
Tara mengunyah makanannya dengan lahap.
Saking lahapnya ia tidak menyadari jika ada sepasang mata indah yang begitu sering mencuri-curi pandang kearahnya.
Tara bahkan baru menyadarinya saat dirinya yang gelagapan ingin mencari air minum akibat tersedak, oleh karena cara makannya yang begitu bersemangat, dan sebuah tangan mungil secara tiba-tiba begitu sigap menyodorkan botol air mineral yang telah terbuka tutup botolnya.
"Huuhh ... thank's ..." Tara menghembuskan napasnya lega.
"Kau ini seorang dokter, tapi kenapa makanmu seperti itu? Seharusnya kau tahu kalau cara makan yang terburu-buru seperti itu tidak baik, dan sudah pasti kau juga akan mudah tersedak ..."
"Iya ... iya ... baiklah, kau memang benar. Tapi mau bagaimana lagi, saat ini aku lapar sekali." sambil berucap demikian Tara kembali menyuapkan satu sendok penuh nasi beserta lauk-pauknya kedalam mulut, namun kali ini ia telah mengunyahnya dengan lebih berhati-hati.
Alga tidak merespon ucapan Tara, melainkan kembali fokus pada makanannya sendiri yang masih menyisakan separuh.
Untuk beberapa saat, suasana kamar tersebut kembali hening, karena baik Tara maupun Alga, keduanya memilih fokus dengan kegiatan mengisi perut masing-masing, sebelum akhirnya Tara kembali membuka suara.
"Nona Alga, kalau aku boleh tahu, apa rencanamu setelah ini ...?"
Alga tidak langsung menjawab, ia memilih meneguk air mineral terlebih dahulu sebelum akhirnya mengangkat kedua bahunya.
"Entahlah, aku bahkan bingung harus melakukan apa. Aku merasa sangat geregetan, karena semua orang termasuk dirimu terus-terusan menyarankan aku untuk menahan diri ..."
"Karena hal itu baik untukmu." pungkas Tara ringan, kembali menyuapkan satu sendok penuh makanan kedalam mulutnya.
Alga terlihat menggeleng berkali-kali. "Tapi buatku itu bukanlah hal yang gampang. Seumur hidupku, baru kali ini aku bisa se-sabar ini ..."
"Seharusnya kau tahu, bahwa kau tidak punya pilihan."
"Kata siapa ...?!" sergah Alga tak terima.
"Kataku barusan ..." menjawab santai dengan lagak yang super duper cuek.
"Kau ...?!"
"Ssssttt ..."
Alga mendengus kesal begitu mendapati kebiasaan Tara yang mulai di hafalnya.
Yah, Tara, pria itu sangat suka menyela setiap ucapan Alga yang memiliki kebiasaan getol mendebat, hanya dengan satu kata : 'Ssssttt ...', yang diucapkan Tara dengan kedua belahan bibirnya yang mengerucut.
Terlihat lucu, tapi entah kenapa mau ber-ekspresi seperti apapun wajah pria itu tetap saja terlihat menawan.
Alga memang harus mengakuinya meskipun enggan, bahwa untuk persoalan fisik, sudah jelas jika Tara tak bercela.
__ADS_1
Kulit tubuh pria itu terlihat lebih lembut dari kulit tubuh Alga, dan kulit wajahnya juga terlihat jauh lebih glowing dari kulit wajah Alga, yang notabene seorang wanita.
"Apapun itu, demi keselamatanmu sendiri kau harus berusaha untuk bersabar, seperti yang telah disarankan oleh semua orang." Tara berucap lagi, kali ini wajahnya terlihat lebih serius, tidak ada lagi aura tengil seperti barusan.
Alga menghembuskan napasnya berat. "Dokter Tara, bukankah kau telah melihatnya? Sejauh ini, aku sudah berusaha keras untuk mengikuti saran semua orang, meskipun di saat yang sama hal itu sangat bertentangan dengan nuraniku sendiri. Aku merasa seperti orang yang bodoh dan pengecut. Aku terus-menerus lari dan bersembunyi ... sementara orang-orang yang peduli padaku justru berjibaku membantu dan menyelesaikan semua persoalan, padahal aku-lah orang yang memicu awal dari pertikaian ini."
"Jangan menyalahkan dirimu seperti itu ..."
"Kalau bukan diriku, lalu siapa yang salah?"
Alga menarik napasnya yang seolah menyesakkan dada.
"Kim, Mike, kemudian Tuan Samuel Alfonso juga ... kenapa semua orang begitu peduli kepadaku dan rela berkorban, sementara aku tidak diijinkan melakukan hal yang sama ..."
"Tunggu sebentar ..."
Kalimat panjang-lebar yang sudah lebih mirip sebuah curhat colongan itu serentak di jeda Tara begitu saja.
"Aku ... maksudku apa kau yakin bahwa barusan ... kau sama sekali tidak berniat menyebut namaku juga?"
Ekspresi wajah melow milik Alga kini berubah kesal, menyadari Tara yang menatapnya dengan wajah yang naif.
"Jadi dalam perhitunganmu, aku masih belum termasuk sebagai kandidat dari seseorang yang peduli dan rela berkorban tanpa pamrih demi dirimu ...? Begitu ...?"
Alga mendengus saat menatap Tara, yang dari gerak-geriknya masih bisa kelihatan polos seolah tanpa dosa, justru di saat Alga sedang berada di puncak frustasi yang tertinggi.
Alga mendesis perlahan, nyaris tak terdengar. Dirinya tak tahan lagi untuk tidak mengumpat.
"Dokter Tara, kau sudah gila yah?!" pungkasnya lagi dengan wajah sewot.
"Sudah tidak di puji, dan sekarang kau malah mengataiku gila ...? Luar biasa kau ini ..."
"Lagian kau tidak lihat bahwa aku sedang serius? Suruh siapa kau malah mengajakku bercanda ...?" semprot Alga sambil menaruh kotak makannya yang telah tandas keatas meja.
"Siapa yang bercanda? Aku juga bertanya serius. Kau bisa menyebut nama Kim, Mike, juga Tuan Samuel Alfonso ... lalu aku bagaimana? Apakah aku tidak ada artinya sama sekali ...?"
Alga melirik sekilas wajah protes Tara lewat ekor matanya, diam-diam dia merasa lucu saat menyadari ekspresi wajah Tara ternyata memang sedang serius.
Sepertinya pria itu benar-benar tidak terima ditempatkan sebagai orang yang tidak diperhitungkan oleh Alga.
"Kau adalah orang yang menyeretku kedalam kekacauan ini, tapi aku malah terus membantumu ... juga hingga detik ini ...!"
"Wah, sekarang kau bahkan sedang menghitung seberapa besar budi yang kau tanamkan untukku ..."
__ADS_1
Lagi-lagi Tara mendelik gemas.
"Dengar baik-baik yah, Nona Alga. Aku adalah seorang dokter. Nyaris di seumur hidupku aku telah membiasakan diriku untuk tidak menerima pamrih. Aku selalu berusaha menebar kebaikan kapan pun dan dimana pun aku berada, dan aku juga tidak pernah mengemis rasa terima kasih, sekalipun aku telah begitu sering menerimanya dari setiap pasien-pasienku beserta keluarga, yang telah aku tolong nyawanya. Tapi denganmu ..."
"Ada apa dengan diriku? Kenapa kau terus-menerus mengingatkan aku agar aku berterima kasih ...?"
"Konsepnya bukan seperti itu, Nona Algaaaaa ..." Tara merasa semakin gemas.
"Lalu seperti apa, dokter Taraaa ...?" balas Alga tak gentar.
Tara menatap Alga dengan tatapan yang sulit dicerna. "Harus kuakui bahwa kau memang berbeda, tidak seperti orang kebanyakan ..."
"Jadi menurutmu aku aneh?"
"Bukan seperti itu juga, Nona ..."
"Lalu ...?"
"Lalu ...?"
"Iya, Lalu ...?"
Tara terdiam. Sikap pongah menantang Alga yang tersuguh tepat di depan hidungnya telah membuat seluruh perbendaharaan kata milik Tara menguap bersama udara.
'Lalu ...?'
'Iya, lalu apa ...?
'Apa yang aku inginkan ...?'
'Apakah memang se-penting itu buatku, mendengar wanita bar-bar ini mengucapkan sepatah kata terima kasih, atas setiap pengorbanan yang telah aku lakukan untuknya ...?'
'Oh, tidak Tara ... kau ... sebelumnya kau bukanlah tipe pria seperti itu ...'
'Ingin terlihat ... dan ingin di akui ...'
'Dan kau mengharapkan semua itu dari wanita yang tidak tahu caranya berterima kasih, pongah, kasar, dekil, pemarah, dan masih banyak lagi sifat minus yang wanita ini miliki ...?'
'Kalau memang seperti itu, jawabannya sudah pasti tidak mungkin ..!'
'Masih lebih mustahil jika kau bermimpi bisa menyentuh awan diilangit sekalian ...!'
'He-eh ...'
__ADS_1
...
Bersambung ...