
Alga terpekur mendapati jawaban Tara, yang tidak pernah terpikir olehnya sedikit pun, bahwa Tara bisa mengucapkan kalimat yang mampu menyentuh relung hatinya yang terdalam.
"Tak peduli seberapa banyak orang yang ada disekelilingmu ... seberapa besar mereka berusaha menghiburmu ... pada kenyataannya, kau terus merasa dirimu seorang diri dan sebatang kara. Sama-kah yang kau rasakan, Nona Alga ...?"
Bibir Alga mendadak kelu, tak mampu menjawab pertanyaan Tara meski hanya sepatah katapun.
"Berpikir bagaimana caranya bertahan hidup, meskipun kau tahu persis bahwa kau akan melewatinya tanpa perlindungan seorang ayah yang bisa kau banggakan, juga tanpa kelembutan seorang ibu tempat kau bebas bermanja. Aku rasa selama ini kau pasti memikirkan hal yang sama, karena saat umurku masih begitu belia, aku kerap berpikir hal yang serupa, tentang apa iya aku bisa bertahan menghadapi kejamnya dunia ..."
Tatapan Tara menyapu seluruh wajah Alga yang pias tanpa riak.
"Nona Alga, bukankah kau juga sering menanyakan hal yang sama pada dirimu sendiri ...?"
Alga ingin menggeleng dan mendustai kenyataan, namun Tara sudah kembali bicara seolah tak ingin memberi kesempatan Alga untuk mendebatnya.
"Yah, tentu saja, karena kau dan aku memiliki begitu banyak kesamaan. Selalu bertanya-tanya tentang hal yang sama, selalu merasa pesimis tak berkesudahan ... sampai akhirnya kita tidak menyadari bahwa setiap hari ... setiap detik ... sedikit demi sedikit ... kita terus bergerak maju, dan melewati masa yang sulit dengan kepala yang tegak. Disaat kita terus berpikir bahwa kita tidak mampu melakukannya ... pada kenyataannya sampai detik ini kau dan aku masih hidup dan bernapas dengan benar. Nona Alga, kau menyadarinya atau tidak, sudah sebanyak apa kau berusaha menghindar dari sebuah kematian ...? Sejak awal kita selalu percaya bahwa dengan menjemput ajal dan menyusul kedua orang tua kita yang telah tiada, maka semua kesakitan akan selesai. Tapi kalau memang demikian, lalu untuk apa selama ini berjibaku menyelamatkan nyawa yang seharusnya tak berharga ...? Bukankah semua itu terdengar aneh ...?"
Kalimat kontroversi, dan saling tabrak yang dilontarkan Tara mampu membuat Alga terkesiap.
Alga seolah tersadar akan sesuatu, yang membuatnya mau tak mau harus mengakui, bahwa dari sekian banyak kalimat Tara yang begitu panjang lebar, tak ada satu pun yang salah.
Tara memang berkata benar, bahwa sejak lama Alga merasa hidupnya di dunia ini sia-sia belaka.
__ADS_1
Anehnya, tanpa sadar Alga bahkan terus berjuang dan bertahan menghadapi ganasnya kehidupan.
"Aneh yah ... kalau begitu ingin untuk mati, lalu untuk apa kita terus-menerus berlari seperti ini, dan menjaga nyawa kita dengan sangat hati-hati ...?"
Alga tetap membisu, namun hatinya mengiyakan semua kalimat Tara.
Suara helaan napas berat Tara kembali terdengar.
"Satu hal yang pasti, bahwa kepedihan yang kau rasakan selama lima belas tahun ini tak sedikitpun lebih sedikit, dan tak sedikit pun lebih banyak, dari apa yang aku alami ..." ungkap Tara lagi, perlahan-lahan berusaha semakin gigih melembutkan hati Alga yang sekeras batu.
Alga membuang pandangannya ke sisi lain. "Tapi setidaknya kau hidup dengan baik, dokter Tara ... sementara aku tidak ..." ujarnya lagi, masih mencoba mengingkari kebenaran yang dibeberkan Tara dengan begitu elegan.
"Kata siapa?" potong Tara. "Kalau kau tidak bisa melewati semuanya dengan baik, lalu bagaimana bisa kau tumbuh menjadi seorang wanita yang kuat dan tangguh seperti saat ini ...?"
"Benarkah ...?"
Alis Tara terangkat dua-duanya seolah terkejut, tapi raut wajahnya justru sebaliknya, sangat tenang.
"Lalu bagaimana denganku? Haruskah aku berpikir seperti dirimu yang ingin membencimu, atas kehadiran mobil ayah dan ibumu di jalan yang sama, pada lima belas tahun yang lalu ...?"
"K-kau ..."
__ADS_1
Alga tergeragap menyikapi sanggahan acuh Tara.
"Berani-beraninya kau menyalahkan kehadiran mobil kedua orangtuaku ...?!" pekik Alga geram, tak terima.
"Kau salah, justru aku sama sekali tidak ingin berpikir demikian. Selama ini aku selalu berpikir bahwa insiden kecelakaan lalu lintas pada lima belas tahun yang lalu, sebagai sebuah garisan takdir dari Sang Maha Kuasa, yang mau tak mau harus aku terima walaupun pahit ..." lirih Tara, sama sekali tak ada riak emosi dalam suaranya.
Lama keduanya berdiri mematung ditempat mereka masing-masing, dan Alga baru tersadar saat Tara sudah berada tepat di hadapannya, menyentuh sebelah bahu Alga dengan lembut.
Sinar mata Tara terasa begitu teduh, meskipun dikedalaman sana Alga masih bisa menemukan sebuah luka yang belum sembuh benar.
"Bukan tentang seberapa besar rasa sakit yang kita terima atas garisan takdir yang tak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Tapi tentang bagaimana caranya agar kita bisa berdamai dengan masa lalu ..."
Alga menepis sebelah tangan Tara yang bertengger lembut di bahu, kakinya bahkan ikut melangkah mundur dua langkah guna memberi jarak.
"Mungkin bagi dirimu itu hal yang mudah, dokter Tara, tapi tidak bagi diriku ..." pungkasnya, masih mencerminkan bahwa betapa sulit dirinya bersepakat dengan cara pandang Tara.
Tara tersenyum tipis. "Kau belum pernah mencobanya, bagaimana bisa tahu kau mampu melakukannya atau tidak ...?"
Lagi-lagi Alga terdiam, mencoba meresapi makna yang tersirat dari setiap ucapan Tara, namun entah kenapa selalu saja terasa sulit untuk ia terima.
...
__ADS_1
Bersambung ...