NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN

NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN
SERANGAN


__ADS_3

"Ku rang ajar, beraninya kau menyerang kami ... kau sudah bosan hidup, hah?!"


Bugh ...!


Sebuah hardikan keras disertai bogem mentah yang menghantam tepat di tengah wajah, sanggup membuat darah segar muncrat lewat mulut dan hidung sekaligus.


Setelah wajah orang tak dikenal itu kembali terkulai, Alga pun menarik penutup kepala berwarna hitam, hingga menampakkan seraut wajah pria asing yang tak dikenal.


Detik berikutnya ia membiarkan saat tubuh pria itu melorot jatuh ke tanah, bahkan Alga ikut menghempasnya dengan kasar.


Seolah tak ingin memberi kesempatan meskipun hanya sekedar menarik napas, tendangan keras kembali melayang berkali-kali secara brutal ke tubuh yang tergolek tak berdaya itu.


"Baji ngan ...!!"


"Mau melukai kami, nyalimu besar juga ...!!"


"Sepertinya kau benar-benar mau cari mati ...!!"


Kalimat Alga yang dipenuhi amarah mengiringi setiap tindakan kalapnya.


"Aaakkhh ..."


"Uukhh ..."


"Aduhhh ..."


"Tolooongg ..."


"Aaaammpuuunnnn ..."


Dari sekian banyak jerit kesakitan serta permohonan untuk meminta pengampunan, kenyataannya tak ada satu pun yang bisa meluluhkan hati Alga agar mau menghentikan aksinya.


"Cepat katakan kenapa kau menyerang kami, dan siapa yang memerintahkanmu untuk melakukannya?!"


"Ampun Nona ... t-tidak ada ..."


"Oh, masih belum mau mengaku yah ..."


Bugh ...!


"Aaaahhkk ...!!"


"Tetap tidak mau mengaku kalau kau diperintahkan oleh seseorang ...?!"


Bugh ...!


"Aaaaaaaa ...!!"

__ADS_1


"Baiklah, tapi jangan menyesal ..."


Bugh ...! Bugh ...!


"Aaaaaaaa ...!!"


Lagi dan lagi, Alga terus melancarkan tendangan, tak peduli dengan teriakan memohon ampun yang semakin menyayat hati.


"Cepat katakan!!"


Bugh ...!


"Ampuuuunnn Nonaaa, baik, baiklaaahh ..."


Bughhh ...!!


"Katakan!!"


"J-Juan Allesandroo ... aaaaaaaakkk ..."


Bugh ...! Bughhh ...!!


Pria itu kembali melolong kesakitan akibat Alga yang terus-menerus menghadiahi dirinya dengan tendangan-tendangan yang menghancurkan rusuk.


Tara yang sejak tadi menyaksikan aksi brutal tersebut bergidik ngeri.


Merasa tak tak tahan lagi Tara pun memutuskan melerai Alga dengan cara menarik lengan wanita itu agar berhenti melakukan penganiayaan berat, yang tentu saja bisa berakibat fatal.


Mendengar itu Alga malah menghadiahi Tara dengan sebuah pelototan.


"Kau masih mau membelanya?! Setelah dia berusaha membunuhmu ... kau malah peduli dengan nyawanya ...?!"


Tara terdiam, namun wajahnya terlihat meringis kesakitan.


"Tak peduli kau setuju atau tidak, aku akan tetap memberikan cecunguk ini pelajaran!" ujar Alga seraya mencabut glock 17 yang terselip di pinggang, kemudian menodongkannya ke arah pria yang nampak bersusah-payah merangkak guna berlutut di hadapan Alga, terlihat pasrah.


Wajah pria itu babak belur tak karuan, tidak berbentuk lagi.


"Alga, jangan ...! Di depan sana banyak Polisi. Kalau kau nekad menembak, mereka akan mendengar suara letusannya ...!"


Teriakan Tara mampu menghentikan laju jemari Alga yang hendak menarik pelatuk pistol.


Menyadari kebenaran dari kalimat Tara, dengan terpaksa akhirnya Alga menurunkan pistol tersebut perlahan-lahan, kemudian menyelipkannya kembali ke pinggang.


Menyaksikan hal itu hembusan napas lega terdengar jelas dari bibir Tara, dan terdengar samar dari bibir pria yang sedang berlutut.


"T-terima kasih, Nona ..."

__ADS_1


Alga menyeringai mendengarnya.


"He ... he ... jadi kau pikir, kau bisa lolos dariku ...?"


Pria itu terhenyak, sementara tawa remeh Alga terdengar lirih.


"Kau salah ..."


Alga maju selangkah dan ...


Jleb.


"AAAAAAHHHHHHKKK ...!!"


Teriakan panjang terdengar menyayat hati.


Tara terkejut setengah mati begitu menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Alga mencabut pisau lipat milik pria itu, yang tadinya ia simpan di saku celana, dan menancapkannya tanpa ragu ke dada kiri pria dihadapannya.


Dalam hitungan detik pria itu pun tersungkur, dengan pisau yang tertancap di dada, tepat di jantung.


"A-Alga ... k-kau ..." sepasang mata Tara membeliak lebar, mulutnya ikut terbuka.


"Kau terluka. Tunggulah di mobil, biar aku yang akan membereskan mayatnya ..."


Alga berucap acuh seolah tak terjadi apa-apa.


Sembari membungkuk, dengan cueknya Alga mencabut pisau lipat dari dada sang pria yang telah meregang nyawa, kemudian meraih dua kaki yang terkulai, memudahkan untuk menyeretnya ke arah gudang.


Tara masih betah ternganga di tempatnya semula. Ia hanya bisa menatap nanar atas kejadian yang terjadi tepat di depan matanya.


Masih sukar dipercaya jika Alga baru saja menghilangkan nyawa seseorang, tanpa rasa takut dan canggung sama sekali.


Untuk se-saat otak Tara masih nge-lag, sampai ketika Alga muncul kembali di hadapannya sambil menutup hidung, khas gelagat seseorang yang sedang menghindari bau busuk yang menyengat.


"Ada apa?" tanya Tara keheranan.


"Tebak apa yang kutemukan di dalam gudang ..." ujar Alga kemudian, masih dengan ekspresi wajah datar, bak air di danau yang tenang.


"A-apa lagi ...?" tanya Tara tergeragap, dikarenakan masih shock.


"Aku menemukan mayat nyonya pemilik penginapan yang telah membusuk ..."


"Apppaaa ...?!"


Tara bahkan tidak tahu apa alasan yang membuat dirinya masih berdiri tegak dan tidak pingsan, setelah mengalami beberapa insiden menakutkan yang silih berganti.


"Seperti kecurigaanku sejak awal, pasti baji ngan Jun itu pelakunya. Selama ini dia hanya mengarang cerita tentang kepergian Nyonya Pemilik Penginapan ke Kota Perlin, karena pada kenyataannya ... Jun sengaja menghabisinya agar dia bisa leluasa mengawasi kau ... dan aku ..."

__ADS_1


...


Bersambung ...


__ADS_2