
"Kembalikan pistolku ...!!"
Alga nyaris berteriak, tapi kemudian ia malah membekap mulutnya sendiri.
Meskipun Alga tahu ia tidak boleh membuat kegaduhan dengan mulutnya, namun bukan berarti Alga rela membiarkan Tara yang menjauh setelah berhasil mengambil kembali satu-satunya pistol yang tersisa.
Alga memburu Tara yang terus mundur dengan pistol ditangan, sementara bibir pria itu dipenuhi senyum mengejek.
"Kembalikan ...!"
Hupp ...!!
Dengan gerakan yang gesit Tara mengelak sergapan Alga yang hendak merampas pistol ditangannya, dan tanpa rasa malu sedikitpun Tara malah menyelipkan pistol tersebut ke lilitan handuk yang melingkari pinggangnya.
Sontak saja pergerakan Alga langsung terhenti mendadak.
Bukan apa-apa, karena jika Alga bersikeras meraih pistolnya, sudah pasti ia bisa menelan jangi Tara disaat yang bersamaan.
'Hiiii ...'
Hanya memikirkan hal aneh itu membuat Alga bergidik ngeri.
"Kau lihat sendiri kan ... kau akan menyesal, kalau kau masih nekad mengambilnya." ancam Tara dengan senyum penuh kemenangan.
"Dasar licik ..." desis Alga benar-benar kesal.
"Untuk menghadapi wanita sepertimu, bukankah aku memang harus lebih licik dari seekor kancil?" ucap Tara semringah.
"Dokter Tara, sebenarnya apa maumu ...?" ujar Alga kemudian nyaris putus asa.
Sungguh, Alga benar-benar tidak ingin kehilangan satu-satunya senjata miliknya yang tersisa, setelah sebelumnya Tara telah membawa pergi pistol yang satunya saat pria itu meninggalkan Alga di hutan pinus dua hari yang lalu.
"Seharusnya aku yang bertanya, apa maumu, sehingga kau selalu saja muncul dihadapanku ..."
"Dokter Tara demi Tuhan, aku sungguh tidak tahu kalau ini adalah kamarmu. Aku hanya sedang berusaha bersembunyi dari kejaran anak buah Juan Allesandro ..."
"Apakah aku harus percaya?" tanya Tara cuek. "Lagipula kalau kau tahu bahwa mereka akan memburumu hingga ke hotel ini, lalu kenapa kau malah nekad datang seolah sengaja menyerahkan diri?"
Alga terdiam sejenak. Bimbang menimbang apakah perlu ia mengatakan kejujuran perihal keberadaannya di hotel ini atau tidak kepada Tara.
Tapi setelah berpikir untuk beberapa saat, pada akhirnya Alga memutuskan untuk jujur saja, bahwa ia mengenal dan ingin menemui Samuel Alfonso, pemilik Red Luxury Hotel, semata-mata karena Alga sangat membutuhkan uang demi membiayai pelariannya.
"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya, tapi sebelum itu berjanjilah kau akan mengembalikan dua pistolku sekaligus."
Mendengar permintaan itu Tara terlihat menggeleng dengan senyum smirk.
"No ... hanya satu pistol untuk alasan, mengapa kau berada dihadapanku saat ini ..."
"Lalu bagaimana dengan pistolku yang satunya lagi?"
"Aku akan memikirkannya terlebih dahulu, imbalan apa yang setimpal untuk menukarnya ..."
"Astaga dokter Tara, ternyata kau benar-benar orang yang licik. Bisa-bisanya kau menekanku seperti ini, sementara kau sendiri tahu bahwa kedua pistol ini adalah milikku!"
Tara tertawa kecil mendengar kalimat kesal Alga yang sedang menatapnya penuh kebencian.
Bukannya ciut, yang ada Tara malah dengan santainya melipat kedua lengan didadanya yang bidang.
"Nevermind ... keputusan ada ditanganmu, Nona Alga. Kau bisa mendapatkan keinginanmu, tapi kau harus mengikuti aturan mainku."
"Baiklah ...! Terserah padamu saja ...!" potong Alga geram.
__ADS_1
Tara tertawa melihat Alga yang frustasi dihadapannya, sebelum akhirnya ia tersenyum simpul penuh makna.
"So ... tunggu apalagi, Nona? Katakanlah semuanya dengan jujur ... dan aku berjanji, pistol ini akan segera kembali ketanganmu ..."
🔳🔳🔳🔳🔳
"Aku sudah mengatakan semuanya dengan jujur, tak ada satu pun yang aku sembunyikan ..."
Alga menatap sosok Tara yang duduk tenang disofa, dimana mereka berdua duduk berhadapan hanya dibatasi meja kecil.
Saat ini Tara telah berpakaian lengkap, mengenakan kaos polo berwarna putih yang dipadu celana bermuda warna mocca.
Sederhana, namun tetap terlihat fashionable. Khas penampilan pria-pria metropolis pada umumnya.
"Jadi kau telah memperdayai seorang pelayan yang tak berdosa demi menyelamatkan dirimu?"
Alga melotot mendengar ucapan Tara yang tajam. Alga sama sekali tak menyangka jika usai menanggapi semua kejujurannya sesuai permintaan Tara, pria itu malah melontarkan kalimat yang telak.
"A-aku ... aku ... hanya membuatnya pingsan sementara ..." kilah Alga yang tak bisa lagi menyembunyikan gelagatnya yang tergeragap.
Tara terlihat menatap Alga sejurus. "Bagaimana kalau dia terluka?"
"Aku bersumpah, aku tidak melukainya." sanggah Alga cepat.
"Bagaimana kalau dia mati?"
"Dia tidak akan mati."
"Kenapa kau sangat yakin?"
"Tentu saja. Aku bahkan berani bertaruh bahwa dia akan sadar kurang dari empat puluh menit!"
"Lalu bagaimana kalau dalam empat puluh menit, ada orang jahat yang mengambil kesempatan, dan memperdayai gadis itu?"
Sungguh, hal terakhir yang diungkapkan Tara sama sekali tidak masuk dalam hitungannya.
Saat melakukan aksinya, Alga hanya memastikan gadis pelayan itu tidak terluka apalagi mati, dan akan menemui kesadaran secepatnya.
Alga sama sekali tidak memilirkan opsi jika kelak, tidak menutup kemungkinan akan ada orang jahat yang bisa saja memperdayai gadis itu.
"Tidak bisa menjawab kan ..."
Tara menghadiahi Alga yang kelu, dengan tatapan mata elangnya yang tajam.
"Aku tidak habis pikir, bisa-bisanya kau melakukan hal nekad seperti itu. Bagaimana mungkin kau tidak menyadari bahwa kau telah mempertaruhkan masa depan, serta kehormatan seorang gadis belia ...?"
"Demi Tuhan, dokter Tara, aku sungguh tidak bermaksud begitu ..."
"Tapi kau sudah melakukannya."
"Kalau begitu bantulah aku ..." pungkas Alga lagi tanpa berpikir dua kali.
Tara melotot mendengar permintaan lugas Alga. "Apa kau bilang?!"
Nada suara Tara seolah tercekat, namun Alga yang sudah merasa kepalang tanggung tak lagi memiliki alternatif lain.
"Dokter Tara, bantulah aku ..." lirih Alga lagi.
"Bicara yang jelas." jawab Tara, yang masih berharap ia hanya salah mendengar.
Bukan apa-apa. Tara hanya merasa, bahwa acap kali dirinya terlibat dalam persoalan Alga, maka itu berarti taruhannya adalah nyawanya sendiri.
__ADS_1
Membayangkannya saja sudah cukup membuat Tara merasa trauma.
Alga menarik napasnya sepenuh rongga, ia balas menatap Tara dengan tatapannya yang memelas seraya berucap yakin ...
"Dokter Tara, tolong pikirkan cara bagaimana aku bisa menyelamatkan gadis itu sebelum ada orang jahat yang menemukannya lebih dahulu ..."
Tepat saat mengucapkan permintaan itu Tara langsung mengacak rambutnya gemas.
"Sudah kuduga. Lagi-lagi ... kau kembali membutuhkan bantuanku. Aku ... dan selalu aku yang selalu membantumu, tapi kau sekalipun tidak pernah bersikap baik, meski nyawaku nyaris hilang berkali-kali ...!"
Alga menggigit bibirnya.
Alga tahu ucapan Tara tak ada satupun yang salah, karena pada kenyataannya Alga memang kerap memanfaatkan pria itu dalam setiap kesulitan yang ia temui.
'Persetan ...! Salahkan saja dirimu sendiri ...! Siapa suruh kau selalu muncul dihadapanku meskipun aku muak ...!'
Dumel Alga, tentu saja hanya dalam hati, karena pada kenyataannya Alga memilih diam saja mendengar Tara yang terus menggerutu panjang pendek.
Seolah tak peduli dengan apapun yang akan dikatakan Tara, saat ini Alga seolah tidak lagi berniat menyanggah pria itu asalkan Tara bisa membantunya, dan menemukan cara untuk menyelamatkan gadis pelayan yang ada di toilet dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Pikirkanlah sebuah cara ..." ujar Alga pada akhirnya, setelah sekian lama keheningan bertahta diantara dirinya dan Tara, yang sejak tadi duduk diam dihadapannya dengan wajah masam.
"Sedang kupikirkan, cerewet!!"
Alga mencebikkan bibirnya menanggapi kalimat ketus Tara.
Hening lagi untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Tara terlihat meraih ponselnya yang ada diatas meja.
"Sudah kuputuskan, sebaiknya aku menelpon receptionist yang ada di lobby, dan mengatakan untuk menyelamatkan pelayan itu secepatnya ..."
"Kalau seperti itu, pihak hotel akan tahu bahwa ada kejanggalan yang terjadi." larang Alga.
Tara urung menekan ponselnya, ia memilih menatap Alga lagi sejurus.
"Lalu bagaimana? Bukankah seseorang harus tahu bahwa gadis pelayan itu berada di toilet dan membutuhkan bantuan?"
"Kau berkata benar, dokter Tara. Kita memang harus menemukan seseorang yang bisa menolong, sekaligus tidak akan membocorkan kejadian tersebut dan ..."
Ctek ...!
Bunyi dua jari beradu di udara terdengar memotong kalimat panik Alga.
"Aku tahu." pungkas Tara, dengan wajah berbinar.
"Siapa yang kau ..."
"Samuel Alfonso."
Alga terhenyak, dengan mulut yang sedikit terbuka, disertai pemikiran yang ikut terbuka.
'Samuel Alfonso ...'
'Yah, tentu saja!'
'Kenapa aku tidak memikirkannya sejak awal ...?'
'Bahwa seseorang yang bisa menolong sekaligus merahasiakan kejadian tersebut, sudah pasti Samuel Alfonso orangnya ...!'
Dalam keadaan seperti ini, mau tak mau Alga kembali harus mengakui bahwa Tara memang sangat mampu diandalkan dalam berbagai situasi genting.
'Luar biasa ... dokter Tara, pria itu benar-benar jenius ...'
__ADS_1
...
Bersambung ...