NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN

NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN
LUKA YANG SAMA


__ADS_3

Tak terasa tatapan Tara dan Alga masih terpaut satu sama lain, seolah masing-masing dari mereka sedang mengeluarkan tatapan beracun, agar lawan bicara mereka bisa mati lemas.


"Tidak bisa dipercaya. Kau bahkan bisa mempercayai Tuan Samuel Alfonso hanya dalam satu kali pertemuan singkat, lalu katakan kepadaku apa alasan yang membuat kau tidak bisa mempercayaiku, setelah begitu banyak hal menegangkan yang kau dan aku lalui ...?"


"Tentu saja aku punya alasan." kilah Alga cuek sambil mengalihkan tatapannya.


Tara menarik napas melihat keteguhan hati Alga. "Baiklah ... kalau begitu katakan ..."


"Katakan apa?"


"Alasan tentang kau yang selalu menolak mempercayaiku."


"He-eh."


Tara tahu Alga tidak bisa berkata jujur, namun Tara tetap nekad bangkit dari duduknya, hanya untuk berpindah tempat duduk agar lebih dekat dengan sofa yang diduduki Alga.


"Apa alasannya?"


Sebelah alis Tara terangkat menanggapi keterkejutan Alga, saat menyadari posisi duduk mereka yang telah berhadapan langsung.


Kedua lutut Tara dan Alga bahkan nyaris bersentuhan satu sama lain, saking dekatnya.


"Kau mau apa, dokter?" tanya Alga risih.


"Memaksamu untuk berkata jujur."


"What ...?!"


Tara terkekeh, kedua tangannya malah berbuat semakin nekad, saat kembali menarik kursi yang ia duduki agar semakin dekat dengan kursi Alga.


Semakin mengikis jarak, seolah sengaja ingin memenjarakan wanita itu agar tidak bisa lagi menghindar kemana-mana.


"Apapun yang sedang kau rencanakan semua itu percuma." pungkas Alga sambil membuang wajahnya yang dihiasi semburat samar.


"Benarkah ...?"


"Sudah kukatakan bahwa aku tidak akan mengatakannya ...! Apa kau tuli ...?!"


Braakk ...!


Tara terkejut, karena usai berucap demikian kaki kanan Alga telah menendang kursi yang diduduki Tara tepat ditengah ... mungkin hanya berjarak satu centi, dan gerakan wanita itu bisa saja mencedarai organ vital Tara.


Saking kerasnya tendangan Alga, kursi yang diduduki Tara bergeser ke belakang, sehingga membuka ruang lebih lapang diantara mereka dengan sendirinya.


"Kau sudah gila, yah?!" pekik Tara kesal bercampur shock, gagal menyembunyikan raut wajahnya yang terlihat pias.

__ADS_1


Sesungguhnya Alga telah memperhitungkan semuanya, dan ia pun sama sekali tidak berniat melukai aset berharga milik Tara.


Tapi meskipun Tara juga tahu, bahwa berlaku seperti itu karena Alga ingin terbebas dari penjara yang sengaja dibuatnya. Namun tetap saja Tara merasa dongkol dengan ulah Alga yang bar-bar


'Dasar wanita pemarah. Un**tung tidak kena juniorku, kalau kena bagaimana? Bisa-bisa aku tidak lagi mempunyai kemampuan mencetak generasi penerusku di masa depan ...'


Bathin Tara dipenuhi omelan untuk Alga.


Lewat sedikit cela yang menyisakan ruang terbuka Alga berniat bangkit dari duduknya, berusaha mengacuhkan Tara yang terlihat masih sedikit shock.


"Berhenti."


Pergelangan tangan Alga telah dicekal dengan kuat, membuat Alga melotot karena menyadari niatnya meloloskan diri kembali terhalang.


"Lepaskan ...!"


"Enak saja ... setelah tendanganmu itu hampir merusak aset berhargaku di masa depan, kau mau melarikan diri begitu saja ...?"


Alga tidak menjawab, malah berusaha berontak dengan mengibaskan tangannya, tapi ternyata tenaga Tara tidak bisa dipandang remeh.


Tara yang telah bangkit dari duduknya hanya demi mengimbangi pemberontakan Alga, pada akhirnya nekad memutar pergelangan tangan wanita itu dengan luwes kebelakang punggung, melakukan sedikit gerak teknik kuncian, mematikan ruang gerak Alga dengan mudahnya.


"Dokter Tara, lepaskan!" hardik Alga kesal setengah mati.


'Sepertinya aku tidak boleh terlalu meremehkannya ...'


Bathin Alga yang tak lagi bisa bergerak.


"Akan aku lepaskan, tapi kau harus berjanji untuk bicara dengan tenang, dan tanpa emosi ..."


"Tidak bisa. Selagi kau terus memaksaku mengatakan alasan yang membuatku membencimu, maka aku ..."


"Baiklah ... kalau begitu tidak perlu mengatakan apapun."


Tara mengendurkan cengkeraman tangannya.


Mendapati peluang tersebut, tanpa membuang waktu Alga langsung berkelit, menjauhkan dirinya dari Tara yang berdiri tegak sambil mengawasi Alga lekat.


"Sesungguhnya aku tidak butuh kejujuranmu, melainkan keberanianmu dalam menghadapi kenyataan ..." lirih suara berat Tara membuat perhatian Alga terfokus pada wajah yang kini terlihat datar.


"Apa maksudmu?" ucap Alga, memilih bertanya setelah tidak menemukan jawaban saat benaknya mencoba menelaah arah kalimat Tara yang terdengar aneh di telinga.


"Aku bicara tentang dirimu. Tentang kenapa kau mau menghabiskan waktumu untuk sebuah dendam ... juga kebencian ...?"


Alga terhenyak mendengarnya. "K-kau ... apa maksudmu ..."

__ADS_1


Tara tersenyum kecut, kepala pria itu bahkan terlihat menggeleng berkali-kali.


"Lima belas tahun telah berlalu, dan kau masih menyimpan semua kenangan pahit itu dengan baik. Apa kau tidak merasa dirimu merugi membuang waktumu untuk memikirkan hal yang toxic ...?"


Alga terhenyak saat menyadari kalimat Tara yang jelas-jelas mengesankan seolah pria itu telah mengetahui segalanya.


"K-kau ... d-darimana kau mengetahuinya ...?"


Kalimat Alga terdengar bergetar panik, tubuhnya pun ikut bergetar, seolah menahan rasa sakit.


Ucapan Tara sangatlah telak, karena hanya dengan mengingat semua itu, Alga telah merasa jantungnya seolah tersayat kembali.


Tara berkata benar, bahwa Alga telah banyak membuang waktu, demi memikirkan hal yang menurut Tara toxic, tapi sesungguhnya bagi Alga itu bak sebuah luka menganga yang tak kunjung kering.


"Tidak penting darimana aku mengetahuinya, tapi yang tidak kumengerti ... bagaimana bisa kau berpikir bahwa akibat insiden tragis itu, cuma kau yang terluka seorang diri?"


Alga membeku ditempatnya. Kekhawatirannya terjawab lunas, karena pada kenyataannya ... Tara memang telah mengetahui semua misi-nya untuk pria itu tanpa tersisa!


"Jadi selama ini, ternyata kau telah memata-mataiku sedemikian rupa, sebelum akhirnya memutuskan untuk menjebak Lucia, agar hidupku kacau berantakan. Tak puas dengan semua itu, kau pun berencana menculikku untuk menghabisi nyawaku. Begitu-kah skenario awalnya ...?"


Telak!


Alga tidak bisa lagi menghindar, karena semua kedoknya telah terbongkar.


Namun yang Alga tidak habis pikir, bagaimana mungkin dirinya merasa sangat malu saat menyadari, bahwa Tara telah mengetahui semuanya, terlebih saat menyadari bahwa pada akhirnya Tara justru menjadi satu-satunya orang yang membuat Alga berhutang nyawa.


Tidak hanya sekali ... tapi berkali-kali!


"Sepertinya aku tidak lagi memiliki rahasia, karena kau telah mengetahui semuanya tanpa tersisa. Lalu bagaimana ...? Apakah sekarang kau ingin membenciku juga ...?"


Tara tersenyum getir menerima perkataan dingin Alga.


"Untuk apa aku membencimu? Kau tidak bersalah atas kematian kedua orangtuaku ... kedua orangtuamu juga tidak. Semua yang terjadi pada hakekatnya telah digariskan oleh takdir dari Sang Maha Pencipta ..."


"Kau bijak sekali. Apa kau sengaja ingin membuatku terkesan atas kemurahan hatimu ...?"


"Bukan seperti itu."


Tepis Tara tegas.


"Lebih tepatnya karena aku tidak ingin, kembali membuka luka yang sama ..."


...


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2