NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN

NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN
NYAMAN


__ADS_3

"Kau sudah gila yah ...?!!" sentak Tara dongkol bukan main.


"Sssttt ..."


Bukannya peduli dengan aksi protes Tara, Alga malah mengisyaratkan pria itu untuk diam. Terang saja bukannya menjadi tenang, yang ada Tara malah semakin geram.


"Kau ..."


"Ssssstttttt ..."


Lagi-lagi Alga mengisyaratkan Tara untuk tutup mulut.


Sepasang bola mata Tara kini hampir melompat keluar mendapati sikap Alga yang terus-menerus mengisyaratkan hal yang sama.


Akhirnya dengan susah payah Tara mencoba bangkit dari lantai sambil beusaha membenahi belitan handuk dipinggang yang nyaris terburai memperlihatkan isi-nya yang wah.


Wajah Tara terlihat sedikit meringis kesakitan, namun tak sedikitpun mengusik konsentrasi Alga yang tetap fokus menempelkan daun telinganya ke daun pintu.


Tara mendekati daun pintu tersebut, dimana nyaris keseluruhan tubuh Alga juga menempel lekat disana.


"Sedang apa kau disini?" ujar Tara datar, mengahkimi dengan wajah diliputi aura permusuhan.


"Ssstttt ... bicaralah dengan lebih perlahan ..." jawab Alga dengan nada berbisik, masih dengan sikapnya yang acuh.


"What the fu ck ..."


Tara mendesis gemas, nyaris tanpa suara.


"Keluar ..." ucap Tara lagi. Perlahan, namun tepat diatas cuping telinga Alga yang sontak memerah.


Nafas hangat Tara ikut menyapu lembut hingga ke tengkuk, tak ayal membuat bulu kuduk Alga meremang seketika.


"Kau ini bicara app ..."


"Aku bilang keluar."


Kedua pupil mata Alga bergerak panik.


Saat ini Alga baru menyadari bahwa wajah Tara yang mengeras kesal, berada tepat diatas wajahnya, dan dari sanalah nampak jelas terlihat bahwa pria itu sama sekali tidak wellcome dengan keberadaan Alga sejak awal.


Wajah Tara hanya berjarak kurang dari sepuluh centi. Membuat Alga gugup, separuh karena pria itu benar-benar telah mengusirnya, separuh lagi karena rahang tegas Tara terlihat sangat maskulin dimata Alga.


"D-dokter Tara, aku ..."


"Aku bilang, keluar dari kamarku sekarang juga ..."


Alga menggeleng tegas. "T-tidak ... tidak bisa ..."


Bukk ...!


Sebelah tangan Tara sudah bertengger di daun pintu, dengan posisi tubuh yang seolah semakin menyudutkan posisi Alga.


"D-dokter Tara apa yang lakukan?!" desis Alga gelagapan. Separuh panik, separuh merona.

__ADS_1


Posisi tubuh mereka yang begitu dekat satu sama lain hingga terasa begitu intim itu, entah kenapa malah membuat jantung Alga berdebar aneh. Tak karuan.


"Menurutmu ...?"


Alga nyaris memekik saat Tara berbisik sambil memajukan wajahnya, membuat jarak wajah mereka nyaris bersentuhan.


Mungkin tinggal menyisakan lima inchi ...?


Tidak ... tidak ... bahkan sepertinya kurang dari lima inchi ...!!


Refleks tangan Alga ingin mencabut benda kecil yang terselip di balik baju pelayan yang melekat ditubuhnya, namun yang ada pergerakannya telah terkunci secepat kilat.


Tara yang telah hafal betul apa yang akan dilakukan Alga setiap kali wanita itu merasa dirinya terdesak telah mengantisipasi pergerakan Alga dengan mengunci pergelangan tangan Alga kebelakang.


"Kau ..."


"Mau apa? Menodongkan pistol?"


Alga melotot menyaksikan wajah Tara yang dipenuhi tatapan mengejek.


"Lepaskan aku. Kalau tidak ..."


"Kalau tidak apa?" potong Tara, pongah.


Alga melotot mendengar tantangan yang berani itu.


"Tenang saja. Bukan hanya melepaskanmu, aku bahkan berniat melemparmu keluar dari kamarku sesegera mungkin!"


Mendengar ancaman itu refleks Alga menggeleng.


"Tidak?"


"J-jangan ..."


"Jangan yah?"


"Dokter Tara, pliss ..."


"Kurang tulus."


"Plis dokter ... pliiiisss ..."


Mulut Alga memang memohon, namun sesungguhnya dalam hati Alga telah mencaci maki serta menyumpah-serapah Tara dalam hati.


"Katakan sejujurnya kenapa kau terus membuntuti aku? Apakah se-menarik itu aku dimatamu? he-eh?!"


Mendengar itu rasanya Alga ingin meludah.


Alga sungguh tak mengerti, kenapa Tara selalu menganggap bahwa dirinya sengaja mengejar pria itu!


"Aku tidak membuntutimu."


"Lalu kenapa kau bisa berada didalam kamarku?"

__ADS_1


"Mana aku tahu kalau ini kamarmu ...?!"


"Bohong ..."


"Aku berkata jujur!"


"Bilang saja kau sengaja memata-mataiku."


"Apa kau bilang?!"


"Sudahlah, mengaku saja."


"Tapi aku tidak ..."


"Astaga ... Nona Alga ... kau bahkan rela menjadi pelayan hanya demi menemuiku ...? ck ... ck ... ck ..."


Mendengar sekaligus menyaksikan bagaimana wajah songong Tara menatap remeh kearahnya, cukup membuat Alga harus menekan rasa kesalnya yang bukan main.


Namun meskipun demikian, sesaat yang lalu Alga bahkan sempat berpikir bahwa ia harus lebih bersabar, tidak boleh mengikuti emosinya.


Yah, tentu saja Alga membutuhkan Tara, yang lagi-lagi berdiri sebagai satu-satunya orang yang bisa menolongnya saat ini seperti biasanya.


Alga yang telah menaruh kecurigaan penuh bahwa Red Luxury Hotel telah dikuasai sepenuhnya oleh anak buah Juan Allesandro, tidak lagi memiliki kesempatan untuk berkeliaran di dalam hotel ini, setidaknya sebelum Juan Allesandro menarik mundur anak buahnya.


Pergelangan tangan Alga masih terkunci, dan Alga tidak lagi mencoba melepaskan diri, karena acap kali ia melakukan perlawanan, yang ada tubuh Alga seolah semakin tergencet kesudut pintu, dan hal itu semakin membuat Alga risih tak nyaman.


Alga membuang napas beratnya, mencoba menantang kemilau dari sepasang mata Tara yang menatapnya penuh intimidasi.


"Dokter Tara, percayalah. Kehadiranku ditempat ini sama sekali tidak ada hubungannya denganmu."


Tara menyeringai sambil lalu. "Aku ingin sekali mempercayai dirimu, tapi sayangnya sikapmu sendiri terlalu berlebihan. Nona Alga, pria naif sekalipun akan risih jika kau mengejarnya sedemikian rupa. Apakah sampai disini kau paham?"


Alga merasa tak punya pilihan lagi, selain mengangguk dan mengiyakan, kendatipun didalam hatinya kesal bukan kepalang.


Bagaimana tidak kesal?


Kalau bukan karena keadaan yang tak menguntungkan, mana mungkin Alga memilih menerima semua tuduhan Tara yang selalu menganggap dirinya membuntuti pria itu.


"Kau percaya atau tidak, tapi pada kenyataannya anak buah Juan Allesandro telah menguasai hotel ini ..."


"Benarkah?"


"Hmmm ..."


Alga berdehem ringan, sebelum kemudian kembali berucap perlahan ...


"Dokter Tara, bisakah kau menjauh dariku?"


Alga bisa melihat Tara sedikit terhenyak mendengar permintaan Alga.


Tersadar akan posisi tubuh mereka yang begitu intim, refleks Tara pun bergegas menarik diri, melepaskan kungkungannya ditubuh Alga, yang entah kenapa mulai terasa nyaman ... tanpa disadari ...


...

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2