NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN

NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN
SALAH SATU KORBAN


__ADS_3

DOORR ...!


DOORRR ...! DOORRR ...!


Bunyi tiga letusan beruntun terdengar memecah malam yang tadinya hening.


Bugh!


Pintu kamar yang barusan terpentang sekarang terhempas keras, karena Tara telah mendorongnya agar menutup kembali.


Tara membalikkan tubuhnya dengan wajah pias, dan dia mendapati wajah Alga pun dipenuhi ketegangan yang sama seperti dirinya, usai empat kali suara letusan pistol terdengar secara bersahut-sahutan.


"Suara itu ..."


"Itu bunyi letusan pistol." Alga bergegas mendekati jendela, mengintip suasana jalanan yang beberapa saat yang lalu terpantau lenggang,


'Ciiiieeettttt ...'


Sebuah mobil sport berwarna hitam pekat terlihat memutar arah dengan cepat, kemudian melaju ke arah barat dengan kecepatan penuh, meninggalkan dua tubuh terkapar di tengah jalan, dan ngerinya lagi terlihat ada yang merembes di sekitar tubuh keduanya, terlihat menyerupai rembesan darah segar!


Tak lama kemudian, seperti halnya mereka yang terusik dengan suara bising tembakan yang sahut menyahut tersebut, beberapa orang telah memberanikan diri keluar ke jalanan untuk mengetahui apa yang telah terjadi.


Wajah semua orang nyaris memiliki ekspresi yang sama, ngeri bercampur kaget, saling bertanya bingung satu sama lain, namun tak ada yang berani mendekat, semuanya hanya mengawasi dari kejauhan.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Tara yang sudah berada di balik punggung Alga.


Alga mengedikkan kedua bahunya. "Aku juga tidak tahu, tapi sepertinya dua orang itu telah tertembak ..."


Tara mematung.


Dari balik jendela, Tara bisa melihat dengan jelas dua tubuh yang terkapar di pinggir jalan, nyaris berada tepat di depan penginapan mereka. Namun seiring waktu, semakin banyaknya orang yang berkumpul di sana, membuat mereka berdua sama-sama kesulitan mengenali para korban.


"Dua orang telah tertembak. Entah mereka mati atau masih sekarat, tapi dalam situasi seperti ini ... apakah jiwa doktermu tidak terpanggil ...?"


Suara dingin Alga membuat Tara tercenung.


Tara paham betul apa yang hendak di sampaikan Alga lewat pertanyaannya yang datar.


Dua orang yang sepertinya berjenis kelamin lelaki itu telah terkapar di pinggir trotoar dengan tubuh bersimbah darah. Tapi kondisi keduanya diakibatkan oleh insiden penembakan, bukan dalam kondisi serangan stroke seperti kejadian yang menimpa sang kakek pada beberapa jam yang lalu.


Tara bahkan tidak tahu apa penyebab dua pria itu tertembak. Apakah ada hubungannya dengan pelariannya dan Alga ... serta keterlibatan Juan Allesandro ...?

__ADS_1


Entahlah ...


Kali ini Tara justru yang enggan melibatkan diri, karena berpikir bahwa keselamatan dirinya dan Alga juga penting.


"Apakah kejadian ini ada hubungannya dengan Juan Allesandro ...?"


"Itulah yang sedang aku pikirkan." pungkas Tara. "Aku tidak mau mengambil resiko, karena aku rasa ... semua ini pasti ada hubungannya. Kita semua tahu, bahwa selain petugas polisi, juga mafia yang memilikinya secara ilegal, kepemilikan sebuah senjata api bahkan tidak bisa sembarangan di miliki oleh warga sipil biasa. Jadi kesimpulannya, kalau yang menembak kedua orang itu adalah polisi ... maka mereka tidak mungkin kabur seperti tadi ..."


"Hhhmm, kau benar." Alga mengangguk setuju atas pemikiran Tara. Dirinya memang sependapat, bahwa tidak mungkin polisi akan melarikan diri usai menembak, dan membiarkan korbannya tergeletak begitu saja.


"Aku akan mengendap-endap keluar untuk mencari tahu ..." putus Tara lagi sambil berbalik dan kembali melangkah ke arah pintu.


"Tunggu, aku ikut." tukas Alga bergegas membuntuti langkah lebar Tara.


Pada akhirnya, berdua mereka keluar beriringan.


🔳🔳🔳🔳🔳


Saat Tara dan Alga keluar dari kamar, lorong penginapan mereka telah dipenuhi oleh penyewa lainnya yang juga keluar dari kamar mereka masing-masing.


"Ada apa ...?"


"Apa yang terjadi ...?"


Berbagai pertanyaan saling terlontar satu sama lain, tapi lagi-lagi tak ada satu pun yang mengerti dengan situasi yang sebenarnya terjadi.


Intinya semua orang telah terusik dengan insiden barusan, sehingga penasaran ingin tahu, bahkan keluar dan melihatnya langsung.


Alga dan Tara memilih bungkam dan menghindari berbagai keramaian yang ada di lorong penginapan, sambil terus melangkahkan kaki menuju pintu keluar.


"Aku tidak melihat Jun. Kemana dia?" ucap Alga perlahan, nyaris berbisik, begitu mereka berdua baru saja melewati meja receptionist yang terlihat kosong melompong.


Jun tak berada di sana seperti biasa.


"Kau benar. Dia tidak ada di mejanya ..." jawab Tara, juga dengan nada berbisik. "Alga, tidakkah kau berpikir bahwa sebenarnya sekarang adalah kesempatan yang tepat bagi kau dan aku untuk meninggalkan penginapan ini diam-diam tanpa kecurigaan siapa pun ...?" ujarnya lagi masih dengan nada yang sama.


"Bersabarlah sebentar. Kita cari tahu dulu apa yang terjadi, sebelum mengambil keputusan ..."


"Baiklah kalau begitu ..." Tara memilih setuju dengan Alga.


Saat Alga dan Tara sampai diluar, suasana terlihat semakin riuh, karena jumlah orang yang semakin bertambah memadati jalan, namun belum ada seorang pun yang berani mendekat. Semuanya tetap berdiri pada jarak aman.

__ADS_1


"Apakah sudah ada yang memanggil ambulance ...?"


Suara seorang pria terdengar menyeruak.


"Sudah Tuan, ambulance akan segera tiba ... polisi juga ..." jawab salah seorang pria lainnya, yang dari wajahnya terlihat shock.


"Tuan, apa yang terjadi sebenarnya?" kali ini suara seorang wanita yag terdengar bertanya pada pria yang baru saja menjawab.


"Aku tidak tahu persis, Nyonya. Aku hanya melihat sebuah mobil berwarna hitam yang melarikan diri ke arah barat. Sepertinya pelaku penembakannya berada di dalam mobil tersebut."


"Kau tidak lupa mencatat nomor polisinya, bukan?"


"Aku tidak sempat memperhatikan. Saat itu aku tidak bisa tidur dan memutuskan keluar mencari hiburan. Aku melangkah terburu-buru dan tiba-tiba sudah terdengar bunyi tembakan di seberang jalan, dan aku melihat sebuah mobil sport berwarna hitam di sana. Setelah mobilnya pergi, aku baru sadar jika ada dua orang yang terkapar di jalan dengan tubuh berlumuran darah. Kejadiannya begitu cepat, dan aku juga takut mendekati korban hingga detik ini. Aku tidak punya keberanian melihatnya dari dekat ... tapi sepertinya aku mengenali salah seorang dari keduanya ..."


Penjelasan panjang-lebar dari pria yang sama mampu mengusik perhatian Alga dan Tara untuk mendengarnya.


Tak salah lagi, pria itu merupakan satu-satunya saksi mata atas kejadian berdarah yang ada di hadapan mereka saat ini.


"Kau bilang kau mengenali salah seorang? Siapa yang kau maksud?"


Kasak-kusuk terus berlangsung, dan seorang pria lainnya terlihat ikut bertanya.


"Hemm, sepertinya aku memang mengenalinya. Sepintas dia sangat mirip dengan pria yang baru saja bekerja di penginapan itu beberapa hari yang lalu ..." tanpa keraguan sedikit pun, pria itu mengarahkan jari telunjuknya ke arah penginapan Molly, yang tak lain merupakan penginapan yang ditempati Alga dan Tara.


Alga dan Tara yang diam-diam ikut menyimak menjadi terkejut setengah mati atas apa yang baru saja mereka dengar.


Tanpa di komando kepala mereka pun refleks berpaling ke arah dua tubuh yang tergeletak tak seberapa jauh antaranya, dengan jarak yang masing-masing kurang dari sepuluh meter, dari tempat mereka berdiri.


Tidak butuh waktu lama bagi Alga maupun Tara untuk mengenali jacket tebal berwarna merah maroon yang melekat di tubuh salah satu korban.


"Jun ..."


"Jun ..."


Serentak berdesis lirih.


Detik berikutnya tatapan Alga dan Tara terkunci satu sama lain, dengan mimik wajah yang semakin menegang.


Yah ... mereka berdua telah memiliki satu pemikiran yang sejalan, saat meyakini bahwa salah satu tubuh itu adalah Jun.


Pria berwajah asia itu telah terkapar di jalan dekat trotoar ...

__ADS_1


Dengan tubuh bersimbah darah ...


__ADS_2