
Seperti rencana mereka di sore tadi, malam ini baik Tara maupun Alga, masing-masing telah bersiap untuk menyelinap keluar guna mencicipi bakso yang ada di kedai ujung jalan.
"Jangan lupa memakai syal." ucap Tara mengingatkan Alga, meskipun mereka berdua sama-sama telah mengenakan pakaian berbahan tebal, namun musim dingin yang mulai tiba, membuat udara malam cenderung lebih dingin dari malam-malam sebelumnya.
"Astaga, aku hampir lupa." Alga buru-buru berbalik kearah lemari, mengambil satu-satunya syal berwarna coklat tua yang ia miliki dan langsung mengalungkannya ke leher.
"Sudah siap?" tanya Tara memastikan.
Alga yang saat ini mengenakan sweater tebal demi menjaga tubuhnya tetap hangat di cuaca yang mulai tak bersahabat tersebut terlihat mengangguk mantap.
Tara melirik sekilas jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Jarum jam tersebut jelas menunjukkan pukul tujuh malam, dengan jarum panjangnya yang hanya lebih sedikit, mungkin hanya sekitar satu atau paling tinggi dua menit.
"Baiklah kalau begitu kita pergi sekarang ..." putus Tara sambil melangkahkan kakinya lebih dahulu, kearah pintu kamar.
Tanpa banyak protes, Alga pun mengikuti langkah pria itu dari belakang.
Nyaris beriringan saat mereka keluar dari pintu kamar, sebuah kegaduhan terdengar jelas dari arah meja receptionist.
"Apa yang terjadi? Kenapa orang-orang berkumpul disana?"
Tara mengangkat bahu menanggapi pertanyaan Alga. "Entahlah ..."
Pada akhirnya keduanya pun berjalan mendekat dengan langkah tergesa, guna memupus rasa keingin-tahuan tentang apa yang sedang terjadi, dimana sebuah kerumunan kecil manusia terlihat sedang berkumpul menjadi satu, namun belum tahu pasti apa penyebab kerumunan tersebut.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" Tara mencoba bertanya pada seorang wanita yang sudah lebih dahulu berada disana.
"Aku tidak tahu pasti apa yang sedang terjadi, Tuan, tapi sepertinya seorang pria tua mengalami serangan stroke ..."
"Apa? Serangan stroke ...?" Tara sedikit terhenyak mendengarnya. "Apakah sudah ada yang menelepon rumah sakit terdekat ...?"
"Sudah, tapi sepertinya butuh waktu paling cepat setengah jam untuk tenaga medis datang, mengingat jarak rumah sakit terdekat bahkan harus menempuh perjalanan yang cukup jauh ..." ujar wanita itu lagi.
"Berusahalah untuk tidak melibatkan diri ..."
__ADS_1
Suara bisikan Alga menyapu gendang telinga kiri Tara.
Saat Tara melirik, wanita itu terlihat sedang menatapnya dengan tatapan tajam penuh peringatan, membuat Tara memutuskan untuk mengangguk saja agar tidak memperpanjang masalah.
"Ayo pergi ..." ajak Alga seraya berbalik.
"Hhmm ..."
Bak seorang bocah, pada akhirnya Tara memutuskan untuk patuh.
Baru selangkah kaki Tara terayun hendak meninggalkan pusat kegaduhan tersebut ... manakala sebuah suara menghentikan gerak kakinya untuk terus terayun.
"Mari kita pindahkan dahulu Tuan ini, kasihan beliau jika hanya tergeletak di lantai ..." suara seorang pria terdengar dari balik kerumunan.
Mendengar titah tersebut wajah Tara langsung berubah pias. Nalurinya sebagai seorang dokter tak lagi mampu di bendung oleh Tara.
"Tidak ... jangan! Hentikan ...!!"
Refleks Tara berbalik, dan dalam sekejap ia telah berusaha mengurai kembali kerumunan manusia yang baru saja hendak ia tinggalkan, hanya demi mencegah niat dari beberapa orang pria yang hendak memindahkan tubuh pria tua yang tergeletak di lantai.
Namun situasi sekarang berbeda di mata Tara.
Apapun itu, saat ini nyawa seseorang adalah taruhannya. Sebagai seorang dokter, Tara menolak menutup mata, seolah tak melihat apa-apa. Meskipun Tara telah berusaha keras untuk tidak peduli, pada akhirnya ia tidak mampu berdiam diri lebih lama.
Tara tahu keputusannya untuk ikut campur akan membuat Alga marah, tapi Tara tidak punya waktu untuk memikirkan hal tersebut.
"Kenapa kakekku tidak boleh dipindahkan ketempat yang lebih layak?! Siapa kau sehingga ingin membiarkan kakekku terbaring di lantai seperti ini?!" suara teriakan serak di sertai isak tangis yang berasal dari seorang gadis muda dengan sepasang mata berkaca-kaca itu terlontar sinis kearah Tara yang mendadak terpaku.
Tara berdiri bingung, ingin menjelaskan bahwa dirinya seorang dokter membuatnya bimbang.
"Jangan dengarkan pria ini. Aku mohon, tolonglah kakekku ..." gadis muda itu menoleh kearah beberapa orang pria yang berada disana dengan wajah penuh permohonan.
"Jangan! Jangan sentuh!" Tara nekad menarik lengan seorang pria yang kembali hendak membungkuk.
"Siapa kau sebenarnya ...?! Kalau kau enggan membantu orang lain, maka menyingkirlah ...!!" pria itu menepis kasar tangan Tara di lengannya.
__ADS_1
"Iya, benar! Menyingkir kau ... dasar pria tidak punya hati ...!!" seorang wanita tua juga terlihat mendorong tubuh Tara dengan kasar.
"Manusia tidak berguna ...!!"
"Tidak berperasaan ...!!"
"Kejam ...!!"
Makian dan umpatan dari orang-orang yang ada disana terdengar silih berganti.
Tidak hanya sampai disitu, tubuh tegap Tara bahkan ikut terdorong kesana-kemari, karena tindakan kasar mereka yang semakin brutal.
Menghadapi kekacauan tersebut Tara pun semakin tak kuasa membela dirinya. Ia cenderung pasrah dijadikan bulan-bulanan oleh semua orang, sebelum akhirnya sebuah suara menggelegar, menggema tiba-tiba ...
🔳🔳🔳🔳🔳
"HENTIKAN ...!!!!!"
Teriakan yang lantang, tegas, dan cukup keras itu mampu meredam berbagai umpatan yang ditujukan kepada Tara silih berganti, yang hanya bisa berdiri pasrah menerima semua hujatan yang diarahkan kepada dirinya.
Secara tiba-tiba suasana yang semula kacau telah berubah hening dalam sekejap, kemudian semua mata yang ada disana termasuk Tara, secara serentak telah tertuju kesatu titik, yakni kepada sosok Alga yang kini berdiri tegak dengan sorot mata yang bersinar tajam.
"Biarkan dia, dan kalian semua ... tolong menyingkir. Berikan ruang yang cukup untuknya."
"Tapi Nona, pria ini ..."
"Dia adalah seorang dokter." ucap Alga dengan intonasi dingin dan datar.
Kalimatnya yang lugas bahkan mampu membuat semua yang ada disana terhenyak ...
Tak terkecuali Tara ...
...
Bersambung ...
__ADS_1