya ... baiklah ..."
Akhirnya Tara memberanikan diri mengulurkan tangannya, guna merogoh ponsel yang terselip di saku kiri bagian belakang celana Alga, sesuai clue yang diberikan wanita itu.
Benar saja, begitu jemari Tara menyentuh benda pipih tersebut, Tara bahkan langsung bisa merasakan getarannya.
Dalam sekali gerakan Tara menarik keluar ponsel yang masih setia bergetar itu, dan seketika matanya tertumbuk pada layar ponsel yang bertuliskan nama 'Kim'.
"Ini benar Kim ..." desis Tara semringah, sambil menggeser icon berwarna hijau guna menerima panggilan.
Selintas Tara menangkap sedikit raut kelegaan diwajah Alga begitu mendengar nama 'Kim' disebut.
"Hallo, Kim ... ini aku, Tara ...!" ucap Tara kemudian, sambil tak lupa langsung menekan icon loudspeaker agar suara Kim diseberang sana bisa terdengar juga oleh Alga.
"Kim,, kami sedang berada dalam bahaya ... cepat lakukan sesuatu ...!" teriak Alga tepat disaat kalimat Tara usai.
"Nona Alga, Dokter Tara ... syukurlah, akhirnya kami bisa menghubungi kalian ...!"
...
Bersambung ...
__ADS_1