NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN

NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN
THE REAL PSYCOPATH


__ADS_3

"Kalau aku katakan bahwa pada awalnya hidupku pun terasa sangat berat, aku terluka dan kehilangan, trauma berkepanjangan, merasa tak berguna ... Hhhh, apakah kau bisa mempercayai semua itu?"


Alga menggeleng dengan tegas. "Tidak mungkin ..."


"Kalau begitu katakan padaku, bagaimana caranya agar aku bisa membuatmu percaya ...?"


"Apakah pendapatku begitu penting?" pungkas Alga seraya menatap Tara dengan pandangan yang tak bisa diartikan maknanya.


"Maksudmu?"


"Aku membencimu atau tidak, itu urusanku. Dan kalau kau bisa berdamai dengan takdirmu, itu urusanmu. Aku tidak peduli, karena semua itu tidak serta-merta berarti bahwa dimataku kau adalah orang yang berbesar hati ..."


"Apakah aku perlu mengatakan, bahwa aku juga membencimu agar kau merasa puas? Kau ingin aku bersikap seperti itu?"


"Kalau itu terserah padamu. Kau mau membenciku karena apa? Karena kecelakaan lima belas tahun yang lalu ... atau karena aku yang telah merancang begitu banyak kejahatan atas hidupmu saat ini?"


"Nona Alga ..." tegur Tara pelan, masih mencoba bersabar.


"Aku tidak akan terpengaruh, atas apapun penilaianmu tentang diriku."


Tara tertawa getir mendengar kalimat demi kalimat tajam Alga, yang seolah menggambarkan dengan jelas bagaimana keras kepalanya pendirian wanita itu.


Namun meskipun demikian Tara terus mengingatkan dirinya sendiri, agar tidak lagi terpancing emosi.


Tara tahu bahwa sesungguhnya hati Alga begitu rapuh.


Wanita itu selalu bersikap kasar dan keras hati, hanya agar terlihat kuat oleh semua orang, karena kenyataannya tidaklah demikian.


Yah, setidaknya Tara mulai bisa memahami Alga, setelah mengetahui kenyataan yang sebenar-benarnya.


Sedikit demi sedikit tabir kelam itu mulai terbuka, terlebih saat mengetahui semua konspirasi panjang yang bahkan terjadi sejak lima belas tahun yang lalu.


Saat ini Tara justru berbalik iba, menyadari kenyataan bahwa ternyata hidup Alga selalu dikelilingi oleh para pengkhianat, tanpa sedikit pun wanita itu menyadarinya.


'Seandainya saja aku bisa mengatakan kebenarannya ...'

__ADS_1


Tara membathin pasrah, namun bibirnya tetap terkunci.


"Simpanlah rahasia ini sampai tiba waktunya. Nona Alga tidak boleh terluka lagi ... sebelum ia benar-benar mampu menerima kenyataan yang sebenar-benarnya ..."


Kalimat terakhir Tuan Samuel Alfonso sebelum Tara berlalu usai membuat sebuah kesepakatan, kembali bergema dalam benak Tara.


Sungguh, Tara bahkan tidak menyangka sama sekali, bahwa insiden kecelakaan lalu lintas pada lima belas tahun yang lalu bukanlah sebuah insiden biasa, bukan juga sebuah kecelakaan murni seperti yang digembar-gemborkan polisi, awak media, bahkan semua orang.


Ada banyak konspirasi yang tersembunyi didalamnya, dan yang paling membuat Tara terhenyak, adalah kenyataan bahwa kedua orang tuanya pun ikut terlibat begitu dalam.


Pembunuhan berencana yang begitu keji, itulah kenyataan yang sebenarnya!


Yah, kenyataan yang sebenarnya ..., karena sutradaranya bahkan nekad menghabisi dua pasang suami istri dalam satu insiden berdarah yang begitu rapi ... semudah menepuk lalat!


🔳🔳🔳🔳🔳


"Kau yakin bisa menangkap Nona Mafia ...?"


Juan Allesandro duduk bersandar di kursi kebesarannya.


Sejak tadi mulutnya terus mengepulkan asap dari sebatang cerutu kuba yang menjadi kegemarannya.


Junho yang ditanya langsung mengangguk tanpa ragu. "Aku bahkan bisa melumpuhkan sepuluh Nona Mafia sekaligus!" jawab Junho dengan lantang atas pertanyaan tersebut tanpa sedikit pun keraguan.


Lee Junho, pria keturunan asia berkulit kuning pucat dan bermata sipit segaris itu justru terlihat santai, padahal ia tahu persis siapa gerangan pria dengan wajah penuh cambang, yang ada dihadapannya saat ini.


Mendengar ucapan Junho, gelegar tawa milik Juan Allesandro pecah tak tertahan, membuat Junho yang belum mengerti apa yang menyebabkan pria dihadapannya itu tertawa hanya diam memperhatikan dengan seksama.


Junho tidak ikut tertawa, namun sepasang matanya tak lepas mengawasi Juan Allesandro, seolah sengaja menanti tawa itu usai dengan sendirinya, sehingga dia bisa mendapatkan alasan dan penjelasan yang valid, mengapa kalimat optimisnya malah ditertawakan.


'Apakah Tuan Juan Allesandro meragukan kemampuanku ...?'


Benak Junho diliputi tanya, tapi dikedalaman hatinya pria kurus itu tersenyum sombong.


Diremehkan seperti ini bukanlah hal baru bagi Junho, karena semua klien yang memakai jasanya rata-rata selalu meragukan kemampuannya di awal.

__ADS_1


Apakah itu dikarenakan tubuh Junho yang cenderung kurus meskipun cukup jangkung dengan tinggi kira-kira diatas seratus tujuh puluh centi meter, atau karena tampang asianya yang terkesan primitif dengan mata segaris ...?


Entahlah ...


Karena yang jelas, meskipun dengan penampilan seperti itu, Junho tidak pernah merasa rendah diri karena dengan dipandang sebelah mata, Junho justru merasa dirinya bisa mengeksplor seluruh kemampuan dan kapasitas dirinya sendiri dengan lebih leluasa.


"Katakan, berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk bisa membawa Nona Mafia kehadapanku?" Juan Allesandro kembali bertanya, begitu tawanya mereda.


"Hidup atau mati, Tuan?" tanya Junho ringan, seolah tanpa beban.


"Aku lebih suka jika kau bisa membawanya hidup-hidup."


"Dua minggu." pungkas Junho yakin.


Juan Allesandro terlihat menyeringai. "Jadi Lee Junho yang terkenal akan kemampuannya menundukkan lawan dengan cepat, harus membutuhkan waktu dua minggu untuk menaklukkan seorang wanita?" sindir Juan Allesandro terang-terangan.


"Baiklah, satu minggu, Tuan. Tapi kau harus membayarku dua kali lipat." jawab Junho lagi, tak lupa bernegosiasi.


Juan Allesandro tidak langsung menjawabnya, melainkan lewat tatapannya ia kembali menguliti sosok Junho yang berdiri tenang.


Sesungguhnya menilik dari penampilan Junho yang sepertinya tidak meyakinkan, awalnya Juan Allesandro pun meragukan kemampuan pria dihadapannya ini. Hanya saja dirinya tidak mau menampakkan penilaian sesaatnya begitu saja.


Junho terlihat cukup percaya diri, dia bahkan jauh lebih percaya diri dari Rob.


Sejak tadi pria kurus itu tidak sedikitpun mengalihkan wajahnya dari Juan Allesandro, juga tidak ada tanda-tanda jika dirinya gentar.


Berpenampilan culun, dan terlihat bodoh, tapi menariknya Junho berani bernegosiasi dengan Juan Allesandro tanpa canggung, seolah pria itu tau persis bahwa dirinya berkelas dan pantas dihargai dengan mahal.


Karakter yang menarik. The real psychopath ...!


Tanpa sadar Juan Allesandro semakin menyukainya dan merasa optimis.


"Deal. Satu minggu untuk dua kali lipat pembayaran dari kesepakatan awal. Tapi kalau berhasil dalam kurun waktu kurang dari satu minggu ... aku akan memberikan kau tambahan bonus. Bagaimana ...?"


Junho mengangguk dengan sigap. "Deal, Tuan. Aku setuju."

__ADS_1


...


Bersambung ...


__ADS_2