NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN

NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN
KORBAN KEDUA


__ADS_3

Untuk sesaat Tara dan Alga hanya bisa terpana dengan jarak yang tak lebih dari sepuluh langkah.


"Sebaiknya kita pergi sekarang ..." bisik Tara seraya menyentuh lengan Alga perlahan.


Setelah bisa memastikan bahwa Jun telah menjadi salah satu dari dua orang korban yang mati tertembak, kini Tara percaya seratus persen bahwa kecurigaan Alga selama ini benar adanya.


Tidak diragukan lagi.


Jun ... pria itu pasti terlibat dalam usaha menjebak mereka.


Kali ini Tara tidak hanya menyentuh lengan Alga, melainkan mulai menariknya perlahan, memaksa wanita itu agar mengalihkan fokusnya dari pemandangan menakutkan yang tersaji di depan mata mereka.


"Sebentar ..." bukannya mengikuti keinginan Tara untuk melangkah mundur, Alga malah membebaskan tubuhnya dari Tara dan melangkah maju.


"Alga, kau mau kemana ...?"


"Aku ingin memastikan korban yang satunya ..."


"Tidak. Kau tidak boleh mendekat." Tara mengejar langkah Alga yang terayun dan segera meraih kembali pergelangan tangan wanita itu untuk menahan laju langkahnya.


"Dokter Tara, lepaskan, aku benar-benar hanya ingin memastikan ..."


"Tidak boleh. Kau bisa saja merusak tkp-nya, dan jika itu terjadi maka kita bisa mempunyai urusan yang panjang dengan pihak kepolisian ..."


"Tapi firasatku tidak enak ..." pungkas Alga seraya menatap Tara lekat.


"Ada apa? Kau sedang berpikir apa ...?"


"Sedang memikirkan bahwa diantara Jun dan orang itu ... jika keduanya terlibat dengan Juan Allesandro, lalu untuk apa mereka saling menembak ...?"


Tara tercenung mendengar argumen Alga.


Hal yang diungkapkan wanita itu sama sekali tidak pernah terlintas di pikirannya, namun saat Alga mengungkapkannya ... tiba-tiba semua terdengar masuk di akal.


Alga benar. Untuk apa mereka saling tembak, jika keduanya berada pada kubu yang sama ...?


Kali ini, saat Alga kembali mengurai cekalan tangan Tara di pergelangan tangannya, Tara tak kuasa lagi menahan niat wanita itu.


Tara membiarkan Alga kembali maju beberapa langkah sebelum akhirnya ia pun memutuskan untuk mengekori langkah Alga.


Baru sekitar lima langkah Alga telah terhenti dan terpaku di tempatnya.

__ADS_1


"Alga ..." panggil Tara, menyadari Alga yang terdiam lama.


Sepasang mata elang milik Tara mengawasi lekat seraut wajah Alga yang sedikit demi sedikit menegang.


"Tidak mungkin ..." kepala Alga menggeleng berkali-kali, begitu dalam jarak kira-kira tiga langkah sepasang matanya yang indah telah mengenali sosok terbujur kaku yang merupakan korban kedua, dengan posisi yang tak seberapa jauh dari Jun.


"Kau mengenalnya ...?"


Alga mengangguk pelan, napas wanita itu terdengar memburu.


"Kalau begitu katakan siapa dia ..."


Kepala Alga menoleh kearah Tara yang kini berdiri tepat di sampingnya dengan bibir bergetar lirih, hendak mengucapkan sesuatu namun tiba-tiba ...


"Maaf, Tuan dan Nyonya, tolong jangan terlalu dekat dengan tkp, karena polisi telah dalam perjalanan menuju ketempat ini ..." suara seorang pria terdengar memberi peringatan kepada Tara dan Alga dari arah belakang.


"Maafkan kami, Tuan ... kami hanya penasaran saja, tidak bermaksud apa-apa," sahut Tara sambil menoleh sejenak.


Alga yang masih terlihat sedikit bingung tidak membantah lagi saat dengan secepat kilat Tara telah menarik pergelangan tangannya kembali, agar buru-buru menjauh.


Sementara di kejauhan sana, bunyi sirine ambulance dan mobil polisi terdengar saling bersahutan ... Semakin lama semakin mendekat ...


"KU RANG AJAR ...!"


Suara umpatan keras Juan Allesandro sukses membuat Don dan Markus yang duduk di bangku depan terlonjak kaget.


Pria dengan wajah yang penuh di tumbuhi brewok itu terlihat geram, ia juga nyaris melempar ponsel yang semula melekat di telinga kanannya begitu mendengar laporan dari salah seorang anak buahnya yang bahkan belum tuntas.


"Temukan siapa dalangnya." suara dingin Juan Allesandro kembali terdengar sebelum pria itu memutuskan mengakhiri pembicaraan tersebut begitu saja, kemudian menatap ke depan. "Mark, hentikan mobilnya." titahnya kepada Markus yang saat itu memegang kemudi.


"Baik, Tuan," jawab Markus, dan mobil berwarna hitam tersebut pun perlahan melambat sebelum akhirnya benar-benar menepi, sesuai keinginan sang bos besar.


"Maaf, Tuan, tapi kenapa kita malah berhenti di sini?"


Don yang duduk tepat di sebelah Markus terlihat menengok ke belakang, guna mendapati Juan Allesandro yang duduk dengan wajah mengeras.


"Kita semua telah kecolongan," ungkap Juan Allesandro dengan ekspresi yang kesal bukan kepalang.


Baik Don maupun Markus, keduanya sama-sama tidak berani mengambil kesimpulan akhir, lebih memilih diam dan menunggu penjelasan apa yang hendak diucapkan oleh sang bos besar setelah menghentikan kendaraan yang mereka tumpangi, di saat penginapan Molly yang sesungguhnya menjadi tujuan yang akan mereka tuju masih berjarak sekitar dua ratus meter bahkan mungkin sedikit lebih jauh setelah tikungan yang ada di depan.


"Ada yang telah mendahului kita, dan mereka tiba di lokasi terlebih dahulu."

__ADS_1


"Tuan, apa maksud Tuan dengan mengatakan bahwa ada yang mendahului kita?" tanya Markus yang semakin penasaran.


"Junho telah mati. Entah baji ngan siapa yang telah mengambil alih hajatku, dengan cara menembak pria breng sek itu lebih dahulu."


Gigi Juan Allesandro terdengar bergemeretak menahan amarahnya yang membuncah.


"Apa, Tuan ...?!"


Don dan Markus sama-sama terhenyak mendengar informasi yang meluncur langsung dari bibir Juan Allesandro.


"Barusan telah terjadi baku tembak yang melibatkan Junho, dan Junho tidak sendirian menjadi korbannya. Ada pria lain yang juga ikut tertembak dalam insiden tersebut ..."


Padahal belum ada satu jam yang lalu Don dan Markus diperintahkan Juan Allesandro, untuk ikut serta dalam misi melenyapkan nyawa Junho, di mana mereka akan menemui pria berwajah asia itu di sebuah penginapan kecil pada perbatasan kota Malta.


Rencananya, mereka bertiga hendak menghabisi nyawa Junho usai mengetahui rahasia besar tentang klan Rudolp yang ditawarkan oleh Junho, sekaligus informasi keberadaan Nona Alga Rudolp.


Juan Allesandro memang berencana menjebak Junho dengan cara berpura-pura menawarkan uang berjumlah fantastis, demi mengorek informasi rahasia klan Rudolp kepada target, sebelum akhirnya menghabisi nyawa Junho yang anehnya malah telah didahului oleh pihak lain, disaat mereka bahkan belum mendapatkan apa yang mereka inginkan.


Sungguh tak disangka jika malaikat maut justru menjemput Junho terlebih dahulu, sebelum mereka datang mencabutnya.


"Lalu bagaimana rencana Tuan selanjutnya?" tanya Don lagi.


"Sedang aku pikirkan, selagi menunggu informasi lebih lanjut."


Seiring dengan usainya kalimat yang terucap, ponsel milik Juan Allesandro kembali berdering sehingga pria itu langsung menekan icon hijau untuk menerima panggilan tersebut, yang ternyata berasal dari salah seorang anak buahnya yang sedang berada di tempat kejadian, berbaur dengan masyarakat yang tumpah ruah ke jalan akibat hebohnya peristiwa baku tembak yang menewaskan Junho.


"Bagaimana? Apa kau sudah tahu siapa dalangnya dan identitas korban lainnya ...?" kalimat Juan Allesandro terdengar beruntun serta to the point, sehingga tiga pertanyaan tanpa sadar meluncur sekaligus begitu panggilan itu tersambung.


"Maafkan aku Tuan, karena aku masih belum tahu persis siapa korban keduanya. Tapi yang terpenting aku telah menemukan sebuah fakta yang tak kalah berharga dari semua itu ..."


"Katakan." pungkas Juan Allesandro saking tak sabarnya.


"Aku meyakini bahwa korban lainnya tidak hanya memiliki hubungan yang erat, melainkan merupakan salah satu anggota klan Rudolp ..."


Alis tebal milik Juan Allesandro terlihat nyaris bertaut mendengar penjelasan tersebut.


"Apa maksudmu? Jadi kau meyakini jika yang membunuh Junho erat kaitannya dengan klan Rudolp bahkan bisa jadi anggota mereka? Tolong katakan dengan jelas!" lagi-lagi Juan Allesandro terlihat semakin tak sabar.


Bukan hanya wajahnya yang menegang, melainkan wajah Don dan Markus pun ikut-ikutan menegang.


"Tuan, kau pasti tidak bisa mempercayainya bahwa saat ini aku justru melihat dengan jelas keberadaan Nona Alga, yang baru saja mengenali korban tersebut. Aku menemukan mereka, Tuan ... Nona Alga Rudolp bersama dokter Tara Yudhistira. Mereka berdua ... berada tepat di depan mataku ..."

__ADS_1


__ADS_2