
"Nona, masuklah dan temanilah dokter Tara di dalam ..." ujar Kim sambil menoleh kearah Alga yang masih berdiri tegak. Kali ini nada suara Kim terdengar lebih lembut.
Alga pun mengangguk tanpa kata.
Hembusan napas berat Alga terdengar sebelum langkahnya yang sempat tertunda oleh karena insiden Lucia barusan kembali terayun tenang.
Langkah lesu Alga telah membawa tubuhnya masuk kedalam ruangan super sejuk dengan keseluruhannya yang berwarna putih, serta beraroma khas obat-obatan.
Alga mendekati ranjang perlahan, tempat di mana selama ini Tara terbaring usai insiden maut yang telah menewaskan Juan Allesandro bersama para anak buahnya, di kedalaman jurang yang maha curam.
Karena insiden itu juga, kata dokter Tara mengalami trauma ringan akibat benturan, sehingga pria itu mengalami cedera kepala dan kehilangan kesadarannya.
"Tenanglah, Alga, keponakanku Tara hanya mengalami trauma ringan. Dia akan segera pulih dan sadar ..."
Itu adalah penjelasan dokter Harry Yudhistira, Paman Tara yang juga seorang dokter handal dengan jabatannya sebagai direktur utama rumah sakit Medika Yudhistira, kepada Alga yang saat itu seolah tak bisa berhenti menangis.
Semua yang dialami Tara terasa sangat mengerikan untuk Alga, dan untuk yang pertama kalinya Alga kembali menitikkan air matanya lagi.
Padahal selama ini Alga tidak pernah lagi menangis, setelah terakhir Alga menangisi kematian kedua orang tuanya yang begitu tragis dalam sebuah kecelakaan lalu lintas, yang pada kejadian tersebut, juga menewaskan kedua oran tua Tara di saat yang bersamaan.
Bathin Alga seolah terguncang, menyadari Tara terluka tepat di depan mata kepalanya sendiri, setelah untuk yang kesekian kalinya pria itu berhasil menyelamatkan nyawa Alga.
"I'm your guardian angel ..."
Mendadak wajah Tara yang berucap demikian dengan bibir yang dipenuhi senyuman terus terbayang dalam setiap jengkal ingatan Alga, membuat seluruh sudut hatinya dipeluk pilu yang mendalam.
Alga menarik kursi agar lebih dekat kearah ranjang di mana Tara terbaring, kemudian ia pun menghempaskan tubuhnya yang penat bercampur lelah di sana ...
Tepat di samping Tara, yang sepasang matanya setia terpejam ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jemari Alga mengusap lembut punggung tangan Tara yang terkulai lemah, sementara tatapannya tertuju lurus ke wajah tampan yang pucat dengan perban berwarna putih di kepala.
__ADS_1
Alga sungguh tak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi.
Padahal sudah jelas-jelas Paman Harry mengatakan bahwa Tara akan segera sadar, tapi entah kenapa yang ada hingga detik ini Tara tak kunjung bangun juga.
"Tara ... dua minggu berlalu, dan banyak hal telah berubah. Lalu kenapa kau masih saja tertidur lelap seperti ini ...? Apakah mimpimu sangat indah sehingga kau enggan bangun ...?"
Lirih suara Alga terdengar sarat akan kesedihan, sehingga laju napasnya ikut terdengar berat saat dirinya berucap, mengajak bicara Tara seperti yang setiap saat ia lakukan.
"Tara, tolong bangunlah, dan penuhi janjimu kepadaku. Kau sudah membuatku merasakan semua perasaan ini untukmu ... kau harus bertanggung jawab ..."
Ucap Alga kemudian sambil beringsut semakin dekat.
"Bangunlah, Tara ... kalau kau bangun, aku berjanji akan menunjukkan semua perasaanku kepadamu tanpa ragu. Aku tidak akan menyembunyikannya lagi, aku bahkan bisa mengorbankan apa saja untukmu termasuk nyawaku ..."
Bibir Alga yang bergetar menyentuh lembut punggung tangan Tara yang sejak tadi berada dalam genggamannya.
Setitik air mata Alga yang hangat tanpa sadar jatuh, menyentuh kulit dari punggung tangan milik Tara yang sedingin es.
Alga mulai tersedu.
Bulir-bulir air mata yang hangat turun semakin deras, dan kemudian merembes jatuh lagi-lagi keatas kulit punggung tangan Tara, membuat jemari yang awalnya dingin itu lambat laun berubah menghangat ...
Semakin hangat ...
dan ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pov ...
"Di mana aku ...?"
Ucap Tara seolah bertanya kepada dirinya sendiri, sambil terus melangkahkan kakinya, menyusuri lorong panjang temaram yang seolah tak berujung.
__ADS_1
Tara merasa dirinya telah tersesat cukup lama, namun sayangnya ia juga tidak punya pilihan lain selain terus memaksakan kakinya melangkah maju.
Tekad Tara untuk keluar dari lorong panjang tak berujung itu tetap terpatri kuat di dalam hatinya, sehingga Tara terus berjalan meskipun langkahnya mulai terseok, dan akhirnya ia dikejutkan oleh sebuah sinar menyilaukan yang datang dari kejauhan.
"Itu pasti jalan keluarnya ...!"
Pekik Tara, langsung memaksakan kakinya yang lemah untuk berlari sekuat tenaga kearah cahaya di hadapannya.
"Aku tidak boleh menyerah ...! Tidak boleh ...!"
Tara berteriak keras sambil terus berlari dengan kencang, sehingga ia semakin dekat pada cahaya menyilaukan yang awalnya hanya terlihat setitik, namun semakin lama semakin terlihat indah dan membesar.
Masih sambil berlari Tara terkesima begitu ia menemukan sebuah siluet yang muncul tepat ditengah cahaya.
"Sepertinya ada seseorang yang telah menungguku di ujung sana. Yah ... seseorang ... tapi ..."
Langkah Tara mendadak terhenti seolah menyadari sesuatu, dan benar saja ...!
Di sana ... Tepat ditengah cahaya yang menyilaukan mata ... Yang semakin lama terlihat semakin jelas ...
Langkah kaki Tara kini beringsut mundur selangkah demi selangkah, sekujur tubuhnya pun ikut gemetar begitu ia mengenali semuanya dengan jelas.
"T-tidak ..."
Tara menggeleng berkali-kali, saat sepasang matanya menangkap sebuah pemandangan menakutkan ...
Di mana siluet tubuh seorang wanita terlihat jelas ...
Berdiri tegak dengan sepucuk pistol di tangan ...
...NEXT...
🧕: Selalu tinggalkan jejak di setiap baby-nya, yah ... 🥰
__ADS_1